Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Dasar nakal!


__ADS_3

Hari mulai malam, Jihan dan Keanu menikmati makan malam bersama Wiliam dan Lastri. Mereka hanya berempat tanpa Gio. Mantan mafia yang ambisius itu masih berada di Itali. Ia sering berpindah-pindah tempat antara Itali dan Indonesia. Untungnya, Wiliam masih kuat untuk menjalani bisnisnya yang berada di sini, sehingga Gio lebih memprioritaskan bisnisnya yang berada di sana.


“Kapan kalian berangkat ke Lombok?” tanya Wiliam di sela aktifitas makan malam itu.


“Besok siang, Pa. Jam dua,” jawab Keanu yang menyesal karena membeli tiket siang. Kalau ia tahu sang istri sedang palang merah, ia akan membeli tiket lebih pagi agar bisa lebih banyak berbenah di tempat tinggal mereka yang baru.


“Katanya mau berangkat pagi, kok malah beli tiket siang?” tanya Lastri.


Jihan yang semula menunduk mengaduk makanannya, lalu menatap sang suami yang juga sedang meliriknya. “Keanu takut ga bisa bangun pagi, Bu.”


Lastri tersenyum. “Oh begitu.”


Di tambah dengan Wiliam yang tertawa. “Ya, Papa engerti. Masih memaklumi karena kalian pengantin baru yang tidak bisa bangun pagi.”


Lastri dan Wiliam tertawa, begitu pun Jihan yang sengaja meledek suaminya dengan cengiran. Keanu pun melirik ke arah sang istri dengan menyeringai.


Setelah makan malam, Keanu sengaja mendekati ayah mertuanya. Dua pria itu saling berbincang. Seperti yang sebelumnya Wiliam keluhkan bahwa dirinya jarang sekali turun untuk berbincang dengan sang ayah mertua. Dan, malam ini ia akan berperan untuk itu, menjadi menantu yang baik, karena kalau pun di kamar bersama sang istri, Keanu tidak bisa menyentuh wanita itu.


“Tumben kau ada waktu buat Papa. Biasanya habis makan malam langsung ke kamar mengekori Jihan,” ucap Wiliam pada Keanu.


Keanu tersenyum. Istrinya memang sudah lebih dulu pamit ke kamar, tapi Keanu masih di sini menemani Wiliam, di taman belakang.


“Ken ingin banyak berbincang dengan Papa. Apa tidak boleh?” tanya Keanu.


“Tentu boleh. Aku senang bisa dekat dengan anak Kenan. Pria yang sepertinya masih benci denganku walau aku sudah meminta maaf padanya.”


Keanu tersenyum tipis.


“Tapi tetap tumben saja,” ucap Wiliam lagi dengan senyum yang sulit di artikan. “Cepat beri Papa cucu.”

__ADS_1


Keanu tertawa. “Coming soon, Pa. tunggu tanggal mainnya.”


Wiliam ikut tertawa. Ia benar-benar tidak menyesal menikahkan putrinya pada Keanu, karena Keanu memang pria bertanggung jawab, penuh kasih sayang, dan bisa menjaga perempuan.


Di dalam kamar, Jihan gelisah karena sang suami tak kunjung datang. Lalu, ia melihat ke arah jendela. Bibirnya tertekuk melihat sang suami yang malah asyik berbincang di sana dengan ayahnya dan meninggakan dirinya sendiri. Untuk menghilangkan kebosanan, Jihan pun meraih laptop dan membuka email yang masuk seputar pekerjaan lama dan pekerjaan barunya. Dan, Jihan menjawab beberapa email itu.


Hampir dua jam, Jihan sendiri di dalam kamar dan selama itu Keanu berbincang dengan ayah mertuanya. Wiliam menceritakan segala hal tentang dirinya dan Kenan serta perseteruan keduanya. Tidak ada yang dilebihkan dan tidak ada yang di tambahkan. Wiliam memang mengaku salah.


“Jangan membenci ayahmu jika saat ini dia belum merestui pernikahan kalian!” kata Wiliam lirih, membuat Keanu terdiam dan hanya mendengarkan cerita itu.


“Saat itu, aku memang sangat berambisi. Ingin memiliki semuanya. Sama seperti Gio sekarang, tapi untung Gio memiliki adik seperti istrimu yang bisa menghentikan ambisi itu. Dahulu, tidak ada orang yang menghentikan Papa,” kata Wiliam lagi.


Kean mengangguk dan mengerti. Ya, ketika muda memang penuh dengan keinginan. Mungkin hal itu juga berlaku padanya. Bedanya keinginan Keanu bukan pada harta, tapi pada cinta. Ia hanya ingin bersama wanita yang ia cintai. Walau bumi menolak dan keluarga melarang. Namun, keanu tetap cinta Jihan dan hanya ingin wanita itu sebagai pendampingnya.


“Sepertinya Papa sudah banyak bicara. Kamu juga sudah menninggalkan Jihan cukup lama. Putriku pasti menunggumu di sana.” Wiliam mengarahkan matanya pada jendela kamar Jihan yang masih terang, yang terlhat dari taman belakang.


Wiliam tertawa. “Untung aku punya sedikit alasan agar dia tidak ikut bersama kalian.”


“Jadi, asam lambung Papa yang kambuh itu palsu?” tanya Keanu menyerngai.


“Tentu tidak. Itu benar. Hanya saja sebenarnya Papa sudah sembuh.”


Dua pria beda usia itu pun tertawa. “Papa memang licik.”


“Butuh kelicikan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, Ken,” jawab Wiliam membuat Keanu menggelengkan kepalanya.


Walau tidak dipungkiri, Keanu sendiri juga melakukan hal yang sama. Tak lama kemudian, Keanu pun beralih ke kamarnya. Saat membuka pintu, ia melihat Jihan yang tertidur di atas meja rias dengan laptop yang masih menyala.


Keanu tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk mendekat. Ia melihat layar laptop yang menampilkan foto-foto kebersamaan mereka bergantian di berbagai tempat seperti pantai, alun-alun Surabaya, serta di rumah saat pernikahan mereka digelar.

__ADS_1


Keanu tersenyum melhat slide yang bergerak dengan event dan gaya foto berbeda. kemudian, Keanu melirik wajah Jihan yang tidur dengan kedua tangan yang menyangga kepalanya. Tangan Keanu terulur untuk menyentuh pipi lembut itu.


“Sayang, kok tidur di sini?” tanya Keanu lembut sembari berjongkok di depan Jihan.


Jihan bergerak mendengar alunan suara lembut itu. Ia pun membuka matanya. “Kamu ngobrol sama Papa lama banget.”


Keanu tersenyum. “Nungguin ya.”


Jihan mngangguk seperti anak kecil. “He um. Kelamaan jai aku tiduran.”


“Maaf.” Keanu mengecup pipi Jihan dan berganti pada bibir yang sedang cemberut itu sekilas. “Pindah ke tempat tidur ya.”


Setelah mematikan laptop, Keanu menggendong Jihan ala bridal dan meletakkan tubuh itu di atas ranjang lalu menghimpitnya. “Jika tidak sedang datang bulan. Malam ini sudah habis kamu, Sayang.”


Jihan tersenyum dan mengelus dada suaminya. “Maaf.”


Keanu menatap Jihan. Ia menatap bibir sensual serta belahan dada yang terpampang. “Kalau sedang tidak isa melayaniku, jangan menggunakan baju tidur seperti ini!”


“Kenapa?” tanya Jihan degan posisi yang masih duduk dan Keanu menngungkung tubuhnya.


“Ck. Pakai tanya.” Keanu memalingkan wajahnya sejenak dan kembali pada wajah yang sedang menggiti bibirnya. “Duh, Sayang. Wajahmu jangan digigit bibirnya! Jangan buat ekspresi seperti ini!


Keanu merasa gerah sendiri dan Jihan hanya tersenyum. Ia tahu bahwa dirinya telah membuat sang suami tersiksa.


“Sengaja ya, membalas hukuman yang aku berikan?” tanya Keanu dengan lebih mendekatkan wajahnya apda wajah Jihan.


JIhan tidak menjawab dan hanya tersenyum nakal sembari memilin kerah kaos Keanu yang tak berkerah.


Keanu tersenyum melihat ekspresi itu dan mencubit ujung hidung jihan. “Dasar nakal!”

__ADS_1


__ADS_2