
Kenan tampak lebih baik dari sebelumnya. Namun, ia masih berada di rumah sakit. Setiap harinya, sang penguasa kota itu selalu dibanjiri banyak orang yang datang untuk menjenguk. Kini, Hanin yang selalu menemani suaminay setiap saat. Kenan tidak membutuhkan anak atau sang ibu yang merawatnya, tapi istri, karena hanya Hanin yang sangat tahu dirinya. Hanya Hanin yang mengerti apa yang dia sukai dan tidak, termasuk makanan.
Segala urusan mengenai pemerintahan dipegang sementara oleh wakilnya. Kenan diperkenankan untuk beristirahat hingga benar-benar pulih.
Sedangkan Keanu dan Jihan masih berada di Jakarta. Sementara mereka tinggal di rumah besar Kenan. Mereka di sini bersama Rasti. Setiap siang mereka akan ke rumah sakit untuk menjenguk sang ayah.
“Oma sarapan sudah matang. Ayo makan!” Ajak Jihan lembut pada nenek suaminya yang masih duduk di atas tempat tidur kamarnya.
Jujur, Jihan sebenarnya sungkan menginap di rumah ini. Terlalu banyak kenangan Indah dan buruk bersamaan di sini. Kenangan indah saat pertama kali ia mengenal Keanu, tapi juga kenangan buruk karena mereka harus terpisah karena sebuah status sosial dan terganjal restu orang tua.
Rasti tidak menjawab. Wanita tua itu hanya berdiri dan hendak keluar dari kamarnya. Jihan pun menunggu sang Oma untuk keluar dan melangkah lebih dulu. Saat Rasti mendekat, ia berinisiatif untuk menggandeng Rasti dan memegang tubuh wanita tua itu agar tidak terjatuh.
“Tidak usah dipegang! Oma masih bisa jalan sendiri tanpa harus dituntun,” kata Rasti dengan nada bicara biasa. Tidak membentak dan tidak juga keras, tapi cukup nyelekit.
Jihan menarik nafasnya kasar dan mengikuti langkah Rasti dari belakang. Ia harus terbiasa dengan ini dan ia memang sudah mempersiapkan mental untuk ini.
Tiba-tiba, Keanu mengelus punggugnya dari belakang. Jihan pun langsung menoleh.
“Kamu bukannya ada di dapur tadi?” tanya Jihan berbisik.
Keanu menggeleng. “Aku ngikutin kamu.”
“Ngapain?”
“Takut digondol maling,” jawab Keanu asal.
Jihan pun menyenggol perut Keanu dengan sikunya, membuat Keanu pura-pura kesakitan dan meringis. “Aww …”
Rasti yang berjalan lebih dulu pun menoleh ke belakang. “Kamu kenapa?”
Keanu menggeleng. “Tidak apa Oma, ada semut menggigit perutku.”
Rasti menggelengkan kepalanya dan kembali berjalan lurus. Keanu memang sengaja mengikuti Jihan untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa antara sang nenek dengan istrinya. Pasalnya ia tahu betul bahwa Rasti masih belum bisa menerima kehadiran Jihan. Walau sebenarnya, Rasti tengah melakukan itu. hanya saja memang wajahnya yang terlahir ketus dan kata-katanya pedas yang sejak lahir sudah demikian membuat Rasti terlihat seolah masih belum bisa menerima Jihan.
Saat sampai di depan meja makan, Keanu langsung menarik kursi untuk sang nenek. Rast memang selalu diperlakukan bak ibu s*ri. Ratu saja mungkin lewat. Semua dikeluarga ini menghormatinya dengan sangat. Baik Kevin, Keanu, atau Kenan, apalagi Hanin. Tidak ada satu pun yang berani membantah perintah dan keinginan sang ibu s*ri. Hanya Kenan yang bisa membantah, itu pun dengan pendekatan dan pemilahan kata yang sangat halus.
Keanu duduk bersama istri dan neneknya di meja makan. Hingga saat ini, entah mengapa Rasti masih suka tinggal di rumah ini. Ia enggan untuk tinggal di rumah Kiara, padahal katanya orang tua akan lebih suka tinggal bersama anak perempuannya. Tapi Rasti, justru lebih nyaman tinggal bersama Kenan dan Hanin serta meninggalkan rumah besar itu begitu saja, walau di sana tetap ada yang menjaga dan membersihkan.
“Nanti siang, Oma ikut ke rumah sakit?” tanya Keanu membuka pembicaraan.
__ADS_1
Rasti mengangguk.
“Oma mau ini?” tanya Jihan yang lebih dulu mengambil makanan untuk Rasti.
“Yang ini, dan ini saja.” Rasti menunjuk dua menu makanan yang ia mau.
Dengan senang hati, Jihan mengambilnya. Sebenarnya Rasti harus bersyukur karena anak dan cucunya memilih istri yang benar. Walau tidak dari kalangan mereka, tetapi ketulusan para menantu itu tidak diragukan lagi, seperti Jihan saat ini.
Jihan pun menyajikan makanan tadi tepat di depan Rasti. “Ini Oma.”
Rasti mengangguk. wanita itu tidak mengucapkan terima kasih, hanya ada anggukan saja. Dan itu tidak jadi masalah untuk Jihan. Dengan cepat, Jihn kemudian melayani suaminya.
“Kamu mau apa?” tanya Jihan.
“Mau kamu boleh?” tanya Keanu genit dengan suara berbisik.
“Ish, apa sih?” Jihan membulatkan mata dan sedikit melirik Rasti.
Untungnya Rasti tidak mendengar atau pura pura tidak mendengar dan tengah menunduk sambil mengaduk makanannya.
“Kean, mau apa?” tanya Jihan lagi.
“Ish, tau ah.” Jihan mengabaikan perkataan suaminya. “Aku ambilin semua ya”
Jihan mengambil semua makanan yang tersedia hingga piring itu pun penuh.
“Ya ampun, Sayang. Dikira aku tukang pacul apa?”
Diam-diam Rasti pun melirik dan tertawa. Tawa Rasti cukup terdengar oleh Keanu dan Jihan dan mereka pun melirik.
“Eh, Oma ketawa,” kata Keanu yang langsung mendapat pukulan pelan dari Jihan agar sang suami tidak banyak bicara dan membiarkan wanita sepuh itu bahagia.
Jihan tidak ingin kesenangan Rasti terganggu. JIhan dan keanu senang melihat sang nenek tertawa. Mereka kira kehadiran mereka di rumah ini justru membuat Rasti terganggu dan tidak nyaman. Tapi ternyata, malah mnghibur sang nenek.
Usai sarapan, Rasti mengajak Keanu ke taman untuk menikmati udara pagi dengan matahari yang sudah bersinar terang. Keanu pun dengan senang hati menuntun sang nenek menuju gazebo belakang. Rasti juga sekalian menyirami bunga-bunga kesayangan yang biasa dirawat Hanin, mengingat saat ini Hanin sibuk merawat putranya sehingga sejak saat ini dan seterusnya Rasti kembali yang merawat bunga-bunga itu.
“Bagaimana kamu dengan Jihan?” tanya Rasti di sela langkah mereka menuju taman.
“Bagiamana apanya, Oma?” Keanu balik bertanya. Ia bingung menjawab pertanyaan ambigu sang nenek.
__ADS_1
“Istrimu sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan?” tanya Rasti lagi sembari melirik cucunya.
Keanu tertawa. “Cooming soon, Oma. Masih proses pembuatan.”
Rasti tertawa. Sejak dulu, memang hanya Keanu yang mampu membuat wanita sepuh itu tertawa. Tingkah Keanu yang lucu, asal, dan selengeyan mampu membuat gigi Rasti terlihat. Pasalnya dengan Kevin, ia tidak bisa seperti itu mengingat sosok Kevin yang kaku dan dingin. Kenan pun sama, si penguasa kota itu sebenarnya bukan tipe humoris, hanya saa ketika bersam Hanin, pria itu sedikit ada kelucuannya.
“Setiap hari proses ya?” tanya Rasti jahil.
“Setiap hari, Oma. Bahkan setiap jam, kalau kami sama-sama libur dan ada di rumah,” jawab Keanu menegasan.
“Ya … ya … ya … Oma percaya. Kamu, papamu dan kakakmu, semuanya mesum,” sahut Rasti dengan senyum menyeringai.
“Itu karena kami terlahir dari Oma dan Opa Kean, jadi jika kami seperti ini itu berawal dari Oma dan almarhum Opa. Bukan begitu?”
Puk
Rasti memukul kepala Keanu pelan.
“Aww … Oma, masih saja memukul kepalaku.” Keanu meringis sembari mengusap kepalanya.
Dari kejauhan, Jihan hanya mampu melihat keakraban itu dengan senang. Ia sengaja tidak mengikuti Keanu karena mungkin Rasti ingin berdua dengan sang cucu dan rindu berbincang bersama Keanu.
“Ah.” Rasti mendudukkan diri perlahan setelah sampai di gazebo.
Keanu pun melakukan hal yang sama dan duduk tepat di samping sang nenek.
“Kamu bahagia dengan Jihan?” tanya Rasti, menoleh ke arah Keanu.
“Tentu saja,” jawab Keanu cepat. “Jika Jihan meninggalkanku seperti Mama kemarin, mungkin bukan hanya jantungku yang lemah, Oma. Tapi otakku juga akan lemah.”
Rasti kembali menggelengkan kepala. “Ada lagi yang lemah selain jantung dan otakmu?”
“Ada.”
“Apa?” tanya Rasti lagi.
“Rudalku, Oma.”
“Astaga.” Rasti menepuk jidatnya. Sepertinya ia salah bertanya.
__ADS_1
Ya, Hanin benar. Keanu memang seratus persen anak Kenan.