
Pagi yang cerah telah datang, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Ziko sudah siap untuk berangkat ke kantor.
Pagi sebelum berangkat Ziko dan Ayumi sarapan pagi bersama. Ziko juga tidak mau kalau sampai Ayumi tidak makan lagi seperti kemarin lagi atau dirinya akan merasa kawatir berlebihan.
Saat di meja makan, Ayumi banyak diam, bahkan menikmati makanannya saja tidak terlalu nafsu, Ziko yang memperhatikan hal ini cukup merasa kesal.
"Makanlah....!!"
"Jangan di acak-acak doang makannya!"
"Apa perlu aku yang menyuapi kamu? Agar makan itu masuk ke dalam mulutmu dengan baik?"
Ziko menatap Ayumi dengan tatapan yang sulit di artikan, Ziko juga berbicara dengan nada agak ketus seperti biasanya, padahal dalam hatinya dia kawatir takut Ayumi tidak makan tapi lagi-lagi dia terlalu gengsi dan munafik.
"Saya, belum lapar tuan." Jawab Ayumi, dia terus kepikiran karena takut hamil.
"Jika aku hamil, aku harus bagaimana? Pasti tetangga akan menghujatku. Apalagi pernikahanku ini hanyalah pernikahan rahasia, aku ini hanya gadis bayaran," batin Ayumi dalam hatinya.
"Tidak ada alasan belum lapar, kamu harus makan....!" oceh Ziko, lalu dia mengambil piring yang ada di hadapan Ayumi.
Ziko menyendok nasi dan lauk. "Buka mulutmu, kamu harus makan!" pinta Ziko dan Ayumi akhirnya membuka mulutnya.
"Maaf, kamu pasti kepikiran tentang semalam, tapi aku janji aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan semalam," batin Ziko dalam hatinya.
Ziko akhirnya menyuapi Ayumi dengan penuh perhatian, biarpun kata-katanya suka bernada ketus tapi sebenarnya hati Ziko itu begitu baik dan lemah lembut hanya saja Ziko kadang gengsi untuk mengakuinya.
__ADS_1
Setelah beberapa suap, Ziko kembali menyuapkan nasi lagi ke Ayumi tapi Ayumi menggelengkan kepalanya. "Saya, sudah kenyang tuan," kata Ayumi dengan suara pelan.
Ziko mengangguk, lalu dirinya memakan makanan itu dari sendok yang bekas Ayumi makan, sungguh Ayumi sampai tercengang melihatnya. "Aku rasa Tuan Ziko semakin aneh," gumam Ayumi dalam hatinya.
Kini setelah selesai sarapan, Ziko berpamitan pada Ayumi.
Ziko tiba-tiba mengeluarkan tangannya, membuat Ayumi bingung. "Kenapa?" tanya Ayumi seraya menatap Ziko.
"Mulai hari ini dan seterusnya, sebelum aku berangkat kerja kamu harus menyalami tanganku dan mencium tanganku!" kata Ziko, lagi-lagi Ayumi tercengang, Ayumi dibuatnya semakin bingung.
"Biasanya...."
"Ini peraturan baru, jadi kamu harus patuh padaku, apapun yang aku perintahkan tidak boleh kamu bantah," seperti biasanya Ziko memotong kata-kata Ayumi dengan cepat.
Akhirnya Ayumi mengulurkan tangannya, kemudian Ayumi menyalami tangan Ziko lalu menciumnya. Sekilas Ziko tersenyum kecil, entahlah pagi ini Ziko rasanya tiba-tiba menjadi sangat semangat.
Sungguh pagi ini Ayumi di buat tercengang oleh sikap manis Ziko, padahal biasanya tidak seperti ini.
Setelah berpamitan pada Ayumi, Ziko langsung berangkat ke kantor.
Setelah beberapa lama akhirnya Ziko sampai di kantor, Ziko langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Ziko duduk di kursi kerjanya, lalu dia senyam-senyum sendiri sambil memikirkan hal yang tadi malam terjadi.
Miko yang ternyata sudah berdiri beberapa detik di ambang pintu ruangan kerja Ziko, Mikio geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Aku rasa Kak Ziko mulai tidak waras," gumam Miko. Melihat kakaknya itu senyam-senyum sendiri ya menurut Miko aneh saja, apalagi hal ini jarang sekali terjadi.
Miko main masuk saja, lagian kakaknya ini terlalu asik dengan dunianya sendiri, Miko menutup pintu ruangan Ziko, lalu dia duduk di kursi depan Ziko yang terhalang dengan meja kerja itu.
"Tuan, jika anda terus senyam-senyum seperti itu, nanti gigi tuan bisa kering," celetuk Miko.
Ziko masih senyam-senyum, bahkan kali ini senyumannya membuat Miko menatapnya dengan tatapan jijik.
"Sungguh, aku bicara saja dia tidak mendengarnya." Miko geleng-geleng kepala, lalu dia beranjak dari tempat duduknya.
Miko berjalan mendekati Ziko, lalu dia berdiri di belakang Ziko.
"Apa, tuan sedang sakit?" tanya Miko, dia mengecek jidat Ziko dengan tangannya.
"Tidak panas," gumam Miko.
Ziko yang akhirnya sadar dari senyumannya yang tidak jelas itu, dia langsung menatap Miko dengan tatapan kesal.
"Hey, kenapa kamu tidak mengetuk pintu?" tanya Ziko pada Miko.
"Percuma, tuan itu terlalu asik dengan senyuman tuan. Coba cek, gigi tuan itu sudah kering belum?" jawab Miko.
"Katakan padaku, apa ada yang terjadi? Sehingga bos sekaligus kakakku ini terus-terusan tersenyum seperti orang gila?" tanya Miko, dia mencibir kakaknya dengan jail.
Ziko terdiam, dia kembali senyam-senyum lagi membuat Miko geleng-geleng kepala, sungguh kakaknya ini memang sudah gila.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia