Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Terharu


__ADS_3

“Ibu …” Jihan memeluk Lastri saat wanita itu tiba di rumah sakit bersama Wiliam.


“Papa.” Jihan juga mencium punggung tangan sang ayah dan Wiliam pun memeluk putrinya.


Pagi ini Lastri dan Wiliam sampai di Lombok untuk menjenguk menantunya. Sementara Hanin, Kenan, dan Rasti baru akan berangkat sore ini, mengingat Kenan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Sedangkan Kevin, perwakilan keluarga yang langsung melihat keadaan sang adik setelah mendapat informasi itu. Kevin kembali ke Jakarta, setelah Keanu dinyatakan baik-baik saja dan masuk ke dalam ruang perawatan, tepat sebelum Fabio dan Rachel datang.


Beruntung Fabio membawa Rachel tepat di saat Kevin pulang. Jika saja Kevin ada di saat Rachel meminta maaf dan mengakui insiden yang terjadi itu atas perilakunya. Mungkin Rachel tidak akan semudah itu dimaafkan. Kevin yang memiliki karakter berbanding terbalik dengan Keanu itu, tidak akan melepaskan orang yang telah mencelakai keluarganya.


“Sayang, bagaimana suamimu?” tanya Lastri pada putrinya.


“Semakin baik, Bu,” jawab Jihan sembari membawa kedua orang tuanya menuju ruang perawatan Keanu.


“Pa, Bu, maaf Jihan dan Keanu tidak hadir di pernikahan Ibu dan Papa.”


Wiliam tersenyum dan mengusap kepala putrinya. “Tidak apa. Lagi pula Ibumu memang tidak ingin mengundang banyak orang.”


“Iya, Nak. Lagi pula Ibu tahu kalau kamu dan Keanu sedang ada masalah. Dan lagi, kami sudah tidak muda lagi. Malu.”


Jihan tersenyum lebar. ia melihat raut bahagia di wajah sang ibu. Wiliam memang tidak ingin menunda pernikahannya dengan Lastri. Padahal Lastri meminta beberapa bulan lagi, mengingat saat itu Jihan mengabarkan bahwa Hanin menghilang. Namun, Wiliam tidak bisa menunda keinginannaya untuk menjadikan Lastri sebagai istri. Alhasil, mereka menikah langsung di kantor catatan sipil diserti keluarga dekat Lastri yang menjadi wali sekaligus saksi. Beruntung saat itu, Gio tengah berada di sana sehingga kakak lelaki Jihan itu juga bisa menjadi saksi di pernikahan itu.


Sesampainya di ruangan Keanu, Jihan langsung membuka pintu itu dan menongolkan kepalanya. “Sayang, coba tebak siapa yang datang?"


Keanu mengarahkan matanya ke pintu. Ia melihat Lastri dan Wiliam di sana. “Wah pengantin baru,” ledeknya.


“Kamu ya, meledek Ibu aja,” jawab Lastri malu.


“Bukan pengantin baru, Kean. Tapi pengantin lama yang baru diresmikan,” jawab Wiliam yang sekarang sudah mulai hobby bercanda.


Keanu tertawa, begitu pun Jihan. Sedangkan Lastri hanya tersipu malu.


“Bagaimana keadaanmu, Kean?” tanya Lastri untuk mengalihkan topik pembicaraan.


“Baik, Bu. Sore nanti, Kean juga diperbolehkan pulang.” Keanu melirik istrinya. “Iya, kan. Sayang?”


Jihan mengangguk. “Iya.”


“Loh, memangnya sudah tidak perlu perawatan dari rumah sakit lagi? Memang kau sudah benar-benar pulih?” tanya Wiliam.


“Tenang, Pa. Di rumah, Keanu juga punya dokter dan suster pribadi.” Keanu melirik istrinya. “Dia akan merawat Keanu dengan baik. Plus bisa diajak plus-plus juga.”


“Kean.” Jihan memanggil Keanu kesal sembari membulatkan matanya.


Keanu tertawa, diikuti oleh Wiliam dan Lastri yang tahu ke arah mana pembicaraan menantunya.


“Baiklah, kalau begitu kami tidak perlu mengkhawatirkanmu, karena kau akan cepat sembuh,” ledek Wiliam sembari memukul pelan punggung Keanu.


Keanu mengangguk. “Ya.”


****


Setelah menjenguk Keanu di rumah sakit, Wiliam mengajak Lastri untuk check in di sebuah hotel yan gsengaja Wiliam pesan dengan suguhan pemandangan yang indah. Mereka memang sengaja ke tempat ini untuk berlibur. Dan melakukan penerbangan paling pagi.

__ADS_1


Setelah mengantar kedua orang tuanya keluar dari rumah sakit, Jihan juga pamit paa sang suami untuk melaksanakan tugasnya di rumah sakit ini.


“Jangan lama-lama ya, Sayang.” Keanu enggan ditinggal sendirian di ruangan ini.


“Kalau bosan, ayo aku antar ke taman!” ajak Jihan.


Keanu menggeleng. “Aku akan semakin bosan nanti. Satu-satunya yang menghilangkan kebosananku itu kamu.”


“Haish.” Jihan memutar bola matanya malas.


Keanu tersenyum. “Beneran, Sayang.”


“Iya, iya. Aku percaya.” Jihan mengangguk dan mengiyakan perkataan suaminya untuk mempercepat selesainya kegombalan itu.


Keanu turun dari tempat tidur yang selama ini membuatnya betah berbaring. Tempat tidur yang beberapa hari terakhir di tempati oleh ia dan istrinya ketika malam. Jihan praktis tidak menginjakkan kakinya ke rumah dan bermalam di sini selama Keanu dirawat. Suaminya yang mesum itu sama sekali tidak mau ditinggal. Alhasl ia pun harus membeli semua perlengkapan yang diperlukan. Boros sekali menurut Jihan, tapi tidak untuk Keanu sang putra mahkota keluarga Adhitama.


Keanu kembali menahan tangan istrinya saat Jihan hendak pamit untuk jadwal praktek di sini.


“Kean,” panggil Jihan irih agar Keanu melepas tangannya.


“Ngga lama kan?” tanya Keanu lagi.


“Ngga.” Jihan menggeleng. “Aku Biasanya jam tiga udah selesai kok.”


Keanu melihat jam di dinding. Saat ini waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. “Itu lama, sayang.”


Jihan menarik nafasnya kasar dan berdiridi depan Keanu yang sedang duduk di sofa. Tubuh tidak enak karena harus tiduran terus. Akhirnya ia memilih untuk menonton televisi dalam keadaan duduk di ruang vvip ini.


“Kenapa tidak mengambil libur satu atau dua minggu lagi?” tanya Keanu memelas.


Jihan tersenyum. “Sedang aku coba, Sayang. Semoga dibolehkan karena mereka tahu kalau suamiku dirawat di sini.”


Bibir Keanu langsung tersungging lebar. “Baiklah. Tapi tetap sempatkan ke sini di sela praktekmu.”


“Iya, Sayang.” Jihan mengusap lembut wajah suaminya dan memberi kecupan. “Sebentar lagi, teman-temanmu juga mau datang kan?”


Keanu mengangguk. Siang ini, teman-teman sejawatnya di tim yang sama memang akan menjenguk. Sebenarnya ia tidak pernah kesepian dan sendirian. Selalu ada saja yang datang untuk menjenuk. Namun, tetap saja ia bilang kesepian karena yang ia butuhkan hanya Jihan, Cuma Jihan.


Waktu terus berjalan, di Jakarta, Hanin sudah mempersiapkan koper kecil untuk kepergian mereka ke Lombok.


“Mam, koper Mami besar sekali?” tanya Hanin pada ibu mertuanya.


“LOh bukannya kita memang akan lama di sana?” Rasti balik bertanya.


“Tidak, Mam, hanya empat hari mungkin. Hari minggu kita akan pulang karena hari senin nya Mas Kenan harus kembali ngantor. Pimpinan pelayan publik tidak boleh mangkir lebih dari tiga hari, Mam."


"Hah, ribet sekali. lagian siapa suruh suamimu menjadi pelayan publik,” ujar Rasti kesal. Sejak Kenan menjadi Gubernur, ia hampir tidak lagi merasakan jalan-jalan bersama putranya itu.


“Loh, kan Mami yang pengen Mas Ken jadi Gubernur waktu itu,” jawab Hanin.


“Ya, hanya waktu itu. sekarang tidak.”

__ADS_1


Hanin hanya menggelng. Semakin tua, Rasti memang semakin kembali menjadi anak kecil yang selalu ingin dituruti semua keinginannya. Seharusnya, Hanin mengerti fase itu dan sekarang ia pun tidak megambil pusing perkataan dan permintaan sang ibu.


Kenan, Hanin, dan Rasti berangkat ke Lombok pukul dua. Di Lombok, Jihan segera menyelesaikan tugasnya. Untung saja hari ini pasien tidak terlalu banyak sehingga pukul dua, ia sudah bisa kembali menemui suaminya di ruang vvip.


Ceklek


Jihan membuka pintu ruangan yang masih terisi penuh oleh pria-pria tampan dari berbagai negara. Mereka adalah teman-teman sang suami se profesi.


Semua mata pria-pria itu tertuju pada Jihan yang baru saja masuk. Wanita itu pun tersenyum malu. Ia pikir teman-teman Keanu sudah pulang.


“Wah, kau beruntung sekali Kean. mendapat perawatan khusus dan dokter khusus,” ucap Mark yang ada di ruangan itu.


“Ya, aku memang sangat beruntung,” jawab Keanu sembari melambaikan tangan ke istrinya agar mendekat.


Jihan pun menurut. Kebetulan ia masih mengenakan jas putih sehingga profesinya sebagai dokter sangat terlihat.


“Kamu sudah minum obatnya?” tanya Jihan.


“Sudah.” Keanu mengangguk.


“Makanan dan buahnya juga sudah dihabiskan?” tanya Jihan sembari melihat menu makan siang yang tersaji dan belum dihabiskan. “Ya, ampun Sayang. Makananmu masih penuh.”


“RAsanya tidak enak kalau tidak disuapi kamu.”


“Kean.” panggil Jihan pelan sembari memberi isyarat kalau disini bukan hanya ad ia dan Keanu saja, tapi banyak orang lain dan membuatnya malu.


Mark dan beberapa teman Keanu yang lain tersenyum.


“Baiklah, kami pulang. Sepertinya kau sudah tidak lagi kesepian karena ada doktermu yang akan memeriksa,” ujar salah satu teman Keanu.


Mark mengangguk. “Ya, sepertinya begitu.”


“Ya, kalian memang harus pergi. Sekarang waktunya aku bersama istriku. Sejak kemarin waktu kami tersita karena banyak orang yang menjengukku,” jawab Keanu tanpa bersalah.


Mark kembali tertawa sembari menggelengkan kepalanya. “Ya … ya …”


Mereka pun pamit pada Keanu dan Jihan. Bibir Jihan tersenyum pada teman-teman Keanu yang hendak meninggalkan ruangan itu.


“Terima kasih,” ucap Keanu dan Jihan saat mereka henda pergi.


“Lekas sembuh, Kean.” Mark menepuk bahu Keanu setelah teman-teman yang lain sudah keluar dari ruangan.


“Thnak you, Mark.”


“You’re welcome. Aku orang yang paling sedih mendengar keputusanmu,” ucap Mark.


“Aku harus memilih, Mark. Dan sudah pasti aku memilih wanita ini dari pada motorku. Walau motorku adalah kekasih keduaku.”


Mark tertawa dan mengangguk. Lalu memeluk lagi sahabatnya. “Aku akan merindukanmu, Kean.”


“Aku juga.”

__ADS_1


Jihan terharu melihat pemandangan itu. ia tidak menyangka Keanu justru mengambil keputusan untuk mengalah. Padahal semula, ia yang siap untuk mengalah dan rela melepaskan profesinya sebagai dokter demi suami tercinta.


__ADS_2