
Setelah membaca kegunaan obat yang saat ini dia pegang, Ziko langsung merasa marah.
"Apa-apaan Ayumi ini.....!!!"
Ziko menantap obat yang ada di tangannya itu dengan tatapan penuh amarah, kemudian sorot matanya beralih ke Ayumi yang sedang tidur nyenyak.
"Kamu sudah berani ya, bahkan kamu sampai meminum obat seperti ini karena kamu tidak mau mengandung benih dariku," kata Ziko, dia duduk di tepi ranjang sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
Ziko tidak menyangka sama sekali jika Ayumi berani melakukan hal seperti ini, padahal Ziko ingin sekali punya anak dan tentunya pernikahan yang rahasia ini pasti suatu saat Ziko akan mengumumkan pada publik.
Tanpa mandi lebih dulu, Ziko merebahkan tubuhnya di samping Ayumi. Tatapan mata Ziko begitu dalam tapi penuh amarah.
"Dasar gadis bodoh...."
"Kenapa, kamu melakukan ini?"
"Jika kamu tidak menginginkan benih dariku tapi aku sangat menginginkannya."
Ziko sungguh frustasi, dia takut kalau Ayumi akan susah hamil karena pengaruh dari pil KB yang dia minum ini.
Detik demi detik berlalu, akhirnya Ziko terlelap tidur, bahkan tangannya terus menggenggam pil KB itu.
*****
Jam menunjukkan pukul 12 malam, Evelin dan yang lainnya masih berada di club malam padahal mereka semua sudah mabuk berat.
"Ziko, aku akan mendapatkanmu...." kata Evelin dengan keadaan mabuk pun yang ada di otak Evelin hanya Ziko.
"Vel, daripada kamu dengan Ziko lebih baik kita pergi ke hotel, aku bisa memuaskanmu." sahut Riko, yang saat ini sudah mabuk berat.
"Rik, jika masalah itu jangankan kamu, aku juga bisa...." sambung Erik tidak mau kalah, Sambil meneguk minuman memabukkan itu Erik tertawa-tawa sendiri.
"Aku tidak mau dengan kalian, aku hanya mau dengan Ziko....." sahut Evelin, wajah tampan Ziko terus terbayang-bayang di kepala Evelin.
"Ziko....aku harus mencarimu kemana?"
"Aku mencintaimu Ziko....."
"Aku pingin bercinta denganmu, milikku terus berkedut karena ingin di masukin ular milik kamu Zik."
Evelin berbicara semakin ngelantur, entah berapa botol sudah Evelin minum malam ini?
"Vel, ularku lebih panjang daripada milik Ziko, ayolah kita ke hotel....!!" ajak Riko, otak Riko mulai traveling kemana-mana.
Rangga dan Erik sudah tergeletak lemas, mereka juga sudah minum berbotol-botol.
__ADS_1
"Rik...."
"Riko...."
"Kamu begitu tampan malam ini."
Evelin tertawa, lalu dia memegang kedua pipi Riko dengan gemas, bahkan tanpa Evelin sadar Evelin mencium pipi Riko dengan gemas.
"Pipimu seperti bantal..." Evelin semakin gemas pada Riko.
"Ularku juga panjang, kamu tidak mau mencobanya?" Riko mencoba merayu Evelin, padahal saat ini Riko sedang mabuk hanya saja Riko ini kuat sekali minum jadi masih belum tepar seperti Erik dan Rangga.
"Lalu Angel atau Devi bagaimana?" Evelin bertanya sambil tertawa.
"Tidak usah pikirkan mereka, nanti mereka juga aku kasih jatah sampai puas," jawab Riko.
Akhirnya dengan keadaan mabuk, Riko membawa Evelin ke hotel yang ada di club malam itu.
Sesampainya di hotel, Evelin dan Riko pun melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan, tapi apalah daya mereka yang sama-sama sedang mabuk hingga terjadi hal yang tidak di inginkan ini.
*****
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Ziko sudah bangun lebih dulu dari Ayumi.
Ziko sudah mandi dan sudah rapi dengan setelan celana pendek dan kaos oblong, jadi hari ini Ziko malas sekali berangkat ke kantor akhirnya Ziko memilih untuk libur dan tentunya semua pekerjaan kantor di serahkan pada Miko.
Perlahan-lahan Ayumi membuka matanya, dia bergulat, saat sekilas melihat Ziko sedang duduk Ayumi dengan cepat membuka matanya lebar-lebar.
"Tuan, maaf saya baru bangun." Ayumi meminta maaf pada Ziko, biasanya yang bangun lebih dulu Ayumi tapi entahlah tidur malam ini begitu nyenyak sehingga membuat Ayumi bangunnya keduluan oleh Ziko.
"Tidak apa-apa," jawab Ziko ketus.
Ayumi membenarkan posisinya menjadi duduk, dia tidak tahu apa salahnya, kenapa Ziko di pagi hari seperti ini sudah terlihat kesal.
"Tuan, apa ada masalah?" tanya Ayumi dengan hati-hati.
"Ini apa? Ini masalahnya!" raut wajah Ziko terlihat merah padam, Ziko melempar pil KB itu kepada Ayumi.
"Kita ini sudah menikah, aku menanam benihku di rahim istriku sendiri tapi kamu malah memberikan obat ini pada benih yang sudah aku tanam," amarah Ziko benar-benar meluap parah.
"Sungguh aku tidak percaya, kamu adalah gadis yang kejam. Kamu tahu, jika pil ini itu akan membuat kamu susah hamil, tapi kamu malah meminumnya." lanjut Ziko masih dengan amarah yang begitu parah.
"Jika kamu hamil dan kamu tidak menginginkan benih itu, makan biarkan aku yang mengurusnya, aku yang akan merawatnya nanti." Ziko terus marah-marah, terlihat matanya hampir saja meneteskan air mata.
Ayumi menundukkan kepalanya, di saat suaminya ini sedang marah Ayumi tidak berani melawannya karena ini pertama kali melihat Ziko benar-benar marah.
__ADS_1
Ziko memegang kepalanya dengan kedua tangannya, rasanya marah sekali pada Ayumi tapi Ziko tidak mau memukul Ayumi.
"Tuan, boleh saya bicara?" tanya Ayumi, di saat Ziko sudah terdiam mungkin ini saat yang baik untuk menjelaskan pada Ziko.
Tubuh Ayumi gemetaran, bahkan jantungnya berdebar dengan kencang, ingin menatap Ziko saja Ayumi tidak punya keberanian.
"Bicara apa? Pil ini, kenapa kamu meminumnya?!" sentak Ziko, membuat Ayumi kaget dan ketakutan.
"Aku tidak meminumnya tuan, aku hanya membelinya saja," jawab Ayumi dengan nada takut.
Ayumi membeli pil itu, tadinya dia mau meminum pil KB itu tapi Ayumi berpikir untuk membicarakannya pada Ziko terlebih dahulu, Ayumi juga tidak mau gegabah, apalagi dia adalah seorang istri dan tentunya harus menurut pada suami.
"Jangan berbohong! Jika kamu tidak meminumnya, lalu ini kemana? Jelas-jelas pil ini sudah di ambil satu." Ziko kembali menyentak Ayumi, Ayumi sungguh takut tapi Ayumi menghadapi Ziko dengan sabar, karena sadar ini adalah kesalahannya.
Ayumi membuka laci nakas yang ada di dekat tempat tidur, lalu dia mengambil satu butir pil kecil dari dalam sana.
"Ini, obat yang tidak jadi saya minum, saya simpan di laci. Jika tuan tidak percaya, buka saja pil yang masih di kemas, lalu samakan dengan ini!" Ayumi berusaha menjelaskan semuanya dengan hati-hati.
"Aku tidak menyangka kalau Tuan Ziko akan semarah ini, mungkin jika tadi aku benar-benar minum pil KB ini, pasti dia akan lebih marah lagi," batin Ayumi dalam hatinya.
Ziko menuruti apa kata Ayumi, dia membuka satu kemasan pil itu, lalu menyamakan pil itu dengan pil yang ada di tangan Ayumi dan ternyata memang sama.
Seketika Ziko tersenyum dan merasa sangat lega sekali.
"Kamu sungguh tidak meminumnya?" Ziko memastikan, lalu dia menatap Ayumi dengan tatapan begitu dalam.
Ayumi menggelengkan kepalanya, karena memang dia tidak meminum pil itu.
"Jangan sampai meminum pil ini, biarkan saja jika kamu hamil aku akan bertanggung jawab, aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian dan aku akan selalu buat kamu," tutur Ziko dan tanpa sadar Ziko menarik Ayumi masuk ke dalam pelukannya.
Saat mendengar kata-kata Ziko, entah mengapa hati Ayumi begitu bahagia, berada di pelukan Ziko juga begitu nyaman.
"Kamu tahu, semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak, karena memikirkan pil ini," kata Ziko sambil mengusap-usap rambut panjang milik Ayumi.
"Jangan membuatku kawatir, jika ada apa-apa dan kamu mau apa? Kamu harus katakan padaku!" pinta Ziko dengan tegas.
Ayumi tidak tahu lagi, dia mau bicara apa? ternyata Ziko yang ketus ini ada sisi lainnya yang membuat Ayumi terkejut.
"Saya hanya kepikiran, bagaimana jika saya hamil? Dan tuan tahu pernikahan kita ini hanya pernikahan rahasia, jadi saya takut menjadi gunjingan tetangga nantinya," kata Ayumi dengan nada lembut.
Seketika Ziko melepaskan Ayumi dari pelukannya, lalu tangannya meraih kedua pipinya Ayumi dengan lembut.
"Maka aku akan segera mengumumkan pernikahan kita," kata Ziko dengan nada lembut.
Ayumi hanya tersenyum, entah saat ini hatinya begitu bahagia.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia