Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Rumah baru


__ADS_3

Kenan merasa tak enak hati dengan sang istri. Ia yakin bahwa Hanin mendengar semua perdebatan dirinya dan sang ibu. Ini bukanlah kali pertama Hanin seperti ini. Wanita itu pernah imarahi habis-habisan saat Kevin sakit. Dengan sabar Hanin menerima kemarahan Rasti yang mengatakan bahwa dirinya tidak becus mengurus anak. Saat itu Hanin menerima kemarahan iu mertuanya karena ia memang mengakui lalai dan berakhir Kevin terkapar di rumah sakit selama satu minggu. Saat itu, Kevin masih berusia lima tahun.


“Kita sama-sama berangkat,” ujar Kenan menggandeng tangan Hanin untuk bersama memulai aktifitas.


Kenan mengantar istrinya menuju yayasan. Untung saja, Hanin memiliki kegiatan hingga saat ini, membuatnya tidak kebosanan di rumah berdua bersama si ibu s*ri bermulut pedas. Mungkin, mulut pedas Kevin berasal dari Rasti.


Di sepanjang jalan, Hanin hanya terdiam. Keduanya duduk di kursi penunpang belakang. Kendaraan itu di kendarai oleh sopir Kenan. Saat ini, praktis Kenan hampir tidak pernah membawa kendaraannya sendiri.


“Hei, Jangan dipikirkan! Oke.” Kenan memeluk bahu istrinya dari samping.


Sungguh yang membuat Hanin bertahan hingga saat ini adalah sang suami dan kedua putranya. Kenan selalu bisa menjadi penengah antara dirinya dan sang ibu mertua. Kenan tidak pernah membela sang ibu dan jika Hanin yang melakukan kesalahan, ia juga tidak ikut menyalahkan dirinya di depan sang ibu. Cinta dan kasih sayang Kenan membuat Hanin bertahan hingga selama ini.


“Maafin Mami. Biar begitu, dia adalah ibuku,” kata Kenan lagi.


Hanin mengangguk di dada suaminya.


“Terima kasih.” Kenan mengecup pucuk kepala sang istri.


****


“Kean, semua sudah siap?” tanya Jihan saat hendak berangkat ke Lombok.


“Ya,” jawab Keanu dengan mnggeret satu koper besar.


“Tidak ada yang tertinggal kan?” tanya Jihan lagi.


“Hmm … ada.”


“Apa?” tanya Jihan bingung.


Cup


Keanu mengecup sekilas bibir ranum sang istri. “Itu yang tertinggal. Hari ini aku belum mencium bibirmu.”


Jihan tersenyum dan memukul lengan Keanu. “Dasar!”


Keanu pun tertawa dan tangan kanannya meraih pinggang Jihan. Mereka keluar kamar bersama.


“Kalian sudah siap?” tanya Wiliam yang akan mengantarkan putri da menantunya ke bandara. Lastri pun sudah siap mengantar.


“Kapan Ibu menyusul?” tanya Jihan, karena rencana sebelumnya Lastri memang akan ikut kemana pun putrinya tinggal.


Wanita yang belum tua itu ingin mengasuh cucunya saat Jihan memiliki anak, agar saat Jihan dan Keanu bekerja, anak mereka tetap ada yang menjaga, sama seperti saat ia menjaga Keanu dulu ketika kedua orang tuanya bekerja.


“Mungkin nanti setelah Pak Wiliam benar-benar sehat.” Lastri melirik mantan mafia yang juga sedang melirik ke arahnya.


“Pa, hati-hati ya di rumah! Ibu jangan di apa-apain!” ledek Keanu berbisik.


“Aku sudah jinak. Kalau pun aku sentuh Lastri pasti akan aku nikahi dulu,” jawab Wiliam yang juga berbisik hingga kedua pria itu tertawa, membuat kedua wanita yang berdiri sedikit jauh itu pun menoleh.


“Ketawain apa sih?” tanya Jihan.


“Ada deh, ini urusan pria,” jawab Keanu tersenyum dan berjalan mendekati sang istri.


Jihan pun cemberut.

__ADS_1


“Ayo berangkat!” Keanu menarik tangan istrinya.


Setibanya di bandara, Lastri menangis meleps sang putri. Walau nantinya ia juga pasti akan mengunjungi Jihan di sana, tapi rasanya tetap sedih jauh dari putri satu-satunya.


“Jaga dirimu, Nak!” kata Lastri saat memeluk putrinya.


“Iya, Bu.” Jihan mengangguk.


“Jaga putri Papa, Kean!” Wiliam berpelukan dengan menantunya.


“Tentu saja, Pa,” jawab Keanu tegas.


Lalu, Jihan beralih memeluk sang ayah dan Keanu memeluk Lastri. Keanu sudah menganggap Lastri seperti ibu keduanya, karena memang wanita itu yang mengasuhnya sejak kecil.


“Jaga anak Ibu ya, Kean!” Lastri mengangkat tangan anannya tinggi untuk mengusap rambut Keanu.


“Pasti, Bu Lastri. Kean akan menjaga Jihan dengan segenap hati dan jiwa.”


Lastri pun tersenyum. “Terima kasih karena telah mencintai anak ibu sebesar itu.”


Keanu melirik istrinya. “Ya, karena putri Ibu nakal dan selalu menggodaku.”


Jihan membulatkan matanya. “Ish, terbalik ya. Yang nakal dan suka menggoda itu, kamu.”


Keanu tertawa, begitu pun Lastri dan Wiliam, hingga akhirnya mereka pun harus terpisah karena Keanu dan Jihan memasuki area yang tidak lagi bisa diantar.


Perjalanan mereka memang tidak membutuhkan waktu yang lama. Satu jam lebih lima menit, mereka pun tiba di Lombok. Di sana mereka sudah di sambut oleh sopir yang akan membawa mereka ke rumah baru yang sengaja Keanu sewa. Keanu memang tidak membeli rumah itu karena dirinya yang sering berpindah-pindah.


Jihan amat menikmati pemandangan Lombok yang indah. Ia sengaja membuka kaca jendela mobil dan menghadap ke arah itu untuk menghirup udara segar. Lalu, Keanu yang duduk di sampingnya pun memeluk pinggang Jihan dan menaruh dagu di bahunya.


Jihan mengangguk. “Sangat. Aku memang ingin di sini sejak dulu.”


“Kenapa? Untuk lari dariku?” tanya Keanu lagi.


Jihan mengangguk. Ia memang tidak pernah menyangka akan tinggal di sini bersama Keanu, karena semula rencananya ia justru akan tinggal di sini untuk menghindari pria itu dan melupakan cintanya.


“Aku memang niat menghindarimu dan tinggal di sini. Tapi ternyata diluar rencana. Aku ke sini, malah tinggal bersamamu,” sahut Jihan tersenyum sembari menyandarkan kepalanya pada dada itu.


“Kamu senang?”


Jihan membalikkan tubuhnya dan menatap Keanu. “Sangat senang.”


Keduanya pun saling tersenyum dan mendekatkan bibir mereka, melupakan seorang pria paruh baya yang sedang menyetir dan melihat ke arah spion dalam. “Ekhem.”


Keanu dan Jihan tersentak dan sama-sama menoleh ke depan. Lalu, mereka tertawa.


“Kita lanjutkan di rumah,” ucap Keanu dengan beralih mengecup kening Jihan.


Jihan pun menganggukkan kepalanya dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Keanu untuk mengeratkan pelukan.


Setibanya di rumah itu, Jihan antusias untuk segera masuk ke dalam. Keanu memang tahu seleranya. Pria itu menyewa sebuah rumah yang penuh dengan taman yang ditumbuhi bunga-bunga kesukaannya.


"Kamu memilih tempat ini untukku?” tanya Jihan.


“Tentu saja. Semua ini aku siapkan untukmu. Untuk kita.”

__ADS_1


“Eum … So sweet.” Jihan langsung menghambur pelukan ke arah suaminya dan mengecup bibir itu sekilas. “Terima kasih suamiku.”


“Sama-sama istriku,” jawab Keanu membuat Jihan gemas.


Kemudian mereka pun mulai sedikit berbenah. Tanpa merasakan lelah mereka menata beberapa bagian agar terlihat indah seperti yang mereka inginkan. Keanu bukan pria ribet, ia mengikuti semua keinginan dekorasi yang Jihan minta tanpa berdebat, karena menurutnya bersama Jihan saja sudah cukup. Kalau pun rumah itu akan dibuat seperti apa? Ia hanya mengikuti.


“Huft. Lelah! Jihan langsung merubuhkan tubuhnya di sofa, membaringkan tubuhnya terlentang dengan kepala yang bertumpu pada ujung penyangga tangan sofa.


Lalu, Jihan menekuk lututnya memberi ruang agar Keanu ikut duduk di sofa yang sama. Benar saja, beberapa menit kemudian Keanu pun mendudukkan dirinya di sana.


“Huft.” Keanu pun tampak kelelahan. Apalagi pria itu yang menggeeser-geser beberapa perabot unuk dipindahkan sesuai keinginan sang istri.


“Capek ya? Maaf ya,” kata Jihan melihat ke arah Keanu.


Keanu yang sedang meletakkan kepalanya pada dinding sofa pun menoleh ke arah sang istri. “It’s oke. Yang penting kamu suka.”


Jihan tersenyum. Untung saja sebelum sampai di rumah, mereka sempat makan di restoran bandara dan membungkus beberapa makanan untuk makan malam, sehingga Jihan tidak perlu repot memasak.


Jihan sengaja meluruskan kakinya dan diletakkan ke kedua paha Keanu yang sedang duduk. Keanu pun dengan senang hati menerima kedua kaki jenjang nan mulus itu dan memijitnya pelan.


“Pegal?” tanya Keanu sembari mengelus dan memijatnya pelan.


Jihan menggeleng. “Tidak.”


Dengan nakal, Jihan justru meledek Keanu. Ia mengangkat kakinya dan meraba wajah Keanu dengan ujung jari kakinya.


“Hei, jangan menggoda!” Keanu sedikit kegelian dengan sentuhan diwajahnya dari ujung ibu jari kaki Jihan.


Jihan menyeringai dengan terus menyentuh wajah, dada, dan tubuh Keanu dengan ibu jari kakinya.


Keanu mengambil kaki itu dan mengecupnya, membuat keadaan berbalik dan kini Jihan justru yang kegelian karena Keanu terus mencium kaki jenjang itu dari ujung ibu jari kakinya hingga ke atas.


“Kean, stop! Geli.” Jihan tertawa.


Namun, Keanu mengabaikan hingga kini ia menindih tubuh itu dan mensejajarkan kepalanya. “Jika tidak sedang datang masa periode. Sudah aku habisi kamu,” ucapnya menyeringai.


Jihan tertawa. “Justru karena itu, aku menggodamu.”


“Dasar nakal!” keanu semakin gencar menciumi tubuh sang istri dan menggigitnya.


“Ah, Kean. Jangan digigit! Sakit.”


“Biarin.”


“Kean, please!”


Keanu tidak mendengar teriakan merdu itu. ia tetap menggigit bagian tubuh Jihan yang ia sukai terutama pada kedua gunung kembar yang makin sintal itu. tidak bisa bercinta membuat Keanu hanya bisa bermain lama di bagian menggiurkan selain di bawah sana.


“Kean, sakit! Aww ... Ssshhh ...”


Keanu mendongak dan tersenyum menyeringai. Ia suka melihan Jihan tersiksa.


Jihan pun tertawa sekaligus merintih bersamaan karena Keanu semakin gencar memainkan tubuh atasnya.


Ditengah keluarga Adhitama yang sedang berseteru, justru Keanu menikmati hidupnya yang baru. Sungguh, ia tidak pernah merasa sebahagia ini dan senyaman ini. Ia akan melakukan apa pun agar Jihan selalu berada di sisinya.

__ADS_1


__ADS_2