
Hari-hari yang ya dan Afika beserta keluarganya jalani sekarang lebih tenang karena belum ada yang berani muncul untuk mengusiknya lagi.
Kabar tentang kematian Sonya mantan sekertaris tuan Neureus juga melejit di kalangan pengusaha terutama di kalangan ulet keket.
Mereka berfikir lagi jika mau mendekati Arya karena memang Arya tidak bisa di goda itu semua karena sang istri yang telah memberikan dua anugerah yang tak bisa dia ganti dengan apapun yaitu anak..Arya juga semakin romantis pada Afika semenjak kehamilannya makin besar dia selalu beromantis ria walau beberapa kali saja tapi itu cukup untuk penambah mood bumilnya.
"Afika aku kerja dulu ya..apa kamu mau ikut hm?"
"Mau papah.. bolehkan?"
"Tentu saja boleh..biar Arika di rumah ayah dulu nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa papah"
"Baiklah ayo siap-siap dulu"
Arya mengantarkan Afika ke kamar untuk bersiap..Arya jugalah yang memilihkan baju untuk Afika pakai..afika memakai pakaian yang tak terlalu terbuka juga tak terlalu memperlihatkan lekuk tubuhnya..dia tak mau tubuh Afika di tatap pria lain karena semua yang ada pada diri Afika adalah miliknya.
__ADS_1
"Cantik..ayo sekarang berangkat" ajak Arya ketika telah selesai membantu Afika berganti pakaian.
"Arya jangan berlebihan aku malu" ucap Afika malu-malu.
"Nyaman tidak..kalau tidak bisa ganti lagi yang nyaman untuk kalian hm?"
"Tidak apa-apa..ini sudah nyaman sayang.. terimakasih papah"
"Sama-sama sayangku"
"Arya kenapa kau sangat tampan kan nanti banyak mata karyawan perempuan yang melihat mu dengan mata genitnya..aku tidak suka Arya" gerutu Afika yang kesal dengan wajah tampan suaminya.
"Hahahha terus aku harus bagaimana sayang..apa aku memakai masker saja hm?"
__ADS_1
"Ide bagus..lebih baik oake masker daripada di lihat orang lain yang genit"
"Hahaha baiklah nyonya Dirgantara yang terhormat"
Arya mencari maskernya dan memakainya di depan Afika..Afika membuka masker Arya karena dia masih ingin menatap wajah tampan suaminya..nanti jika sudah sampai di kantor barulah Arya memakai masker lagi.
Sepanjang perjalanan Arya memanjakan Afika dengan membelai oerut buncit Afika..kafangdia mendapat respon dari sang calon anak mereka dari dalam melalui tendangan..Arya senang sekali bisa berinteraksi dengan calon anak ya yang belum lahir..dia jadi tidak sabar untuk segera melihat buah cintanya dengan Afika untuk yang ke dua ini.
"Apa ada keluhan sayang?" tanya Arya lembut.
"Tidak ada papah..hanya setiap malam perutnya kenceng kalau nggak di belai sama papanya" adu Afika dengan manja.
"Benarkah..baiklah mulai nanti malam papah akan membelai anak kita supaya tidak membuat mamanya kesakitan juga kesulitan"
"Bagus papah..kami mencintaimu"
"Papah juga mencintai kalian..cup.."
__ADS_1
Arya mencium bibir Afika dengan penuh cinta.. pembatas di antara kursi depan dan belakang sudah Arya naikkan agar dia bebas mengeksplor Afika sesuka hatinya..Afika juga tampak menyukainya dna tidak protes dia malah membalas setiap sentuhan Arya hingga mereka sampai di kantor dan mau tidak mau kegiatan mereka di tunda dulu.