Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Bonchap 2


__ADS_3

Jihan meminta temannya yang seorang dokter spesialis kandungan untuk datang ke cottege yang tengah mereka inapi malam ini. Kebetulan tempat ini berada tidak jauh dari teman Jihan yang sama-sama bertugas di rumah sakit yang sama dengannya.


Walau Jihan sudah memeriksa sang Ibu dan mengambil kesimpulan kalau saat ini sang Ibu tengah mengandung, tapi alangkah lebih pasti jika yang menyatakan hasil ini adalah dokter yang memang dibidangnya.


Semua orang berkumpul di ruang tengah untuk menunggu teman Jihan keluar dari kamar. Dokter spesialis kandungan itu sedang memeriksa Lastri.


Ceklek


Pintu terbuka. Di depan kamar itu sedari tadi Wiliam mondar mandir. Walau Kenan menenangkan pria paruh baya itu, tapi Wiliam tetap tidak tenang. Ia seperti suami yang baru akan memiliki anak, padahal kedua anaknya sudah dewasa.


“Bagaimana istri saya?” tanya Wiliam pada teman putrinya.


Jihan dan Keanu pun ikut menghampiri sang dokter.


“Semua baik. Ibu Lastri juga sehat,” kata dokter yang merupakan teman baik Jihan saat di rumah sakit.”


Kenan dan Wiliam ikut mendengar penjelasan wanita itu dan berdiri tak jauh dari Wiliam, Jihan, dan Keanu.


“Saat ini, Ibumu hanya butuh istirahat, Ji,” katanya pada Jihan.


“Benar kan? Ibuku hamil?” tanya Jihan yang langsung mendapat anggukan dari temannya.


“Tapi sepetinya ibumu syok. Dampingi dia ya, Ji. Beri arahan kalau hamil di usia juga tidak mengapa, yang penting semua sehat.”


Jihan mengangguk mendengar sang teman yang menatap bergantian pada semua orang yang ada di depannya.


“Jadi, kamu akan memiliki adik, Sayang?” tanya Keanu pada istrinya.


“Sssttt …” Jihan menutup mulutnya denan jari telunjuk mengisyaratkan agar Keanu tidak bicara, karena apa yang dia ucapkan khawatir malah membuat Ibu dan ayahnya menjadi tidak enak.


“Boleh saya menemui istri saya?” tanya Wiliam menyela.


“Oh, tentu saja. Bapak memang harus selalu memberi support pada ibu,” jawab teman Jihan dengan memiringkan tubuhnya agar Wiliam masuk ke kamar. “Silahkan.”


Wiliam menengok ke arah Kenan dan Hanin untuk pamit meninggalkan mereka lebih dulu dan Kenan mau pun Hanin mengangguk mempersilahkan.


Wiliam masuk ke dalam kamar dan mendapati Lastri yang tengah menangis. “Hei, kenapa menangis?”


Wiliam duduk tepat di samping Lastri yang duduk di atas ranjang dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding.


“Aku hamil, Mas. Hamil,” ujar Lastri kesal.


“Terus kenapa? Memang kenapa kalau kamu hamil? Toh kamu punya suami kan?” tanya Wiliam santai


Lastri tetap pada pendiriannya yang tidak ingin kembali hamil mengingat usianya yang tak lagi muda. Lagi pula ia malu dengan omongan orag diluaran sana. ia juga malu pada besannya, Kenan dan Hanin. Seharusnya ia menanti cucu, bukan anak.


“Aku kan sudah bilang, keluakan di luar, tapi kamu ga ngerti.” Lastri memukul dada suaminya. “Terus aku juga dilarang untuk minum pil. Begini kan jadinya?”


Lastri meraung kesal sembari memukul dada yang masih terlihat bidang itu. namun, ekspresi Wiliam justru berbanding terbalik dengan Lastri. Pria itu tersenyum sembari menahan kedua tangan Lastri yang terus memukulnya dengan brutal.

__ADS_1


“Maaf, tapi aku juga tidak menyesal,” ucap Wiliam tersenyum.


Lastri menatap tajam suaminya. “Kamu memang egois. Dulu dan sekarang sama saja.”


“Hei, dulu dan sekarang aku tetap bertanggung jawab. Dulu aku juga ingin bertanggung jawab, tapi Kenan menutup akses untuk aku melakukan tanggung jawab itu. dan sekarang biarkan aku bertanggung jawab lagi,” terang Wiliam.


“Tapi sekarang berbeda, Mas. Aku udah tua. Apalagi kamu,” sahut Lastri.


“Memangnya aku terlihat sudah tua?” tanya Wiliam yang memaksa Lastri untuk menatapnya.


Lastri terdiam, karena walau dari segi usia, Wiliam memang sudah lebih dari setengah Abad, tapi wajah dan tubuhnya tidak menunjukkan itu. Perut Wiliam pun rata, tidak buncit seperti pria se usianya.


“Mas,” panggil Lastri dengan nada merengek.


Lastri yang sekarang sangat berbeda dengan Lastri yang pertama kali Wiliam kenal. entah mengapa wanita itu terlihat manja sekarang. Atau memang sepeti ini sifat Lastri sebenarnya. Dan, Wiliam menyukai kemanjaan Lastri, juga kebin*l*nnya akhir-akhir ini di ranjang. Apa itu efek hormon ibu amil? Kalau iya, Wiliam menyesali dulu saat wanita itu tengah mengandung Jihan.


****


Jihan mengantarkan temannya hingga sampai di lobby cottege. Ia berjalan beriringan dengan wanita yang bernama Diana.


“Di, sebenarnya aku juga sudah terlambat datang bulan dua minggu,” kata Jihan yang langsung disambut ceria oleh Diana.


“Oh, ya? Bagus dong. Bukannya suamimu memang menginginkan anak?”


Jihan mengangguk. “Tapi belum aku periksa.”


Jihan menggeleng. “Nanti saja saat di rumah sakit.”


“Paling tidak, tes dulu pakai alat tes yang akurat,” jawab Diana.


“Ya, aku sudah beli sih. Tapi belum digunakan. Masih khawatir kalau hasilnya tidak sesuai harapan. Soalnya bulan kemarin juga begitu. Padahal aku sudah mual-mual, ga tau nya Cuma masuk angin.”


Jihan tertawa, begitu pun dengan Diana.


“Ada metode yang cepat. Jika kau mau, aku akan mengajarimu,” kata Diana genit pada Jihan.


Jihan kembali tertawa. “Boleh-boleh.”


Tak lama kemudian, Diana melirik ke arah Keanu yang sedang berjalan menghampiri sang istri. Kini kedua wanita itu sedang membicarakan tentang ranjang dan hal-hal berbau dua puluh satu plus.


“Tuh, suami kamu nyamperin.”


Jihan menoleh saat Diana memberitahu keberadaan Keanu. “Dia itu selalu ngintil kemana pun aku pergi.”


Diana tertawa. “Bagus dong, itu namanya cinta.”


“Ya, bukan hanya cinta, tapi candu,” jawab Keanu tiba-tiba sambil merangkul bahu istrinya danmengendus leher sang istri.


“Kean, malu ih,” kata Jihan kesal pada Keanu yang mesumnya tidak kenal tempat.

__ADS_1


Diana pun kembali tertawa. “Baiklah, kalau begitu saya pamit.”


Keanu mengangguk, begitu pun dengan Jihan.


“Terima kasih ya, Di,” ucap Jihan lagi.


Diana mengangguk. Di sana, Keanu sudah meminta pihak cottege untuk menyiapkan mobil untuk mengantarkan teman istrinya pulang.


“Oh, ya Ji. Nanti pagi jangan lupa alatnya di pakai! Siapa tahu hoki,” ujar Diana sebelum masuk ke mobil.


Jihan mengangguk. “iya. Hati-hati, Di.”


Jihan melambaikan tangannya, sedangkan Keanu menampilkan senyum dengan tetap merangkul bahu sang istri.


“Dia bilang apa? Mencoba alat apa?” tanya Keanu pelan tepat di telinga sang istri.


“Hmm … alat apa ya?” tanya Jihan genit. “Alat yang pastinya bikin kamu semakin puas sama aku.”


Jihan melepaskan rangkulan tangan sang suami dan bergegas jalan lebih dulu. Lalu, Keanu mengejarnya.


“Hei, kamu merencanakan apa dengan temanmu yang ahli **** itu,” ucap Keanu.


Jihan melirik. “Kok ahli **** sih? Spesialis ginekologi.”


“Ya, sama saja kan, ilmunya memang seputar itu" jawab Keanu.


“Beda lah. Lebih luas dari itu.”


“Sama aja,” kekeh Keanu membuat Jihan memutar bola matanya malas.


Jihan tidak ingin memberi tahu sang suami tentang masa periodenya yang terlambat, sebelum hasil tes itu membuktikan bahwa dirinya juga tengah mengandung.


Keanu langsung meraih tangan Jihan dan menggenggamnya. “Tidur yuk!”


Jihan melirik. “Masih sore, lagian juga yang lain masih ngumpul.”


“Biarin aja. Kita punya acara sendiri.” Keanu menarik lengan Jihan untuk beralih pada tempat lain.


“Kean, mau ke mana?” tanya Jihans embari tertawa.


“Ke suatu tempat yang indah. Kita akan melakukannya di sana.”


“Kean, tapi tanganmu masih sakit,” jawab Jihan yang tidak setuju dengan ide suaminya.


“Kan sudah ku bilang. Hanya tanganku yang sakit, yang lainnya tidak. apalagi yang ini!” Keanu mengarahkan matanya pada rudal yang bentuknya agak bengkok dan masih tertidur, tapi walau demikian tetap saja terlihat menyembul karena ukurannya yang diluar ukuran rata-rata orang asia.


Jihan menggelengkan kepala saat matanya mengikuti arah mata Keanu. “Dasar, modus terus!”


Keanu ikut tertawa dan mengajak sang istri ke laut yang terdapat sebuah gazebo kecil di sana. Ia ingin merasakan sensasi bercumbu dengan semilir angin dan suara deburan ombak.

__ADS_1


__ADS_2