
Melihat Ziko dan Erika keluar dari dalam ruangan kerjanya Ziko, Ayumi mencoba tersenyum pada Erika dan dia hendak menyapanya, namun belum sempat Ayumi lakukan, Erika sudah menatapnya dengan tatapan sinis.
"Ma..."
"Ada gadis miskin, sudahlah mending mama sarapan diluar saja. Rasanya tidak selera kalau harus sarapan satu meja dengan orang miskin..." cetus Erika, dengan penuh kesombongannya lagi-lagi Erika menghina Ayumi.
Ayumi hanya tersenyum kecil, ia tidak sakit hati, biarkan saja mama mertuanya menghina dirinya semaunya dia.
"Kebetulan ma jika mama sarapan diluar, aku jadi bisa sarapan berdua sama suamiku yang tercinta," tuturnya dengan nada lembut. "Mas, pagi ini kita sarapan berdua, masa bahagiakan?" sambung Ayumi, sorot matanya menatap Ziko penuh cinta.
"Tentu saja mas bahagia istriku," jawab Ziko dengan bahagia.
Melihat kebahagiaan di antara Ziko dan Ayumi, membuat Erika semakin tidak suka pada Ayumi.
"Gadis miskin saja sombong, sebentar lagi juga Ziko bakal ninggalin kamu!" tandas Erika dan Kanye berlalu pergi dari hadapan Ziko dan Ayumi.
"Lihat saja nanti ma! Akankah Mas Ziko meninggalkan aku?" sahut Ayumi, terukir senyum manis yang membuat Erika semakin kesal dan marah.
Setelah Erika berlalu pergi, Ziko dan Ayumi sarapan berdua dengan penuh kehangatan dan penuh cinta.
"Sayang, makanlah yang banyak, biar calon anak kita di dalam perut kamu sehat," tutur Ziko sambil mengelus-elus perut Ayumi. "Nak, cepatlah lahir ke dunia ini! Papa sangat menunggu kelahiranmu nak," kata Ziko pada calon anaknya yang masih ada di dalam perut Ayumi.
"Tunggu ya pa, beberapa bulan lagi kita bertemu di dunia," sahut Ayumi seolah-olah menjadi calon anak yang masih ada di dalam perutnya.
Setelah selesai sarapan, Ziko mengajak Ayumi berjalan-jalan pagi, dengan penuh perhatian dan kasih sayang Ziko terus menuntun Ayumi karena takut Ayumi jatuh jadi ia tidak melepaskan tangan Ayumi sama sekali selama jalan-jalan pagi.
Di sebuah taman kota dan suasana yang cukup rame, karena hari ini juga kebetulan hari minggu, Ayumi dan Ziko menghabiskan waktu berdua.
*****
Jam menunjukkan pukul 5 sore Ayumi baru saja selesai mandi, Ziko pun sama, mereka sore ini mandi bersama.
Saat sama-sama sedang berganti pakaian, Ayumi dan Ziko sama-sama melempar senyum bahagia.
"Dandan yang cantik sayang, malam inikan mau bertemu dengan orang special," ujar Ziko dan Ayumi mengangguk.
Kini Ayumi sudah cantik dengan dress selutut berwarna putih. Ayumi menggelung rambutnya agak berantakan dan rambutnya diberikan hiasan jepitan berbentuk bunga.
"Mas, aku kawatir kalau ternyata yang kita temui adalah orang yang salah," kata Ayumi sambil menatap Ziko yang sudah tampan dengan setelan jas warna hitamnya.
"Miko sudah menyediki semuanya, oh iya kalung...."
"Kalung dari bayi, ini sudah aku pakai mas, mudah-mudahan kalung ini bisa membantuku agar aku bisa bertemu dengan kedua orang tuanya yang sesungguhnya," sambung Ayumi dengan penuh harapan.
Ziko berjalan mendekati Ayumi yang sedang duduk di kursi meja rias, lalu ia memberikan ciuman kecil di kening sang istri.
"Iya sayang," jawab Ziko sambil tersenyum pada Ayumi.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 6, Ayumi dan Ziko yang sudah selesai bersiap-siap mereka sama-sama keluar dari dalam kamar.
"Kalian lama sekali," cetus suara yang tidak asing dengan ketus, iya itu adalah suara Erika yang sudah duduk di ruang tengah menunggu Ayumi dan Ziko.
"Mama, ikut mas?" tanya Ayumi dengan suara pelan dan di anggukin oleh Ziko.
"Maaf ma, ayo sekarang kita berangkat!" ujar Ziko, ia meraih tangan Ayumi dan mengandeng tangan Ayumi dengan mesra.
Lagi-lagi Erika menatap sinis kemesraan anaknya dan menantunya itu, Erika memang tidak suka dengan kemesraan mereka, apalagi Erika selalu menganggap Ayumi bukanlah wanita yang sepadan untuk bersanding dengan Ziko.
"Kamu tidak menggunakan supir, Zik?" tanya Erika, melihat Ziko duduk di jok supir dan Ayumi duduk di jok sebelahnya.
__ADS_1
"Tidak ma, Ziko mau nyetir sendiri," jawab Ziko, kini mesin mobil sudah di nyalakan Erika juga sudah duduk di jok belakang.
Dalam hati Erika, dari dulu kemana-mana Ziko selalu di antar oleh supir. Dan sekarang saat menikah dengan orang miskin ini, tumben-tumbenan Ziko menyetir sendiri.
Ziko melajukan mobilnya menuju ke sebuah restoran tempat janjiannya dengan Handoko dan istrinya.
Sesampainya di restoran tempat janjiannya, Ziko menghentikan mobilnya.
Ziko turun dari mobil, lalu ia membukakan pintu mobil untuk istrinya dan juga mamanya. Biarpun Ziko sangat marah pada mamanya karena hampir saja membunuh istrinya dan calon buah hatinya, tapi Ziko masih saja mau membukan pintu mobilnya untuk mamanya.
Kini mereka sama-sama melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran mewah itu.
"Mas, restoran ini mewah sekali, pasti makanan disini mahal mas," celetuk Ayumi dengan suara pelan tapi terdengar oleh Erika.
"Tentu saja mahal, makanya kamu itu makan saja makanan yang paling murah! Jangan habiskan uang anakku!" celetuk Erika, lagi-lagi terlihat sekali Erika tidak suka pada Ayumi.
Seketika Ayumi diam, ia ingin meladeni mama mertuanya, namun tidak ia lakukan karena malu banyak orang.
"Restoran ini milik Pak Handoko, makanan disini enak-enak, kamu mau pesan makanan semahal apapun, pesan saja istriku!" kata Ziko, seketika Erika semakin kesal.
"Jangan terlalu memanjakan gadis miskin ini, dia juga biasa makanan dengan makanan yang murah," sahut Erika dengan tatapan sinis.
"Istri cuma satu-satunya ma, apa salahnya aku manjain?" tanya Ziko dengan tegas.
Kini mereka sudah sampai di sebuah meja restoran khusus, ia itu terletak di dalam sebuah ruangan yang sangat mewah dan di dalam ruangan itu hanya satu meja dengan beberapa kursi.
Di atas meja sudah banyak makanan dan berbagai minuman, itu sengaja di siapkan oleh Handoko dan Ratih untuk menyambut Ziko, istrinya dan mamanya.
"Selamat malam Pak Handoko," sapa Ziko dengan sopan, mereka saling berjabat tangan dengan hangat.
"Selamat malam juga nak Ziko, duduklah!" sambut Pak Handoko dengan senyum yang sangat ramah.
Erika juga berjabat tangan pada Handoko dan Ratih.
Kini mereka semua duduk, tatapan Ratih tidak lepas dari Ayumi, membuat Ayumi agak canggung.
"Nak Ziko, istrimu sangat cantik sekali," puji Ratih dengan suaranya yang lemah lembut.
"Terimakasih nyonya," jawab Ziko dengan sopan.
Kini mereka menikmati makanan malam dengan nikmat lebih dulu, setelah selesai makan malam. Ziko dan Handoko langsung membicarakan tujuan mereka.
"Nak, apakah kamu benar-benar menemukan anak saya?" tanya Handoko, tatapan matanya cukup senduh, apalagi selama ini Handoko dan Ratih berusaha mencari anaknya yang hilang, namun tidak kunjung ketemu.
"Iya pak, istri saya ini adalah anak bapak dan ibu, kalung yang dia pakai adalah buktinya dan untuk memperkuat bukti, bapak dan ibu juga bisa melakukan tes DNA secara langsung," jawab Ziko dengan sopan, Ayumi melepaskan kalungnya dari leher jenjangnya dan memberikan kalung miliknya pada Ziko.
"Coba di cek dulu pak, kalung ini tidak bisa dibuka karena harus ada kuncinya," jelas Ziko dan Handoko menerima kalung itu dari tangan Ziko.
"Kalung ini memang dibuat khusus, dan di dunia ini hanya ada satu kalung yang asli seperti ini, ini juga ada kuncinya," terang Handoko.
Ratih melepaskan kalung yang ia pakai, lalu memberikan pada suaminya, iya kalung itu berliontin sebuah kunci kecil.
Tanpa menunggu lama Handoko langsung membuka kalung itu dengan liontin kunci kalung milik istrinya dan ternyata itu cocok, hingga kalung itu akhirnya terbuka, di dalam kalung itu ada fotonya Ratih dan Handoko.
"Darimana kamu mendapatkan kalung ini nak?" tanya Ratih pada Ayumi, nada suaranya terdengar lemah lembut.
"Dari mamaku, sebelum beliau meninggal beliau memberikan kalung itu padaku dan katanya dengan kalung ini, aku bisa bertemu dengan kedua orang tua kandungku," jawab Ayumi dengan sopan.
Ratih membuka tas jinjing yang ada di hadapannya, ia mengambil ponselnya dari dalam tas itu, lalu ia membuka galeri ponsel miliknya.
__ADS_1
"Apa ibumu wanita ini?" lanjut Ratih, sambil menunjukkan foto dirinya dan Erina di masa lalu.
"Mama, itu adalah Erina, beliau adalah mamaku," jelas Ayumi saat melihat foto Erina dan Ratih.
"Dia bukan mamamu nak, dia adalah wanita yang sudah tega mengambilmu dari hidupku dan suamiku," tutur Ratih, air matanya mulai menetes membasahi pipinya.
Mengingat betapa sulitnya dulu ia mencari tahu tentang anaknya, bahkan tidak ada jejak sama sekali sehingga ia dan suaminya sangat sulit menemukannya.
"Sebelum mamaku meninggal, beliau bercerita katanya aku ini anak yang di culik saat bayi, tujuan dia menculikku hanya untuk balas dendam karena kematian suaminya, jadi beliau ingin bosnya merasakan betapa sedihnya kehilangan orang yang di sayang untuk selamanya," cerita Ayumi dengan singkat.
"Dan kalung itu baru mamaku berikan sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya," sambung Ayumi dan tanpa sadar air matanya sudah membasahi pipi mulusnya.
Ratih dan Handoko menangis, ia sadar akan kejadian beberapa tahun lalu, tapi mereka juga tidak menyangka kalau Erina akan sekejam ini. Padahal mereka berdua sudah bertanggung jawab dan membiayai seluruh biaya hidupnya, tapi Erina masih belum bisa menerima hingga menculik bayi yang baru di lahirkan dan membawanya pergi ke sebuah pedesaan kecil agar tidak bisa di temukan.
"Anakku....." lirih Ratih, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat Ayumi duduk.
"Kamu adalah anakku," tanpa menunggu lama Ratih langsung memeluk Ayumi dengan erat.
Sebagai seorang ibu, naluri Ratih mengatakan bahwa Ayumi adalah benar-benar anaknya yang selama ini hilang dan di carinya.
Ayumi bahagia, karena selama hidupnya baru kali ini dia merasakan hangatnya pelukan dari seorang wanita yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri.
Selama ini Ayumi tidak pernah merasakan pelukan dari seorang ibu, Erina setiap hari hanya membencinya, memarahinya bahkan pelukan saja tidak pernah Erina berikan selama hidupnya.
Handoko beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menghampiri Ayumi dan Ratih yang sedang berpelukan.
"Ma, akhirnya kita menemukan anak kita," kata Handoko dan langsung memeluk Ayumi dan Ratih secara bersamaan.
Ziko tersenyum bahagia, akhirnya istrinya bisa bertemu dengan kedua orang tua kandungnya.
Erika tercengang tidak percaya, ia bingung menatap pemandangan yang ada di hadapan dirinya saat ini.
"Anak! Bukankah Ayumi anaknya orang miskin?" cetus Erika, lagi-lagi dengan sombongnya dan tanpa perasaan.
"Ayumi bukan anak orang miskin, dia adalah anak dari Handoko Wijaya dan Ratih Wijaya!" sahut Handoko dengan tegas.
"Dia adalah putri kita satu-satunya," sambung Ratih dengan tegas juga.
"Ziko ini apa....?" tanya Erika masih bingung.
"Ini kenyataan yang harus mama lihat! Ayumi adalah anak satu-satunya dari salah satu orang terkaya di kota ini, pemilik restoran ini juga Pak Handoko dan istrinya," terang Ziko pada mamanya.
Erika geleng-geleng kepala, ia tidak percaya, ini pasti hanya permainan Ziko. Itu yang ada dalam hatinya saat ini.
"Ziko kamu jangan bergurau," pinta Erika.
"Itu semua memang benar Nyonya," ujar Ratih dengan tegas.
Kini Handoko dan Ratih melepaskan Ayumi dari pelukan mereka.
Sungguh pertemuan ini membuat Ayumi sangat bahagia, Ayumi juga tidak menyangka kalau dirinya adalah anak orang kaya yang selama ini hilang.
Handoko dan Ratih sangat bersyukur, akhirnya mereka bisa bertemu dengan anak kandungnya yang selama ini hilang.
Di saat malam ini hanya ada kebahagiaan tapi disisi lain ada Erika yang ketar-ketir melihat kenyataan ini.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1