Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Hukuman untukmu


__ADS_3

Jihan membujuk Keanu, hingga ia lelah dan tertidur di lengan kekar itu. Ia memeluk tubuh Keanu sambil meletakkan kepalanya di lengan itu hingga terlelap.


Keanu dapat merasakan hembusan nafas yang teratur di sana dan air mata yang tak lagi basah. Dengan perlahan Keanu membalikkan tubuhnya sambil memegang kepala Jihan agar wanita itu tidak terbangun.


Lalu, Keanu membenarkan posisi tidur wanita itu dengan hati-hati. Bibirnya terus tersenyum saat menatap wajah teduh Jihan sembari mengingat cara lucu wanita itu dalam membujuknya agar tidak marah.


Setelah membenarkan posisi tidur Jihan, Keanu menatap wajah itu dekat.


"Dasar perempuan nakal, penggoda," ucap Keanu tepat di depan wajah Jihan yang terlelap. "Kamu satu-satunya wanita yang membuatku jungkir balik. Kehilangan, kecewa, sedih, bahagia, tertawa. Kau bisa membuat rasa dihatiku campur aduk."


Keanu menoel ujung hidung Jihan. "Kau memang harus mempertanggungjawabkan ini semua. Aku akan menghukummu. Mengerti!"


Keanu seperti orang gila yang bicara sendiri. Lalu, ia tersenyum dan mengecup sekilas bibir itu. Ia kembali pada posisi sebelumnya untuk mengikuti jejak Jihan yang sudah terbang ke alam mimpi.


Keesokan paginya, Jihan terbangun dengan meraba tangan kanannya ke sisi kanan yang biasa Keanu tempati untuk tidur. Namun, sisi itu kosong. Jihan pun langsung membuka matanya lebar dan bangkit.


"Kean, kamu di mana?" tanya Jihan dengan sedikit berteriak kecil.


Tak ada jawaban. Jihan pun bangkit dan mencari Keanu di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


Nihil. Keanu tidak ada di dalam sana.


"Kean, kamu tidak meninggalkanku kan?" tanya Jihan pada dirinya sendiri.


Lalu, Jihan langsung keluar kamar untuk mencari suaminya di dapur atau di sudut ruangan yang lain yang ada di rumah ini.


Jihan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa menuju dapur. Ia melihat Ibunya di ruang itu.


Lastri langsung menoleh ke arah sang putri yang mendekatinya dengan sedikit berlari.


"Ibu lihat Keanu?" tanya Jihan dengan nafas tersengal.


"Kamu kenapa?" Lastri balik bertanya. Lalu melirik menatap Jihan dari atas sampai bawah. "Ganti pakaian dulu kalau mau turun. Malu sama yang lain. Baju kamu tipis banget. Mana tidak pakai dal*man lagi," kata Lastri tersenyum tipis.


Jihan pun langsung menyilangkan kedua tangannya di dada. Semalam ia memang sengaja menggoda Keanu, tapi sayang suaminya tidak tergoda karena masih kecewa.


"Bu, lihat Keanu ngga? Jihan cari-cari kok ga ada." Jihan kembali bertanya dengan pertanyaan yang belum dijawab sang ibu.


"Ck. kamu bucin banget sih. Baru ditinggal Keanu sebentar aja, nyariinnya kek gitu," jawab Lastri tersenyum dan menggelengkan kepala sambil memotong sayuran yang akan ia sajikan untuk makan pagi.


"Memang Keanu ke mana, Bu?"


"Jogging sama Papamu."


Hah, Jihan dapat bernafas lega. Ia pikir Keanu kecewa dan meninggalkannya.


"Nah tuh dia, baru dicariin, orang dateng," ucap Lastri saat melihat Keanu dan Wiliam masuk ke dalam rumah.


Dua pria beda usia itu langsung menghampiri dua wanita yang masing-masing mereka cintai.


Jihan menelan salivanya kasar saat melihat sang suami tampak lebih tampan dengan pakaian jogging serta keringat yang mengucur dari wajah ke lehernya.


"Kean, dari tadi kamu dicariin Jihan tuh. Dia panik di sangka kamu pergi," ucap Lastri pada Keanu yang tersenyum dan menatap Jihan.


"Sayang, kamu sexy sekali. Pantas kalau malam Keanu tidak pernah keluar kamar untuk sekedar mengajak Papa berbincang," ledek Wiliam dengan melirik Keanu.

__ADS_1


Keanu baru sadar dengan pakaian yang dikenakan sang istri. Ia pun membulatkan matanya dan menyuruh Jihan untuk kembali ke kamar dengan isyarat mata. Tapi Jihan tetap di tempatnya, membuat Keanu harus menarik wanita itu.


"Pa, Bu. Keanu dan Jihan ke kamar dulu ya."


Lastri dan Wiliam pun mengangguk. Mereka tersenyum melihat pasangan pengantin baru ini. Tanpa di sadari Wiliam merangkul bahu Lastri ketika mereka menatap putri dan menantunya yang berlalu menuju kamarnya sendiri.


Lastri yang merasakan tangan Wiliam di bahunya pun menoleh.


"Ups, sorry." Wiliam langsung sadar dan menurunkan tangannya dari bahu itu.


"Apa kita tidak ingin seperti mereka?" tanya Wiliam yang mengikuti Lastri kembali berdiri di depan kitchen set.


"Seperti apa?" tanya Lastri pura-pura tak mengerti.


"Seperti Keanu dan Jihan. Pengantin baru," jawab Wiliam, membuat Lastri malu.


"Apa sih? Udah tua. Malu sama umur."


"Tapi aku masih kuat. Bahkan untuk membuatmu hamil, aku masih bisa," ucap Wiliam membuat Lastri membulatkan matanya, hingga Wiliam pun tertawa dan menyerah karena Lastri mengusirnya dari tempat itu dengan mengacungkan pisau yang ia pegang.


****


"Kean."


Jihan terus di dorong hingga masuk ke dalam kamarnya.


"Kalau mau turun, gani bajunya dulu. Bagian dalam tubuh kamu terlihat. Dan aku tidak suka punyaku dilihat orang."


Jihan cemberut mendengar ocehan suaminya.


"Kamu masih marah padaku?" tanya Jihan yang mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


Keanu membuka kaos dan celana training yang sudah basah dengan keringat setelah berolahraga bersama ayah mertuanya. Kini ia hanya memakai boxer saja.


"Kamu ingin mandi?" tanya Jihan. "Ayo kita mandi bersama!"


Jihan tampak siap untuk kembali menggoda suaminya yang sedang merajuk karena ulahnya.


Namun, pria itu tak menjawab. Keanu malah membalikkan tubuhnya sembari tersenyum tipis dan berdiri di depan lemari. Ia membuka lemari itu untuk mengambil pakaian ganti.


Jihan langsung memeluk tubuh bertelanj*ng dada itu dari belakang. "Kean, jangan diamkan aku! Aku ga bisa."


Jihan menempelkan kepalanya pada punggung kokoh yang dingin karena keringat yang baru saja mengering.


"Aku mencintaimu. Aku takut kehilanganmu. Tadi saat bangun, kamu tidak ada. Aku pikir kamu kecewa dan meninggalkanku," ucap Jihan dibalik punggung itu dengan suara lirih, terdengar sedih dan mungkin kini Jihan kembali ingin menangis.


Keanu tidak tega karena sudah menghukum istrinya sejak semalam, membuat mata itu terlihat sembab sekarang.


Keanu membalikkan tubuhnya, menatap Jihan sembari memegang kedua bahu itu. “Kamu menyesal?”


Jihan mengangguk. “Ya, aku menyesal. Sangat menyesal.”


“Kamu tidak percaya padaku?”


Jihan menggeleng, membuat Keanu membulatkan matanya.

__ADS_1


“Tidak, Tidak.” Jihan mengibaskan kesepuluh jarinya. “Bukan begitu. Maksudku, aku percaya padamu.”


Keanu terus menatap istrinya. Jihan pun demikian. Walau tatapan Jihan dengan tatapan sedikit takut, berbeda dengan tatapan Keanu yang masih mengintimidasi.


“Apa aku terlihat akan meninggalkanmu?” tanya Keanu lagi.


Jihan menggeleng.


“Apa yang aku lakukan saat ini, masih membuatmu ragu?”


Jihan kembali menggeleng dengan cepat.


“Lalu, mengapa kamu lakukan itu?” tanya Keanu lirih.


Pria itu sama sekali tidak bernada tinggi. Tidak marah dan tidak memaki Jihan. Walau ia kecewa, tapi tidak serta membuatnya gelap mata. Hal itu semakin membuat Jihan tidak ingin kehilangan Keanu. Jihan sangat mencintai pria ini. Pria yang memperlakukannya dengan istimewa.


“Maaf, Kean,” jawab Jihan menunduk. “Maaf.”


Jihan kembali terisak. Ia seperti anak kecil yang ketahuan mencuri uang di brankas ayahnya.


Keanu tersenyum. Ia tahu bahwa Jihan sungguh menyesali perbuatannya. Lalu, Keanu menjepit dagu Jihan dan mengajak wajah cantik itu untuk menatap wajahnya. “Berapa banyak pil yang sudah kamu minum?”


“Hm … berapa ya?” Jihan mencoba mengingat dengan memutar bola matanya. “Pokoknya, sejak malam sebelum kita melakukan malam pertama.”


Keanu mulai berhitung hingga seluruh jarinya bergerak. “Kita menikah hampir tiga minggu. Berarti dua puluh satu pil?” tanyanya.


Jihan mengangguk. “Kurang lebih.”


“Kalau begitu. Selama dua puluh satu hari, kamu dilarang untuk memakai apa pun ditubuhmu."


“Apa?” tanya Jihan dengan membulatkan matanya. "Aku harus polos setiap hari?"


Keanu memgangguk. "Itu berlaku mulai besok, saat kita tiba di Lombok."


Di sana, Keanu memamg sudah mempersiapkan tempat tinggak untuk mereka berdua. Hanya berdua, karena Lastri masih belum ikut bersama putrinya. Ia tidak ingin memgangguk pasangan pengantin baru ini. Lagi pula, Lastri masih merawat Wiliam yang baru saja terkena asam lambung akut dan harus intensif dalam memberi asupan makanan.


“Itu hukuman untukmu. Kalau tidak bisa, berarti aku akan mendiamkanmu selama dua puluh satu hari.”


“Kean,” rengek Jihan. “Aku bisa masuk angin.”


Keanu menahan tawa melihat ekspresi Jihan yang menggemaskan. “Aku tidak akan menyalakan AC.”


“Lagi pula sepertinya aku belum minum dua puluh satu pil.” Jihan bernego.


“Oh, ya? Kalau begitu berapa? Tiga puluh pil?” tanya Keanu senang.


“Tidak.” Jihan langsung menyanggah. “Mungkin hanya sekitar delapan belasan.”


“Bohong,” ucap Keanu.


“Iya, benar.” Jihan masih meminta keringanan.


Keanu menggeleng. “Tidak ada bantahan, tidak ada debatan. Dua puluh satu hari,” katanya tegas.


“Keanu.” Jihan masih merengek.

__ADS_1


Jihan tidak bisa membayangkan tubuhnya akan polos selama dua puluh satu hari. Tidak polos saja, Keanu sudah mesum. Apalagi melihat dirinya yang selalu siap di santap. Kemungkinan Keanu akan memakannya setiap jam, setiap waktu dan bukan hanya malam hari saja.


Jihan pun bergidik ngeri membayangkan hal itu, membuat Keanu tertawa melihat ekspresi sang istri.


__ADS_2