
Suasana Hening menyelimuti seluruh ruangan yang bernuansa gelap itu..tak ada percakapan antara kedua manusia yang saat ini tengah berhadapan.
Afika tidak tenang dengan suasana hening itu rasanya begitu mencekam seakan mengintimidasi nya dari dunia.
Afika merasakan ikat rambutnya putus seketika rambut indahnya tergerai hingga sebawah bahu..sungguh cantik sekali gadis pujaannya.
"Ekhem..t..tuan..apakah ada yang anda ingin sampaikan..?" tanya Afika memecah keheningan.
"Tidak"
Afika melongo dibuatnya.. bagaimana bisa orang di hadapannya berkata seperti tidak ada apa-apa..sungguh ingin sekali Afika mendamprat mukanya tapi sayang dia terlalu tampan untuk di damprat.
"Astaga lalu anda meminta saya untuk bertemu dengan anda itu untuk apa waktu itu..?"
"Tidak ada"
Lagi dan lagi Afika hanya bisa geleng-geleng kepala.. benar-benar tapi Afika harus sabar demi ibu.
Arya masih menelisik raut wajah Afika seperti ada yang aneh..Arya menekan tombol di bawah mejanya seketika tirai di dibelakang nya terbuka dan Arya dapat melihat bahwa ada luka lebam dan memar di bagian wajah serta tubuh Afika.
Saat di bawah tadi Arya menggunakan kacamata hitam yang mana membuatnya melihat suasana di sekitar ikut meremang sehingga dia tak melihat memar dan lebam di wajah serta tubuh Afika.
"Ada apa dengan Afika..kenapa tubuhnya memar dan lebam..?" batin Arya sambil mengepalkan tangannya.
Arya marah dia sangat marah siapa yang berani membuat gadisnya menjadi seperti ini..Arya tidak terima dia akan membalasnya nanti tunggu saja.
__ADS_1
"Tuan..apa boleh saya bicara..?"
"Katakan"
Afika menarik nafasnya dengan tempo cepat dia gugup tidak berani mengutarakan keinginannya untuk meminjam uang pada tuan Arya..tapi dia butuh demi ibunya Afika harus berani.
"Aku butuh bantuan mu"
"Bantuan..apa itu..?"
"Huh..aku butuh uang jika boleh aku pinjam darimu aku janji akan aku kembalikan bahkan dengan bunganya aku benar-benar butuh bantuanmu"
Arya menatap lekat wajah cantik Afika.. sebenarnya dia tau permasalahan yang Afika hadapi saat ini..karena dia tadi melihat bekas luka yang hanya tersamarkan dengan polesan bedak saja seketika dia berubah menjadi marah.
"Mengapa aku harus membantumu..?"
Afika terdiam..dia tak tau lagi harus menjawab apa..dia menunduk hilang sudah kesempatan nya..Afika hanya bingung dengan siapa lagi dia akan meminjam uang untuk pengobatan ibu nya..Afika sudah buntu.
Arya melihat Afika sedih hatinya tak tega tapi dia punya rencana lain untuk itu.
"Aku bisa membantumu"
Afika mendongak dengan mata yang sudah berkaca-kaca..dia menatap wajah Arya dengan semangat dia berkata.
"Benarkah..kau mau membantu ku..?"
__ADS_1
"Ya"
Afika rasanya ingin sekali melompat tapi dia sadar dia sedang tak di rumahnya yang ada dia malah mempermalukan dirinya sendiri.
Arya menatap Afika yang tersenyum dengan jawabannya dia juga senang akhirnya Afika bisa kembali tersenyum.
"Menikahlah denganku"
Kata-kata Arya bagaikan sebuah suara lonceng kereta yang tiba-tiba datang..dia tentu saja kaget bukan main..apa katanya menikah dengannya..apakah ini masuk akal..?.
"Apa..?"
"Menikahlah denganku" ucap Arya sekali lagi dengan senyum miringnya.
Afika mengerjapkan matanya berkali-kali..dia berharap semoga ini hanya mimpi saja..dia sedang tidak dalam kondisi yang mendukung ya mungkin dia berhalusinasi.
"Kau serius..jangan becanda..mana mungkin ada bantuan dan imbalannya malah menikah denganmu.."
"Terserah jika tak mau..jika kau mau menikah dengan ku aku akan melunasi biaya rumah sakit ibumu hingga ibumu sadar juga biaya kuliahmu hingga kelulusan mu bahkan kebun ibumu bisa jadi semakin besar jika kau mau menikah denganku..tapi jika kau menolak maka jangan pernah cari aku lagi karena tawaran ini hanya sekali saja..pikirkanlah"
Afika terdiam.. bagaimana ini..tawarannya begitu menggiurkan..tapi apakah dia sanggup berumahtangga dengan orang yang baru dia kenal tanpa dasar cinta.
__ADS_1
Nih othor kasih perkira-kiraan pakaian yang sedang mereka pakai karena othor nggak Nemu si neng Afika lagi pakai kaos pink jadi othor ralat sendiri 😁.
Guanteng dan cuakep kan..ya iyalah 😁😁😁