
"Itu di meja sebelah sana...!!"
"Wahh, kita samperin yuk kesana....!!"
Mereka langsung beranjak dari tempat duduknya, untuk pergi ke meja Miko dan Selin.
"Cie....yang lagi berduaan...." suara Ziko mengangetkan Miko dan juga Selin.
"Kakak, kakak ada disini?" tanya Miko gugup, tiba-tiba jantungnya berdetak kencang.
"Memangnya kenapa kalau aku disini? Inikan tempat umum, tunggu kalian jalan berdua, apa sudah ada pertanda bagus?" goda Ziko, ia menarik satu kursi lalu menyuruh Ayumi untuk duduk dan Ayumi pun duduk.
"Kalian tidak keberatan kan kita gabung dengan meja kalian?" tanya Ayumi dengan nada lembut.
"Tentu saja tidak Nona," jawab Selin dengan nada lembut.
"Kakak ipar, aku malah senang bisa makan bersama dengan kakak ipar," cetus Miko dan Ziko langsung menatapnya dengan sorot mata tajam. "Jaga pandanganmu pada istriku! Atau aku akan mencongkel kedua bola matamu saat ini juga! Ingat jangan menatap istriku lebih dari 1 detik!" Ziko memberikan peringatan pada Miko dengan sorot mata semakin tajam.
Dalam hati Miko, dasar Tuan Bucin, apa kakakku ini sungguh sebucin itu pada kakak iparku?
"Hanya satu detik kak, aku tidak akan mengambilnya darimu," sahut Miko seraya tersenyum manis pada Ayumi.
__ADS_1
"Tetap saja itu tidak boleh! Atau aku akan memotong gajianmu?" ancam Ziko dengan tegas.
Seketika Miko buru-buru mengalihkan pandangan matanya dari Ayumi, ia sudah tidak berani lagi memandang Ayumi lebih dari satu detik atau gajiannya akan sungguh di potong oleh kakaknya ini.
"Oh iya sayang, kenalkan ini adalah Nona Selin, dia adalah rekan bisnisku." Ziko memperkenalkan Selin pada Ayumi.
"Hay Nona, saya Ayumi istrinya Mas Ziko," dengan sopan Ayumi memperkenalkan dirinya, ia juga mengulurkan tangannya dan Selin menyambut uluran tangan Ayumi dengan hangat. "Hay kakak ipar," dengan senang hati Selin menyebut Ayumi dengan sebutan kakak ipar.
"Apaan kakak ipar....." gumam Miko dalam hatinya.
"Ayo kita makan bersama!" ajak Selin yang lagi-lagi dengan sikap hangatnya.
"Maaf Nona, tadi aku sudah makan bersama Mas Ziko," tolak Ayumi dengan sopan.
"Iya kak saya akan mengajak Nona Selin datang bersama denganku nanti," jawab Miko dengan pasrah. "Sudahlah, daripada gajianku di potong," batin Miko dalam hatinya.
Selin hanya mengangguk, ia cukup bingung memikirkan Ziko dan Ayumi, "Mereka sudah menjadi suami-istri bahkan Ayumi juga saat ini sedang hamil, tapi Tuan Ziko mengundang aku ke acara pernikahannya, sudahlah aku rasa otakku mulai lemot," batin Selin dalam hatinya.
"Kita permisi dulu ya Miko, Nona Selin," pamit Ziko, lalu Ziko mengajak Ayumi pergi dari situ.
Setelah Ziko dan Ayumi berlalu pergi, Selin kembali menatap Miko dengan tatapan sulit di artikan.
__ADS_1
"Sekertaris Miko, apa mereka....?"
"Sudahlah, kita jangan bahas tentang Kak Ziko dan kakak ipar, lebih baik kita makan karena perut aku sudah keroncongona, jika kamu dengar maka saat ini kamu dengar semua cacing di perutku pada joget," celoteh Miko dengan bawel.
Selin ternganga tidak percaya, ternyata seorang Miko yang sedingin es batu ini dan bisa di sebut Miko itu manusia kulkas, tapi kali ini Miko benar-benar bersikap lucu dan Membuat Selin ingin tertawa tapi berusaha menahannya.
"Baiklah kita pesan makan dulu," kata Selin dan Selin memesan makanan, Miko juga memesan makanan.
Kini setelah menunggu beberapa lama akhirnya makanan pesanan mereka datang juga. Miko dan Selin menikamati makanan pesanan mereka dengan lahap.
Setelah selesai makan Miko dan Selin sama-sama terdiam.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Miko pada Selin.
"Pulang, oh iya acara pernikahan Tuan Ziko kapan?" jawab Selin, seraya bertanya pada Miko.
"Baiklah aku antar pulang, beberapa hari lagi, nanti aku jemput Nona ke rumah jika sudah tanggalnya," kata Miko dengan tatapan dingin seperti biasanya.
"Baiklah, kembali menjadi manusia kulkas." Selin geleng-geleng kepala, ternyata laki-laki di hadapannya ini memang manusia kulkas sungguhan.
Miko mengantarkan Selin pulang, sesampainya di rumah, Miko juga langsung pulang karena sudah sangat lelah.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia