
Satu minggu kemudian, Jihan sudah kembali dengan aktifitasnya di Surabaya. Kini, ia tinggal bersama sang ayah dan Nancy. Jihan sengaja mendatangkan guru privat bahasa Indoensia untuk Nancy agar ia bisa beradaptasi di sini. Biasanya ia tinggal sendiri di rumah ini. Terkadang ia ditemani Lastri, sang ibu. Jika Lastri sedang rindu putrinya. Tapi sejak ada Wiliam, Lastri tak ingin datang ke rumah itu.
Jihan kembali menjadi dokter ahli saraf di rumah sakit yang dahulu ia bekerja. Ia juga masih menjadi dokter adiksi di badan anti narkotika yang ada di sana. ia masih memberi penyuluhan untuk pasien binaan yang hendak keluar dari jeratan obat terlarang itu. Keanu pun sudah tiba di Jakarta sejak dua hari lalu, bersama Chintya. Wanita yang tidak mau diputuskan Keanu, kini tengah merambah dunia permodelan di sini. Sedangkan Fiona, masih berada di Itali hingga besok. Wanita itu mewakili tim Indonesia untuk menyelesaikan berkas dan pelaporan bahwa misi mereka selesai.
“Papa, bagaimana keadaan Kak Gio?” tanya Jihan.
“Dia masih di penjara, tapi tidak akan lama. Pengacara papa sedang mengurus kebebasannya,” jawab Wiliam. “Setelah bebas, Gio akan tinggal bersama kita dan mengurus perusahaan Papa di sini. Semua bisnis Papa di sini legal.”
“Kak Gio bisa bebas?” tanya Jihan tidak percaya.
Wiliam mengangguk. “Mereka tidak punya cukup bukti untuk menahan Gio lebih lama karena bisnis kami rapi. Semua legal menurut hukum.”
Jihan menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya dengan ini, tapi sang ayah memang licik. Pantas saja sang ibu tidak ingin bertemu pria ini. Pria licik dan perusak, tapi kini Wiliam tak lagi seperti itu.
“Ayo sini! Papa sudah siapkan sarapan untukmu.” Wiliam mengajak putrinya untuk duduk di meja makan.
Wiliam sudah banyak berubah. Pria itu sangat hangat, tidak seperti yang Jihan bayangkan. Kaki Wiliam pun sudah berangsur pulih. Walau, ia masih menggunakan tongkat untuk berjalan, tapi saat ini ia hanya membutuhkan satu tongkat saja.
“Sini, Nak! Papa buatkan sandwich spesial.”
Jihan menatap sandwich buatan sang ayah. “Spesial dari mana? Bentuknya sama saja.”
“Jelas berbeda karena telurnya berwarna merah.”
Jihan menatap sandwich itu dan mengerutkan dahi. “Ya, karena Papa menggunakan telur omega 3.”
“Bukan, bukan karena itu, tapi karena Papa membuatnya dengan cinta.”
Jihan tertawa. “Meamng kalau dibuatnya dengan cinta, kuning telur jadi berwarna merah gitu? Papa ada-ada saja.”
Wiliam ikut tertawa dan merangkul putrinya. Pria itu tampak bahagia. Kedekatannya pada Jihan sangat berbeda dengan kedekatannya pada Gio. Kehadiran Jihan merubah kegarangan dan keegoisan seorang Wiliam. Ia pun lebih terlihat humble. Padahal dahulu, Wiliam cukup dingin dan tak bisa bercanda, sama seperti Gio.
“Hei, kenapa diam?” tanya Wiliam saat melihat putrinya melamun, walau mulutnya tetap mengunyah makanan buatannya.
Jihan menggeleng.
__ADS_1
“Ayo ceritakan pada Papa!”
“Aku menerima lamaran Ray,” ucap Jihan.
Wiliam menghentikan aktifitasnya dan menatap sang putri. “Lalu Keanu?”
Jihan tak menjawab. Wanita itu malah mengambil cangkir yang terisi teh hangat dan meminumnya sedikit.
“Papa dengar, Keanu sudah ada di Jakarta. Kau tidak ingin bertemu dengannya?”
Jihan kembali menggeleng. “Kami berbeda, Pa. kami tidak akan pernah bersatu.”
Wiliam menatap putrinya sendu. Wajah Jihan terlihat sedih. Ia tahu bahwa sang putri sangat mencintai anak dari pria yang dulu sangat Wiliam benci. Karena menurut Wiliam, Kenan sangat angkuh, sikapnya pun tidak bersahabat. Tapi ternyata pria itu baik, bahkan sangat baik hingga membiayai putrinya sampai menjadi seperti sekarang ini. Wiliam berhutang banyak pada Kenan yang telah merawat dan membiayai putri serta wanita yang pernah ia lupakan karena memiliki keluarga baru.
“Kami juga berbeda,” ucap Wiliam pada putrinya.
Jihan menoleh ke sang ayah yang juga menoleh ke arahnya.
“Ya, Papa dan ibumu berbeda. Mungkin, kami juga tidak akan pernah bersatu,” ujar Wiliam lagi.
Jihan menggelengkan kepala dan menatap ke arah taman belakang karena letak meja makan itu berada dekat dengan taman.
“Nasib percintaan kita memang tragis, Papa.”
Wiliam mengangguk. “Ya, kamu benar.”
Lucu, melihat ayah dan anak tengah berada dalam kondisi percintaan yang sama. Hanya saja mereka berbeda usia dan generasi.
Di Itali, Gio masih menjadi tahanan kota. Selama satu minggu, ia di cecar banyak pertanyaan. Tapi tetap saja, Gio mengelak jika dirinya di sebut mafia dan memiliki bisnis barang terlarang.
Gio yang sudah terlatih mental dan kekuatan, dengan santai menjawab pertanyaan seolah ia memang warga sipil biasa. Ia hanya seorang pengusaha Club dan hotel biasa, karena memang ia mengalokasikan keuntungan penjualan bisnis ilegal itu ke bisnis legalnya.
“Saya tidak kenal dengan Gomes, apalagi Arthur.” Gio menggelengkan kepala saat polisi menyebut nama-nama mafia besar yang cukup meresahkan di kota ini.
“Saya hanya pengusaha biasa. Pemilik Club di kota xx dan xx, juga pemilik hotel di Cagliari, Venezia, dan Bologna. Pertikaianku dengan Gomes hanya karena pengakusisian hotel yang ada di Cagliari. Itu saja,” ucap Gio lagi, mengelak.
__ADS_1
Di luar sana, Fiona menggelengkan kepala. Ia kesal dengan pengakuan Gio yang tak kunjung menemui titik terang hingga hari ke tujuh.
“Dia akan dibebaskan hari ini,” ucap kepala kepolisian Roma.
“Apa? Tidak. Itu tidak adil. Dia harus dihukum,” ucap Fiona kesal.
Kepala kepolisian itu menggeleng. “Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa barang-barang itu miliknya.”
“Tapi saya dan rekan saya sudah sejauh ini menjadi penyusup untuk dia,” kata Fiona menunjuk ke arah pria yang sedang duduk di dalam ruangan kedap suara dengan kaca yang bisa terlihat dari luar tapi tidak dari dalam ruangan itu.
Kepala kepolisian yang berusia sekitar lima puluhan lebih itu pun mengangkat bahunya. “Saya juga gemas. Saya ingin dia di penjara. Itu target saya sebelum pensiun,” ucapnya dengan menatap ke arah Gio.
Fiona dan bapak kepala kepolisian itu berdiri menghadap kaca yang menampilkan Gio bersama salah satu intel dan menginterogasi pria itu.
“Bagaimana dengan kaki tangan Gomes? Apa pria itu membuka suara?” tanya Fiona.
Pria paruh baya itu kembali menggeleng. “Tidak ada bukti bahwa dia kaki tangan Gomes. Hanya ada catatan bahwa pria itu memukul seorang pelanggan club dengan botol minuman. Hanya itu yang bisa membuatnya tetap di tahanan. Itu pun tidak lama.”
Fiona lemas. Tapi ia cukup senang karena pengiriman Gio ke negaranya tidak berhasil. Bahkan saat ini barang-barang itu telah dimusnahkan masal.
Ceklek
Rekan Fiona yang erasal dari Itali yang semula ada di ruangan itu pun keluar. Pria itu tampa lemas dan menggelengkan kepala hingga datang seorang pengacara.
“Saya ingin menjemput klien saya,” ucap pria yang merupakan pengacara Gio.
Gio pun keluar dari ruangan itu dengan senyum. Gio menatap Fiona penuh kemenangan. Pasalnya dirinya tidak bisa ditahan seperti yang diinginkan Fiona.
“Kita pasti akan bertemu lagi, wanita Indonesia,” bisik Gio dengan nada yang sama dan senyum yang sama seperti malam itu saat melewati Fiona.
Gio hendak keluar dari tempat itu dan Fiona menatap pria yang dengan mudah menghirup udara bebas.
Lalu, Gio menoleh ke belakang dan kembali mengedipkan mata kepada Fiona, persis seperti yang ia lakukan saat malam penangkapan di rumahnya itu.
“Menjijikkan,” gumam Fiona kesal.
__ADS_1