Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
"Apa sudah ada tanda-tanda Keanu junior di sini?"


__ADS_3

Keanu baru saja terbangun. Saat terbangun, ia tidak sang istri di sebelahnya. Matanya memaksa untuk membuka sempurna. Sejak semalam, ia melupakan ponselnya. Pada dasarnya Keanu memang orang yang jarang menggunakan gadget-nya. Ia hanya sesekali melihatnya saja. kalau dulu saat sendiri ia sering bermain game di sana sebagai pengusir sepi atau penghibur lelah, tapi sekarang semua itu sudah tergantikan oleh Jihan.


Dengan tetap bertelanjang dada dan hanya berbalut boxer di tubuhnya, Keanu melangkah keluar kamar untuk mencari Jihan.


Pria itu mencari istrinya di dapur, karena tempat itu adalah tempat favorit Jihan. Wanita itu sering bereksperimen di sana, entah itu membuat makanan atau kue, atau minuman segar ala-ala kafe. Dan hal itu yang membuat Keanu semakin bertambah timbangannya. Untung saja, pria itu rajin berolahraga, entah itu olahraga pagi atau malam. Tapi Keanu berusaha untuk mengimbangkan berat badannya, mengingat hal itu juga yang harus diperhatikan sebagai pembalap yang juga masuk ke dalam kategori olahraga dan pemainnya disebut atlet.


Keanu tersenyum melihat istrinya dari belakang tengah berdiri di depan marmer kitchen set. Seperti biasa, Jihan membuatkan minuman untunya dan sang suami sebagai awalan untuk menyiram lambungnya yang kosong. Jihan membuat susu untuk dirinya sedangkan sang suami dibuatkan kopi dengan campuran krimer dan susu putih.


Grep


Keanu memeluk Jihan yang hanya berbalut kimono tipis super pendek. Ia juga belum menggunakan pakaian d*l*mnya.


“Morning, Sayang,” ucapnya lembut tepat ditelinga Jihan.


Jihan menoleh dan tersenyum. “Morning, Sayang.”


Lalu, Keanu memberi kecupan kecil di leher Jihan. Dengan sengaja, Jihan pun memiringkan kepalanya guna memberi akses pada suaminya untuk melakukan yang lebih atau dengan durasai yang lama. Benar saja, Keanu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia pun mengubah niatnya yang semula hanya menggigit kecil dengan durasi yang singkat, kini menjadi ******* hingga sesuatu yang menimbulkan bekas baru. Aksi mulutnya, diikuti dengan tangannya yang mengelus tubuh Jihan dari balik kain tipis itu dengan mudah. Bahkan saat ini, Keanu sudah membuka tali kimoni itu.


“Kean. katamu mau latihan pagi,” ucap Jihan untuk menghentikan aktifitas itu, mengingat ia pun akan berangkat pagi-pagi ke rumah sakit dan saat ini ia sudah membersihkan diri hanya saja ia belum menggunakan pakaian dinasnya.


“Tidak boleh satu kali lagi?” tanya Keanu dengan terus mengusap perut Jihan langsung ke kulitnya.


Jihan menggeleng. “Semalam kita sudah melakukan banyak, Kean. Apa kau belum puas?”


Keanu menggeleng. “Aku tidak pernah puas dengan tubuhmu, Sayang.”


Jihan tertawa.


“Sayang,” panggil Keanu.


“Hm?” tanya Jihan yang kembali melakukan aktifitasnya dengan mengaduk dua minuman di masing-masing gelas itu.


“Apa sudah ada tanda-tanda Keanu junior di sini?” tanya Keanu sembari mengelus lembut perut rata itu.


Jihan menggeleng. “Belum. Semoga bulan ini ada.”


“Semoga,” sahut Keanu yang juga memohon agar usahanya selama ini membuahkan hasil. Ia tidak mau kalah dengan penganten tua seperti Lastri dan Wiliam.

__ADS_1


****


Brum … Brum … Brum …


Keanu sudah menduduki motornya. Ia hendak latihan satu putaran untuk mencoba motor lama yang baru selesai diperbaiki Leonardo, mekanik kepercayaannya yang biasa dipanggil Leon oleh tim.


“Fabio tidak latihan?” tanya Keanu pada Leon, saat si pembalap itu hendak melepas landas kendaraannya.


Leon menggeleng. “Fabio izin tidak latihan hari ini. Dia mengganti hari. Mungkin dia sedang sibuk dengan wanita barunya.”


Keanu tersenyum. ia kembali mengingat pesan semalam dari Fabio. Malam itu, Fabio mengakui bahwa ia sedang bercinta dengan Rachel. Namun hingga kini, Keanu belum membaca pesan terakhir yang Fabio kirim.


“Rachel juga tidak datang hari ini?” tany Keanu lagi.


“Ya, benar. Mengapa kau bisa tahu? Apa Rachel juga meminta izin padamu?”


Keanu menggeleng. “Tidak. hanya feeling saja.”


Leon langsung menyipitkan matanya. “Apa Fabio dan Rachel? …”


Leon pun tersenyum. Mekanik kepercayaan Keanu itu sama sekali tidak tahu bahwa motor itu terakhir dipegang oleh Rachel, karena saat Rachel mengutak-ngutik motor itu, sebenarnya Leon sudah memperbaiki.


Brum … Brum … Brum …


Keanu kembali mencoba gas kendaraan roda dua itu dengan sedikit mengeraskan gasnya. “Akan aku coba motor ini.”


“Ya, cobalah. Saya sudah memperbaiki semuanya,” sahut Leon.


Keanu mengannguk. Ia pun mulai menjalankan motor ini. Laju yang semula pelan, terus pelan, hingga akhirnya, tinggi dan semakin tinggi kecepatannya.


Di pertengahan Lap, Keanu mulai merasakan sesuatu yang berbeda dengan kendaraan yang sedang ia kendarai itu. rasanya justru semakin jauh lebih parah dari sebelumnya.


“Kean, are you key?” tanya Leon yang melihat Keanu sedikit oleng saat mengendarai motor itu.


“Ini tidak enak, Leon. Mesinnya lebih parah dari yang aku gunakan kemarin,” sahut Keanu di alat komunikasi yang terpasang pada helm yang Keanu kenakan di kepala.


“Ya, aku melihatmu,” jawab Leon. “Kurangi kecepatan sebelum menikung saat menikung.”

__ADS_1


Keanu mengangguk. “Oke.”


Namun, Keanu lama mengambil keputusan. Ia tidak segera mengurangi kecepatan saat akan ada di tikungan. Sehingga tikungan itu terlalu menukik. Walau Keanu mencoba menyeimbangi dan menahan agar tidak terjatuh, tapi naas ia tak mampu menghalau hal itu terjadi.


Brak


Keanu terjatuh, tubuh dan motornya terseret beberapa kilometer hingga keluar dari lapangan. Kendaraan yang tidak stabil akibat ulah Rachel, jalanan yang licin karena bekas hujan serta aspal yang bentuknya bergelombang, membuat akhirnya Keanu tumbang.


“Keanu …” teriak semua tim yang melihat kejadian itu. Mereka pun langsung menghampiri Keanu yang terlihat masih bergerak dan hendak membangunkan tubuhnya.


Prang


Di rumah sakit, Jihan menjatuhkan alat medis yang terbuat dari aluminuum itu, sehingga suara benturan benda jatuh antara benda logam dan lantai itu mengeluarkan bunyi nyaring di sela ruangan yang sunyi.


“Sorry, In. aku menjatuhkan alat-alat itu,” kata Jihan yang langsung berjongkok saat melihat perawat pendampingnya sudah berjongkok dan hendak membereskan alat-alat yang berserakan itu.


Jantung Jihan tepacu lebih cepat, entah apa yang ia rasakan tapi rasanya tidak karuan.


“Tidak apa, Dok. Sedari pagi Dokter banyak melamun. Apa ada masalah?” tanya perawat pendampingnya yang bernama Intan.


Jihan menggeleng. “Tidak, saya tidak da masalah, tapi tidak tahu mengapa sejak tadi hatiku resah. Kira-kira ada apa ya, In?”


Jihan sedikit panik sembari membantu Intan membereskan alat-alat yang berserak itu. Setelah selesai, keduanya berdiri.


“Mungkin firasat,” sahut Intan.


“Firasat apa?” tanya Jihan.


Belum sempat Intan menjawab, suara seorang perawat lain memanggil Jihan. “Dokter Jihan, ada pasien kecelakaan di ruang IGD. Dokter Danu masih operasi, jadi saya minta tolong Dokter Jihan menangani lebih dulu.”


“Oke.”


Jihan mengangguk dan segera berjalan cepat mengikuti langkah kaki perawat yang memanggilnya tadi, Intan pun ikut mengekori Jihan.


Jihan langsung menemui pasien. Namun, semua seperti runtuh, ia juga menjatuhkan alat-alat yang ia pegang.


“Keanu …” panggilnya lirih yang langsung berlari ke arah itu sembari menangis.

__ADS_1


__ADS_2