
“Neng, si Ibu kok belum telepon ya?” tanya Jajang, sopir yang Kenan khususkan untuk mengantar dan menjemput Hanin ke mana pun sang istri pergi.
Pria itu duduk di dapur dan bertanya pada salah satu asisten rumah tangga di kediaman mewah itu.
“Memang Ibu minta di jemput jam berapa?” Neneng balik bertanya.
“Tadi ga bilang minta di jemput jam berapa. Tapi bilangnya “nanti saya telepon kalau sudah selesai.” Gitu. Jadi, saya tungguin aja di sini,” jawab Jajang.
“Masa sih, Ibu belum selesai? Ini udah tiga jam lebih loh,” ucap Neneng. “Biasanya Ibu belanja ga pernah lama.”
“Nah, itu dia,” sahut Jajang yang terus menatap layar ponselnya. Namun, tidak ada panggilan masuk atau pun pesan dari Hanin yang meminta dirinya untuk menjemput.
“Udah susul aja atuh ke supermarket. Tungguin Ibu di sana! siapa tahu, Hape nya lowbat.”
Jajang pun mengangguk. “Iya, benar juga kamu, Neng. Ya udah aku berangkat ya.”
Neneng pun mengangguk. “Hati-hati!”
Jajang langsung menuju mobil mewah itu dan membawanya ke tempat di mana ia menurunkan majikannya di sana.
Satu jam, Jajang celangak celinguk mencari keberadaan Hanin. Namun, belum juga ia temui. Pria berusia tiga puluhan itu pun bertanya pada pria-pria berjas safari dengan menyebutkan ciri-ciri Hanin, tapi pria-pria itu menggeleng dan mengatakan tidak melihat wanita yang disebutkan Jajang, karena Hanin memang tidak sempat memasuki area tempat itu.
Di rumah, Kenan baru saja pulang. Mobil mewah itu baru tiba dan Kenan pun baru saja keluar dari mobil itu. Kenan sengaja tidak memakai mobil yang disediakan dari pemerintah. Ia lebih suka menggunakan mobilnya sendiri dengan sopir pribadi yang biasa menemaninya.
“Neng, Ibu sudah pulang?” tanya Kenan saat ia baru saja masuk ke rumah itu dan melihat salah satu asisten rumah tangganya.
Neneng mengeleng. “Belu, Pak.”
“Memang Ibu ke mana?” tanya Kenan lagi dengan memasukkan tangannya ke dalam saku.
“Ke supermarket, Tuan,” jawab Neneng dengan tidak menyebutkan sejak pukul berapa sang nyonya pergi.
Kenan pun mengangguk, mengira Hanin baru saja pergi ke pusat perbelanjaan itu. Kenan pn berjalan menuju kamar ibunya dan melihat sang ibu tidak ada di sana. Ia kembali keluar menemui Neneng.
“Oma di mana? Kok ga ada di kamarnya?”
“Oh, iya Tuan. Tadi siang, Nyonya Kiara datang dan membawa Nyonya Oma di bawa ke rumahnya. Perawat Nyonya Oma juga ikut,” jawab Neneng.
Setelah menikmati puding buatan Hanin pagi tadi, Kiara adik Kenan pun datang menemui Ibunya. Waniita itu mengajak sang Ibu ke Villa mereka, karena kebetulan ia dan anak sulungnya yang sedang mengandung ingin menikmati alam segar di tempat itu. Kiara pun mengajak sang Ibu agar menikmati udara segar di sana dan Rasti pun setuju.
Kenan mengangguk. Ia melangkah menuju kamar, sudah tiga hari ia tidak berada di kamar ini an tidur terpisah oleh Hanin. Sungguh, sebenarnya ia rindu kamar ini. Hanya saja dirinya terlalu egois dan mendiamkan sang istri hingga tiga hari lamanya, hanya karena masalah kecil.
Dan, hari ini Kenan pun akan kembali tidur di kamar ini.
Kenan memasuki kamar. Ia melihat pakaian yang akan ia pakai selepas mandi, sudah ada di atas tempat tidur. Bibirnya menyungging senyum. Lalu, Kenan kembali melangkah dan melihat secarik kertas di atas meja rias.
“Ini Vitaminnya. Jangan lupa di minum setiap malam!”
Bibir Kenan kembali menyungging. Memang setiap kali Hanin pergi, wanita itu selalu menyiapkan dulu segala keperluannya. Padahal untuk obat ini, nanti sepulang dari supermarket pun Hanin bisa memberikan langsung untuknya, pikir Kenan. Pria itu tidak mengira bahwa sang istri tidak akan pulang.
Kenan menarik nafasnya kasar. Tidak seharusnya ia keras apda sang istri. Ia tahu Hanin pasti tidak akan meninggalkan ibunya begitu saja waktu itu. Dia pasti sudah mempersiapkan keperluan Rasti sebelum ditinggalkan, sama seperti saat ini. Kemudian, Kenan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sembari menunggu istrinya pulang dari pusat perbelanjaan.
Di dapur, Jajang kembali bertemu Neneng.
“Jang, mana Ibu?” tanyanya.
__ADS_1
Jajang menggeleng.
“Ngga ada. Ibu ga ada di sana,” jawab Jajang memanggil Hanin dengan sebutan Ibu karena Hanin paling tidak suka dipanggil dengan sebutan Nyonya.
“Kok bisa? Tuan udah nyariin Ibu,” sahut Neneng panik.
“Saya juga ga tahu, Neng. Saya udah cari ke sana ke mari tapi ga nemu Ibu,” jawab Jajang yang juga terlihat panik.
“Haduh, si Ibu tuh ke mana?” Neneng bertanya untuk dirinya sendiri.
Jajang menggeleng. Pria itu pun bingung.
Di kamar, Kenan klaur dari kamar mandi. Ia masih belum menemukan sosok sang istri memasuki kamar ini, padahal ia sudah cukup lama membersihkan diri di sana.
Kenan memakai pakaiannya sembari menengok pada layar ponsel. Ia mendial nomor Hanin. Namun, hanya ada suara operator yang terdengar dari sana.
Kening Kenan pun mengernyit. “Hape mu tidak aktif?”
Setelah memakai pakaian lengkap, Kenan pun keluar kamar. Ia mengedarkan pendangannya ke seluruh ruangan. rumah mewah ini tampak sepi. Tidak ada suara sang istri, Ibu, juga anak-anaknya. Lalu, Kenan berjalan ke arah dapur untuk menemui pekerja rumah yang biasa berkumpul di sana.
“Neng, Ibu sudah pulang?” Kenan kembali bertanya pada Nenang.
Namun, Neneng justru menatap ke arah Jajang. Benar, memang semua pekerja di rumah itu sedang berkumpul di sana.
Kenan ikut mengarahkan matanya ke Jajang. “Loh, Kok kamu malah di sini. Ibu ditinggal?”
“Ehm … Iya, Tuan. Begini …”
“Begini apa?” Kenan mulai sedikit panik.
Ekspresi Kenan kini berbeda. “Jam berapa Ibu ke supermarket?”
“Dari jam satu siang,” jawab Jajang.
Kenan melihat arlojinya, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tidak mungkin Hanin akan berbelanja selama ini.
Kenan pun langsung meninggalkan dapur dan berjalan menuju ruang kerja. Semabri melangkahkan kaki, ia mendial nomor Kevin.
Tut … Tut … Tut …
Kevin yang sedang bercumbu dengan sang istri pun sempat mengabaikan deringan telepon itu, membuat Kenan sedikit kesal.
“Halo, Pa.”
“Kevin, lama sekali kamu mengangkat telepon,” jawab Kenan yang langsung menyemprot anaknya.
“Maaf, Pa.”
“Apa Mama mu ada di sana?” tanya Kenan.
Kevin menggeleng. “Tidak.”
Kepanikan Kenan semakin bertambah. “Apa? Mama mu tidak di sana? Lalu, ke mana dia?”
“Ke mana?” Kevin balik bertanya. “Memang sebelumnya ke mana? Bukan kah Mama tidak pernah pergi, jika tidak meminta izin Papa.”
__ADS_1
“Kata Neneng, Mama mu ke supermarket sejak jam satu siang, tapi belum pulang sampai sekarang.”
“Jajang?” tanya Kevin menyebut nama sopir yang sang ayah pekerjakan khusus untuk mengantar Hanin.
“Jajang tidak menemukan Mama mu,” kata Kenan ketus karena panik.
“Lalu, ke mana?” tanya Kevin.
“Papa juga tidak tahu. Cepat cari Mama mu, Kev. Lacak keberadaannya sekarang!” pinta Kenan memerintah.
“Ya, Pa.”
Kenan memutuskan sambungan telepon itu. Kemudian, Kevin dengan cepat mencari jejak ibunya. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu pun melemparkan tubuhnya ke sofa. Ia menekan pelipisnya untuk menghilangkan denyutan pada bagian itu. kepalanya terasa pusing. Pusing karena pekerjaan yang cukup banyak di kantor, ditambah ketika sampai di rumah ia kembali pusing mendengar hilangnya sang istri.
Selang tiga puluh menit kemudian, Kevin kembali menelepon ayahnya.
“Bagaimana, Kev?” tanya Kenan yang langsung mengangkat panggilan telepon itu.
“Mama ke Lombok, Pa. Mungkin ke tempat Keanu.”
“Oke.”
Kenan pun langsung memutuskan sambungan telepon itu dan mendial nomor putra bungsunya.
Di sana, sang putra pun tengah bercumbu. Keanu sedang berada di puncak gunung kembar dan menyesap bagian itu bergantian.
“Sayang, ponselmu bunyi,” kata Jihan memberitahu suaminya agar menghentikan aktifitas itu.
“Tanggung, sayang,” jawab Keanu.
Tak mendapat jawaban dari Keanu, Kenan pun memilih untuk menelepon Jihan. Untuk kali pertama Kenan langsung menelepon ponsel menantunya.
“Kean, hentikan dulu. Ponselku berbunyi. Takut penting,” ucap Jihan yang melepaskan tubuhnya dari bibir itu.
Jihan meraih ponselnya. “Papa.”
Keanu langsung mengernyit. “Angkat.”
Jihan pun mengangkat panggilan itu dan meloudspeaker.
“Halo, Pa.”
“Jihan, Maaf Papa menganggumu. Apa Mama sudah sampai di sana?” tanya Kenan.
Seharusnya Hanin memang sudah tiba di rumah Keanu, karena waktu keberngakatan sesuai informasi yang diberian Kevin adalah pukul tiga sore sedangkan malam ini sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat empat puluh tiga menit.
“Tidak ada, Pa,” sahut Keanu. “Mama tidak ada di sini.”
“Iya, Pa. Mama tidak ke sini,” jawab Jihan.
“Tidak ada?” tanya Kenan.
“Tidak ada,” jawab Jihan dan Keanu bersamaan.
Kenan pun memutuskan sambungan telepon itu. Ia memikirkan ke mana sang istri pergi. Di tempat lain, Kevin dan istrinya, juga Keanu dan Jihan memikirkan ibu mereka.
__ADS_1