Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Bonchap 4


__ADS_3

Matahari baru saja menampakkan diri. Pagi ini cuaca begitu cerah dan langit tampak indah. Jihan membuka mata. Kepalanya sedikit mendongak dan menatap wajah pria tampak dengan dagu berbulu tipis dan masih memejamkan mata. Tubuhnya setia berada di dakapan pria itu, walau kini tangannya tidak bisa memeluk pinggang Jihan karena masih berbalut gips. Hanya tangan kiri Keanu yang setia merangkul tubuh itu untuk mendekap.


Pagi ini, mereka kembali tidur di rumah minimalisnya. Semua keluarga sudah kembali ke kotanya masing-masing. Kemarin, Keanu, Jihan, dan Rasti menganta kepulangan Kenan, Hanin, dan Kevin beserta keluarga kecilnya kembali ke Jakarta. Sementara Wiliam dan Lastri masih berada di hotel, Lastri masih tidak bisa melakukan perjalanan jauh karena tubuhnya yang lemah akibat rasa mual yang mendera.


Jihan bangkit dan memandang wajah tampan itu. Sungguh bahagia dirinya karena setiap kali membuka mata, ia selalu disuguhkan pemandangan ini. Janggut tipis, bibir tebal, hidung mancung, dan alis Keanu yang juga cukup tebal membuat Jihan bersemangat kala memulai hari.


Subuh tadi, mereka sudah dibangunkan dengan alarm milik Jihan. Mereka pun sudah membersihkan diri bersama dan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Usai itu mereka kembali mengulangi satu kali permainan dengan durasi yang tidak lama hingga akhirnya mereka kembali tertidur sampai matahari menunjukkan diri.


Jihan mengecup singkat bibir tebal itu. Namun, sepertinya pemilik bibir tebal itu tidak terbangun, tubuhnya sama sekali tidak bergerak mendapatkan kecupan singkat. Jihan pun tersenyum melihat suaminya yang tetap pulas. Lalu, ia menyingkap selimut tebal yang semula menutupi tubuh polos keduanya. Baru saja Jihan hendak menurunkan kakinya ke lantai, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


“Mau ke mana? Masih pagi.” Suara Keanu terdengar berat dan manja.


Jihan menoleh. “Aku mau ke kamar mandi.”


“Hm … tidurlah lagi! Aku masih ingin memelukmu.”


Jihan tersenyum dan mengusap lembut wajah Keanu yang kini menempel di pinggangnya. Keanu masih bebaring sedangkan Jihan sudah terduduk di tepi tempat tidur itu.


“Ih, makin manja aja sih kamu,” ledek Jihan pada suaminya.


Keanu pun tertawa. “Biarin.”


“Aku mau bersih-bersih dulu ya,” kata Jihan yang hendak meninggalkan suaminya.


Keanu menggeleng. Ia sengaja menahan tangan sang istri yang semula tengah menyentuh wajah itu. keanu mengecup beberapa kali tangan lembut Jihan.


“Kean. kamu manja sekali,” ucap Jihan sembari tertawa.


“Aku butuh kamu.”


Jihan menatap suaminya dan tersenyum. “Aku juga butuh kamu.”


Sesaat mereka saling memandang, seolah mengulas lagi memori sejak pertama bertemu hingga terpisah dan akhirnya Tuhan menyatukan mereka.


Jihan mendekatkan wajah suaminya. “Love you, Kean.”


“Love you more, Jihan Prameswari.”

__ADS_1


Jihan tertawa mendengar Keanu menyebut namanya dengan lengkap dan menangkup wajah yang juga tengah tersenyum lebar. Lalu, kedua mata mereka saling meilirik ke masing-masing bibir. Kemudian, mereka pun berpagutan.


Jihan kembali memainkan permainan, tapi kini hanya permainan bibir. Semalam suntuk ia sudah mengeluarkan jurus keahliannya pada permainan inti yang luar biasa dan kini ia juga mengeluarkan jurus yang lain.


Jihan semakin berani mengeksplore diri. Kini, ia juga bisa dibilang good kisser, karena mampu mengimbangi permainan bibir dan lidah Keanu, bahkan memulai permainannya sendiri.


“Mmpphh …” keduanya melenguh setelah suara kecapan bertubi-tubi terdengar.


Pagutan yang cukup panjang pun terlepas setelah beberapa menit berlangsung. Kedua nafas mereka tersengal untuk meraup udara yang sebelumnya terasa sedikit.


Keanu tertawa. Begitu pun dengan Jihan. Kening mereka saling menempel.


“Kamu semakin hebat, sayang!” ucap Keanu yang merasakan kehebatan istrinya di ranjang mau pun saat berciuman.


“Iya, aku memang hebat. Baru tahu!”


Keanu pun tersenyum lebar. “Ya, sangat tahu. Makanya aku tidak bisa ke lain hati.”


Jihan langsung mendorong dada suaminya pelan. “Gombal. Udah ah, aku mau ke kamar mandi. Daah.”


Keanu kembali menahan tangan istrinya. “Satu kiss lagi, please!”


“Sayang, Please! Ulangi permainanmu tadi.”


Jihan menggeleng dan berusaha melepaskan tangan Keanu dari tanganya. Kaki Jihan sudah menyentuh lantai dan berjongkok memungut pakaian yang terserak di sana.


"Ah."


Jihan mencoba menghindari tangan Keanu yang hendak kembali menangkapnya. Ia segera memungut pakaian itu dan mendekap, lalu hendak berlari menuju kamar mandi, tapi dengan cepat Keanu pun bangkit dan mencoba kembali meraih tubuh sang istri.


Jihan tetap menghindar hingga Keanu pun tak dapat meraih tubuh sang istri.


“Awas ya!” Keanu tertawa kesal karena sedari tadi ia tak berhasil menangkap tubuh jihan.


Jihan pun menjulurkan lidahnya untuk meledek sang suami. Keanu semakin tertantang dan mengejar sang istri, tapi Jihan lebih dulu melesat menghindar dan melesat masuk ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintu itu.


“Sayang, aku juga mau mandi,” teriak Keanu dari balik pintu.

__ADS_1


“Nanti, setelah aku,” jawab Jihan dari dalam kamar mandi.


“Ngga mau. mau nya sekarang.”


“Setelah aku, Kean.” Jihan teriak lagi.


Namun, Keanu tetap berada di balik pintu itu dan mengetuk. “Kita, mandi bersama saja Sayang. Ayo buka pintunya!”


“Ngga. Mandi sama kamu pasti jadinya lama. Tunggu saja, aku sebentar.”


“Jihan,” panggil Keanu yang tetap memaksa istrinya untuk membukakan pintu kamar mandi. “Buka!”


“Ngga,” jawab Jihan sembari tertawa dan menyobek bungkus alat tes kehamilan yang ia simpan dengan rapi di dalam tas yang berisi alat membersihkan wajah.


“Pelit,” umpat Keanu kesal saat pintu itu tetap tidak dibuka oleh sang istri.


Jihan hanya tertawa mendengar umpatan itu. Ia berdiri di depan cermin sembari menunggu hasil dari alat yang telah terendam oleh air seninya.


Jihan menunggu sembari menggigit jarinya. Setelah menunggu, alat itu pun menampilkan satu garis merah. Jihan kembali menunggu hingga alat itu selesai beroperasi. Benar saja, tak lama kemudian satu garis merah pun muncul kembali.


Sontak, Jihan menganga dan menutup mulutnya. “Aku hamil,” ucapnya senang. Ingin rasanya ia berteriak dan mengungkapkan kesenangannya ini langsung pada Keanu, tapi ia menahannya. Ia ingin memberi kejutan pada suaminya yang mesum tapi sangat dicintainya itu.


“Sayang, kok dari tadi kamu ga ada suaranya?” teriak Keanu yang kembali mendekati pintu kamar mandi karena sedari tadi ia tak mendengar suara gemericik air dari dalam sana.


Jihan belum menjawab pertanyaan suaminya. ia masih terkesima dengan hasil tes kehamilan itu.


“Sayang.” Keanu mengetuk pintu. “Sayang, kamu ga apa-apa kan?”


“Ngga, Sayang.” Jihan menjawab dengan sedikit berteriak. “Aku ga apa-apa.”


“Kok ga ada suaranya?”


“Iya, aku lagi luluran,” jawab Jihan bohong.


“Oh. Aku kira kamu kenapa-napa. Ya sudah, aku buatkan susu ya.”


Jihan kembali menjawab, “iya, Sayang. Terima kasih.”

__ADS_1


“Hm ..” Keanu tersenyum dan berlalu dari pintu kamar mandi itu. Ia meninggalkan kamar menuju dapur.


Di dalam kamar mandi, Jihan berdiri di depan cermin sembari memikirkan rencana untuk memberitahu kabar gembira ini pada Keanu. Rencana yang mengesankan dan suatu saat akan menjadi sebuah kenangan untuk diberitahu sang buah hati ketika sudah tumbuh besar nanti.


__ADS_2