Gadis Bayaran Tuan Muda

Gadis Bayaran Tuan Muda
Tangis Ayumi & Sisil


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, Ayumi sudah sepenuhnya pulih, kehamilannya juga sehat, perutnya juga sudah semakin terlihat membuncit.


Kini Ayumi tampak bahagia berbincang dengan Selin, iya hari ini Ayumi ikut Ziko ke kantor dan kebetulan Selin juga ada di kantor untuk membahas masalah kerja sama dengan perusahaan Ziko.


Setelah selesai membahas masalah kerja sama, Selin mengajak Ayumi untuk makan siang berdua sedangkan Miko dan Ziko masih sibuk dengan pekerjaannya mereka di dalam ruangan Ziko.


"Mik, aku mau curhat...." kata Ziko, membuat Miko menghentikan pekerjaannya dan fokus melihat ke arah Ziko yang sedang berbicara pada dirinya.


"Tumben kak, apa ada masalah dengan kakak ipar?" tanya Miko.


"Tidak ada, tapi ini dengan mamaku," jawab Ziko serius.


"Tante Erika, kenapa?"


"Kamu percaya jika ada seorang ibu yang kejam, dan dia hampir membunuh menantu dan calon buah hatinya."


Miko semakin fokus menatap Ziko, ia tahu kali ini kakaknya sedang serius.


"Aku kira itu hanya ada di dalam flim drama saja kak."


"Tidak Mik, itu terjadi nyata pada istriku, ibuku memberikan racun dan obat penggugur kandungan, nyawa istri dan calon buah hatiku hampir saja melayang karena ibuku sendiri."


Miko mencerna dengan baik cerita kakaknya itu, ia geleng-geleng kepala karena merasa tidak percaya. "Tante Erika sekejam itu," batin Miko dalam hatinya.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan Mik?"


"Kakak ipar, sudah tahu masalah ini kak?"


"Belum Mik, aku takut kesehatan dia memburuk lagi, jadi aku rahasiakan semua ini darinya."


"Kak, ini adalah sebuah kejahatan, jadi mau tidak mau kita harus lapor polisi, jika tidak maka nyawa kakak ipar dan calon ponakanku akan terus dalam bahaya."


Tiba-tiba ponsel Ziko berbunyi dan itu adalah telpon dari Ayumi, tanpa menunggu lama Ziko langsung mengangkat telpon dari istrinya itu.


"Hallo sayang..."


"Mas, mamaku...."


"Mama, kamu kenapa sayang?"


"Mama aku masuk ke rumah sakit, ayo mas kita ke rumah sakit!"


Isak tangis Ayumi jelas terdengar, membuat Ziko sangat kawatir sekali.


"Tunggu mas, kamu dimana?"


"Aku di kantin kantor mas."


Ziko mematikan saluran telponnya, lalu dia bergegas pergi ke kantin kantor dan Miko juga ikut dengan Ziko.


Dalam hati Ziko, ini apalagi? Satu masalah belum selesai dan ini sudah datang masalah baru lagi.

__ADS_1


Kini Ziko, Ayumi, Miko dan Selin, langsung pergi menuju ke rumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan rawat Erina, yang tidak lain adalah ibunya Ayumi.


"Kakak...." panggil Ayumi, ia melihat Sisil terdiam sendirian.


"Yumi...." Sisil langsung memeluk Ayumi dengan erat.


"Yum, ibu sakit, aku takut..."


Sisil mengajak semuanya masuk ke dalam ruangan rawat Erina, melihat Erina terbaring lemah, Ayumi menangis.


"Mama...."


"Yumi, sini nak ada yang mau mama katakan padamu!"


Suara lirih dan lemas terdengar dari mulut Erina, Ayumi berjalan menghampiri Erina, lalu ia duduk di kursi sebelah Erina.


"Tuan Ziko, kamu juga kemarilah!"


Ziko mengangguk, ia berjalan ke arah Erina dan berdiri di belakang Ayumi duduk.


Sisil, Miko, dan Selin, hanya diam mereka hanya duduk di sofa.


"Sil, kamu kesinilah nak...!" panggil Erina dan Sisil juga pergi ke Erina, ia berdiri di sebelah kanan dan Ayumi di sebelah kiri.


"Yumi, sebelum mama minta maaf, kalau mama selalu berbuat jahat dan kasar sama kamu," lirih Erina dengan nafas yang sudah berat.


"Ayumi, mama mau jujur padamu, bahwa kamu dan Sisil bukanlah saudara kandung, kamu bukan anak ma nak, tapi kamu anak dari Handoko Wijaya dan Ratih Wijaya, akan mama ceritakan, cerita yang sesungguhnya nak padamu.


Flashback


Beberapa tahun lalu, Erina itu mempunyai dendam pada Handoko Wijaya dan Ratih Wijaya, karena kecelakaan yang di alami oleh suaminya waktu bekerja di perusahaan Handoko hingga meninggal itu membuat Erina sangat marah, Handoko sudah mempertanggung jawabkan semuanya, bahkan kerugian dan biaya hidup Erina dan Sisil di tanggung oleh keluarga Handoko, namun bagi Erina itu tidak sebanding dengan ia kehilangan suaminya untuk selamanya.


Hingga pada suatu hari, di saat Ratih melahirkan Ayumi, Erina menculik Ayumi dan membawa Ayumi pergi jauh dari kotanya.


Ratih sengaja melakukan hal ini karena ingin Handoko dan Ratih merasakan kehilangan orang yang mereka sayang, iya biar sama seperti Erina dan Sisil.


Pada saat itu Erina berpikir, jika aku kehilangan suamiku untuk selamanya, makan kalian juga tidak akan bisa melihat anak kalian sepanjang hidup kalian.


Akhirnya Erina pada saat itu pergi ke pedesaan terpencil agar Handoko dan Ratih tidak pernah menemukan anaknya, hingga Ayumi dan Sisil sudah mulai beranjak dewasa akhirnya Erina membawa mereka ke kota karena di pedesaan sangat sulit mencari uang.


Sampai akhirnya Erina memilih menjadi wanita nakal, dan tega menjual Ayumi pada laki-laki kaya raya.


Itulah mengapa Erina selalu membedakan Sisil dan Ayumi, Sisil hidup dengan kasih sayang yang tulus dari Erina sedangkan Ayumi terus-terusan di buat menderita oleh Erina.


Off Flashback


"Seperti itulah nak ceritanya, ini kalung yang diberikan oleh orang tuamu dulu waktu kamu baru lahir ini sudah ada di lehermu, kamu datanglah pada kedua orang tuamu nak, sampaikan maaf mama pada mereka," suara Erina terdengar lirih dan nafasnya mulai tersengal-sengal.


Ayumi menangis, biar bagaimanapun Erina adalah mamanya yang merawatnya selama ini.

__ADS_1


"Mama, bertahanlah....!!" pinta Ayumi.


"Mama, harus kuat! Jangan tinggalkan Sisil, kalau mama pergi, Sisil sama siapa?" tangis Sisil pecah, ia menangis sejadi-jadinya.


"Maafkan ma...ma..... mama, say...ang ka...!!" lirih Erina dengan nafas tersengal-sengal dan akhirnya Erina menghembus nafas terakhirnya.


Sisil nangis kejer, Ayumi juga menangis sejadi-jadinya.


Setelah menceritakan semuanya pada Ayumi, akhirnya Erina menghembuskan nafas terakhirnya.


"Sayang yang kuat ya...!!" kata Ziko dan langsung memeluk Ayumi.


Selin beranjak dari tempat duduknya, biarpun dia tidak mengenal Sisil, tapi Selin memeluk Sisil yang saat ini sedang menangis karena kepergian mamanya untuk selamanya.


"Sabar ya," kata Selin dengan nada lembut.


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi," kata Sisil yang diiringi isak tangis.


Ayumi melepaskan dirinya dari pelukan suaminya, lalu ia berjalan menghampiri Sisil yang saat ini ada di dalam pelukan Selin.


"Kakak, masih punya aku," kata Ayumi dan langsung memeluk Sisil dengan erat.


Sisil terus menangis, Ayumi yang selama ini selalu iya jahatin tapi dia masih saja baik pada dirinya.


"Ada aku juga," sambung Selin dengan nada lembut, ia memeluk Ayumi dan Sisil secara bersamaan.


Lagi-lagi Miko di buat kagum oleh ketulusan dan kebaikan Selin, bahkan Sisil yang tidak ia kenal saja ia mau memberikan pelukan untuk menenangkan hatinya.


*****


Hari ini juga jenazah Erina langsung diurus oleh rumah sakit, agar bisa segera di makam kan secepatnya.


Dirumah Sisil juga sudah banyak tetangga yang datang untuk membantu pemakaman Erina.


Setelah beberapa lama akhirnya jenazah Erina selesai di mandikan, dan sudah siap untuk di bawah pulang ke rumah.


Persiapan demi persiapan pemakaman pun di siapkan, hingga semuanya siap dan jenazah langsung dibawah ke makam.


Isak tangis Ayumi dan Sisil tak kunjung berhenti, saat jenazah Erina di masukkan ke liang lahat, sungguh mereka menangis sejadi-jadinya.


"Mama....."


"Kenapa mama pergi begitu cepat?"


"Mama, terimakasih untuk selama ini."


Ayumi dan Sisil terus berbicara di atas pusaran mamanya mereka.


Akhirnya pemakaman Erina selesai, Ayumi dan yang lainnya pun kembali ke rumah.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2