
“Kean, tiketnya sudah dapat?” tanya Hanin sembari meremas kedua tangannya dan mondar mandir sedari tadi.
Sungguh ia mencemaskan suaminya di sana.
“Ini, Kean masih mencari, Ma.”
“Berapa pun tidak apa, Kean. yang penting Mama pulang malam ini,” ucap Hanin.
Keanu mengangguk. Sementara Jihan yang semula berdiri di samping sang suami yang sedang di depan laptop mencari tiket, beralih untuk mendekati ibu mertuanya.
“Mama, tenang. Jangan panik! Ayo duduk,” kata Jihan sembari merangkul Hanin dan membawanya ke sofa.
“Mama tidak bermaksud meninggalkan Papa, Ji. Hanya saja Mama kesal dengan Papa kemarin. Mama lelah dan ingin sendiri dulu.” Hanin terus bercerita tentang kegundahan hatinya.
“Iya, Ma. Jihan tahu. Jihan juga perempuan dan posisi Mama mungkin sama seperti Jihan. Atau Malah lebih parah Jihan karena Ji anak pembantu.”
“Jihan,” panggil Hanin untuk memperingatkan menantunya agar tidak berpikir seperti itu.
“Menjadi menantu di keluarga Adhitama memang tidak mudah, Ji,” sahut Hanin.
“Mungkin yang mudah hanya Kak Ayesha ya, Ma.” Jihan tertawa, mengajak sang ibu mertua untuk tidak terlalu tegang.
Hanin mengangguk dan tersenyum. “Ya.”
Walau di awal, Ayesha juga menderita kerena sikap Kevin yang lebih mirip Rasti, bermulut pedas, dingin dan kaku seperti Kenan. Tapi sekarang, wanita itu sudah menjadi ratu. Apalagi sang ibu S*ri sangat mendukung Kevin dan Ayesha. Rasti juga menyayangi anak Vicky, sahabat Kenan itu.
“Ma, hanya ada tiket untuk penerbangan terakhir. Pukul 11. 45.” Keanu memberitahu sang ibu.
“Ya, tidak apa, Nak. Mama mau. Mama tidak bisa menunggu pagi,” jawab Hanin yang langsung diangguki Keanu.
Pria itu pun langsung membeli tiket untuk tiga orang. Ia juga memberi kaabr pada tim untuk tidak mengikuti latihan besok pagi. Padahal jadwa pertandingan tinggal dua minggu. Jihan juga mengabari temannya untuk tidak tugas besok. Ia mengambil libur yang sebelumnya belum bisa ia dapatkan karena ia masih terhitung dokter baru di sana.
Di rumah sakit, semua orang menjenguk Kenan, terutama saudara dan kerabat. Vikcy beserta istrinya juga sudah di sana. Sean pun ada bersama kedua orag tuanya, hanya saja Nindi, istri Sean tidak dapat ikut.
“Ras, ayo makan! Kata Kiara kamu belum menyentuh makan malammu karena kejadian ini,” ucap Alin, Oma Sean sekaligus teman dekat Rasti.
Rasti menerima hanya mengambil minuman dari tangan Alin. Ia tidak berselera makan.
“Ada apa dengan kamu, Kenan, dan Hanin?” tanya Alin yang tahu bahwa Hanin meninggalkan rumah besar itu.
Rasti diam sejenak. Lalu berkata,” apa kita tidak boleh egois, Lin? Aku hanya ingin putraku menurut padaku.”
Alin menarik nafasnya kasar. “Aku juga ingin seperti itu. Aku juga ingin cucuku mendapat menantu dari kalangan kita. Tapi apa boleh buat?” Alin mengangkat bahunya.
“Kamu tahu, malah kemarin rumahku ramai dengan orang kampung itu,” sambung Alin.
“Keluarga Nindi datang?” tanya Rasti yang langsung diangguki Alin.
“Aku kesal sekali, Ras. Tapi James menenangkanku. Dia bilang, hidup itu hanya sekali, jangan buat orang yang kamu sayangi pergi!” jawab Alin lemah. “Aku terdiam dan sekarang aku mulai menerima semunya.”
Alin menempelkan tangannya pada punggung tangan Rasti. “Kamu juga tidak ingin kehilangan Kenan kan? Kamu lihat apa yang terjadi saat Hanin tidak berada di dekatnya?”
__ADS_1
Rasti mengangguk.
“Mulai sekarang terima Hanin dengan tulus, Ras. Itu satu-satunya hal yang bisa membuat orang yang kita sayangi tetap bersama kita.”
“Lalu Keanu?” tanya Rasti.
“Terima lah!” jawab Alin santai.
Ya, si Oma yang satu ini memang sudah lebih legowo menerima menanut dan cucu menantunya yang datang dari keluarga biasa, bahkan dari kampung. Dan, ternyata dengan itu justru hidupnya tak lagi merasa kesal terus menerus.
Rasti menarik nafasnya lagi.
“Aku tahu, Hanin melakukan itu agar keluarga kalian utuh,” ucap Alin lagi.
Rasti pun mengangguk. “Akan aku coba.”
****
Hanin, Keanu, dan Jihan berangkat ke Jakarta dini hari. Mereka menyempatkan istirahat di dalam pesawat.
Keanu tidak lepas berkomunikasi dengan kakaknya. Ia juga meminta Kevin untuk menyiapkan mobil setiba mereka di Jakarta.
Satu jam empat puluh menit, akhirnya mereka tiba di bandara Soekarno Hatta. Keanu mengajak ibu dan istrinya menuju pintu kedatangan. Benar saja, di sana sopir khusus yang digaji Kenan untuk mengantar jemput istrinya, sudah menanti.
“Ibu,” panggil Jajang pada sang majikan.
“Jang.”
“Panjang ceritanya, Jang. Udah ayo jalan!” ucap Keanu yang langsung diangguki sopir itu.
“Baik, Den.”
Malam semakin larut. Jalanan pun semakin sepi, mengingat saat ini waktu hampir menunjukkan pukul dua malam. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah sakit walau dari bandara.
Setibanya di sana, Hanin, Keanu dan Jihan langsun melangkahkan kakinya cepat menuju ruang instalasi gawat darurat ekslusif itu. ruangan itu khusus untuk pemilik rumah sakit dan di sana tingga tersisa, Kevin, Kiara, dan Rasti. Semua orang yang semula mengunjungi Kenan pun sudah pulang.
“Mama …” panggil Kevin saat melihat ibunya.
Rasti dan Kiara pun menoleh.
Kevin berlari untuk memeluk ibunya. “Mama ke mana aja? Papa nyariin Mama. Papa ga mau akan semenjak Mama pergi.”
Hanin tak kuasa membendung ari matanya. “Iya, Sayang. Maaf. Maaf Mama pergi ga bilang-bilang.”
Ibu dan anak itu pun berpelukan cukup lama. Sementara di sana Keanu dan Jihan menyalami Kiara dan Rasti.
Setelah lama berpelukan dengan Kevin, Rasti pun menghampiri Hanin. Hanin melihat sosok wanita yang ia sayangi bagai ibunya sendiri itu. Ia pun mendekati Rasti dan memeluknya lebih dulu. Tidak ada sama sekali dendan di hati Hanin untuk Rasti. Ia cukup mengerti saat seorang ibu harus membagi cintanya pada wanita yang dicintai sang putra. Hanin cukup tahu karena ia pun memiliki dua putra.
“Maafkan Hanin, Mam.”
“Maafkan, Mami juga, Han. Jangan pernah tinggalkan Kenan lagi!”
__ADS_1
Kedua wanita denagngenerasi berbeda itu pun saling berpelukan, menangis, dan meminta maaf.
“Mami tahu, kalian bertengkar karena Mami dan kamu pergi juga karena Mami.” Rasti menangis di pelukan Hanin.
Hanin ikut merasakan yang sama. Wanita berhati lembut itu juga menangis. “Hanin menyayangi Mami. Jangan pernah ragukan itu, Mam.”
Rasti menganggukkan kepalanya.
Setelah dua wanita itu berpelukan. Kevin membawa sang ibu untuk bertemu Kenan yang terbaring lemah dan belum siuman hingga sekarang.
“By,” panggil Hanin lirih. Ia tak kuasa melihat tubuh pria perkasa itu terbaring lemah.
“Hei, Hubby. Kamu bisa sakit? Apa itu karena aku?” tanya Hanin lembut tepat di telinga Kenan.
Hanin duduk dengan kepala sejajar pada suaminya yang tengah berbaring. Di sana, orang-orang yang semula mengantar Hanin pun segera meninggalkan ruangan itu untuk memberi ruang pada pasangan suami istri ini.
Hanin melihat jari Kenan yang bergerak. “Bangunlah! Aku rindu kamu.”
Mata Kenan pun mengerjap pelan. Sedikit demi sedikit mata itu terbuka.
“Hanin.”
Hanin mengangguk. “Ya, ini aku.”
“Maafkan aku, Sayang.”
Hanin kembali mengangguk. “Aku maafkan. Maafkan aku juga.”
Kenan tersenyum. “Tidak aku maafkan.”
“Kok gitu.” Hanin mendorong dada Kenan yang masih berbalut alat.
“Ah.” Kenan merintih.
“Maaf.” Hanin mengelus dada itu.
“Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kamu janji tidak akan pergi lagi dariku,” jawab Kenan.
“Aku janji.”
“Jangan bohong!”
“Tapi sikapmu juga jangan menyebalkan seperti itu! Janji?”
Kenan tersenyum dan mengangguk. “Janji.”
Hanin masuk ke dalam pelukan pria yang masih berbaring itu dan Kenan menerima tubuh sang istri sembari mengeratkan pelukan, lalu mencium kepalanya.
Di luar sana, semua orang menyaksikan cinta yang begitu kuat antara Kenan dan Hanin. Kevin tersenyum sembari melipat kedua tangannya. Kiara juga melakukan yang sama sembari merangkul bahu sang Ibu. Sementara, Keanu memeluk Jihan dari samping dan berbisik, “Kita akan seperti mereka saat tua.”
Jihan menoleh ke arah Keanu dan tersenyum.
__ADS_1
Rasti yang mendengar perkataan Keanu pun menoleh, lalu senyum Jihan luntur saat mendapat tatapan dari Rasti.