
"Ayumi......"
Terdengar suara yang tidak asing di telinganya, Ayumi langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke sumber suara tersebut.
"Mereka...."
"Mama sama Kak Sisil," gumam Ayumi dengan malas.
Erina dan Sisil berjalan menghampiri Ayumi yang sedang berbelanja, senyum Erina begitu senang. "Kebetulan sekali bertemu dengan Ayumi, ini saatnya aku beraksi," batin Erina dalam hatinya.
"Ayumi....kamu sendirian, mana Tuan Muda Ziko, nak?" tanya Erina, nada bicaranya begitu lembut pada Ayumi.
Padahal biasanya nada bicara tidak selemah selembut sekarang tapi entah Erina ini tiba-tiba berubah.
"Mas...eh maksudnya Tuan Ziko, dia masih di kantor ma." Jawab Ayumi dengan gugup.
Erina memegang tangan Ayumi dengan penuh perhatian. "Dia panggil Ziko dengan sebutan mas, apa ada yang terjadi di antara mereka berdua?" gumam Erina dalam hatinya.
"Oh iya, kenapa kamu tidak pernah pulang nak? Mama dan Sisil kan merindukan kamu Ayumi," kata Erina sambil menyikut Sisil dan Sisil buru-buru mengangguk cepat, lalu Erina melepaskan tangannya dari tangan Ayumi.
"Kan mama sudah menjual Ayumi pada Tuan Muda kaya raya, jadi Ayumi tidak bisa pulang seenaknya sendiri, hidup Ayumi ketat dan selalu di jaga kemana pun Ayumi pergi, jadi Ayumi juga tidak bisa sembarangan pulang kapan saja," jelas Ayumi agak menekan dan berharap mamanya ini sadar akan kesalahan yang dirinya buat.
"Sayang, bukannya mama menjual kamu, mama hanya ingin kamu itu bahagia, agar kamu tidak sengsara seperti mama dan kakakmu," jelas Erina dengan penuh hati-hati.
__ADS_1
Erina pura-pura memasang raut wajah sedih tapi dia juga berusaha akting dengan baik.
"Terimakasih ma, karena yang mama lakukan ini sudah benar. Ayumi bahagia seperti apa yang mama inginkan," kata Ayumi terukir senyum yang begitu lebar dan itu menandakan kalau Ayumi saat ini benar-benar bahagia.
Awalnya Ayumi marah pada mamanya, karena tega menjual dirinya kepada Tuan Muda Kaya Raya, Ayumi harus menghadapi hidupnya dengan penuh tekanan, hinaan dari Ziko, tapi seiring berjalannya waktu semuanya berubah dan sedikit demi sedikit menjadi sebuah kebahagiaan.
"Syukurlah nak, oh iya nak, sekarang Tuan Ziko tidak pernah mengirimkan uang pada mama lagi, kira-kira kamu tahu itu kenapa?" Erina dengan sengaja menyelidiki semuanya.
"Iya karena bayarannya langsung diberikan pada Yumi, jadi Tuan Ziko tidak pernah lagi mengirimkan uang pada mama," jelas Ayumi dengan tegas.
Ayumi memang harus bersikap tegas, jika bersikap lemah terus juga sangat lelah, apalagi dulu hampir setiap hari di tindas oleh Sisil dan mamanya itu, jika mengingat hal-hal yang telah berlalu sungguh itu membuat Ayumi sakit hati, padahal dirinya dan Sisil sama-sama anaknya tapi Erina selalu memperlakukan keduanya dengan cara yang berbeda.
Erina tercengang, sekarang Ayumi sudah mulai berani padaku, bahkan Ziko membayar dia secara langsung saja dia tidak memberitahukan padaku.
"Maka, berikan uang itu pada mama....!!" timpal Sisil, dengan sorot mata tajam karena tidak suka pada Ayumi.
Seketika Erina langsung menatap Ayumi dengan sorot mata tajam. "Berani sekali dia pada anakku," batin Erina dalam hatinya.
"Hey kamu bocah kemarin sore, sombong sekali kamu, pakai nyuruh-nyuruh aku kerja," dengan kesal Sisil mendorong tubuh mungil Ayumi, Sisil semakin menatap Ayumi tidak suka.
"Ayumi, kamu berani sekali pada Sisil, ingat Sisil itu kakakmu, hormati dia!" Erina menatap Ayumi dengan tatapan penuh amarah, mungkin jika mereka sedang di rumah pasti Ayumi akan di hajar habis-habisan oleh dua iblis yang ada di hadapannya itu.
Ayumi hanya tersenyum kecil, mengingat mamanya yang memang selama ini pilih kasih, rasanya ingin tertawa di saat mamanya berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Hormati?! Mama, ada baiknya Kak Sisil saja yang mama nasehati seperti itu! Aku akan menghormati dia, jika dia juga menghormati aku sebagai adiknya," lawan Ayumi dengan tegas, kali ini Ayumi tidak mau mengalah lagi.
"Hay, jangan mimpi aku akan menghormatimu! Memangnya siapa kamu?" Sisil dengan sombongnya meremehkan Ayumi, bahkan menatap Ayumi saja dengan tatapan begitu jijik.
Erina mengangguk, dia setuju dengan Sisil, memang dasarnya Erina ini terlalu baik dan selalu memanjakan Sisil.
"Kamu sudah mulai berani...."
"Ingat ya, kamu itu anak kemarin sore, kamu sudah berani melawan mamamu dan kakakmu, dasar anak kurang ajar.....!!" Erina marah pada Ayumi, tapi Ayumi malah tertawa.
"Mama, Kak Sisil, sudahlah jangan membuat malu diri kalian sendiri, aku masih ada urusan, jadi aku permisi dulu," kata Ayumi dengan sopan tapi terdengar nada bicara menekan.
Erina dan Sisil saling menatap satu sama lain dengan sorot mata tajam.
"Ayumi........" Sisil menjambak rambut panjang Ayumi dengan kuat, membuat Ayumi merintih kesakitan.
"Dasar anak kurang ajar....." Erina mengangkat satu tangannya dan hendak menampar pipi mulus Ayumi.
Belum sempat Erina menampar pipi mulus Ayumi, tiba-tiba ada tangan kekar yang menahan tangan Erina dengan kuat.
"Jangan berani menyentuhnya sedikitpun atau aku akan......!!" dengan satu tangannya, dia menahan tangan Erina agar tidak mengenai pipi mulus milik Ayumi.
Mendengar suara itu, Erina menoleh ke sumber suara itu.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia