Gadis Pilihan Tuan Arya

Gadis Pilihan Tuan Arya
Ep 37_Kondisi Ibu Afika


__ADS_3

Usia kandungan Afika sudah memasuki bulan ke 8..Arya semakin protektif terhadap segala sesuatu yang menyangkut Afika.


"Afika sebentar lagi anak kita akan lahir bagaimana perasaan mu..?"


"Aku bahagia sekali Arya.. terimakasih sudah menerimaku yang tidak ada apa-apa nya di bandingkan dengan yang lain"


"Kau ini bicara apa sih..kau yang terbaik dari mereka..aku tak akan salah pilih..kau memang yang terbaik dari yang terbaik sekalipun.. percayalah"


Afika di buat meleleh oleh kata-kata Arya..andai dia eskrim sudah pasti dia akan melelah sejak tadi..Arya memang tidak hanya tampan dan berkharisma tapi juga perhatian dan baik terhadap orang yang dia cintai.


"Kami Mencintaimu papa"


"Papa juga mencintai kalian sayang"


Mereka berpelukan mesra..di saat mereka tengah menikmati waktu luang tiba-tiba ponsel Arya berdering..Arya mengambil ponselnya dan melihat nama Rumah Sakit yang tertera di layar ponselnya.


"Rumah sakit..ada apa..apa jangan-jangan....tidak..tidak....aku tidak boleh berpikiran negatif" batinnya tidak pastia dan juga was-was.


Arya mengangkat panggilan itu setelah menjauh sedikit dari Afika..dia tak mau Afika kepikiran soal ibunya..bisa berakibat buruk pada kandungan nya juga kesehatan nya.

__ADS_1


"Katakan"


"Maaf tuan..saya hanya ingin memberitahu kondisi terkini ibu Ratna..kemarin ibu Ratna sempat sadar sebentar lalu koma lagi tuan..kami tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal ini pada anda tapi kondisi ibu Ratna memang belum ada perubahan yang signifikan..kami minta maaf tuan karena baru mengatakan pada anda sekarang"


"Apa... bagaimana bisa kalian seceroboh ini..jika terjadi sesuatu bagaimana..apa kalian bisa bertanggung jawab hah..bodoh"


Arya benar-benar marah pada tim medis di rumah sakit itu.. bisa-bisanya mereka menyembunyikan hal sepenting ini darinya.. benar-benar tidak bisa di percaya.


"Maafkan kami tuan..kami tidak punya pilihan"


"Bodoh..aku sudah pernah mengatakan pada kalian sebelumnya jika ada perkembangan apapun itu meskipun sekecil apapun itu kalian harus memberitahu ku..apa kalian tuli hah..bodoh..tidak becus..jika sampai terjadi sesuatu pada ibu mertuaku bersiaplah kalian akan kehilangan gelar dan pekerjaan kalian..jangan harap kalian bisa bekerja di rumah sakit manapun paham"


Arya tidak menjawab dia memutuskan sambungan telepon nya..dia marah..kesal dan tidak berdaya..dia ingin sekali mencabik-cabik para dokter bodoh itu tapi itu tidak mungkin.


"Huhhh bagaimana caraku mengatakan pada Afika..sial"


Skip>>>>>>>>>


"Kakek apa kita akan ke rumah paman..?"

__ADS_1


"Iya..kenapa..kau tak mau..?"


"Bukan kakek..Kevin hanya trauma dengan ngidamnya bibi.."


"Bibirmu tidak akan mengidam lagi sekarang karena sudah akan melahirkan..tapi tidak tau nanti tergantung bibimu"


"Apa maksudmu kakek..jangan menakuti-nakuti ku".


"Sudah kau ini berisik sekali..kapan kita berangkat kalau begini terus"


"Iya baiklah kakek ku tersayang"


Tuan Bagas hanya mendengus mendengar kata-kata Kevin..cucunya itu memang sedikit geser otaknya..ingin sekali dia getok kepalanya agar kembali normal itu otak tapi tidak mungkin karena mau bagaimana pun Kevin adalah cucu pertamanya.


Sampailah mereka di rumah Arya..Tuan Bagas dan Kevin masuk dan di sambut oleh pelayan rumah Arya..salah satu pelayan memanggil tuannya di kamar dan mengatakan bahwa ada tuan besar di bawah.


"Afika ayo turun ayah di bawah"


"Benarkah..ayo"

__ADS_1


Mereka turun ke bawah dan melihat Kevin juga tuan Bagas..Afika tersenyum melihat kevin.. sepertinya dia punya satu keinginan untuk Kevin lakukan.


__ADS_2