
Seorang pria tengah duduk di sebuah kursi kayu yang di hadapannya tengah tergeletak seorang laki-laki tua yang sangat licik.
Seorang laki-laki lain berjalan menghampiri pria tadi dan berbisik di telinganya..entah hanya mereka yang tau apa yang sedang mereka bicarakan.. sepertinya berita baik karena seringai terlihat dari bibir pria yang tengah duduk di kursi kayu itu.
Tak berapa lama kemudian dua orang pria berbadan kekar datang dan membawa seoranv pria setengah baya dengan postur tubuhnya yang mirip ikan buntal..pria itu berjalan terseok-seok karena kakinya sudah menjadi lemas karena mendapatkan siksaan dan beberapa pukulan.
"Maaf tuan menunggu lama" ucap dua orang berbadan kekar itu pada pria yang duduk di kursi.
"Tidak apa"
"Kami sudah menyiksanya tuan..silahkan jika tuan ingin langsung menghabis nya"
"Hm..ambilkan cambuk kawat itu"
"Baik tuan"
Dua orang itu masih memegangi tangan pria buntal itu sambil menunggu tindakan tuannya..tak berapa lama seorang pria yang setia menemani pria yang duduk di kursi menghampiri pria itu dan menyerahkan cambuknya pada pria yang di kursi itu.
"Ini tuan"
"Hm"
__ADS_1
Pria itu menatap lekat dua tawanan nya yang terlihat gusar dan ketakutan..pria itu berdiri dan berjalan sambil memecutkan cambuk itu hingga terdengar bunyi pecutan cambuk yang membuat telinga tawanannya merinding.
"Wiguna, Madav..dua orang bodoh yang menantang ku ckckck" ucap pria itu sambil memandang datar ke arah dua tawanannya.
"Kalian tau kesalahan yang tidak bisa aku maafkan..mengincar keselamatan orang-orang tersayangku..kalian tau kesalahan kalian bisa di maafkan atau tidak jawabannya adalah tidak"
Sementara Wiguna dan Madav mereka berusaha bangun dan bersimpuh pada kaki pria itu namun secepat kilat pria itu mendorong tubuh Madav dan Wiguna hingga tersungkur.
"Jangan pernah berharap bisa menyentuh ku bajingan"
"Arya..maafkan kami..kami khilaf" ucap Wiguna lemah.
"Tuan Arya maafkan kami..kami janji tidak akan mengulangi lagi perbuatan kami" tambah Madav.
"Aku tidak bisa memaafkan kalian" ucap Arya datar.
"Adrian minta dua orang untuk memegang tangan mereka..aku akan melakukan atraksi pada kedua bajiangan itu"
"Baik tuan"
Kedua tangan Wiguna dan Madav sudah di pegang oleh anak buah Arya..Arya memecutkan cambuk kawat itu hingga bunyi suara pecutan cambuk itu begitu mengerikan di telinga Madav dan Wiguna.
__ADS_1
"Inilah balasan jika berani mengganggu ketenangan Keluarga Dirgantara"
Cetarrrrr.....
"Arghhhhh..ampun Arya"
Cetarrrrr.....
"Arghhhhh maafkan aku"
Cetarrrrr......
"Arghhhhh sakittt"
Cetarrrrr....
"Arghhhhh lepaskan aku.. arghhhh maafkan aku"
Arya tak berhenti sampai di situ saja..dia terus mencambuk kedua orang itu hingga tak sadarkan diri..anak buah Arya mengguyurkan air pada kedua bajingan itu dan seketika keduanya tersadar.
"Tidak ada waktu untuk beristirahat bedebah..kalian lanjutkan jangan sampai dia melihat matahari esok..lemparkan tubuhnya pada para buaya"
__ADS_1
"Baik tuan laksanakan"
Arya meninggalkan para anak buahnya dan juga kedua orang itu..dia ingin pulang karena rindu dengan Afika..biarkan saja ada anak buahnya yang mengakhiri hidup Madav dan Wiguna..dia tak mau mengotori tangan nya dengan darah menjijikkan mereka.