Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Pergi ke Lombok


__ADS_3

Dua putra mahkota keluarga Adhitma, kini sudah bahagia. Kevin dan Keanu sudah mendapatkan pasangan hidupnya yang tepat. Apalagi Kevin, kebahagiaannya bertambah lengkap dengan kehadiran anak kembar yang sepasang dan tumbuh menggemaskan. Saat ini, Keanu pun akan mengikuti jejak sang kakak, dengan terus berusaha pagi dan malam.


Kebahagiaan itu pun bukan hanya milik dua putra mahkota itu, tapi juga milik Wiliam. Rival Kenan itu akhirnya menemukan kebahagiaan di usia senja dengan berhasil meyakinkan Lastri untuk menjadi pendampingnya.


Namun di kediaman keluarga Adhitama sendiri, kondisinya tidak sebaik mereka yang ada di sana. Seharian ini, Kenan tak bicara pada istrinya. Bahkan sepulang kerja pun, Kenan tidak mengeluarkan sepatah kata pun pada Hanin.


“By, kamu kenapa? Masih marah padaku?” tanya Hanin saat memberikan pakaian tidur yang sudah ia siapkan.


Kenan masih diam. Ia tidak menjawab pertanyaan itu.


“By,” panggil Hanin yang tak digubris Kenan karena pria itu tetap diam sembari memakai pakaiannya.


“Tadi siang aku meninggalkan Mami, karena rapat wali mutird tidak bisa diundur,” ucap Hanin menjelaskan mengapa dirinya tidak ada di rumah saat Rasti sakit, padahal sebelum Kenan berangkat ke kantor, ia sudah menitipkan ibunya pada istrinya.


“Kamu pemilik yayasan, pasti bisa menunda rapat itu,” jawab Kenan. “Kamu tega membiarkan Mami sendirian. Kamu tahu, aku pulang dan melihat Mami mengambil minumnya sendiri. Seperti tidak ada orang di rumah ini.”


Kenan terus mengoceh. Sementara Hanin hanya diam dan menunduk. Kondisinya siang itu memang tidak semudah yang Kenan bayangkan.


“Aku minta maaf, By. Aku tidak bermaaksud meninggalkan Mami,” kata Hanin lirih.


Dua hari ini, Kondisi Rasti memang drop. Wanita yang berusia tujuh puluh tahunan itu lebih banyak menghabiskan waktunya di atas tempat tidur. Kenan sudah memeriksakan kondisi sang ibu dan dokter menyarankan agar Rasti tidak banyak pikiran.


Kenan menoleh ke arah sang istri. “Aku tahu Mami bukan ibumu. Mami juga sering menyakitimu, tapi jangan kau balas dengan memperlakukannya seperti itu!”


Hanin langsung menggeleng tak percaya dengan perkataan yang keluar dari mulut suaminya. Ia mencerna kata-kata yang cukup menyesakkan hatinya itu. Sungguh, Hanin tidak bermaksud untuk lari dari tanggung jawab dan meninggalkan ibu mertuanya sendiri dalam keadaan sakit. Sebelum berangkat ke Yayasan, Hanin sudah meminta dua pelayan untuk menjaga Rasti. Ia juga sudah memastikan semua hal yang dibutuhkan Rasti saat ditinggalkan. Hanin juga menanyakan pada Rasti sendiri kalau wanita itu tidak apa untuk ditinggal. Namun, semua menjadi lain saat Hanin sampai di rumah.


Sepertinya, Kenan marah besar. Pria itu mengira bahwa sang istri tidak merawat ibunya dengan baik. Dan hal ini bukanlah kali pertama. Dulu, saat Kevin berusia sepuluh tahun dan Keanu delapan tahun, hal ini pernah terjadi. Hati Hanin sakit ketika Kenan mengatakan bahwa dirinya tidak menyayangi Rasti. Waktu itu, Hanin menangis dalam diam. Untung saja ada kedua putra mereka yang mengusap air mata itu dan menenangkan Hanin. Tapi kini, ia merasa sendiri karena kedua putranya sudah memiliki keluarga masing-masing.


Brak


Kenan keluar dari kamar dan langsung menuju ke kamar sang Ibu. Hanin pun menghelakan nafasnya dan mengikuti langkah sang suami.


“Sini, biar aku yang menyiapkan makanan untuk Mami,” ucap Hanin sembari mengambil piring yang dipegang Kenan.

__ADS_1


“Tidak perlu. Kamu urus saja urusanmu. Biar Mami aku yang urus,” jawab Kenan datar.


“By,” panggil Hanin dengan menarik lengan suaminya. “Hanya karena kesalahan kecil, kau langsung menghardikku seperti itu?”


Kenan diam dan tetap mengambil makanan untuk ibunya.


“Apa aku terlihat tidak menyayangi Mami selama ini?” tanya Hanin lagi dengan kesal.


Kenan menyingkirkan tangan Hanin yang menarik ujung lengan kaos oblongnya. “Sudahlah, aku tidak ingin berdebat.”


Kenan berjalan ke arah lain dan menjauhi sang istri. Namun Hanin tetap mendekati pria itu.


“By.”


Kenan menoleh lagi. “Aku selalu mengabulkan permintaanmu. Apa pun itu. Tapi mengapa ketika aku meminta satu permintaan saja padamu, kamu melanggar?”


“By, bukan begitu. Tadi itu urgent dan aku harus datang. Tidak ada yang bisa menggantikanku karena yang biasa mewakilkanku juga sedang sakit,” jawab Hanin.


Kenan pun tidak medengarkan penjelasan istrinya.


Hanin menghela nafasnya kasar dan hanya melihat suaminya berjalan menuju kamar Rasti dengan membawa piring dan gelas. Hanin pun memilih untuk kembali ke kamar dan menangis. Ia akan menunggu emosi Kenan reda dan kembali meminta maaf pada pria itu.


Hingga larut malam, Kenan tidak memasuki kamarnya. Ia meninggalkan Hanin sendirian di kamar itu dan memilih tidur di ruang kerja.


Hanin melihat ke jam yang menempel di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.10. Ia kembali menghelakan nafasnya kasar dan sudah dipastikan bahwa suaminya tidur di ruang kerja.


Hanin pun merebahkan tubuhnya dan tertidur sendiri di kamar yang cukup besar itu. jika sedang merajuk seperti ini, biasanya Hanin yang akan menghampiri Kenan terlebih dahulu. Mau salah atau pun tidak salah, biasanya Hanin yang meminta maaf lebih dulu dan merayu suaminya agar tidak marah. Tapi kali ini, Hanin tidak melakukan itu. Ia membiarkan Kenan marah.


****


Tiga hari, Kenan mendiamkan Hanin. Namun, Hanin tetap bersikap biasa dan tetap melayani suaminya. Kondisi Rasti pun kian membaik, terlebih Kenan telah mempekerjakan seorang perawat untuk merawat ibunya dengan intensif. Walau hal itu sebenarnya menyinggung Hanin, seolah ia benar-benar tidak mampu merawat ibu mertuanya, tapi Hanin diam. Ia membiarkan keputusan Kenan.


“Ini berkasmu, By,” kata Hanin dengan memberikan tas berbentuk kotak berwarna hitam itu.

__ADS_1


Kenan hanya mengangguk dan menerima tas itu tanpa berkata. Lalu, pergi. Sudah tiga hari ini pula, pria itu berangkat tanpa mencium kening istrinya terlebih dahulu. Kenan seperti memberi pelajaran pada Hanin. Tapi pelajaran apa? Hanya ego karena hingga saat ini Hanin tidak merayunya dan terus menerus meminta maaf. Haruskah seperti itu terus? Entah mengapa kali ini, Hanin enggan melakukan itu.


Hanin kembali masuk ke rumah dan mengambil puding untuk dibawa ke kamar Rasti. Namun, ia tak melihat ibu mertuanya di sana. Hanin mencari-cari wanita tua itu dan ternyata Rasti berdiri di taman.


“Mami kenapa keluar kamar?” tanya Hanin mendekat.


“Mami bosan di dalam kamar. Ingin melihat bunga-bunga ini,” jawab Rasti dengan menatap bunga yang ada di taman itu.


“Aku merawatnya untuk Mami,” kata Hanin yang juga menatap bunga-bunga kesukaan Rasti itu.


Rasti menoleh ke arah menantunya. Ia akui bahwa Hanin adalah wanita yang baik, hanya saja ia tidak suka ketika Kenan menomorsatukan istrinya dan membuat pria itu lemah. Terlebih saat menanggapi keputusan Keanu kemarin.


“Mam, Hanin minta maaf jika selama ini Hanin belum bisa menjadi menantu yang baik,” ucap Hanin pada Rasti yang belum menoleh ke arahnya.


Hanin masih menatap ibu mertuanya. “Mami makan pudingnya dulu ya. Mau Hanin suapi?”


Rasti menoleh dan mengambil piring yan Hanin pegang. Wanita tua itu pun memakan makanan lembut itu sendiri.


Hari ini, Hanin sengaja tidak berangkat ke Yayasan. Ia sudah mendelegasikan semua urusannya di sana pada orang yang berkompeten.


“Ibu mau kemana?” tanya seorang pelayan pada Hanin yang baru saja keluar kamar dengan pakaian rapi.


“Mau ke supermarket,” jawab Hanin.


“Tapi persediaan makanan kita masih banyak kok, Bu.”


Hanin tersenyum. “Ada yang ingin saya beli.”


Pelayan itu pun mengangguk. Ia melihat Hanin pergi dengan menggunakan tas tangannya saja. Hanin pun diantar oleh sopirnya hingga supermarket. Namun, Hanin langsung meminta sang sopir untuk pulang karena ia akan lama berada di tempat ini.


Saat mobil Kenan melaju pergi jauh, Hanin memberhentikan taksi menuju bandara. Lalu, ia berdiri di sebuah maskapai dengan penerbangan menuju Lombok untuk check in.


Hanin butuh ketenangan. Menurutnya, Kenan pun butuh waktu tanpa dirinya. Puluhan tahun bersama sepertinya melupakan arti dari kehadiran masing-masing. Dan saat ini waktu untuk membuktikan apakah ia masih berarti atau tidak?

__ADS_1


Tanpa memberitahu Keanu, Hanin akan mencari rumah putra bungsunya itu, sendiri.


__ADS_2