
Ayumi yang terlalu asik berlarian di tepi pantai, membuat Ziko menghentikan langkah kakinya dan menatap Ayumi dengan tatapan penuh cinta.
"Dasar gadis kecil, sekalinya di keluarkan dari dalam kandang, langsung bermain-main seperti anak kecil." Ziko kembali melangkahkan kakinya, seketika hati Ziko tiba-tiba berdebar kencang. "Aku ini kenapa?" batin Ziko dalam hatinya.
Ziko tidak yakin, apa kali ini dia benar-benar jatuh cinta? Bahkan ada perasaan yang tidak bisa Ziko jelaskan untuk saat ini.
"Mas Ziko....." suara Ayumi terdengar cempreng di telinga Ziko.
Ziko menoleh, terukir senyum kecil di sudut bibirnya. "Aish, kenapa semakin deg-deggan seperti ini? Padahal aku tidak punya riwayat penyakit jantung," batin Ziko dalam hatinya.
Saat Ayumi tersenyum dan menyambutnya dengan tatapan hangat, saat ini juga Ziko semakin merasakan debaran hatinya semakin kencang.
"Mas....." Ayumi berlari.
"Sayang, jangan lari..." teriak Ziko dan Ayumi langsung menghentikan langkah kakinya.
Kini Ziko sudah berada tepat di hadapan Ayumi, mereka hanya berjarak satu langkah kaki saja.
"Mas darimana saja?" tanya Ayumi.
"Maaf kamu harus menunggu mas lama, tadi mas ada urusan," jawab Ziko sambil meminta maaf pada Ayumi.
Ayumi mengangguk, dia terdiam sejenak sedangkan Ziko tiba-tiba menjadi salah tingkah di hadapan Ayumi, bahkan merasa dirinya ini seperti anak ABG yang sedang kasmaran.
"Ayumi...." panggil Ziko, ini pertama kalinya Ziko memanggil Ayumi dengan sebutan namanya.
"Iya mas?" sahut Ayumi, dia melihat bunga yang ada di tangannya Ziko.
__ADS_1
"Apa kamu sudah pernah di lamar oleh seorang laki-laki?" tanya Ziko, dengan sikap yang berusaha tenang agar tetap cool di hadapan Ayumi.
Ayumi hanya menggelengkan kepalanya, membuat Ziko tersenyum kecil.
"Jadi belum pernah ada laki-laki yang melamar mu?" Ziko memastikan kembali jawaban dari Ayumi.
"Iya mas, belum ada." Jawab Ayumi dengan nada lembut.
Seketika dalam hati Ziko langsung merasa senang sekali, berati dia adalah laki-laki pertama yang akan melamar Ayumi saat ini.
Tiba-tiba Ziko berjongkok di hadapan Ayumi membuat Ayumi terkejut.
"Mas....."
Belum sempat Ayumi melanjutkan kata-katanya Ziko tiba-tiba memberikan buket bunga yang ada di tangannya padanya. "Ini untuk kamu," kata Ziko dan Ayumi menerima buket bunga itu.
"Tapi ini dalam rangka apa mas?" Ayumi menerima buket bunga itu, tapi dia juga bingung karena tumben-tumbenan Ziko memberikan buket bunga padanya.
Ziko hanya tersenyum, dia mengarahkan kotak cincin yang ada di tangannya pada Ayumi, lalu membuka kotak cincin itu hadapan Ayumi.
Tampak pantulan sinar dari kotak kecil itu, sungguh Ayumi semakin tidak tahu apa maksud suaminya ini?
"Mas, kamu...."
"Istriku, sebelum aku menikahimu secara resmi, aku ingin lebih dulu melamarmu," tutur Ziko, sambil meraih cincin yang ada di dalam kotak kecil itu.
Ayumi terbentang, dia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya di hadapan dirinya secara langsung.
__ADS_1
"Melamar, tapikan kita sudah suami istri mas, masa melamar." Ayumi tertawa kecil, entah dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi lamaran dari suaminya sendiri? Menurutnya lucu saja, masa seorang suami melamar istri nya sendiri.
"Apa salahnya jika mas melamar istri mas sendiri, apa kamu merasa keberatan?" tatapan mata Ziko begitu dalam, Ziko menaruh kotak cincin di sebelahnya, lalu satu tangannya meraih tangan kiri milik Ayumi.
Detak jantung Ayumi semakin kencang, sungguh suaminya ini membuat dirinya semakin keplek-keplek.
Di tataplah mata Ziko dengan lembut, senyum tulus di sudut bibir Ayumi menandakan kalau pagi ini dia merasa sangat bahagia.
"Istriku, kali ini aku mau melamarmu menjadi istriku yang sah di mata agama dan hukum," kata Ziko, lalu dia menyematkan cincin berlian itu di jari manis tangan Ayumi.
Ayumi menahan senyumnya, dalam hatinya dia sangat bahagia, karena awalnya yang hanya gadis bayaran tapi semuanya berubah menjadi indah, bahkan Ayumi malah menjadi Nyonya Ziko Atdmaja.
"Mas, apa ini sesuatu yang kamu maksud?" mata Ayumi terlihat berkaca-kaca, sudut bibir mungilnya juga hanya menahan air matanya agar tidak keluar, tapi ternyata air mata bahagianya pecah juga.
"Iya ini sesuatu dari mas, maukah kamu menerima lamaran dari suamimu ini?" Ziko berdiri, tangannya memegang kedua tangan Ayumi, dan matanya dengan tulus terus menatap mata Ayumi yang sedang menangis itu.
Ayumi yang sangat bahagia, dia langsung memeluk Ziko dengan erat.
"Sayang, jawab dong, kamu menerima lamaran mas tidak?" tanya Ziko, di saat Ayumi berada di dalam pelukannya debaran hatinya sangatlah nyaman.
"Iya mas, aku menerimanya," lirih Ayumi di telinga Ziko.
Ziko tersenyum senang, lalu dia melepaskan Ayumi dari pelukannya, kini mereka berdua saling menatap satu sama lain, dengan lembut Ziko tiba-tiba mencium bibir Ayumi dengan lembut dan Ayumi menerima ciuman itu, tepat di bawah matahari yang mulai terbit mereka berciuman mesra, mungkin bagi yang melihat keromantisan ini pasti Ziko akan menganggap yang lain ngontrak, untung saja Miko tadi habis mengantarkan buket bunga langsung pulang jika tidak pasti dia hanya bisa menelan ludah saja.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1