Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Mencari Hanin


__ADS_3

Kenan mondar mandir di dalam kamarnya. Ia tidak bisa tenang. Apalagi mengetahui fakta bahwa sang istri tidak berada di rumah kedua putranya.


Lalu, Kenan menelepon Kiara.


“”Apa? Kok bisa?” tanya Kiara yang juga ikut panik. “Ke tempat Kevin kali, Kak.”


“Tidak, ada Ra. Menurut Kevin justru Hanin terakhir berada di bandara menuju Lombok. Tapi, aku telepon Keanu, dia tidak ada di sana.”


“Mungkin belum sampai,” ucap Kiara menenangkan kakaknya. “Seampainya Hanin di sana, pasti Keanu akan menghubungi. Jangan khawatir, Kak.”


Kenan menggeleng. “Entahlah. Aku memang keterlaluan.”


Kemudian ponsel Kiara sengaja direbut oleh Rasti.


“Ken, istrimu tidak kemana-mana. Jangan terlalu berlebihan! Ini bukan kali pertama dia melarikan diri bukan?”


Kenan terdiam mendengar suara sang ibu.


“Mami kapan pulang?” tanyanya.


“Tiga hari lagi. Mami masih mau menikmati udara di sini.”


Kenan mengangguk.


“Sudah, jangan terlalu dipikirkan! Hanin pasti akan kembali. Dia akan pulang sendiri. Memang dia mau kemana? Memang dia bisa hidup susah tanpa uangmu.”


Lagi-lagi Rasti berkata pedas dan Kenan hanya diam. Walau Kenan tahu bahwa istrinya tidak seperti itu, tapi ia malas untuk berdebat dengan ibunya.


“Pikirkan pekerjaanmu. Kota ini membutuhkanmu,” kata Rasti lagi.


“Iya, Mam.”


Lalu, ponsl itu kembali Rasti berikan pada Kiara. Adik kesayangan Kenan itu juga meyakinkan sang kakak bahwa istrinya akan segera kembali. Hanin hanya menenangkan diri sejenak saja. itu memang benar, tapi Kenan tetap khawatir karena keberadaan sang istri tidak ia ketahui.


Kenan akan tenang membiarkan istrinya menenangkan diri, jika ia tahu di mana letak sang istri berada.


Kenan pun menutup sambungan telepon itu. Namun, ia tetap meminta pada Gunawan, adik iparnya untuk mencari jejak Hanin. Kenan juga meminta Vicky untuk melakukan hal yang sama. Semua sahabatnya ia kerahkan untuk mencari keberadaan Hanin. Sungguh, malam ini ia tidak akan bisa tidur nyenyak, sebelum tahu di mana Hanin berada.


****


Di tempat berbeda, Kevin dan Keanu pun memikirkan sang Ibu. Kevin mengerahkan orangnya untuk mencari keberadaan Hanin, begitu pun dengan Keanu. Aktifitas bercinta yang biasa keduanya lakukan dengan istri masing-masing pun tersendat.


“Kean, ayo makan dulu!” kata Jihan yang melihat suaminya masih berkutat dengan ponselnya pagi ini.


Sejak semalam ia dan Kevin memang selalu berkomunikasi untuk mencari informasi tentang sang ibu.


“Sebentar, Sayang.” Jari Keanu masih menari di atas tuts handphone-nya.


Jihan mendekati suaminya yang duduk di sofa ruang keluarga. Lalu bergelayut di bahu itu. “Gimana? Ada kabar tentang Mama?”


Keanu menggeleng. “Belum. Kevin bilang terakhir Mama di bandara menuju Lombok. Tapi kenapa sampai pagi ini belum juga sampai ke sini? Dan mengapa Mama juga tidak menghubungi kalau mau ke sini. Aku kan bisa menjemputnya di bandara.”

__ADS_1


Keanu menoleh ke arah istrinya dengan wajah bingung. Jihan pun diam dan menampilkan wajh yang sama.


“Coba kamu cek cctv di bandara kedatangan Lombok,” ucap Jihan.


“Sudah. Kevin sudah mengecek cctv di sana. Mama memang terlihat di bandara Lombok,” jawab Keanu.


“Lalu? Mama naik kendaraan apa setelahnya?” tanya Jihan.


“Tidak terlihat lagi,” jawab Keanu lagi.


“Kalau begitu, ayo Kita ke bandara dan cari tahu!” ajak Jihan pada suaminya.


Sungguh, Jihan juga cemas dengan san ibu mertua. Apalagi selama ini hanya Hanin yang begitu baik dengannya.


“Ayo!” Keanu pun bersemangat untuk mencari keberadaan sang Ibu.


“Oh, ya makanannya di bawa,” kata Jihan dengan tergesa-gesa membungkus makanan yang baru saja matang untuk mereka makan di dalam mobil.


Sejak semalam Keanu belum juga makan. Jihan akan menyuapi suaminya saat perjalanan menuju bandara.


Di tempat lain, Hanin baru saja bangun. Ia memang tengah berada di Lombok, tapi tidak di di rumah Keanu atau pun di hotel. Hanin memilih berada di desa terpencil, di sebuah rumah milik salah satu mantan pengajar di Yayasan keluarga Adhitama. Kebetulan orang ini adalah orang kepercayaan Hanin dulu saat masih di Yayasan. Namun, dia mengundurkan diri karena harus meneruskan sekolah dasar yang dibangun ayahnya mengingat sang ayah tengah sakit keras dan harus ada seseorang yang menggantikan.


“Sudah bangun, bu?” tanya Annisa, orang kepercayaan Hanin dulu saat di Yayasan yang kini mengelola sekolah dasarnya sendiri di desa terpencil di kota ini.


Untungnya, desa ini cukup terpencil dan jauh dari kota, sehingga hampir tidak ada yang mengenal siapa Hanin. Terlebih Hanin hanya muncul di publik beberapa kali, sehingga wajahnya tidak terlalu banyak yang mengena, padahal ia adalah istri gubernur kota. Hanya keluarga Annisa yang kenal betul siapa Hanin dan mereka pun berusaha biasa karena Hanin memintanya seperti itu.


“Sudah, An. Makasih ya.”


Hanin nyengir. “Loh, saya kan udah pernah janji. Akan melihat sekolahmu. Dan saya menepati janji, bukan?”


Annisa pun tersenyum. Wanita beranak dua itu duduk di tepi tempat tidur yang ditempati Hanin.


“Boleh saya peluk Ibu? Kangen? Ibu itu inspirasi saya. saya sangat mengidolakan Ibu,” ucap Annisa.


Hanin pun memeluk ibu muda itu. “Saya juga kangen kamu, Nis.”


Mereka cukup lama berpelukan, hingga beberapa detik kemudian terlerai.


“Oh, ya. Nanti saya ikut ke sekolah ya,” kata Hanin.


“Besok aja, Bu. Ibu istirahat saja dulu. Kemarin kan baru sampai,” sahut Annisa.


Saat pertama kali Annisa mengundurkan diri dengan alasan mengelola sekolah yang didirkan ayahnya di kampung. Hanin pun langsung membantunya. Apalagi saat Annisa bilang kalau sekola itu mengalami kerusakan dan belum mendapat biaya untuk perbaikan, padahal sudah mengajukan proposal bantuan apda pemerintah setempat. Tanpa melihat bukti itu, Hanin langsung memberikan Annisa bantuan dengan nominal yang sangat besar.


“Tapi saya bosan kalau ga ngapa-ngapain, An.”


Hanin bangkit dan mengambil berlengkapan mandi, mengingat kamar mandi di rumah ini ada di luar kamar.


“Tapi saya belum menyiapkan apa di sana untuk menyambut kedatangan Bu Hanin.”


Hanin tertawa. “Ya ampun, tidak perlu. Seperti kedatangan pejabat penting saja.”

__ADS_1


“Lah kan ibu memang Ibu pejabat. Istri gubernur gitu loh.”


Hanin kembali tertawa. Ia melupakan status itu, karena sejak sang suami mendapat jabatan itu, Hanin memang tetap selayaknya warga biasa dan tidak pernah mau menggunakan fasilitas pengawalan pribadi ketika keluar dari rumah.


Setelah selesai membersihkan diri dan bersiap-siap, Hanin pun berangkat menuju sekolah bersama Annisa. Sebelum itu, ia juga menyempatkan diri untuk berbincang dengan orang tua Annisa yang usianya tidak jauh dari usia Hanin sekarang.


“Wah, sekolahnya lumayan besar juga ya, An.” Hanin memandang seluruh penjuru gedung berlantai satu, tapi luas.


“Ya. Lumayan, Bu. Kurang lebih ada seratus lima puluhan murid seluruhnya.”


Hanin mengangguk dan tersenyum. “Wah, untuk di sini, itu lumayan banget, An. Kamu hebat.”


Annisa pun tersenyum. “Ya, tahun ini jumlah murid terbanyak. Alhamdulillah.”


“Alhamdulillah,” sahut Hanin. “Paling tidak, mereka mulai peduli dengan pendidikan.”


Annisa pun mengangguk. “Ya, dan paling tidak kita bisa memberantas buta huruf.”


“Benar.” Hanin kembali mengangguk.


Tak lama, mereka mendengar suara riuh dari balik ruang kelas. Annisa dan Hanin pun berjalan menuju kelas itu. kebetulan mereka datang memang pada saat jam pelajaran sudah di mulai.


“Loh, ini pengajarnya ke mana, An?” tanya Hanin.


“Nah, ini dia, Bu. Saya kekurangan pengajar. Sebelumnya saja kekurangan, ditambah dua pengajar saya yang terkena musibah. Yang satu jatuh dari pohon kelapa dan patah tulang kakinya. Yang satu lagi, kebetulan lagi kena DBD dan harus di rawat. Jadi ya seperti ini.”


Hanin terdiam. Jiwa penolongnya pun tergerak.


“kira-kira sampai kapan salah satu dari mereka bisa mulai mengajar kembali?” tanya Hanin.


“Satu atau dua minggu mungkin,” jawab Annisa.


“Kalau begitu aku akan menggantikan mereka.”


Annisa tercengang. “Benarkah? Memang tidak apa jika Ibu berlama-lama di sini?” tanyanya tidak percaya.


“Tidak apa. Lagi pula sudah tidak ada lagi yang diberatkan. Anak-anak sudah punya keluarga masing-masing.”


Annisa mengangguk senang dan memeluk Hanin. “Terima kasih, bu Hanin. Terima kasih.”


“Sama-sama.” Hanin menepuk bahu Annisa.


Di kediaman mewah di Jakarta, Kenan tidak bisa tidur. Ia terus mencari keberadaan sang istri dengan menelepon semua orang yang ia repoti. Kenan terus mendial nomor Hanin yang tidak aktif. Benda pintar itu tidak pernah jauh darinya.


“Sayang, kamu di mana? Maafkan aku. Tolong kembali lah!” Kenan berkata pada dirinya sendiri dengan menatap keluar dari balik jendela kamar sembari mengusap wajahnya kasar.


Ia kembali mengingat perkataan pedasnya pada Hanin beberapa hari lalu. Ia juga ingat selama tiga hari ini telah mendiamkan wanita itu. Padahal Hanin sudah meminta maaf dan berusaha tetap mengajaknya bicara atau pun tetap melayani dirinya.


Kenan memejamkan mata sembari menarik nafasnya kasar. Ia tidak bisa bekerja. Ia tidak bisa berangkat ke kantor jika istrinya belum ditemukan.


Baru semalam saja, Kenan sudah tidak konsentrasi ditinggal istri. Apalagi jika Hanin benar-benar berada di desa terpencil itu selama dua minggu. Apa yang terjadi pada Kenan?

__ADS_1


__ADS_2