Gadis Bayaran Tuan Muda

Gadis Bayaran Tuan Muda
Apa kamu sudah siap?


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 3 sore, Erina dan Sisil masih betah dengan perang dingin mereka berdua.


Bahkan kali ini Erina menganggap Sisil itu anak tidak berguna.


Karena terlalu jenuh dan malas menghadapi mamanya, Sisil memilih untuk pergi jalan-jalan bersama temannya, Sisil berdandan begitu cantik, dia juga memakai pakaian yang cukup seksi belahan dadanya juga sampai menonjol.


"Kamu mau kemana? Pakaian kamu itu sungguh tidak pantas, ganti sekarang!" Erina menatap Sisil dengan sorot mata penuh amarah.


"Apa sih ma? Mama juga memakai pakaian seksi setiap hari Sisil tidak pernah protes jadi terserah Sisil, Sisil mau berpakaian seperti apa?" bukannya mendengarkan apa kata mamanya, seperti biasanya Sisil selalu saja melawan pada mamanya.


"Sisil, ganti sekarang atau mama...."


"Atau mama apa? Aku bukan Ayumi yang takut sama mama, aku bukan Ayumi yang lemah, percuma mama berteriak pada Sisil, nanti yang ada suara mama habis," dengan tidak sopan ya Sisil memotong kata-kata mamanya.


Tanpa berpamitan pada sang mama, Sisil pergi begitu saja.


Di saat Sisil sudah keluar dari dalam rumah, Erina mengelus dadanya dengan lembut dan berharap dirinya akan selalu sabar menghadapi anak kesayangan itu yang semakin lama semakin bandel, bahkan kuliahnya Sisil pun terbengkalai selain Sisil yang sering kali bolos, nilai juga anjlok terus.


"Entah mau jadi apa kamu Sil?" tanya Erina pada dirinya sendiri, Erina juga tidak tahu hidup Sisil ke depannya akan seperti apa?


"Sekarang semuanya hancur, Ayumi juga sekarang tidak menurut lagi padaku, lalu anakku sendiri juga menentangku dengan berani," lirih Erina, hatinya merasa begitu frustasi menghadapi apa yang terjadi saat ini.


Erina yang merasa pusing dengan semua masalah yang ada, dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi entah kemana?


*****


Di saat Erina di pusingkan dengan kehidupannya saat ini.


Sisil memilih bersenang-senang di sebuah club malam yang biasa menjadi tempat nongkrong bersama teman-temannya.

__ADS_1


"Pusing nih aku tidak punya uang..." keluh Sisil di hadapan ketiga temannya.


"Ngapain pusing Sil, tinggal jalan saja sama Om-om, pasti dapatlah uang dengan cepat." Sahut Heny, yang tidak lain adalah teman paling dekat Sisil.


"Benar apa kata Heny, Sil...." timpal Rani dan Raya.


Sisil mengangguk, lagian tidak ada salahnya juga saran dari teman-temannya ini, apalagi Sisil juga sangat butuh uang, hidup tanpa uang itu bagi Sisil rasanya hampa.


"Dimana cari Om-omnya?" tanya Sisil, karena sebelumnya Sisil belum pernah jalan dengan Om-om.


"Tenang, itu urusan aku," jawab Heny dengan semangat.


Heny memencet ponselnya lalu dia menghubungi salah satu no Om-om kaya untuk di kenalkan pada Sisil yang ada di kontak ponselnya, Heny sudah biasa melakukan hal seperti ini jadi Heny banyak mengenal Om-om kaya dan tentunya biarpun Om-om itu sudah punya istri pasti akan Heny gait juga yang penting duitnya.


Setelah beberapa lama akhirnya Om-om yang di hubungi oleh Heny datang, dan malam ini Sisil pergi kencan dengan Om-om yang di kenalkan oleh Heny pada dirinya.


*****


Di saat orang-orang yang selama ini memperbudak Ayumi dengan kejam sedang menunjukkan sisi buruk mereka, tapi di tempat lain Ayumi sedang berbahagia bersama dengan Ziko, laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Tadi setelah pulang berbelanja Ziko mengajak Ayumi menginap di hotel miliknya, karena malam ini Ziko hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan istri tercintanya itu.


Kini Ayumi dan Ziko berada di atas ranjang tempat tidur yang empuk, mereka berdua mengenakkan baju tidur cauple warna biru dongker. Kini mereka berdua sangat serasi, pasangan yang cantik dan tampan.


Ziko membelai lembut rambut panjang milik Ayumi. "Kamu semakin hari semakin cantik sayang," puji Ziko dengan nada lembut.


"Mas, aku itu sudah cantik dari lahir," sahut Ayumi dengan polosnya.


Ziko tersenyum kecil. "Cup....." Ziko mengecup kening Ayumi dengan hangat.

__ADS_1


"Dasar istriku, sayang apa Nenek sihir itu selalu berbuat jahat padamu?" tanya Ziko, tatapan matanya begitu lembut pada Ayumi.


"Maksud mas, Mama aku?" Ayumi balik bertanya dengan nada lembut dan Ziko mengangguk pelan.


"Dari dulu mamaku memang tidak suka padaku mas, aku juga tidak tahu kenapa mama tidak suka padaku?" Ayumi menahan air matanya, jika mengingat masa lalunya rasanya ingin sekali manangis.


"Selalu saja mamaku itu membedakan aku dengan kakakku mas...." Ayumi tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena air matanya sudah menetes membasahi pipi mulusnya.


Ziko langsung mengusap air mata yang membasahi pipi mulusnya Ayumi, lalu Ziko memeluk Ayumi dengan pelukan begitu hangat.


"Sudah, jangan di lanjutkan lagi ceritanya...!" pinta Ziko dengan nada lembut. "Ayumi, aku akan mencari tahu semuanya, kenapa Nenek sihir itu begitu jahat pada istriku?" batin Ziko dalam hatinya.


Ayumi hanya mengangguk di pelukan Ziko.


"Sayang, bagaimana kalau kita buat Dede bayi?" bisik Ziko dengan nada menggoda.


"Apa kamu sudah siap?" sambung Ziko berbisik lembut di telinga Ayumi.


kmini


"Mas, tapikan... pernikahan kita....."


"Tidak usah kawatir, mas secepatnya akan menyiapkan persemian pernikahan kita." Ziko menyakinkan Ayumi.


Ayumi hanya tersenyum kecil dan Ziko juga membalas senyuman Ayumi itu, lalu mereka malam ini membuat adonan dan itu lebih dari sekali, karena Ziko berharap Ayumi akan segera hamil.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2