Gadis Bayaran Tuan Muda

Gadis Bayaran Tuan Muda
Dasar anak durhaka


__ADS_3

Ziko terdiam, dia kembali senyam-senyum lagi membuat Miko geleng-geleng kepala, sungguh kakaknya ini memang sudah gila.


"Kakak Ziko....." Miko memanggil Ziko.


"Sudahlah Mik, jika aku mengatakan padamu aku ini kenapa? Aku sendiri saja tidak tahu aku ini sedang kenapa?" jawab Ziko, seketika dia berpikir dirinya ini kenapa?


Ziko ini memang tidak waras, bahkan dia sendiri saja bingung dirinya kenapa?


"Mik, kamu pernah menyukai seorang gadis?" tanya Ziko, kali ini dia menatap Miko dengan sorot mata serius.


"Pernah kak, hanya saja gadis itu sudah..." Miko menghentikan kata-katanya, mata Miko terlihat berkaca-kaca hampir saja menangis tapi Miko berusaha menahannya.


"Jangan di lanjutkan, aku tahu. Sudahlah, lupakan masa lalumu! Kamu harus membuka hatimu untuk gadis lain," tutur Ziko dengan begitu bijak.


Miko mengangguk, lalu dia berusaha tersenyum, mengingat masa lalunya itu sungguh menyakiti hatinya.


"Rasanya jatuh cinta itu bagaimana, Mik?" tanya Ziko, membuat Miko ingin tertawa tapi berusaha menahannya. "Apa Kak Ziko sedang jatuh cinta?" batin Miko dalam hatinya.


"Entahlah kak, setiap orang itu merasakan jatuh cinta dengan hal dan perasaan yang berbeda, itu yang aku tahu kak." Jawab Miko, iya menurut Miko jatuh cinta itu seperti itu.


"Kamu pernah tiba-tiba merindukan seorang gadis?" tanya Ziko lagi.


"Setelah kejadian itu, aku tidak pernah lagi merindukan seorang gadis kak," jawab Miko.


"Kamu tahu, saat ini aku sering memikirkan satu gadis, aku suka tiba-tiba kawatir pada dirinya, aku juga sering kali terbayang-bayang wajah cantiknya, apa itu bisa di katakan kalau aku sedang jatuh cinta?" Ziko mengatakan hal ini sambil tersenyum, entahlah dalam hatinya ada perasaan yang sulit dijelaskan.


"Apa kakak sedang dekat seorang gadis?" celetuk Miko dan mata Ziko langsung melotot dengan tajam.

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa ini Mik? Bukan dekat dengan seorang gadis, tapi aku mungkin sudah mencintai istriku sendiri," terang Ziko terukir senyum bahagia di sudut bibirnya.


Dalam hati Miko, Kak Ziko itu memang sudah sinting, bahkan dia bilang dia sudah mencintai istrinya? Lalu selama ini, apakah Kak Ziko tidak mencintai istrinya? Miko semakin bingung, kali ini baginya masalah Ziko ini cukup rumit.


"Entahlah kak, aku semakin tidak mengerti dengan apa yang kakak katakan, ayo pergi ke hotel xx, kita ada meeting disana," ajak Miko.


"Sudahlah, anak ingusan seperti kamu, mana tahu tentang cinta," cibir Ziko dengan kesal.


Ziko tidak sadar akan dirinya sendiri, padahal dirinya sendiri saja bingung dengan apa itu cinta?


Miko mengangguk, jika dia menjawab pasti urusannya akan panjang dan ujung-ujungnya gajian Miko pasti akan menjadi ancaman.


Miko dan Ziko langsung pergi menuju ke hotel xx untuk meeting.


*****


Ayumi masih memikirkan jika dirinya sampai hamil, dia akan bagaimana?


Ayumi membuka internet, lalu dia membaca-baca tentang pencegahan kehamilan secara aman. Hingga Ayumi menemukan sebuah artikel tentang pil KB. "Haruskah, aku minum pil KB?" batin Ayumi dalam hatinya.


Ayumi mengelus perutnya. "Mudah-mudahan di dalam sini tidak tumbuh janin dulu, aku belum siap. Bukannya aku menolak sebuah rejeki yang diberikan oleh Tuhan tapi aku sadar pernikahanku ini hanyalah pernikahan rahasia," lirih Ayumi. Perasaan Ayumi saat ini sulit sekali di pahami, bahkan Ayumi sendiri tidak tahu harus bagaimana?


Saat Ayumi hampir meneteskan air matanya tiba-tiba ponsel miliknya berdering.


Ayumi melihat siapa yang menelpon dirinya. "Mama, ada apa?" gumam Ayumi, lalu Ayumi menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya itu.


"Hallo ma...."

__ADS_1


"Ayumi, apa kamu ini sudah melupakan mamamu? Bahkan kamu tidak menelpon mama sama sekali."


"Apa, kamu tidak merindukan mama?"


Terdengar suara Erina begitu lemah lembut tidak seperti biasanya.


Ayumi ternganga tidak percaya, apa yang terjadi pada mamanya? Dedemit mana yang sudah merasuki tubuhnya, sehingga bicaranya begitu lemah lembut seperti saat ini?


"Ayumi merindukan mama, tapi Tuan Muda selalu melarang Yumi menelpon mama."


Mendengar jawaban dari Ayumi, Erina langsung bersungut-sungut penuh amarah tapi Erina berusaha menahannya.


"Yumi, apa kamu sudah tidak sayang lagi pada mamamu?"


"Bahkan, kamu tidak pernah lagi mengirimkan uang untuk mama dan kakakmu Sisil."


Erina berusaha merayu Ayumi, berharap Ayumi akan luluh dengan rayuan dan kembali mentransfer uang untuk dirinya dan Sisil. Sungguh tanpa Ayumi hidup Erina dan Sisil sangatlah kacau, bagaimana tidak kacau? Ayumi itu selama ini hanya menjadi mesin ATM saja jadi saat mesin ATM nya berhenti memberikan transferan, Erina dan Sisil hanya bisa gigit jari saja.


"Mama, Ayumi minta maaf, ini semua larangan dari Tuan Muda jadi Ayumi tidak bisa membatahnya, jika Ayumi sampai membatahnya maka akan terjadi masalah."


Ayumi menegaskan pada Erina, bahwa apa yang dia lakukan itu semua itu atas perintah dari Ziko, jika Ayumi melanggarnya entah apa yang akan terjadi nanti?


"Dasar anak durhaka.....!!"


Teriak Erina, lalu dengan kasar Erina memutuskan saluran telponnya. Ayumi hanya menghela nafas dengan pelan dan dia tidak tahu harus melakukan apa? Yang dia harus lakukan hanyalah menuruti perintah dari Ziko.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2