
Lima hari terlewati, Keanu menunggu saat hari libur bekerja istrinya tiba. Sedangkan sahabat-sahabat Keanu di balapan sudah tak sabar untuk merayakan kebahagiaan dirinya yang resmi melepas masa lajang. Fabio dan Mark terus mendesak Keanu agar membuat pesta kecil-kecilan dengan beberapa tim nya yang kebetulan banyak yang sudah berada di kota ini.
“Kean, aku ga pe-de. Beneran,” ujar Jihan manja pada suaminya sembari mencoba beberapa gaun yang sengaja ia tempelkan di tubuhnya.
Jihan berdiri di depan cermin dan menggeleng saat pakaian yang ia pegang rasanya tidak pas untuk ia gunakan nanti malam di acara yang Keanu buat bersama teman-teman seprofesinya. Sedangkan Keanu tiduran santai di atas sofa. Sedari tadi ia juga melirik pergerakan sang istri.
“Ngga pe-de kenapa?” tanya Keanu dengan melirik istrinya.
“Ya ngga percaya diri ketemu sama temen-temen kamu. Kenapa sih harus ada pesta seperti ini?” Bibir Jihan mengerucut. Ia memang tidak pernah suka pesta dan Jihan tipe orang yang senang dibelakang layar.
Keanu bangkit dari sofa dan berkomentar saat Jihan memasangkan satu gaun berwarna hitam di tubuhnya. “Itu bagus.”
“Tapi ga berlengan. Malu,” jawab Jihan.
Keanu tersenyum dan berjalan mendekati istrinya. Ia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Jihan dan menaruh dagunya di bahu kanan itu. “Mau pakai baju apa pun, kamu cantik, Sayang.”
“Eum … itu kan kata kamu, tapi belum tentu temen-temen kamu bilang gitu. Apalagi temen-temen kamu yang perempuan, mereka pasti ngejek aku dan bilang gini, kok bisa ya Keanu cinta sama cewek biasa seperti dia.”
Keanu tertawa. “Minder banget sih. Yang ada mereka itu yang bakal minder ngeliat kamu.”
“Bohong.”
Keanu memutar tubuh istrinya agar mereka berhadapan. “Beneran. Kamu mau pakai baju apa pun pasti cantik. Khusus buat aku, aku tambah cantik kalau tidak memakai apa pun.”
Plak
Jihan langsung mencubit lengan Keanu.
“Aww … Ish sakit, Ji. Seneng banget nyubit sih.” Keanu meringis dan mengusap lengannya.
Jihan pun tertawa. “Biarin. Kamu juga senengnya gigit.”
Keanu ikut tertawa dan memeluk istrinya.
“Lagian kamu ga usah cantik-cantik,” kata Keanu yang masih memeluk Jihan.
“Loh kok gitu? Emang kenapa?” tanya Jihan dengan mendongakkan kepalanya untuk menatap Keanu.
Keanu pun menatap istrinya. “Ya, temanku semua mesum. Apalagi Fabio dan Mark. Mereka tidak bisa melihat wanita cantik. Dan, aku tidak rela kamu digoda oleh pria mana pun.”
Jihan tertawa. “Pantesan kamu mesum.”
Keanu kembali mengeratkan pelukan sembari mengelus rambut itu. “Udah selesai belum?”
__ADS_1
“Selesai apa?” tanya Jihan bingung.
“Itu.”
“Itu apa?” tanya Jihan lagi.
“Ck. Aku udah itungin ya, ini udah hari ketujuh harusnya masa periodemu sudah selesai,” ucap Keanu.
“Ya ampun, Kean.” Jihan langsung melonggarkan pelukan. “Jadi kamu ngitungin?”
“Iya dong.”
Jihan menggeleng dengan senyum tertahan. Suaminya benar-benar pria mesum. Walau kemesuman Keanu memang sudah tampak saat remaja tapi ternyata setelah dewasa malah tambah keparahannya. Jihan hendak melangkahkan kaki untuk meninggalkan Keanu di sini. Ia teringat dengan masakannya di dapur. Sebelumnya ia meninggalkan ayam di dalam alat panggang.
“Hei mau kemana?” Keanu menahan lengan istrinya.
“Ke dapur. Ayam panggangku pasti sudah matang.”
Bukan melepaskan, Keanu justru menarik pinggang Jihan hingga tubuh wanita itu terduduk di pangkuannya tepat di tepi ranjang.
“Sudah selesai kan? Nanti malam udah bisa?” tanya pria mesum itu lagi.
Jihan menggeleng. “Belum. Aku belum melihatnya lagi. Ngga tahu masih ada apa ngga hari ini.”
Jihan pun kesal walau bibirnya tetap tersenyum. Ia menutup wajah Keanu. “Jangan pasang wajah kamu kek gitu! Nyebelin tau.”
Keanu malah sengaja memasang senyum mesum itu lagi.
“Kean,” teriak Jihan manja dan merengek untuk minta dilepaskan dari pangkuannya.
****
Keanu dan Jihan sudah sampai di sebuah hotel. Hotel mewah yang berada di pesisir pantai kota itu. Hotel yang dikenal dengan suguhan panorama terindah di sana karena kebetulan tempat ini memang berada di tengah-tengah keindahan Lombok.
“Kean.” Jihan menahan lengan Keanu yang sedari tadi menggandengnya setelah keluar dari mobil.
Kebetulan, Kevin memang sudah mengirim mobil untuk sang adik dan baru tiba dua hari lalu sesuai dengan permintaan Keanu.
Pria itu tersenyum pada istrinya. “Kamu cantik, Sayang. Malah sebenarnya aku ga suka kamu berdandan secantik ini.”
“Masa?”
“Iya,” jawab Keanu menghilangkan keraguan istrinya yang tidak percaya diri atas penampilannya sendiri.
__ADS_1
Padahal malam ini Jihan terlihat sangat cantik. Walau gaunnya sederhana tapi ia tetap elegan dengan riasan yang tidak berlebihan menambah keanggunan dan kelembutan wajah wanita itu.
“Wuuu … akhirnya yang punya pesta datang,” sorak Mark di sertai Fabio dan teman-teman yang hadir.
Semua mata tertuju pada Jihan dan Keanu, tapi entah mengapa Jihan merasa tatapan itu hanya banyak kepadanya.
“Hai … Hai …” sapa Keanu yang langsung menghampiri teman-temannya di sana dengan tetap merangkul pinggang Jihan.
"Sayang, ini Fabio dan ini Mark. Mereka teman dekatku.” Keanu memperkenalkan kedua temannya pada Jihan.
Jihan tersenyum dan menerima uluran tangan dari Mark yang terlebih dahulu mengulurkan tangan.
“Wah, pantas saja kau tidak bisa move on, Kean,” ucap Mark meledek Keanu saat matanya melirik Jihan.
Lalu, Jihan beralih menerima uluran tangan Fabio.
“Ya, kalau aku jadi kamu juga pasti akan mempertahankan wanita secantik ini,” sahut Fabio.
“Please, jangan menggoda wanitaku!” kata Keanu kesal, membuat Fabio dan Mark tertawa. Sedangkan Jihan hanya tersenyum malu.
Pesta kecil-kecilan itu berjalan lancar. Keanu sengaja memesan area restoran hotel ini lengkap dengan live musik. Semua orang tampak ceria menikmati hidangan makan malam bersama dengan suara deburan ombak dan alunan musik cinta.
“Hai,” sapa seorang wanita pada Jihan yang saat ini sedang duduk sendiri.
Terlihat Keanu sedang berdiri di meja bar bersama rekan-rekan se profesinya dan berbincang di sana. Keanu selalu merilik ke arah Jihan dari posisinya. Ia juga melihat sang istri tengah di dekati Rachel.
“Hai,” jawab jihan.
“Kau sendiri?” tanya wanita itu.
Jihan mengangguk.
“Mana Keanu? Apa dia tidak menemanimu?” tanya wanita itu lagi.
Rachel menatap Jihan dari kepala hingga kaki. Tatapaan yang cukup membuat risih Jihan. Jihan iangat wanita ini, karena mereka sebelumnya pernah bertemu saat Jihan masih dalam misi di Itali, tepatnya ketika ia dan Fiona memantau club milik Gio.
“Suamiku sedang bersama teman-temannya di sana,” jawab Jihan dengan arah mata menuju Keanu dan Keanu pun tengah mengarahkan matanya ke sana, sehingga Rachel melihat pria itu melambaikan tangan sembari tersenyum.
“Aku rindu senyumnya. Sudah lama sekali kami tidak tidur bersama,” kata Rachel setelah tersenyum dan melambaikan tangannya pada Keanu di sana, membuat mood Jihan berubah. Padahal lambaian tangan Keanu tertuju untuk istrinya, bukan untuk mekanik itu.
Rachel memang sengaja memancing kecemburuan istri Keanu. Ia tahu bahwa Keanu tidak menyukai wanita bar-bar yang suka marah-marah di depan umum. Oleh karena itu, ia memancing kemarahan Jihan dengan membuka kemesraannya bersama Keanu dulu, agar Jihan memakinya dan membuat wanita itu malu di depan Keanu dan teman-temannya.
Rachel tidak tahu siapa wanita yang sedang ia hadapi, karena bukan wanita biasa seperti yang ia pikirkan. Jihan tidak semudah yang Rachel bayangkan.
__ADS_1