Gadis Bayaran Tuan Muda

Gadis Bayaran Tuan Muda
Semua itu sudah takdir


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 8 pagi, Ziko sudah berada di ruangan kerjanya dan di sibukkan dengan laptopnya dan laporan yang ada di atas meja kerjanya.


Selain membalas email penting dari beberapa kliennya, Ziko juga harus menandatangani berbagai laporan dan memeriksa berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya, pagi ini Ziko sudah di sibukkan dengan setumpuk pekerjaan yang ada sedangkan Miko yang biasanya datang tepat waktu, tapi hari ini Miko tumben sekali belum sampai di kantor.


"Mana Miko, tumben dia belum datang jam segini?" tanya Ziko pada dirinya sendiri.


"Apa jangan-jangan gadis itu kembali membuatnya tidak pulang ke rumahnya semalam?" sambung Ziko, otaknya sudah traveling kemana-mana.


Mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat Miko bercerita, Ziko terkekeh geli. "Jika itu benar terjadi aku yakin pasti Miko sudah tidak perjaka lagi," gumam Ziko dengan suara lirih.


"Tuan Ziko, apa yang membuat anda senyum-senyum di pagi hari seperti ini?" selidik Miko, saat baru membuka pintu ruangan kerja Ziko, Miko berdiri di ambang pintu seraya memperhatikan Ziko yang sedang senyam-senyum tidak jelas.


"Adalah pokoknya, bagaimana apa malam ini kamu selamat dari cengkeraman macan cantik itu Mik?" goda Ziko dengan begitu jail, seketika Miko menatap Ziko sengit. "Aku yakin pasti Kak Ziko sedang memikirkan hal mesum," batin Miko dalam hatinya.


Miko berjalan menuju ke meja kerja Ziko, lalu dia menarik kursi yang terhalang dengan meja kerja dan dia duduk di kursi itu sambil melipat kedua tangannya ke dada.


"Menurut kakak bagaimana? Apa kakak harap aku bermalam lagi dengan gadis itu?" Miko membayangkan jika hal itu kembali terjadi, entah bagaimana? Untung saja hal yang sama tidak terjadi untuk kedua kalinya.


"Bukankah bagus jika itu terjadi? Aku yakin pasti kamu akan di nikahkan secara paksa oleh Om dan Tante," cibir Ziko yang terkekeh bahagia.


"Untung saja mereka tidak tahu kak," dengan penuh syukur Miko tertawa kecil.

__ADS_1


"Kamu itu sudah tidak muda lagi, sudah waktunya menikah, daripada gangguin istri aku terus, lebih baik kamu segera menikah saja!" tutur Ziko sebagai seorang kakak.


Miko terdiam, benar kata Ziko, kenapa tidak menikah? Padahal hidupnya sudah mapan dan kerjaannya Miko juga sudah bagus tapi Miko selalu saja menutup pintu hatinya untuk para gadis yang mendekati dirinya.


"Mik, kejadian beberapa tahun lalu itu sudah berlalu. Aku tahu alasan kamu tidak mau menikah sampai saat ini, tapi Miko apa yang terjadi itu sudah terjadi, kita harus berjalan ke depan, kamu jangan terus memikirkan masa lalu yang sudah berlalu, semua itu takdir dan kamu jangan terus-terusan menyalakan dirimu sendiri!" Ziko kembali memberikan nasehat pada Miko, membuat mata Miko langsung berkaca-kaca karena mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang belum bisa dia lupakan sampai saat ini.


"Andai waktu bisa di ulang kak, aku pasti tidak akan memberikan kejutan padanya, karena kejutan itu semua itu terjadi kak." Miko memejamkan matanya, dia kembali teringat semuanya, hingga tanpa sadar air matanya kini sudah membasahi pipinya.


Ziko beranjak dari tempat duduknya, lalu dia berjalan menuju ke tempat Miko duduk.


"Mik, apa yang terjadi di dunia ini semua itu takdir, jika kamu terus menyalakan dirimu sendiri, aku yakin dia yang sudah berada di surga pasti akan sedih jika melihat kamu seperti ini." Ziko memegang bahu Miko, hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menguatkan Sekertaris sekaligus adiknya ini.


"Mulai sekarang bukalah hatimu untuk gadis lain!" pinta Ziko, dia tahu kesedihan yang selama ini Miko alami.


Ziko mengangguk lalu memeluk Miko sebagai adiknya.


Setelah beberapa lama, Ziko melepaskan Miko dari pelukannya, Miko juga menghapus air matanya.


"Ayo kerja, sudah jangan sedih lagi!" titah Ziko seraya memberikan semangat untuk Miko.


Miko mengangguk dan langsung mulai berkerja, Ziko terdiam dia tahu apa yang di alami oleh Miko itu begitu berat, jika itu terjadi pada dirinya, Ziko juga tidak tahu apa dirinya akan sekuat Miko?

__ADS_1


*****


Jam menunjukkan pukul 10 pagi, Ayumi terdiam di ruang tengah sendirian.


Ayumi hendak bangun dari tempat duduknya, tapi tiba-tiba dia terhuyung dan akhirnya dia kembali duduk. "Kepalaku pusing sekali," batin Ayumi dalam hatinya.


Ayumi memijat bagian pelipis kepalanya dengan kedua tangannya.


"Rasanya tidak kuat mau bangun, daripada aku jatuh lebih baik aku rebahan saja di sofa," pikir Ayumi dan dia membaringkan tubuh mungilnya di atas sofa.


Ayumi terdiam, lalu memejamkan matanya tapi tidak bisa merem karena rasa pusing di kepalanya makin menjadi.


"Huek.....huek....."


"Kenapa aku mual sekali?"


Ayumi dengan hati-hati bangun dari tidurnya, lalu pelan-pelan dia berjalan menuju ke kamar untuk istirahat di kamar.


Sesampainya di kamar, Ayumi yang merasakan semakin pusing tiba-tiba jatuh begitu saja.


"Brukkkkkk......."

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2