
Di saat Ziko sedang bersikap tidak jelas pada Ayumi dan tentunya membuat Ayumi menjadi bingung, suaminya itu kenapa?
Di sisi lain ada yang nasibnya kurang beruntung, siapa lagi kalau bukan Miko, sungguh hari ini dia berasa menjadi kambing hitam karena harus terjebak makan malam dengan Sisil yang genit.
Dan setelah selesai makan malam Sisil mengajak Miko ke sebuah club malam, Miko yang menghormati Sisil sebagai kliennya bosnya jadi mau tidak mau dia harus menurut pada Sisil, ya walaupun rasanya malas tapi mau bagaimana lagi? Inilah nasib menjadi anak buah.
Miko sebenarnya paling malas ke club malam, biasanya dia datang ke club malam itu juga karena Ziko saja, Miko menjaga Ziko takut Ziko mabuk parah karena minum terlalu banyak.
"Nona, apakah anda minum?" tanya Miko, melihat Selin meminum minuman beralkohol itu Miko hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Dia terhitung masih muda tapi sepertinya cukup bebas," batin Miko dalam hatinya.
"Aku hanya minum sedikit, kamu juga minumlah!" Selin memberikan segelas minuman memabukkan itu pada Miko.
"Maaf Nona, saya tidak minum," tolak Miko dengan sopan.
Selin tertawa kecil dia tidak percaya, kalau seorang laki-laki seperti Miko ini tidak mau minum.
"Kenapa? Ini enak, jika satu gelas kamu tidak akan mabuk." Selin mencoba merayu Miko.
"Maaf Nona, ini bukan minumanku, aku minum ini saja ini jauh lebih enak dan segar," jawab Miko sambil menunjukkan jus jeruk yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Seling geleng-geleng kepala seraya tertawa agak keras, Miko adalah laki-laki yang benar-benar polos yang pertama kali dia temui.
"Sekertaris Miko, kamu terlalu polos," celetuk Selin sambil kembali meminum minuman yang memabukkan itu.
Miko hanya diam, sungguh rasanya ingin cepat sekali pulang dan meninggalkan club malam yang begitu bising ini. Telinga Miko juga sudah mulai sakit mendengar musik yang jedag-jedug dari tadi, tapi Selin masih terus minum hingga Miko hanya bisa diam dan sambil menikmati jus jeruknya.
*****
Malam menunjukkan pukul 10 malam Ayumi dan Ziko kini sudah berada di dalam kamar mereka lagi.
"Kenapa, kamu tidak makan dari tadi siang? Apa kamu sengaja membuat dirimu sakit?" Ziko duduk di sebelah Ayumi, lalu Ziko mengambil buku novel yang sedang Ayumi baca. "Dengarkan jika suami bicara, jangan malah asik membaca novel, aku tidak suka," omel Ziko dengan raut wajah kesal.
Mereka berdua duduk di sofa, Ayumi sibuk dengan bukunya, sedangkan Ziko lagi-lagi bersikap tidak seperti biasanya.
Ziko menatap Ayumi dengan tatapan sinis."Kawatir, itu tidak mungkin. Aku hanya takut kamu mati dan itu akan merepotkan," jawab Ziko dengan gengsinya yang tinggi itu.
"Kirain kawatir, buktinya sampai memaksa saya untuk makan, sedang meeting tiba-tiba pulang, aku tahu Pak Han pasti memberikan laporan pada tuan," celoteh Ayumi panjang lebar.
Ziko ketar-ketir, kali ini dia bingung harus menjawab apa dan mengelak seperti apalagi?
"Apa sudah selesai bicaranya?" Ziko hanya menjawab itu.
__ADS_1
"Haruskah saya lanjutkan?" Ayumi bertanya dengan nada menggoda.
Ziko tersenyum mesum, lalu mendekat ke Ayumi duduk.
"Tuan mau apa?" tanya Ayumi, sorot mata Ayumi seketika bertanya-tanya.
"Mau melanjutkan, bukankah kamu meminta untuk di lanjutkan." Ziko semakin mendekat, Ayumi yang duduknya sudah mentok dia bingung dan hanya bisa menjauhkan wajah cantik agar tidak terlalu dekat dengan wajah Ziko.
"Tapi tuan terlalu dekat duduknya," protes Ayumi, detak jantung Ayumi berdetak kencang.
"Karena aku tidak mau melanjutkan semuanya disini," kata Ziko membuat Ayumi berpikir. "Lalu dimana?" gumam Ayumi dalam hatinya.
"Tentu saja di atas ranjang, mari kita lanjutkan..!!" jawab Ziko dengan jail.
Seketika mata Ayumi membulat sempurna sambil menatap Ziko.
"Di ranjang.....!!" Ayumi kaget, bahkan seketika desiran darahnya mengalir dengan cepat.
Ziko mengangguk, tanpa menunggu lama Ziko beranjak dari tempat duduknya dan dia langsung mengangkat tubuh mungil Ayumi ke atas ranjang, entah apa yang akan terjadi selanjutnya?
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia