
Setelah selesai melakukan pemeriksaan Ayumi masih terdiam, otaknya masih berputar-putar seperti komedi putar karena memikirkan kehamilannya saat ini.
Raut wajah tampan Ziko tampak bahagia, bahkan bibir manisnya tidak berhenti tersenyum dalam hatinya juga terus mengucapkan rasa syukur karena dirinya akan segera menjadi seorang Ayah.
"Zik, kita pamit dulu ya," kata Alvin seraya menatap Ziko.
"Vin, aku percayakan kesehatan istri dan anakku padamu, kamu harus memeriksa kesehatan keduanya dengan baik, dan setiap saat aku mengabari kamu, kamu harus segera datang, karena aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa pada istri dan anakku," kata Ziko dengan begitu bawel. Alvin menghela nafas panjang, ini apalagi? Kenapa aku harus bertemu dengan manusia aneh seperti Ziko ini? Alvin hanya bisa membatin dalam hatinya.
Alvin hanya mengangguk pasrah, sedangkan Ziko masih terdiam dan sibuk dengan pikirannya.
"Apa sudah...."
"Vin satu lagi! Kamu kalau datang memeriksa istriku harus bersama Dokter Ana, karena aku tidak mau jika kamu sampai menyentuh kulit mulus istriku," terang Ziko memotong kata-kata Alvin.
"Tapi Tuan Ziko, Dokter Alvin adalah salah satu Dokter terbaik di rumah sakit, jika saya hanya juniornya Dokter Alvin," kata Dokter Ana dengan suaranya yang lemah lembut.
__ADS_1
Ayumi hanya memejamkan matanya melihat suaminya begitu rempong itu cukup membuat dirinya merasa pusing.
"Dokter Ana yang memeriksa kesehatan istri dan anak saya, Dokter Alvin tetap menjadi pengawasnya, jadi saat pemeriksaan Dokter Alvin harus datang bersama dengan Dokter Ana! Dan saya tidak mau tahu," kekeh Ziko dan itu membuat Alvin geleng-geleng kepala, Ana juga menatap Alvin dan dianggukin oleh Alvin agar semuanya cepat karena terlalu lelah mendengar ocehan Ziko manusia aneh ini.
Akhirnya setelah selesai mengoceh panjang kali lebar, Ziko mengizinkan Alvin dan Ana untuk kembali ke rumah sakit, betapa leganya hati Alvin bisa terbebas dari manusia aneh seperti Ziko itu.
*****
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Ayumi hanya diam di atas tempat tidur, Ziko yang baru saja selesai mandi, dia berjalan menuju ke tempat tidur, lalu duduk di sebelah Ayumi.
"Mas, apa aku benar-benar hamil?" Ayumi bertanya dengan tatapan masih tidak percaya.
"Dokter sudah memeriksa kamu sayang, kamu sungguh hamil. Apa, kamu tidak bahagia hamil anakku?" dengan lembut Ziko menatap mata Ayumi, lalu kedua tangannya memegang kedua mulus milik Ayumi.
Ayumi membalas tatapan Ziko dengan lembut, lalu memeluk Ziko dengan hangat.
__ADS_1
"Aku bahagia mas, tapi kita kan belum mengumumkan pernikahan kita, bagaimana jika orang-orang mengira aku hamil diluar nikah?" jawab Ayumi, sambil memeluk Ziko dalam hati kecilnya rasanya kawatir.
"Itu tidak akan terjadi, mas akan mengurus semuanya, minggu depan mas akan umumin pernikahan kita." Ziko mempererat pelukannya, dia tahu Ayumi pasti merasa kawatir, salah dirinya dulu, kenapa harus menikahi seorang gadis secara diam-diam?
Di saat mengingat pernikahannya yang diam-diam, hati kecil Ziko sebenarnya merasa menyesal, apalagi pernikahan yang yang awalnya dia tidak inginkan ternyata menjadi kebalikannya. Bahkan saat ini Ziko sangat mencintai Ayumi dan tidak mau kalau sampai kehilangan Ayumi dalam hidupnya.
"Iya mas, aku ingin semuanya lebih cepat, aku juga tidak mau ada gosip aneh-aneh," kata Ayumi seraya melepaskan dirinya dari pelukan Ziko.
Ziko mengangguk, lalu kembali memberikan ciuman hangat di kening Ayumi.
"Aku akan percepat semuanya sayang, kamu akan aku jadikan ratu dalam hidupku untuk selamanya," batin Ziko dalam hatinya.
Tidak terasa ternyata Ayumi sudah tidur dan Ziko pun akhirnya ikut tidur.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia