Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Fakta mengejutkan


__ADS_3

“Benda itu bukan milikku,” ucap Luna takut sembari menggelengkan kepala.


Semua tatapan tertuju pada Luna, tak terkecuali Jihan. Jihan amat terkejut mengetahui bahwa chip yang ia pindahkan justru tertempel pada ponsel Luna. Ia berharap chip itu tertempel di ponsel anak buah Gio yang lain.


“Kau pengkhianat, Luna.” Craig menatap kekasihnya tak percaya.


Luna menggeleng. “Tidak, Craig. Benda itu bukan milikku. Kau percaya aku kan? Aku tidak pernah berhubungan dengan orang lain.”


Suhu udara yang dingin, tidak menyurutkan keringat keluar dari dahi Luna. Gadis cantik bertubuh putih dan tinggi itu sangat ketakutan.


Gio mendekati Luna dan mencekiknya. “Kau bekerjasama dengan siapa?”


Luna menggeleng. “Tidak ada. Demi Tuhan, benda itu bukan milikku.”


Gio menatap tajam ke bola mata Luna. Ia tidak menemkan kebohongan di sana. Lagi pula, hampir lima tahun Luna berada di rumah ini dan selama itu keadaan aman terkendali. Mungkinkah Luna menunggu waktu selama itu untuk menjatuhkannya?


Craig menepis pandangannya pada Luna yang memohon minta tolong. Ia juga tidak percaya wanita itu berkhianat. Pasalnya, Luna sangat penurut. Obat bius itu membuat gadis cantik itu menurut dan mau melakukan apa pun yang Craig katakan. Sedangkan di tempat yang sama, Jihan tampak panik. Ia akan merasa sangat bersalah jika nyawa Luna menjadi korban selanjutnya.


JIhan mengarahkan pandangannya pada Wiliam. Ia ingin meminta pertolongan pada pria itu. Hanya Wiliam yang bisa menghentikan Gio, karena hanya omongan pria itu yang di dengar Gio.


Wiliam pun menatap wajah Jihan, tapi pria itu tidak melakukan apa pun. Sedari tadi, Wiliam memang terus memperhatikan Jihan sembari memegang sebuah foto kecil. Foto yang terjatuh dari dompet Jihan secara tidak sengaja siang tadi sesaat setelah melakukan sesi terapi.


Jihan meremat kedua tangannya, saat melihat Gio menjauh dari Luna dan beralih ke meja untuk mengambil pistolnya. Jihan yakin bahwa Gio akan menembakkan peluru itu ke arah Luna.


“Tidak, ini tidak boleh terjadi,” gumam Jihan dalam hati.


Sontak Jihan pun memeluk Gio. “Cukup. Aku mohon jangan membunuh lagi. Aku mohon. Cukup!”


Jihan memeluk pinggang Gio dan membenamkan kepalanya pada dada bidang itu. Ia tak sanggup melihat saudaranya terus menerus menghilangkan nyawa manusia yang tak bersalah. Sementara dirinya mati-matian menyembuhkan orang-orang yang hampir sekarat karena ulah ayah dan saudara laki-lakinya itu.


Tubuh Gio mematung Ia bingung dengan reaksi Jihan, juga dengan hatinya yang luluh oleh air mata dan pelukan hangat itu.


“Aku mohon, Jangan! Jangan bunuh Luna. Dia tidak bersalah.” Jihan menggeleng dan meraung di dada Gio.


“Lalu, siapa yang bersalah?” tanya Gio sembari membawa wajah Jihan untuk menatapnya. “Kau?”


Gio menatap kedua bola Jihan yang memiliki bentuk sama dengannya.


“Bubar!” teriak Wiliam. “Kembali kalian ke tempat masing-masing!” perintah Wiliam pada anak buah Gio yang berdiri di tempat ini.


“Craig, bawa pacarmu!” Wiliam kembali memeritah sembari membawa kursi rodanya mendekati Jihan dan Gio.

__ADS_1


“Pa, apa yang Papa lakukan? Ini belum selesai.”


“Bisnis kita sudah selesai Gio. Hari ini adalah bukti bahwa bisnis ini tidak perlu kita lanjutkan lagi."


Jihan melepas pelukannya pada Gio seiring orang-orang di sana yang pergi meninggalkan bos mereka.


Gio menggeleng. “Bisnis kita tidak akan hancur, jika tidak ada orang yang menghancurkannya.” Ia masih tidak terima dengan apa yang terjadi.


Gio kembali menatap JIhan. Di tangannya masih memegang sebuah pistol.


Dret … Dret … Dret …


Ponsel Gio berdering. Sejak kegagalan pengiriman barang itu terjadi. Gomes terus menghubunginya. Seorang mafia yang ditakuti di Itali dan memiliki wilayah lebih besar dari Gio.


Gomes sering bekerjasama dengan Gio dan ia meminta pertanggung jawaban pria itu atas kegagalan hari ini. Pasalnya banyak barang Gomes yang dititipkan bersama dengan barang Gio yang harusnya terdistribusikan baik hari ini serta mendapat banyak keuntungan.


“Halo.”


“Kau bekerja sama dengan intel?” tanya Gomes langsung sesaat setelah Gio mengangkat panggilan itu.


“Tidak. Insiden ini di luar dugaan.”


“Aku tidak percaya. Semua tersusun rapi. Kau pasti ingin menjebakku,” ucap Gomes.


“Bodoh. Ini semua karena kebodohanmu. Aku tidak mau tahu. Kembalikan barangku atau ganti dengan uangmu,” ucap Gomes lagi.


“Tidak ada. Aku tidak memiliki apa-apa lagi.”


“Kalau begitu, ganti dengan nyawamj. Dan kekuasaanmu untukku.”


Gomes langsung menutup sambungan teleponnya.


“Sh*t.” Gio mengumpat dan memandang sang ayah. “Papa lihat? Semua berantakan dan Gomes pasti akan membunuhku.”


Lalu, Gio memandang ke arah Jihan.


“Bos,” panggil Craig. “Aku menemukan ini di kamar Clara.”


Craig dan Luna langsung menggeledah kamar Clara saat mereka meninggalkan ruang tengah.


Seketika, mata Jihan membulat. Gio dan Wiliam melihat benda yang Craig pegang. Craig menemukan jam tangan milik Jihan yang pernah Jihan pakai saat berada di club Gio malam itu.

__ADS_1


“Wanita itu adalah wanita yang sama yang kita kejar malam itu, Bos.” Craig kembali bicara.


Gio semakin geram. Ia menatap tajam ke arah Jihan yang sangat takut dan perlahan melangkah mendekati.


“Sejak datang ke rumah ini, aku merasa ada sesuatu yang aneh padamu. Tapi aku tidak pernah bisa membuktikannya.”


Jihan menggeleng. Ia seperti orang yang tengah tertangkap basah mencuri.


“Gio, jangan sakiti dia!” ucap Wiliam.


Namun, Gio mengabaikan perkataan itu. Ia tetap mendekati Jihan yang sedang melangkah mundur untuk menghindari pria menyeramkan itu, hingga tubuhnya terbentur dinding.


Gio menekan tubuh Jihan dan berkata, “Apa lagi yang kau sembunyikan?”


Gio meraba tubuh Jihan dari kepala hingga kaki, memastikan tidak ada alat lain yang melekat di tubuh wanita itu. Ia berjongkok dan menyobek rok Jihan hingga terpampang sebuah angka yang menyerupai tatto di pangkal atas pahanya.


Dada Jihan naik turun. Gio menatap kembali wajah Jihan dan segera berdiri, lalu mengambil ponselnya. Gio mendial nomor yang tercetak di atas paha Jihan. Tercetaklah sebuah nama di ponsel Gio dengan nama Keanu.


Gio langsung mengernyitkan dahi. Ia tertawa, menertawai kebodohannya sembari meremas rambutnya.


Dengan satu kali nada sambung, Keanu langsung mengangkat telepon itu.


“Jihan, kau baik-baik saja?” suara Keanu terdengar khawatir. Ia tahu bahwa yang meneleponnya adalah Gio, karena Keanu memiliki nomor telepon pemilik club langganannya itu.


“Jihan? Jadi apa yang dikatakan kekasihmu waktu itu benar?” tanya Gio.


“Gio. Jangan kau apa-apakan dia! Kau akan menyesal jika tahu siapa dia,” jawab Keanu.


Gio menatap Jihan, lalu menatap ayahnya. Kemudian, ia mematikan sambungan telepon itu. Gio mengangkat pistolnya ke atas dan mengarahkan pada Jihan.


“Hentikan, Gio! Kau mau apa?” tanya Wiliam panik.


“Melenyapkan pengkhianat.” Gio menatap ke arah Jihan tanpa kedip.


Jihan pun berdiri pasrah. Ia pasrah, jika harus mati di tangan kakaknya sendiri.


“Hentikan Gio, jangan lakukan itu! Dia telah mengobati Papa,” ucap Wiliam menahan putranya. "Dia juga telah mengobati kerinduan Papa pada adikmu. Karena dia putri Papa dari wanita Indonesia itu.”


Sontak, Gio pun terkejut dan memandang ayahnya. Jihan pun demikian. Ia lebih terkejut karena ternyata Wiliam mengetahui penyamarannya. Tetapi, sejak tadi pria itu hanya diam.


Wiliam mengangguk. “Dia adalah adikmu.”

__ADS_1


Wiliam menunjukkan foto yang ia pegang sejak tadi. Foto yang terjatuh dari dompet Jihan setelah sesi terakhir terapi siang ini. Foto yang menampilkan Jihan bersama Lastri tengah bergandengan dan tersenyum. Wiliam sangat hafal wajah dan senyum wanita yang ada di sebelah Jihan. Ia juga langsung mencocokkan wajah Jihan dengan foto putrinya yang terpajang di ruang kerja saat kegaduhan di dapur itu terjadi.


Fakta itu bukan hanya mengejutkan Wiliam, tapi juga Gio dan Jihan yang tidak berpikir bahwa statusnya akan terungkap hari ini.


__ADS_2