Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Hutang Nyawa


__ADS_3

Keanu melepas Jihan bersama Wiliam, Luna, dan Nancy bersama Mark ke Perancis. Mereka akan transit satu hari di sana dan akan di jemput oleh orang Wiliam langsung ke Indonesia. Luna dipastikan tidak akan ikut bersama Wiliam, tapi Nancy akan ikut bersama majikannya itu, mengingat saat ini Nancy adalah anak yatim piatu karena belum lama ia dikabarkan bahwa sang ayah yang hobby berjudi itu akhirnya meninggal.


“Mark, terima kasih,” ucap Keanu pada sahabatnya.


Mark mengangguk dan tersenyum. “Aku senang bisa membantu.” Pria itu melirik ke arah Jihan. “Jadi? Dia yang membuatmu tidak bisa serius dengan wanita?”


Keanu hanya membalas pertanyaan Mark dengan senyum. “Jaga wanitaku, Mark.”


“Oke. Akan aku jaga, walau nyawa taruhannya.” Mark mencekik dirinya sendiri sebagai bukti dari ucapannya tadi.


Keanu pun tertawa. “Dasar orang Franch lebay!” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang membuat Mark tidak mengerti, tapi pria itu tetap tertawa.


Lalu, Keanu beralih ke Jihan. Pria itu berjalan pelan mendekati wanita yang sedari sibuk mendahulukan orang lain untuk masuk ke dalam pesawat pribadi milik Mark.


Jihan tersenyum menatap Keanu yang berjalan ke arahnya. Keanu pun ikut tersenyum.


“Sekali lagi, terima kasih Kean,” ucap Jihan.


“Jangan bilang terima kasih terus! Karena kamu sudah mengucap itu empat kali.”


“Ah, ya? Aku rasa belum sebanyak itu.” Jihan tertawa.


“Sudah sebanyak itu. Malah ini ucapan terima kasihmu yang kelima,” sahut Keanu yang juga tertawa.


Mereka tertawa bersama. Lalu, Jihan kembali diam dan berkata, “kira-kira apa yang akan terjadi dengan Gio?”


Keanu ikut terdiam.


“Apa dia akan di penjara?” tanya Jihan lagi pada Keanu.


Keanu menggeleng. “Aku rasa tidak. Gio itu pintar. Tidak ada catatan yang membuktikan bahwa di seorang mafia. Semua bisnisnya di sini, legal.”


Jihan mengangguk. Ia sepakat dengan pernyataan Keanu. Sang kakak memang pintar, kepintaran yang diwarisi oleh sang ayah. itu terbukti dengan dirinya yang juga pintar. Hanya saja kepintaran Gio disalahgunakan oleh dirinya sendiri, sedangkan kepintaran Jihan memang berjalan untuk kebaikan.

__ADS_1


“Kean, cepatlah! Kami akan berangkat,” teriak Mark meminta Keanu mengakhiri perbincangannya dengan Jihan.


“One minute again,” sahut Keanu sambil mengangkat jari telunjuknya ke atas.


Lalu, Keanu mengangkat tangannya untuk merapikan anak rambut yang menutupi wajah Jihan karena angin. Ia menyelipkan anak rambut itu ke belakang telinga Jihan. Gerakan tangan Keanu yang lembut membuat Jihan terdiam sambil menikmati sentuhan itu.


“Sampai jumpa di Jakarta,” ucap Keanu lirih.


Jihan menggeleng. “Setelah ini, kita tidak akan bertemu lagi. Anggap peristiwa ini tidak pernah terjadi.”


Jihan mengambil tangan Keanu dan menjauhkan tangan itu dari wajahnya. “Selamat tinggal, Kean. Kembalilah ke duniamu dan aku ke duniaku.”


Keanu diam mematung. Ia hanya menarik nafasnya kasar dan melihat Jihan meningglakannya. Wanita itu menaiki anak tangga pesawat satu persatu dan tak lagi menoleh ke arah Keanu.


Keanu berdiri di bawah menunggu Jihan kembali menoleh saat wanita itu sampai di atas dan pintu pesawat akan tertutup.


Benar saja, Jihan pun menoleh ke arah Keanu yang masih berdiri di bawah. Wanita itu tersenyum dengan senyum yang manis persis saat senyum itu pertama kali Keanu lihat.


Keanu membalas senyum itu dan membiarkan Jihan pergi seiring pintu pesawat yang tertutup.


Di kediaman Wiliam, pertikaian berhenti. Tapi kini waktunya pihak berwajib mengeksekusi.


“Kau tinggal sendiri, Gio,” ucap pria yang Gio kenal sebagai kaki tangan Gomes.


Ya, saat ini Gio sudah kehilangan seluruh anak buahnya. Ia juga tidak tahu di sana Craig berhasil meloloskan diri atau tiddak. Tapi yang pasti kondisi Gio saat ini tidak sedang baik-baik saja. Di halaman belakang yang luas, kepalanya ditodongkan senjata oleh kaki tangan Gomes.


“Kau akan mati, Gio. Dan kekuasaanmu akan menjadi milik bosku,” kata pria itu dengan posisi berdiri dan saling berhadapan.


Gio melihat memandang lurus ke balik tubuh pria yang sedang menodongkan senjata padanya. Di sana berdiri seorang wanita dengan pakaian lengkap dan persenjataan lengkap yang menempel di kaki kiri dan kanannya. Fiona berpenampilan layaknya Lara Croft di film tomb rider. Cara berdiri wanita itu pun terlihat gagah.


“Angkat tangan!” teriak Fiona pada pria yag menodongkan senjata ke kepala Gio.


Gio melempar pistolnya ke lantai dan mengangkat langsung tangannya ke atas, karena ia memang sudah kehabisan peluru. Sementara, pria yang menodongkan senjata ke kepala Gio, masih dengan posisinya.

__ADS_1


“Angkat tanganmu!” ucap Fiona lagi pada pria itu.


Namun, kaki tangan Gomes, tetap pada posisi yang sama. Ia memang tidak ingin melepaskan Gio, karena Gomes menyuruhnya untuk melenyapkan pria yang sudah membuat bosnya rugi besar.


“Aku hitung sampai tiga,” ucap Fiona lagi. “Jika kau tidak membuang senjatamu dan melepaskan target, maka aku akan menembakmu.”


Keadaan semakin mencekam. Fiona pun mulai berhitung.


“Satu …"


"Dua …”


Pria itu tetap tidak melakukan apa yang Fiona perintahkan. Justru ia semakin mengeratkan senjatanya ke kepala Gio.


Gio terlihat pasrah. Ia hanya memejamkan matanya. Nyawanya kini berada di tangan Fiona, jika wanita itu tidak menembak dengan tepat dan kalah cepat, maka nyawa Gio melayang.


Di sana, Fiona sudah membuat ancang-ancang. Ia tahu bagian tubuh mana yang harus ia bidik agar lawan langsung dilumpuhkan seketika. Fiona mengincar tangan pria yang memegang pistol ke kepala Gio.


“Tiga.”


Dor


Gio memejamkan mata. Namun sedetik kemudian ia merasakan jantungnya masih berdebar. Ia masih bisa bernafas dan tidak kehilangan keseimbangan. Ia pun membuka matanya dan melihat telapak tangan pria itu berdarah. Pistol yang semula berada di tangan pria itu pun lepas dan terjatuh ke lantai.


Gio menatap ke arah Fiona yang membidik tepat di telapak tangan itu. Bidikan yang amat susah, tapi wanita itu bisa melakukannya.


Rekan Fiona yang lain langsung menghampiri Gio dan memborgolnya. Begitu pun dengan pria yang menodongkan senjatanya ke kapala Gio tadi. Tangan pria yang berlumur darah karena terkena tembakan dari Fiona pun ikut di borgol.


Gio bersama orang-orang yang selamat yang berada di rumah itu pun di giring ke kantor polisi. Gio berjalan melewati Fiona dan berbisik.


“Tembakanmu hebat, Nona. Aku berhutang nyawa padamu.”


Fiona merasakan hembusan nafas Gio, membuat bulu kuduknya meremang. Suara Gio terdengar sensual dan penuh kekaguman.

__ADS_1


Lalu, Fiona menoleh ke arah pria yang sedang digiring dan diborgol itu. Gio pun menoleh ke arah Fiona dan mengedipkan mata. Hal itu, sontak membuat Fiona kaget. Fiona langsung membuang pandangan seolah ia tak melihat pria dingin yang berubah menjadi mesum itu.


Fiona pun menggelengkan kepala dan ikut bersama rekannya yang lain menuju kantor polisi.


__ADS_2