
Sedari tadi, Keanu memperhatikan kepala sang nenek yang lebih condong miring ke kiri. Entah ini kebetulan atau tidak, atau memang efek tua, tapi tidak biasanya Rasti tidak duduk dengan tegap.
“Oma, leher Oma sakit?” tanya Keanu sembari mengarahkan matanya ke leher itu.
“Iya, nih. Tadi sewaktu bangun tidur, leher Oma sedikit kaku dan belum bisa balik le posisi semula. Padahal sudah Oma bawa biasa,” jawab Rasti sembari mencoba menggerakkan lehernya.
“Sebentar, Oma. Kean panggil Jihan. Waktu itu, Kean pernah seperti ini dan langsung sembuh saat ditangani Jihan.”
“Masa?” tanya Rasti ragu.
Namun, Keanu mengabaikan keraguan sang nenek. Ia tetap memanggil istrinya.
“Sayang …”
“Jihan …”
Nama yang dipanggil pun tidak muncul. Walau Keanu memanggilnya dengan berteriak. Pasalnya ia memanggil sang istri dengan posisi yang masih duduk di samping Rasti. Sementara jarak antara gazebo dan pintu masuk rumah itu cukup jauh.
“Kean, kalau mau memanggil istrimu, samperin. Jangan teriak! Telinga Oma tuli mendengar teriakanmu.”
Keanu nyengir dan langsung berdiri berjalan ke ara pintu dalam.
“Sayang …” panggil Keanu lagi.
Namun, Jihan tidak sedang berada di dapur. Keanu pu mencari sang istri di segala penjuru. Kemudian, ia melihat sosok itu malah tengah asyik berbincang pada asisten rumah tangga lainnya di belakang, tepatnya di kamar yang dulu pernah ia tempati dengan sang ibu.
“Ya ampun, Sayang. Dari tadi aku cariin loh.”
Sontak, Jihan menoleh ke arah suaminya. D sana Neneng dan kedua maid yang lain tersenyum melihat Jihan dan Keanu. Mereka kenal betul dengan Jihan dan para maid itu cukup kaget saat tahu bahwa tuan muda mereka menikahi putri Lastri.
“Iya, ada apa?” tanya Jihan.
“Apa Mpok Neneng senyum-senyum?” tanya Keanu saat melihat ketiga asisten rumah tangganya sedang saling berbisik dan tertawa sembari menutup mulutnya.
“Kenapa sih pada ketawa? Ga pernah liat cowok ganteng apa?” tanya Keanu pada ketiga pelayannya lagi.
Jihan pun mencoba mencari tahu dengan mengikuti arah mata Neneng dan kedua teman sejawatnya.
“Oh, ya ampun.” Jihan langsung berdiri di depan Keanu dan menutupi sesuatu di sana yang belum tertutup. Tangannya mengarahkan pada resleting celana suaminya.
Sebelum sampai ke tempat ini, Keanu memang mencari istrinya ke berbagai penjuru termasuk kamarnya. Dan di kamar, Keanu menyempatkan diri untuk membuang air kecil. Namun, setelah selesai dari itu, ia lupa untuk meresleting celana panjangnya.
“Ini kamu belum diresleting, Kean.”
“Oh, ya ampun. Kok lupa sih?” tanya Keanu.
“Ish mana aku tahu.” Jihan mengangkat bahunya.
“Eh, jangan ketawa! Kaya ga pernah lihat punya suami kalian aja,” ujar Keanu pada Neneng dan kedua pelayannya.
Neneng begitu semangat menatap singkong premium jilid tiga yang menyembul dibalik kain bermerk itu.
“Kamu Neng, ketawa mulu," kata Keanu kesal. Pasalnya si Neneng tampak tertawa girang.
__ADS_1
Sedangkan Jihan hanya menggelengkan kepalanya dan mendorong Keanu untuk pergi dari tempat itu.
“Kamu tuh ya, malu-maluin banget sih,” kata Jihan kesal.
“Ini karena dari semalam belum meluncur, jadi rudalnya ga mau ngumpet,” sahut Keanu.
“Ish.” Jihan semakin kesal dan gemas hingga mendaratkan beberapa pukulan, bahkan sebuah tonjokan seolah lengan Keanu adalah samsak.
"Aww ... Sayang. Ini namanya kdrt,” ucap Keanu.
“Biarin,” jawab Jihan kesal dan bertolak pinggang. “Mau apa nyari aku?”
“Mau apa ya? Kok lupa. Mau bercinta?”
“Keanu serius,” rengek Jihan.
“Iya, serius.” Pria itu pun tertawa dan menarik istrinya ke taman.
“Kean mau ke mana?” tanya Jihan.
“Ke taman. Leher Oma terkilir seperti aku waktu itu. tolong bantu!” Keanu menarik lengan istrinya untuk ke tempat Rasti.
Jihan mengikuti langkah suaminya. Ia melihat Rasti yang sedang menyiram bunga-bunga yang indah itu dengan posisi membungkuk dan terlihat kepalanya yang lebih miring dan tidak lurus tegak.
“Oma,” panggil Keanu, sontak menghentikan aktifitas Rasti.
“Ini, Jihan akan membantu memperbaiki leher Oma yang sakit.”
Rasti pun menruh kembali peralatan menyiram itu pada tempatnya. Ia juga membuka kedua sarung tangan khusus untuk berkebun itu.
"Baru semalam,” jawab Rasti menurut.
“Sini, Oma.” Jihan memegang bahu Rasti. “Maaf ya Oma, Ji pegang kepala Oma.”
Rasti pun mengangguk. “Oma mau diapakan?” tanyanya panik karena sepertinya Jihan akan melakukan tindakan.
“Tenang saja, Oma. Semua akan baik-baik saja,” sambung Keanu menenangkan sang nenek.
“Tidak! Jangan digerakkan! nanti leher Oma patah,” kata Rasti panik.
“Tidak Oma, tidak apa-apa,” jawab Jihan.
“Iya, Oma. Tidak apa-apa kemarin kean juga seperti ini,” sambung Keanu.
Suasana di gazebo itu tampak riuh padahal hanya ada tiga orang di sana. Rasti panik karena sepertinya lehernya akan digerakkan paksa oleh Jihan, sementara Jihan dan Keanu berusaha menenangkan sehingga semuanya bicara, dan
Krek
“Aaaa ….” Rasti menjerit.
“Bagimana Oma? Coba digerakkan lehernya?” tanya Jihan.
Rasti pun menggerakkan lehernya ke kanan, kiri, dan belakang. “Eh, leher Oma sudah tidak sakit lagi.”
__ADS_1
Rasti tersenyum.
“Tuh kan? Percaya sama Kean Oma. Jihan itu dokter, dokternya Keanu,” sahut pria sengklek itu.
Rasti tersenyum lebar. “Ah, iya. Oma bisa menengok ke belakang.”
Rasti tampak senang. Jihan pun tersenyum lebar.
“Jadi? Oma menerima Jihan sebagai bagian dari keluarga Adhitama kan?” tanya Keanu mumpung sang nenek sedang dalam keadaan hati yang senang.
“Tentu saja. Jihan tentu saja Oma terima menjadi bagian dari keluarga ini.”
“Yeay …” teriak Keanu dan Jihan bersamaan hingga keduanya berjingkrakan.
“Hanya karena leher?” tanya Keanu berbisik.
Jihan tertawa dan mengangguk. “Mungkin.”
Keanu kembali senang dan memeluk istrinya. ia juga memeluk sang nenek sembari mengecupkan sebuah kecupan di kepala Rasti.
“Keanu menyayangi Oma. Sayaaaang banget.”
Rasti menerima pelukan itu. “Oma juga sayang kamu, Kean.”
Lalu, arah mata Rasti tertuju pada Jihan yang masih berdiri di depannya. “Sini, Ji!” Ajak Rasti pada Jihan agar mendekat.
Dengan ragu, Jihan pun emndekati Rasti dan Keanu. Lalu, Rasti memeluk cucu dan menantunya. “Kalian belum mengadakan pesta pernikahan. Setelah Papamu sembuh, segera adakan pesta itu untuk kalian.”
Jihan menggeleng. Keanu pun sama. “Tidak perlu Oma.” Mereka menjawab dengan kompak.
“Kenapa?” tanya Rasti. “Semua keluarga Adhitama selalu mengadakan pesta meriah untuk pernikahan. Apalagi kamu anak terakhir.”
“Itu tidak penting, Oma. Yang penting Keanu bersama dengan dia.” Keanu memeluk istrinya dari samping. “Dan, sekarang Kean pamit karena sejak semalam Kean dan Ji belum … Hm …”
Keanu menggantungkan perkataannya. Namun, Rasti bisa menebak kelanjutan dari perkataan itu.
“Yah, baiklah. Sana! mumpung belum siang.” Jawab Rasti tersenyum.
Keanu pun langsung menggendong istrinya.
“Eh, Kean. Turunin! Mau ke mana?” tanya Jihan bingung. Justru ia tidak mengerti perkataan Keanu yang menggantung tadi.
“Ke kamar lah, lanjutin yang semalam.”
“Keanu …” teriak Jihan sembari memukul lagi lengan itu.
Namun, keanu tak peduli. Ia tetap membawa istrinya menuju kamar dan meninggalkan Rasti.
“Kean,” panggil rasti lagi.
“Ya, Oma.” Keanu kembali menoleh ke arah sang nenek.
“Buatkan cicit yang banyak untuk Oma, kalau perlu kembar seperti Kevin!” teriak Rasti yang kemudian tersenyum.
__ADS_1
“Beres, Oma." Keanu mengedipkan matanya pada wanita sepuh itu dengan kedua tangan yang masih menggendong istrinya ala bridal.
Jihan menggelengkan kepala. Sepertinya lama-lama berada di rumah ini, otaknya akan ikut oleng.