Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
"Ini obat apa?"


__ADS_3

Malam ini, Keanu dan Jihan bemalam di hotel yang tak jauh dari bandara, karena keeseokan paginya mereka harus terbang pagi-pagi sekali. Dan, agar tidak memakan waktu yang lama, mereka memilih menginap di hotel yang dekat dari keberangkatan.


“Arrrgggg …” suara Keanu saat pelepasan terdengar jelas hingga menggema di sebuah ruangan yang cukup besar dan kedap suara.


Hampir setiap malam, Keanu menginginkan tubuh sang istri. Walau dalam keadan lelah dan banyak pikiran, Keanu tetap membutuhkan tubuh itu untuk menghilangkan sejenak semua permasalahan. Saat bercinta, rasanya seperti tidak ada beban dalam hubungan ini. Ketenangan, kehangatan, dan kedamaian ada bersamaan dengan tubuhnya yang menyatu pada tubuh sang istri.


Jihan memeluk erat bahu Keanu dengan kedua tangannya hingga ia meremas rambut berwarna kecoklatan itu.


Keanu belum melepaskan penyatuannya. Ia masih betah berada di dalam tubuh sang istri hingga sisa percintaan itu tak lagi tersisa. Semua tertampung dalam rahim Jihan. Namun, sayangnya Jihan tidak pernah absen meminum pil untuk mencegah terjadinya pembuahan. Berbeda dengan keinginan Keanu yang sengaja melakukan itu agar usahanya segera membuahkan hasil.


Keanu melonggarkan tubuh yang sebelumnya menindih erat tubuh sang istri yang berada di bawahnya. Ia menyangga dengan kedua tangannya yang berada di samping bahu Jihan. Lalu, Keanu tersenyum menatap wajah sayu sang istri dalam keadaan masih dalam penyatuan. Tangan kanan Keanu terangkat untuk mengusap peluh di dahi Jihan akibat pertempuran panas tadi.


“Terima kasih,” ucap Keanu seraya memberi kecupan hangat di dahi Jihan.


Jihan ikut tersenyum. “Sama sama.”


Tangan kanan Keanu masih setia mengusap dahi itu dan membereskan anak rambut yang menutupi wajah cantik Jihan, serta anak rambut yang menempel karena peluh yang ada di sekitar dahinya tadi.


“Kamu memang selalu bisa membuatku bahagia,” ucapnya jujur. “Kamu yang selalu bisa mengubah moodku, jadi lebih baik.”


“Masa?” tanya Jihan pura-pura tak percaya. “Aku ga percaya.” Kepala Jihan menggeleng sembari tertawa.


Keanu ikut menyeringai dan mencubit ujung hidung yang mancung itu. Ia gemas dengan ekspresi Jihan saat ini.


“Ck. Rese banget. Di puji malah ga percaya.”


Jihan pun tertawa. Lalu mendorong dada Keanu agar melepaskan penyatuan itu. “Kean, udahan.”


Keanu menggeleng. “Belum. Sisa-sisanya masih ada. Biar semua ada di sini.” Pria itu mengusap bagian bawah perut Jihan.


“Iya, tapi lepas dulu. Aku ga bisa bergerak. Kamu tuh berat,” kata Jihan sembari tertawa kecil dan memegang otot dada Keanu yang cukup atletis.


Keanu masih tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Keanu semakin tampan dengan ekspresi itu, membuat Jihan ikut tersenyum melihatnya.


“Kenapa? Aku ganteng?” tanya Keanu.


Jihan yang biasanya menolak kepercayaan diri seorang Keanu yang berlebihan, kini mengangguk setuju. “Ya, kamu memang ganteng. Suami siapa dulu?”


“Suami siapa?” tanya Keanu meledek.


“Suami siapa ya?” Jihan pura-pura mengetuk kepalanya, membuat Keanu tertawa gemas dan mencium bibir itu.


“Sekali lagi ya, Sayang,” ucap Keanu setelah mencium bibir Jihan sekilas.


“Hm … sekali lagi?” tanya Jihan sembari mengangkat jari telunjuknya ke atas.


Keanu mengangguk. “Aku masih ingin.”

__ADS_1


Benar saja, sesuatu di dalam yang masih menyatu itu kembali siap tempur. Jihan pun dapat merasakannya.


“Kean, kamu kuat banget sih,” rengek Jihan sembari protes. “Besok kita berangkat pagi. Aku ga mau tidur malam.”


“Ngga, Sayang. Cuma satu kali lagi. Aku janji ga akan sampai larut malam.”


“Eum.” Jihan pun menyentakkan kakinya pada ranjang empuk yang ia tiduri, membuat Keanu semakin gemas dengan ekspresi Jihan yang ingin menolak tapi tidak bisa menolak.


Akhirnya, Keanu mengulang lagi kenikmatan yang baru saja terjadi. Ia kembali mencumbu sang istri hingga akhirnya gelora Jihan ikut bangkit dan ikut berperan dalam aktifitas panas itu. Bahkan kini, Jihan yang memimpin permainan, membuat Keanu tersenyum senang.


“Ya, seperti itu, Sayang. Pintar. Semakin hari semakin pintar. Uh, Ah.” Keanu begitu menikimati permainan sang istri.


“Sayang, sumpah kamu nikmat banget.” Keanu terus meracau dan memuji kelihaian Jihan yang kian hari membuat pria itu melayang. Walau sebenarnya bukan hanya Keanu yang melayang tetapi juga Jihan pun merasakan hal yang sama.


****


Keesokan paginya, Keanu dan Jihan kembali ke Surabaya. Setelah itu mereka akan mempersiapkan diri untuk pindah ke Lombok, karena empat hari lagi Jihan harus sudah bertugas di rumah sakit itu. Walau Keanu masih satu bulan lagi memulai aktifitasnya untuk bertanding di musim ini, akan tetap ia tetap berangkat bersama sang istri untuk menemani.


Keanu dan Jihan duduk bersebelahan di dalam pesawat. Jihan menempelkan kepalanya di pundak Keanu dan tangan Keanu pun merangkul bahu itu agar Jihan semakin nyaman.


“Kean, di ruang kerja kemarin, Apa Papa menamparmu?” tanya Jihan lirih.


“Ya.” Keanu mengangguk.


“Apa Papa juga memintamu untuk berpisah dariku?” tanya Jihan lagi, membuat Keanu menatap wanita itu.


“Tapi aku tetap memilihmu. Kita tidak akan berpisah lagi,” jawab Keanu.


Sejenak Jihan pun terdiam dan tersenyum tipis, hingga Keanu menarik tubuh itu agar kembali masuk ke dalam dadanya.


Jihan masih memikirkan tentang Kenan, pria yang sudah membantunya hingga ia menjadi dokter seperti sekarang. Sungguh, ia tidak ingin hubungan ayah dan anak itu menjadi seperti ini, karena sebelumnya Keanu sangat dekat dengan sang ayah. apalagi saat Kenan kampanye waktu itu, Keanu yang berada di belakang sang ayah untuk membantu, di tambah kepopuleran Keanu pun menunjang performa Kenan saat itu hingga akhirnya ia terpilih.


“Sudah. Jangan dipikirkan!” ucap Keanu sembari mengelus rambut Jihan. Seolah pria itu tahu apa yang sedang istrinya pikirkan.


“Aku tidak ingin memisahkanmu dari Papa,” sahut Jihan pelan, hingga suara itu hanya di dengar Keanu.


“Itu semua bukan salahmu, Sayang,” kata Keanu menenangkan. “Yakinlah suatu saat nanti, semua akan kembali baik. kita hanya menunggu waktu. Papa perlu waktu untuk menerima kita, dan kita perlu waktu untuk menanti saat itu tiba. Jadi jalani saja semuanya seperti ini.”


Jihan menarik nafas dan membuangnya kasar, lalu memeluk erat pinggang Keanu.


Setelah melakukan perjalanan cukup lama, mereka pun tiba di rumah Wiliam. Lastri menyambut kedatangan sang putri dan suaminya.


“Ibu sendirian? Papa mana?” tanya Jihan pada sang ibu sesaat setelah kakinya melangkah memasuki rumah itu.


“Papa mu lagi ke kantor, katanya ada urusan yang tidak bisa dikerjakan di rumah,” jawab Lastri, membuat Jihan mengangguk.


“Papa sudah mulai aktif ngantor, Bu?” tanya Keanu yang langsung mengambil air putih dingin dan mengambilkan untuk sang istri.

__ADS_1


“Belum, katanya hanya satu minggu sekali saja,” jawab Lastri yang langsung mendapat ledekan dari Jihan. “Ciye, tau banget jadwal Papa, sekarang. Jangan-jangan Ibu jadi asprinya Papa ya?”


“Aspri apa?” tanya Lastri.


“Asisten pribadi, Ibu.”


“Ish apa sih?” Lastri mengalihkan pembicaraan. Lalu melihat Keanu yang menghampiri dengan membawa gelas untuk Jihan.“Loh, kok kamu yang ambilin Jihan minum sih? Harusnya kamu dong, Ji. Kamu malah langsung duduk.”


Jihan nyengir dan menerima gelas dari tangan Keanu.


“Ngga apa-apa, Bu,” jawab Keanu.


“Iya, sih Bu. Lagian jaman sekarang ga harus istri yang melayani suami kan? Suami juga harus melayani istri,” kata Jihan asal.


“Hush … ngga ada seperti itu.” Lastri langsung membantah filosofi asal putrinya.


Keanu hanya tersenyum, lalu menjawab, “ya ga apa-apa Bu, yang penting pelayanan di ranjangnya oke.”


Plak


Jihan langsung memukul paha Keanu yang duduk di sampingnya. Keanu pun tertawa, begitu juga Lastri yang tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


“Ya sudah, sekarang kalian istirahat dulu,” ucap Lastri, lalu bicara dengan Keanu. “Istirahat dulu, Den.”


“Bu, please. Jangan panggil keanu dengan sebutan Den lagi! Keanu sekarang menantu Bu Lastri. Oke.”


Lastri tersenyum dan mengangguk. “Udah kebiasaan, Den.”


Mata Keanu membulat.


“Eh, Kean,” kata Lastri meralat.


Jihan pun tertawa sembari menghabiskan air mineral yang diberikan Keanu tadi. Kemudian, mereka pamit pada Lastri untuk beralih ke kamar Jihan. Mereka memang butuh rehat sejenak setelah perjalanan yang cukup melelahkan.


Keanu dan Jihan berjalan menuju kamar. Sesampainya di kamar, Jihan melempar asal tasnya yang masih terbuka setelah membalas pesan dari rumah sakit Lombok.


Prak


Niat Jihan hanya melempar asal tas itu ke atas tempat tidur tetapi tas itu malah berguling dan jatuh ke lantai hingga isi di dalamnya pun ikut berhambur keluar. Sesuatu benda bulat menggelinding tepat di kaki Keanu.


Jihan meringis karena isi di dalam botol kecil itu adalah pil yang selama ini Jihan minum untuk mencegah kehamilan.


Keanu berjongkok dan mengambil benda itu. “Ini obat apa?”


Deg


Jantung Jihan serasa ingin keluar rasanya. Bagaimana menjelaskan ini pada Keanu?

__ADS_1


__ADS_2