Gadis Bayaran Tuan Muda

Gadis Bayaran Tuan Muda
Bahagia yang sesungguhnya


__ADS_3

Para Art nya sedang sibuk sarapan bersama di ruang makan belakang, jadi wajar jika Ziko membuka pintu rumahnya sendiri. Lagian ini tidak masalah bagi Ziko.


"Ceklek...."


"Nak Ziko," sapa Ratih dan Handoko dengan ramah.


"Pak Handoko, Ibu Ratih, masuklah!" dengan sopan Ziko menyuruh kedua orang tuanya Ayumi masuk.


Ratih dan Handoko masuk, Ziko berjalan di belakang kedua mertuanya mengiringi langkah kaki kedua mertuanya, rasanya tidak sopan jika ia berjalan di depan kedua mertuanya ini, jadi iya lebih memilih untuk di belakangnya saja. Iya biarpun Ziko adalah Tuan rumahnya tapi Ziko juga harus jaga sopan santun dan tata karma.


"Ayumi kemana nak?" tanya Ratih dengan nada lembut, di tangannya membawa beberapa tentengan, entahlah isinya apa saja? Yang jelas itu dibawah khusus untuk Ayumi.


"Ada di meja makan ma, sedang sarapan," jawab Ziko.


Sesampainya di meja makan, Ayumi tersenyum senang melihat kedua orang tuanya datang ke rumah, Ayumi langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut kedatangan kedua orang tuanya dan menyalami tangan kedua orang tuanya.


"Mama, papa..." sapanya dengan sopan.


"Anak mama, senang rasanya bisa bertemu denganmu nak," ujar Ratih terukir senyum bahagia di sudut bibirnya.


"Oh iya, ini mama bawah kan baju-baju yang khusus mama beli buat kamu, ini juga ada macam-macam kue, lalu ini perhiasan keluaran terbaru buat kamu nak," dengan senang hati Ratih mengeluarkan apa yang dia bawah dari dalam paper-bag.


Handoko dan Ziko saling melempar senyum bahagia mereka, melihat wanita-wanita yang mereka cintai tersenyum bahagia, itu membuat Ziko dan Handoko jauh lebih bahagia.


"Bapak, ayo duduk, kita sarapan bareng!" pinta Ziko dan Handoko duduk di kursi meja makan.


"Nak, panggil aku papa, aku ini papa mertuamu," ujar Handoko dan Ziko mengangguk.


"Mama, banyak sekali yang mama bawah," kata Ayumi, ia tercengang tidak percaya, ini adalah pertama kalinya ia benar-benar di belikan sesuatu oleh seorang ibu, dulu mana pernah tidak di marahin sehari saja Ayumi sudah sangat bersyukur.


"Nak ini tidak banyak, anak kami cuma satu dan semua harta yang kami miliki nantinya itu juga buat kamu anakku," tutur Ratih dengan tatapan sendu, tapi hatinya sangat bahagia.


Erika yang ternyata dari tadi sudah berdiri tidak jauh dari ruang makan, ia ketar-ketir mendengar obralan Ratih dan Ayumi.

__ADS_1


"Ternyata gadis miskin itu anaknya orang kaya, sungguh tidak di sangka, tapi tetap saja Monika yang pantas bersanding dengan Ziko," batin Erika dalam hatinya.


"Mama," sapa Ayumi pada Erika tapi Erika malah menatapnya dengan sinis.


"Oh sedang ada perkumpulan keluarga ya," cetusnya dengan kasar.


"Lanjutkan lah!" tatapan Erika sangat tidak suka pada Ayumi.


Ratih menatap Ayumi seolah-olah menginginkan kejelasan, mama mertuanya itu kenapa?


"Nyonya Erika, saya bawakan kue juga untuk anda," dengan senang hati Ratih memberikan bingkisan kue untuk Erika, tapi Erika malah meliriknya dengan kesal. "Tidak usah repot-repot lain kali," sahut Erika dengan sombong.


"Sama sekali tidak repot nyonya," ujar Ratih dengan begitu sopan.


"Mama, duduklah! Kita sarapan bareng," pinta Ziko dengan sopan.


"Mending mama sarapan dengan Monika, daripada sarapan bersama kalian," sahutnya dan berlalu pergi begitu saja.


"Mama, papa, maafkan mamanya Ziko ya," dengan sopan Ziko meminta maaf kepada kedua mertuanya atas ketidak sopanan mamanya.


"Tidak apa-apa nak," jawab Ratih sambil tersenyum, Ratih yang memang orangnya sangat baik dan ramah, jadi saat di perlakukan tidak baik ya Ratih hanya bisa menerima saja, karena bagi Ratih menjadi orang sombong tidaklah baik.


Kini mereka menikmati sarapan pagi bersama, sambil berbincang-bincang kecil.


Setelah selesai sarapan, Ratih membantu Ayumi membereskan baju-baju yang ia belikan ke dalam kamar, Ayumi membereskan baju-bajunya di lemari.


Sedangkan Ziko dan Handoko mengobrol di ruang tengah sambil menikmati kopi, iya biar saling kenal antara menantu dan mertua.


Sambil membereskan baju, Ayumi dan Ratih mengobrol cukup akrab.


"Nak, mama lihat mama mertuamu, tidak suka padamu," tebak Ratih dengan hati-hati.


Ayumi tersenyum, lalu ia duduk di tepi ranjang di sebelah Ratih duduk.

__ADS_1


"Ma, mungkin karena dulu Ayumi hanya gadis miskin, mama mertuaku selalu menganggap aku dan Mas Ziko itu tidak pantas," jawab Ayumi dengan tutur kata yang santun.


"Apa salahnya jika orang miskin nak? Mama saja dulu kalau tidak menikah dengan papa kamu, mama juga hanya gadis desa yang miskin nak, beruntung mama mendapatkan ayahmu, yang tidak lain adalah pengusaha ternama," cerita Ratih membuat Ayumi tersenyum kecil.


"Tapi nenekmu semasa hidupnya dulu, beliau sangat sayang pada mama nak, biarpun mama hanya anak orang miskin, tapi beliau menyayangi mama seperti anaknya sendiri," lanjut Ratih, rasanya bahagia sekali bisa berbagi cerita dengan anaknya sendiri.


"Mama beruntung sekali, tapi Ayumi juga tidak pernah memasukkan hati apapun yang dikatakan oleh mama mertuaku, biarkan saja dia lelah dengan sendirinya ma," ujar Ayumi membuat Ratih langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang.


Mereka melanjutkan perbincangan mereka dengan bahagia, ada tawa canda, tangis dan bahagia.


Ziko dan Handoko masuk ke dalam kamar menyusul istri-istri mereka, kini mereka terlihat begitu bahagia dengan perbincangan mereka.


"Nak, papa dengar kamu sedang hamil," cetus Handoko dengan semangat.


"Sungguh, aku akan punya cucu," sambung Ratih dengan bahagia.


"Iya pa, aku sedang hamil," jawab Ayumi dengan bahagia.


"Zik, kamu hebat, buatlah Ayumi sering-sering hamil! Biar anak kalian jangan cuma satu, biar di rumah nanti rame," kata Handoko.


"Ziko sih siap pa, ngehamilin Ayumi kapan saja, tapi kira-kira Ayumi nya mau tidak pa?" jawab Ziko yang diiringi tawa bahagia, kalau masalah buat anak sih, Ziko kapan pun siap.


Ayumi tersenyum malu, kini mereka berempat langsung akrab. Sungguh, inilah kebahagiaan yang sesungguhnya yang Ayumi rasakan saat ini.


*****


Erika malah memilih pergi shopping dengan Monika, dan harapannya masih sama ingin Monika menjadi menantunya, tapi itu akan bisa terjadi.


Biarkan saja mereka berdua menghabiskan waktunya, lihat apa nanti yang akan di lakukan oleh Ziko untuk memberikan hukuman pada mereka?


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2