
Kini dua hari telah berlalu, Ziko juga sudah mulai aktif bekerja lagi. Ayumi juga semakin hari semakin manja tapi untungnya mau di tinggal kerja.
Erika selama dua hari ini juga tidak membuat ulah, ia cukup tenang saat tinggal di rumah Ziko, entah ini sebagian dari rencana atau tidak? Hanya Erika yang tahu.
Pagi menunjukkan pukul 9, Ziko sudah berangkat ke kantor dari tadi.
Ayumi yang merasa bosan terus berada di dalam kamar, ia pun keluar dari dalam kamar dan pergi ke ruang tengah.
"Sari...." sapa Ayumi pada salah satu Art yang ada di rumah Ziko.
"Nyonya muda mau kemana? Tuan Ziko, menyuruh Nyonya hanya di kamar saja, jika butuh sesuatu Nyonya bisa telpon saya saja, saya akan membawakan ke kamar," kata Sari dengan raut wajah yang cukup panik, ia tidak lupa akan pesan-pesan majikannya tadi sebelum berangkat ke kantor, kalau dirinya itu di suruh menjaga Ayumi dengan baik.
"Aku hanya ingin menonton televisi di ruang tengah, ayo temanin aku!" jawab Ayumi.
"Tapi Nyonya, Tuan Ziko tadi titip pesan agar Nyonya tidak keluar dari dalam kamar," ujar Sari, dalam hatinya sangat takut kalau Ziko akan marah. "Bagaimana kalau Tuan Ziko marah padaku?" batinnya dalam hatinya.
"Tenang saja Mas Ziko tidak akan marah, nanti jika dia marah, aku yang akan jelaskan padanya," kata Ayumi sambil tersenyum, ia tahu hati Sari saat ini tidak tenang, ya pasti karena suaminya sudah menitip pesan banyak pada Sari, Ayumi tahu suaminya ini memang sangat fosesif untuk kebaikan dirinya dan calon anaknya.
Sari mengangguk, ia akhirnya mau menemani Ayumi menonton televisi di ruang tengah.
Tidak sengaja Erika yang baru dari belakang, ia melihat Ayumi dengan yang sedang nonton televisi dengan raut wajah sinis. "Enak ya jadi Nyonya, di rumah anakku, jangan harap kamu bisa bahagia dengan anakku," batin Erika dalam hatinya.
Erika langsung berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya, sesampainya di kamar ia senyam-senyum dengan bahagia.
"Oh iya, Nyonya aku sudah potongkan buah-buahan untuk nyonya, tuan Ziko tadi pagi yang menyuruhku," kata Sari. "Aku ambil buah dulu nyonya," pamit Sari dan di anggukin oleh Ayumi.
__ADS_1
Sari berlalu pergi ke dapur untuk mengambil buah yang sudah di potong.
*****
Di kantor Ziko, ia terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk di atas meja kerjanya.
"Mik, apa sudah ada perkembangan?" tanya Ziko, membuat Miko menatapnya bingung.
"Perkembangan dalam hal apa kak?" Miko balik bertanya.
"Perkembangan antara kamu dengan Nona Selin," jelas Ziko. Jari-jarinya sibuk mengetik dan tatapannya fokus dengan laptopnya.
"Apaan sih kak?" sahut Miko, ia kembali fokus dengan laptop yang ada di hadapannya.
"Mau sampai kapan kamu terus memikirkan seseorang yang sudah tidak ada? Lagian Mik, jika kamu belum juga move on aku yakin dia juga tidak akan bahagia di surga sana," ujar Ziko dengan nada lembut.
Seketika hati Miko merasa sesak, jika mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, rasanya sakit sekali dalam hatinya.
"Aku tidak bisa melupakannya kak, tapi aku sudah mulai membuka hatiku untuk wanita lain," ujar Miko dengan senyum kecil yang cukup manis.
"Aku tahu, keliatan dari tatapan matamu saat melihat gadis itu, aku tahu kalau kamu pasti sudah mulai menyukai gadis itu," tebak Ziko dan Miko tersenyum malu.
Memang benar yang dikatakan oleh Ziko kalau Miko itu sudah mulai klepek-klepek dengan Selin.
"Kak..."
__ADS_1
"Sebentar Mik, aku angkat telpon dulu," Ziko memotong kata-kata Miko dan ia mengangkat telpon dari Sari.
"Hallo Sar," sapa Ziko.
"Tuan Ziko, Nyonya muda...."
"Nyonya muda kenapa, Sar?" tanya Ziko, perasaannya langsung kawatir pada Ayumi.
"Nyonya muda habis makan buah-buahan yang saya potong dia muntah-muntah tuan," ujar Sari dengan tubuh gemetaran, karena merasa ketakutan.
"Apa......"
"Aku akan pulang sekarang!"
Tanpa menunggu lama, Ziko langsung mematikan saluran telponnya dan ia buru-buru bergegas pulang ke rumah.
"Kak ada apa?" tanya Miko, melihat Ziko buru-buru membuat Miko kawatir.
Ziko tidak mendengar pertanyaan Miko, yang ia pikirkan hanya Ayumi dan Ayumi.
Entah kenapa dengan Ayumi?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1