
Kini dua hari telah berlalu, Ziko dan Ayumi akhirnya pulang dari rumah sakit, setelah Ayumi pulang dari rumah sakit, Ziko pun mulai mencari tahu tentang siapa orang yang sudah tega pada istrinya dan calon buah hatinya pada beberapa hari lalu.
Selama pulang dari rumah sakit Ziko memberikan penjagaan ketat pada istrinya, bahkan tidak boleh sembarangan orang masuk ke dalam kamarnya termasuk sang mama.
Selama Ayumi dirumah sakit, Erika juga tidak menjenguk sama sekali, ia malah pergi ke mall bersama Monika untuk shopping berdua.
Saat Ayumi tertidur pulas karena pengaruh obat, Ziko keluar dari dalam kamarnya.
"Jaga pintu kamar ini dengan baik!"
"Ingat, tidak boleh sembarangan orang masuk!"
Pesan Ziko dan di anggukin oleh kedua orang yang berjaga di depan pintu kamarnya, Ziko berlalu pergi untuk menemui Pak Han untuk menanyakan soal CCTV.
"Pak Han," sapanya saat melihat Pak Han sedang sibuk dengan ponselnya.
"Tuan muda," balik sapa Pak Han dan langsung menaruh ponselnya ke dalam saku celananya.
"Bagaimana tentang CCTV rumah?" tanya Ziko pada Pak Han.
"CCTV sudah saya cek dan saat kejadian itu semua CCTV mati, saya yakin ini semua pasti sudah direncanakan lebih dulu, tuan." Ujar Pak Han dengan yakin.
"Ikut denganku Pak Han!" ajak Ziko, Pak Han mengikuti langkah kaki Ziko.
Sesampainya di dapur, Ziko membuka sebuah lemari kecil yang ia tatah secara rapi.
"Itu lemari apa tuan?" tanya Pak Han.
__ADS_1
"Ini CCTV tersembunyi, beberapa hari lalu aku menyuruh orang memasangnya, untuk berjaga-jaga Pak," jawab Ziko yang sibuk dengan lemari kecil itu.
Saat mamanya mulai tinggal dirumahnya, Ziko selalu tidak tenang, hingga akhirnya untuk berjaga-jaga dia dia membuat CCTV tersembunyi di setiap ruangan dan itu hanya Ziko saja yang tau.
Kini Pak Han dan Ziko sama-sama mengecek CCTV itu dengan teliti.
"Tunggu tuan! Bukankah itu Nona Monika," kata Pak sambil menunjukkan Monika yang sedang sibuk di dapur.
"Apa kemarin-kemarin dia datang ke rumah?" tanya Ziko, Pak menggelengkan kepalanya yang berati Monika tidak keliatan datang ke rumah.
"Coba lihat yang pintu belakang ini pak!" pinta Ziko, Pak Han mengarahkan CCTV itu ke arah pintu belakang. "Tuan, Nona Monik ternyata masuk dari pintu belakang, dan lihat dia di bantu oleh Nyonya besar," ujar Pak Han kaget.
"Saya yakin pasti mereka sudah sekongkol," tebak Pak Han, ia geleng-geleng kepala karena rasanya tidak percaya melihat apa yang dia lihat sekarang.
Raut wajah Ziko tampak marah, ia tidak menyangka kalau mamanya akan sekejam ini pada istri dan calon buah hatinya.
"Sungguh, aku tidak percaya dengan semua ini Pak Han. Aku kira mamaku hanya tidak suka pada istriku, tapi dia tega memberikan racun bahkan obat penggugur kandungan pada istriku, apa salah istriku?" Ziko tampak kecewa, sungguh tidak menyangka melihat mamanya sendiri yang hampir membunuh calon buah hatinya.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang Tuan?" tanya Pak Han.
"Barang bukti ini aku akan simpan dengan baik, setelah istriku benar-benar sehat, baru aku akan mengurusnya," jawab Ziko dan Pak Han mengangguk.
Tanpa menunggu lama kejahatan Monika dan Erika mudah sekali terbongkar, mungkin mereka pintar mematikan semua CCTV di rumah Ziko sebelum melakukan rencana mereka, tapi Ziko jauh lebih pintar daripada mereka, ia memasang CCTV tersembunyi demi mengawasi anak dan istrinya.
Biarpun istri dan calon buah hatinya hampir saja kehilangan nyawanya, tapi Ziko sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikan keselamatan pada mereka.
"Lihat saja, aku tidak akan diam saja," batin Ziko dalam hatinya.
__ADS_1
Pak Han kembali berkerja dan Ziko juga langsung kembali ke kamar untuk menemui istrinya.
"Mas, darimana?" tanya Ayumi dengan suara lirih, tubuhnya masih lemas.
"Mas ada urusan sayang, kamu mau makan apa?" jawab Ziko, untuk saat ini Ziko tidak mau memberitahukan pada Ayumi tentang kejadian sebenarnya, apalagi istrinya ini masih belum pulih total.
"Aku tidak ingin makan apa-apa mas," jawab Ayumi dengan nada lembut.
Ayumi tersenyum manis, membuat Ziko juga tersenyum, biarpun saat ini dirinya sedang marah, tapi Ziko masih berusaha menahan amarahnya.
*****
Di saat Ayumi terbaring lemah karena ulah Monika dan Erika, kini mereka malah asik belanja di mall.
"Aku yakin pasti gadis kampung dan calon anaknya, pasti sudah mati," ujar Monika dengan yakin.
"Pasti sayang, dan kamu akan menjadi Nyonya Ziko Atdmaja satu-satunya," lanjut Erika seorang tawa bahagianya.
"Rasanya tidak sabar aku tan, untuk menjadi istrinya Ziko," sambung Monika.
"Sebentar lagi, tunggu saja racun-racun itu berkerja," Erika tersenyum senang, sungguh sebagai seorang ibu Erika memang tidak punya hati.
Mereka berdua sangat yakin kalau Ayumi dan calon buah hatinya tidak akan selamat, dasar mereka saja sampai tidak tahu kalau Ayumi sudah di bawah pulang ke rumah.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1