Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Dendam yang belum hilang


__ADS_3

“Setelah ini, kita ke mana?” tanya Jihan pada suaminya saat berada di dalam taksi.


“Ke hotel saja, kita bermalam di sana,” jawab Keanu dengan menatap istrinya.


Mereka duduk di kursi penumpang belakang.


“Tidak langsung kembali ke Surabaya?” tanya Jihan lagi.


Keanu menggeleng. “Tidak. Kita istirahat dulu di hotel. besok pagi baru kita kembali. Lagi pula pasti kamu lelah karena setelah perjalanan tadi, kita belum istirahat. Bahkan kamu belum makan.”


“Aku tidak selera makan,” ucap Jihan.


Setelah apa yang terjadi tadi, ia tidak berselera apa pun. Rasanya menyakitkan ketika melihat Hanin menangisi kepergian putranya tadi. Jihan seperti penjahat yang telah mengambil salah satu anggota keluarga itu.


Jihan menoleh ke samping, ke arah jendela. Keanu masihs etia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri saat duduk. Tubuhnya masih menempel pada tubuh wanita yang ia pilih sebagai teman hidupnya. Bahkan demi memilih wanita ini, ia rela kehilangan keluarganya dan kehilangan seluruh hak waris kekayaan Adhitama yang tak habis hingga tujuh turunan.


Keanu menaruh dagunya di bahu Jihan. “Nanti kita mampir ke restoran steak.”


Keanu sengaja mengajak Jihan ke tempat makanan kesukaannya. Namun, Jihan menggeleng. “Aku tidak selera makan, Kean.”


“Hei, kamu harus makan. Aku tidak ingin kamu sakit gara-gara ini,” kata Keanu lirih, tepat di belakang telinga Jihan. “Dan, lagi pula aku tidak ingin kamu tiak bertenaga saat melayaniku nanti.”


“Kean.” Jihan memukul paha Keanu sembari menoleh kesal ke arah pria itu. “Bisa-bisanya memikirkan hal itu di saat genting seperti ini.”


Keanu tertawa. “Justru dengan bercinta, stres dan kepenatan hilang, Sayang.”


Lalu, Jihan mengerucutkan bibirnya, membuat Keanu kembali tertawa. Sungguh, Keanu tidak akan pernah menyesal telah memilih wanita ini. Walau pilihan yang sang ayah berikan sangat berat, mengingat Keanu pun mencintai keluarganya, tapi ia juga membutuhkan cintanya untuk mengisi hari-hari ke depannya nanti, hingga tua.


Keanu mengeratkan pelukannya pada sang istri dengan mobil yang melaju menuju sebuah hotel bintang lima. Keanu sudah move on dengan kejadian di rumahnya tadi, tapi tidak dengan Jihan. Wanita itu masih merasa bersalah atas apa yang terjadi di rumah itu.


Sementara, di kediaman Kenan terasa hening. Setelah Keanu pergi, Hanin langsung memasuki kamar dan menguncinya. Sedangkan Kenan memilih berada di ruang kerja dan Rasti di kamarnya.


Rasti berdiam sejenak, menelaah semua yang terjadi tadi. Ya, ia memang egois. Dahulu ia tidak bisa kehilangan Kenan hingga akhirnya ia menerima Hanin. Ia berusaha untuk tidak egois. Tapi kejadian kembali terulang dan kali ini ia ingin egois dengan mengatur sang cucu.


Tok .. Tok … Tok …


Seseorang mengetuk ruang kerja Kenan.


“Masuk,” ucap Kenan.


Seorang pelayan rumah itu membuka pintu ruang kerja itu. “Maaf, Tuan. Makan malam sudah siap.”


Kenan mengangguk. “Ya, terima kasih.”


Biasanya orang yang memberitahu dirinya untuk makan malam adalah Hanin, tapi malam ini seorang pelayan yang memintanya untuk turun ke ruangan itu. Kenan mmemaklumi, mungkin istrinya masih marah atas sikapnya pada Keanu.

__ADS_1


Kenan pun berdiri dan hendak menuruni anak tangga untuk bergabung menuju ruang makan. Namun saat kakinya mulai menuruni satu anak tangga, langkah itu terhenti ketika ia menoleh ke sebuah kamar yang tertutup. Kamar itu adalah kamar miliknya dan sang istri. Kenan pun menarik lagi kakinya dan memutar tubuhnya untuk menghampiri sang istri di kamar itu.


Kenan menarik gagang pintu kamar untuk membuka pintu itu tanpa diketuk terlebih dahulu. Tetapi, pintu itu tidak bisa terbuka.


“Han, ayo makan! Makan malam sudah siap,” ucap Kenan dengan menempelkan tubuhnya di balik pintu.


Di dalam kamar, Hanin hanya meringkuk dan menangis. Ia merebahkan tubuhnya miring di atas ranjang. Hanin tak menjawab perkataan sang suami di luar sana. Ia malas berbicara dengan Kenan.


“Han, ayo keluar! Kamu belum makan,” ucap Kenan lagi yang masih belum dapat sahutan dari orang di dalamnya.


“Aku tahu kamu marah padaku, tapi sebagai seorang ayah, aku harus tegas.” Kenan kembali mengeluarkan suaranya. Ia pun menrik nafasnya kasar, karena tidak mendapat sahutan sama sekali dari Hanin.


“Baiklah, aku tunggu di meja makan. Kamu harus keluar dalam waktu sepuluh menit.” Seperti biasa, pria itu akan memaksa.


Di dalam Hanin hanya mendengus kesal. Ia tak peduli dengan perkataan suaminya. Lalu, Kenan meneruskan langkahnya menuju ruang makan.


“Mana istrimu?” tanya Rasti saat melihat Kenan datang sendiri.


Kenan tak menjawab. Ia hanya menggeser kursi di hadapan sang ibu dan mendudukinya.


“Mam, apa aku salah?” tanya Kenan pada sang ibu.


Rasti menghentikan aktifitasnya dan menatap sang putra. “Itu yang Mami rasakan dulu saat kau memilih pilihanmu.”


Kenan terdiam.


“Tapi Hanin bukan anak mafia, Mam. Dia lahir dari keluarga baik-baik. Kalau hanya dari keluarga sederhana, Kenan tidak mempermasalahkan itu. Tapi, Jihan anak Wiliam.”


Rasti mengangguk. “Ya, Mami mengerti.”


Makan malam kali ini terasa hambar karena Kenan hanya menikmatinya berdua bersama sang ibu saja. Berulang kali, Kenan menatap kursi yang biasa Hanin duduki, lalu menatap ke arah atas tangga untuk menanti kedatangan Hanin, karena ia sudah mengultimatum wanita itu untuk segera keluar kamar.


“Mam, aku ke kamar,” ucap Kenan yang tak menghabiskan makanannya.


“Habiskan dulu makananmu, lalu kau bawa makanan ke kamar untuk istrimu,” kata Rasti.


Kenan pun mengangguk dan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan dan membawanya ke kamar.


Kenan melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Ia kembali berdiri di depan pintu itu. “Han, buka pintunya. Kamu belum makan dari siang.”


Kenan menggedor-gedor pintu itu. Namun, di dalam sana seperti tidak ada kehidupan.


“Han, jawab aku!” Kenan mulai meninggikan suaranya. Tapi tetap tak ada jawaban.


“Han, buka pintunya atau aku dobrak. Aku hitung sampai tiga, jika belum kamu buka maka akan aku dobrak pintu ini!”

__ADS_1


Di dalam sana, Hanin kembali mendengus kesal.


“Satu.”


“Dua.”


Kenan mulai berhitung dan Hanin pun mau tidak mau bangkit dari ranjang dan melangkah dengan berat menuju pintu.


“Ti …”


Ceklek


Hanin membuka pintu itu dan langsung kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Kenan pun menghampiri sang istri. Ia duduk di tepi ranjang tepat di hadapan Hanin yang merebahkan tubuhnya miring. Lalu, Hanin membalikkan tubuhnya untuk menghindari Kenan.


Kenan menghela nafasnya kasar dan menyentuh bahu Hanin. Dengan cepat Hanin menyingkirkan tangan itu.


“Hei, aku marah pada Keanu, bukan marah padamu. Mengapa kamu jadi marah padaku?” tanya Kenan.


Hanin kembali membalikkan tubuhnya. “Keanu itu putraku. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkannya. Dan, kamu merusak hubungan ini begitu saja hanya karena tidak setuju dengan pilihan putramu?” Hanin menggeleng.


“Ini sebuah harga diri, Han.”


“Harga diri apa?” tanya Hanin kesal. “Toh, Wiliam sudah tidak menjadi rivalmu kan? Dia juga sudah terang-terangan meminta maaf.”


Kenan memang pendendam dan sulit memaafkan orang.


“Kamu membenci Wiliam dan kamu kesal karena keturunan Wiliam mampu menaklukkan putramu?” tanya Hanin membuat Kenan terdiam.


Hanin menghela nafasnya kasar. “Buang sifat pendendammu, By. Buang rasa bencimu! Toh semua sudah lewat.”


Kenan tak mampu bicara. Ia hanya menatap sang istri.


Memang banyak hal yang telah Wiliam lakukan dulu. Wiliam muda memang sangat berambisi, sama seperti Gio saat ini. Sejak usia belasan, Wiliam sudah terjun di bisnis haram hingga merambah bisnis legal di beberapa negara termasuk Indonesia. Keterpurukan perusahaan Adhitama waktu itu yang hampir bangkrut dan menghilangkan masa muda Kenan terjadi karena ulah Wiliam yang ingin menguasai bidang bisnis keluarga Adhitama saat itu. Runtunan ulah Wiliam pun membuat rasa benci Kenan mendarah daging walau saat ini pria itu sudah meminta maaf.


“Kalau kamu mengusir Keanu. Usir aku juga!” ucap Hanin membuat Kenan membulatkan matanya. “Aku tidak ingin tinggal di sini.”


"Kau ingin meninggalkanku?" tanya Kenan yang mulai kesal.


Hanin pun mengangguk. "Aku sudah bilang, aku akan tinggal bersama Keanu jika kamu tidak menerima keputusannya."


Kenan menggeleng. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengurungmu seperti dulu saat pertama kali kita menikah."


"By, kamu egois." Hanin memukul dada suaminya dan Kenan menerima pukulan itu dengan memeluk tubuh istrinya yang tak ingin di peluk.

__ADS_1


Sebenarnya Kenan pun selalu berjuang untuk menghilangkan dendam itu, tapi rasanya sulit. Kenan masih mengingat perjuangannya untuk membangun lagi perusahaan sang ayah akibat ulah Wiliam.


__ADS_2