
Hari-hari Arya dan Afika sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya..kandungan Afika juga sudah menginjak 3 bulan..hidup mereka seakan sudah kembali normal tak ada musuh yang berulah tak ada lagi pengganggu yang muncul.
Sejak kematian Wiguna dan Madav kehidupan rumah tangga Arya dan Afika semakin harmonis dan juga romantis..Afika semakin manja dengan sang suami..bahkan ke kantor dia harus ikut,tak boleh jauh darinya barang sedetikpun.
Afika begitu posesif terhadap Arya..dia tak boleh melirik wanita lain bahkan jika di sapa jangan balik menyapa..Arya ok ok saja toh hanya adik yang ada di hatinya..dia juga tak keberatan dengan aturan baru yang Afika buat..dia malah semakin mencintai Afika.
Arya suka jika Afika bermanja-manja dengannya..dia suka saat Afika merengek minta di buatkan sesuatu..dia suka saat Afika begitu menempel padanya..dia tak risih atau keberatan..bahkan jika Arya ada meeting Afika selalu ikut dan menemoel di sampingnya seakan tak mau jauh..bawaan baby seperti nya.
"Papa buatkan susu untuk kami..please" ucap Afika dengan manjanya"
"Susu..baiklah mau rasa apa?"
"Coklat papa"
"Baiklah tunggu sebentar ya jangan kemana-mana"
"Iya papah..jangan lama-lama kami merindukanmu"
Arya hanya terkekeh melihat tingkah menggemaskan Afika..di masa kehamilan kemarin Afika tak begitu manja tapi sekarang dia benar-benar tak bisa jauh dari Arya..di tinggal sebentar ke kamar mandi saja sudah menangis sesenggukan..huhh dia semakin menyukainya.
__ADS_1
Saat ini Afika tengah duduk di balkon kamarnya..dia dan Arya memang senang bersantai di balkon jika sudha sore..mereka senang menghabiskan waktunya hanya berdua dan mengobrol perihal perkembangan anak mereka.
Di saat Afika tengah asik melihat burung-burung yang terbang kesana kemari tiba-tiba ada sebuah batu terbungkus kertas terlempar di dekat Afika dan mengenai kakinya hingga memerah.
Bughh......
"Arghh.,sshhh"
Afika kesakaitan karena kuku jari kakinya memerah akibat terkena lemparan batu itu..batu itu lumayan besar kebetulan kamar mereka tak terlalu jauh dari jalan hingga memudahkan orang untuk berbuat jahat namun banyak penjagaan di sekitar rumah jadi bagi yang berniat jahat pasti tertangkap.
"Apa ini..auchhh..sakit"
"Arghhhh.. Aryaaa"
Arya yang baru sampai tangga mendengar suara Afika menjerit dia langsung berlari masuk kedalam kamar dna melihat Afika tengah duduk di ujung balkon..matanya menyapu balkon itu dan menemukan sebuah kertas bergambar tangan yang berdarah..sial siapa yang berani mengganggu nya.
"Afika..hey it's ok"
__ADS_1
"Arya..hiks..aku takut..darah..hiks"
"Sudja tidak apa-apa..ayo masuk"
Di saat Afika hendak bangun tiba-tiba dia meringis kesakitan dan Arya melihatnya dia menelisik setiap bagian tubuh Afika dan berakhir pada kaki Afika yang membengkak merah.
"Ini kenapa Afika?"
"Tadi terkena lemparan batu itu sshh"
"Astaga..ayo aku gendong tapi kau tidak apa-apa kan?"
"Hanya kaki saja yang sakit"
Arya tak bertanya lagi dia segera membawa Afika masuk dan mengobati kaki Afika..dia geram dan marah siapa yang berani melakukan teror pada keluarganya..sialan akan dia cari siapapun itu..beraninya dia membuat Afika terluka seperti ini..tidak bisa di maafkan.
Selesai mengobati kaki Afika kini Arya menghubungi Adrian untuk mengecek setiap cctv rumah nya.
"Cari sampai ketemu dan bawa dia kehadapan ku hidup-hidup"
__ADS_1