
Di perjalanan Miko mengantarkan Selin pulang ke rumahnya, Miko hanya fokus dengan jalan sambil menyetir.
Selin menghela nafas pelan, ia melirik Miko sekilas lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Ternyata sekertaris tampan ini sedingin kulkas, haruskah aku menjadi isi kulkasnya biar lengkap?" Selin tertawa dalam hatinya, ia tidak tahu akan seperti apa jika dirinya menjalani hubungan lebih dengan Miko yang sedingin kulkas ini.
Sungguh otak Selin berputar-putar seperti komedi putar, tapi dia juga yakin jika pacaran dengan laki-laki yang sedingin kulkas ini pasti bucinnya akan akut, rasanya tidak sabar ingin berpacaran dengan Miko, tapi Selin sadar untuk mendapatkan hati Miko tidaklah mudah.
"Rasanya seperti satu mobil dengan orang bisu, bahkan dia tidak mengajakku mengobrol sama sekali," gumam Selin dengan sengaja yang ternyata di dengar oleh Miko.
"Bilang saja kalau kamu berharap aku mengajak ngobrolmu," cibir Miko dengan tawa kecil di sudut bibirnya.
"Aku kan bukan patung, lalu apa salahnya jika aku ingin diajak mengobrol?" sahut Selin, raut wajah Selin terlihat kesal.
"Mulutku terlalu mahal untuk diajak ngobrol," sahut Miko begitu dingin.
"Emm... memangnya mahalnya berapa sih? Aku rasa tidak sampai jual tanah kavling kan?" cibir Selin dengan sombongnya.
Mereka itu sudah seperti pasangan yang sedang perang dingin tapi cukup lucu sih.
"Terserah kamu sajalah....!" Miko kembali bersikap dingin sambil terus menyetir.
Selin memilih memejamkan matanya, daripada harus melanjutkan perdebatannya dengan Miko.
Akhirnya mereka berdua saling diam satu sama lain, hingga beberapa lama akhirnya Miko mengeluarkan suaranya.
"Alamat....."
Selin membuka matanya. "Itu komplek depan rumahku," sahut Selin yang tahu apa yang ingin di tanyakan oleh Miko.
Miko tidak menjawab, dia hanya mengikuti jalan yang di tunjukkan oleh Selin dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Kini akhirnya sampai di depan rumah Selin, Miko menghentikan mobilnya.
"Bukakan pintu mobilnya...!" pinta Selin, membuat Miko tercengang.
"Memang aku supirmu?" jawab Miko dengan nada dingin.
"Bukan, tapi inikan mobilku, silahkan kamu turun dari dalam mobilku, kamu pulang saja pakai taksi...!" Selin terlihat marah, apalagi Miko lagi-lagi bersikap dingin pada dirinya rasanya ingin sekali menjambak rambut cepak milik Miko, tapi Selin menahannya.
Seketika Miko sadar, malam sudah semakin larut dan tentunya mencari taksi pasti tidak akan mudah.
"Aku pinjam mobilmu, baiklah aku akan bukakan pintu mobilnya," kata Miko dan dia langsung turun dari dalam mobil, lalu membukakan pintu mobil milik Selin untuk Selin.
Selin senyam-senyum di dalam mobil, jika Miko meminjam mobilnya ini pasti akan menjadi peluang untuk dirinya agar bisa terus dekat-dekat dengan Miko.
Selin turun dari dalam mobilnya. "Bawalah mobilku, ingat besok pagi kamu jemput aku ke rumah ya, karena aku harus berangkat ke kantor," kata Selin sambil menatap Miko yang sedang berdiri sambil memegangi pintu mobil.
"Bukankah itu banyak mobil?" Miko menunjukkan ke beberapa mobil mewah yang ada di garasi rumahnya Selin.
"Memang, tapi aku hanya mau di jemput sama kamu saja, aku tidak mau tahu." Selin begitu kekeh dengan keinginannya.
Daripada harus melanjutkan perdebatannya dengan Selin, lagi-lagi Miko memilih pasrah dan menuruti apa keinginan Selin.
Setelah Selin masuk ke dalam rumahnya, Miko kembali masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya menuju ke Apartemen miliknya.
Miko terdiam, dia tiba-tiba memikirkan tentang dirinya dan Selin yang merasa sangat berbeda dari tadi. "Apakah dari tadi aku dan dia mengobrol dengan sebutan aku dan kamu?" batin Miko dalam hatinya.
Miko hanya tersenyum kecil sambil terus melajukan mobilnya.
******
__ADS_1
Malam yang semakin larut Ziko terlihat berkeringat dan Ayumi juga sudah telanjang tanpa sehelai benang apapun, bagi kalian yang sudah menikah pasti tahu dong apa yang habis Ayumi dan Ziko lakukan?
"Sayang, kamu tahu apa hasil kita dari berkeringat kita ini?" tanya Ziko, tangannya dengan lembut membelai pipi mulus Ayumi.
Ayumi hanya menggelengkan kepalanya dengan begitu polosnya.
"Apa kamu tidak tahu?" tanya Ziko, terukir senyum kecil di sudut bibirnya.
"Tidak mas, memangnya apa?" tanya Ayumi dengan begitu polosnya, membuat Ziko merasa sangat gemas.
"Hasil dari keringat kita, nanti di dalam perut kamu akan ada kecebong kecil yang tumbuh sayang," kata Ziko membuat Ayumi memutar otaknya dengan lemot.
Ziko terkadang dia lucu sudah tahu istrinya begitu polos tapi suka sekali berbicara dengan bahasa yang sulit Ayumi mengerti.
"Maksudnya mas?" Lagi-lagi Ayumi bertanya dengan polosnya.
"Sayang, maksudnya mas akan ada Dede bayi di dalam sini." Jelas Ziko sambil mengelus perut Ayumi dengan lembut.
"Dede bayi, lalu kapan datangnya Dede bayi itu mas?" tanya Ayumi, membuat Ziko garuk-garuk kepala karena bingung harus bagaimana menjelaskan pada istrinya ini.
"Secepatnya sayang..." jawab Ziko dengan singkat.
"Ayo tidur sudah malam!" ajak Ziko dengan nada lembut, lalu memeluk Ayumi dengan hangat.
Ayumi mengangguk pelan, dia memikirkan kapan Dede bayi yang di maksud oleh Ziko itu akan datang ke dalam perutnya?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1