Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Hanya selingan


__ADS_3

Keanu kembali masuk kedalam rumah besar itu. Acara Aqiqah keponakan kembarnya sudah selesai, kini berganti dengan acara lamaran Vinza dan sepupunya, Kinara.


Keanu kembali duduk tepat di samping sang ibu. Hanin menoleh ke arah putranya.


“Kemana saja kamu dari tadi? Tadi kami foto keluarga, tapi kamu ga ada,” tanya Hanin pada putra bungsunya yang sempat menghilang saat sesi pemrotetan keluarga.


“Oh, Maaf. tadi Keanu ke kamar, perut Kean mulas,” jawab Keanu bohong.


“Kenapa? Kamu makan pedas?” tanya sang ibu, khawatir.


Keanu mengangguk. “ya, sepertinya begitu.”


Hanin menarik nafasnya kasar. “Jangan di ulang!”


Keanu kembali mengangguk dan tersenyum. “Ya, Mama.”


Arah mata keduanya, kini beralih pada Vinza yang malu-malu menyematkan cincin di jari tunangannya. Ya, Kinara resmi mengatakan ya saat Vinza melamar. Dan hari ini mereka resmi bertunangan. Tampak semua orang di sana tertawa melihat kekakuan Vinza.


Lalu, perhatian Keanu teralihkan oleh kehadiran seorang wanita yang baru saja datang. Dia adalah Chintya. Hanin mengikuti arah mata putra bungsunya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu melihat Chintya di sana.


“Kamu mengundangnya?” tanya Hanin.


Keanu menggeleng.


Hanin menatap malas putranya. “Temui dia!”


Keanu pun menurut dan langsung berdiri. Ia mendekati Chintya yang berada tak jauh dari pintu masuk. Dari kejauhan Chintya tersenyum manis pada Keanu, membuat pria itu ikut tersenyum.


“Aku sengaja menolak projek pemrotetan di Labuan Bajo demi datang hari ini ke acara keluargamu. Aku juga ingin memperbaiki semua. Aku tidak ingin kita bertengkar lagi,” ucap Chintya lembut.


Pasalnya dua hari sebelum hari ini, mereka memang sempat bertengkar hebat. Tepatnya saat Keanu menjemput Chintya sepulang pemotretan iklan jewelery di sebuah mall. Keanu menegeur Chintya yang dengan mudah dicium tangannya dan diberi jam tangan mahal oleh pemilik jewelery itu. Namun, Chintya bukan minta maaf malah lebih marah ketika ditegur. Dan setelah hari itu, Keanu malas menerima telepon Chintya atau membalas pesan darinya.


Keanu memilih keluar. Langkah Keanu diikuti Chintya.


“Kamu masih marah padaku, Kean?” tanya wanita itu.


Keanu masih diam sembari berjalan ke taman depan. Ia sengaja memisahkan diri dari keluarganya yang sedang berbahagia dengan pertunangan Kinara dan Vinza,


Keanu duduk di pinggir kolam yang berbentuk lingkaran besar itu, yang berada di taman depan. Haari semakin sore, di luar pun sudah tidak ada lagi wartawan karena acara inti sudah selesai dan para tamu sudah beranjak pulang menyisakan keluarga inti di dalam sana.


Chintya ikut duduk di samping Keanu. “Maafkan aku, Kean. seharusnya malam itu aku tidak marah padamu. Seharusnya aku senang kamu melakukan itu karena kamu cemburu paa pria itu kan?”

__ADS_1


Wajah Chintya tampak sumringah. “Kalau kamu cemburu, itu artinya kamu mencintaiku? Iya kan?”


Keanu mengernyitkan dahi. Sementara di sekeliling itu ada seorang wanita yang hendak membuka pintu samping, pintu yang langsung tembus ke arah taman belakang dan kamar para pekerja rumah ini. Wanita itu hendak keluar dan ingin menghirup udara segar, tapi nyatanya ia malah mendengar percakapan seorang wanita dengan pria yang tadi menciumnya brutal di gudang.


“Dasar playboy!” gumam Jihan yang hendak membuka pintu kecil itu. pintu yang jika dibuka maka akan melihat dua sejoli yang sedang duduk di pinggir kolam besar dengan pancuran ditengahnya.


Chintya mendekat. Wanita itu ingin mencium Keanu. Namun, Keanu enggan mencium wanita yang statusnya maih menjadi kekasihnya lagi.


Tapat di belakang punggung Chintya, Keanu melihat Jihan membuka pintu kecil itu. keanu pun menempelkan bibirnya pada bibir Chintya. Ia ingin membuat Jihan cemburu, karena selama ini ia matian-matian menahan cemburu membayangkan Jihan bersama suaminya.


“Mmpphh …”


Chintya mengambil kesempatan itu dengan baik. ia sengaja menahan kepala Keanu agar ciuman itu semakin dalam. Padahal sebelumnya, Keanu hanya menempelkan bibirnya saja, tapi Chintya dengan semangat malah **********.


Jihan melirik sekilas dan kembali berjalan menunduk.


“Menjijikkan,” gumamnya.


Dada Jihan bergemuruh. Ia kesal melihat Keanu bersama wanita itu. Walau semula ia selalu meyakinkan diri bahwa dirinya dan Keanu memang tidak pernah bersama, tapi ketika pria itu bercumbu dengan wanita lain, ia pun tidak rela. Egois memang. Tapi begitulah manusia, memang selalu egois.


Setelah dipastikan Jihan sudah pergi, Keanu langsung mendorong Chintya dan melepaskan pagutan itu. “Kau terlalu agresfif, Chin. Di sini masih banyak orang.”


Keanu menarik nafasnya kasar. Pikirannya masih mengingat Jihan, wanita yang tadi melewatinya saat ia sedang berciuman. Keanu memikirkan apa yang dipikirkan Jihan, hingga ia tidak mendengar apa yang Chintya katakan.


“Kean,” panggil Chintya yang hanya diam saat ia mengatakan rindu dan mengatakan hal yang lain.


“Kean.” Chintya kembali memanggil sambil menggoyangkan tangannya.


“Oh, ya.” Keanu tersadar dan pikirannya mulai ada di sini. “Ada apa?”


“Dari tadi kau tidak dengar aku bicara?”


Keanu menggeleng dan segera berdiri.


“Mau kemana?” tanya Chintya pada Keanu.


“Aku ingin beli rokok sebentar," jawab Keanu yang sebenarnya ingin mengejar Jihan.


“Kean, kau meninggalkanku sendiri?” tanya Chintya.


Keanu langsung mengambil motornya. “Sebentar. Kau bisa masuk dulu ke dalam.”

__ADS_1


Chintya cemberut. Ia tidak bisa menahan sang kekasih dan hanya melihat pria itu berlalu dari hadapannya dengan motor gedenya itu.


Di luar sana, Jihan sudah berada di depan minimarket dan memasukinya. Minimarket ini berada tepat di depan komplek rumah Kenan. Jaraknya pun tidak jauh, tapi cukup menguras energi jika berjalan kaki.


Dengan wajah kesal, Jihan langsung membuka lemari pendingin dan mengambil air minum manis yang dingin, lalu langsung meminumnya. Hati dan kepala Jihan panas, melihat dua orang berciuman saat ia hendak keluar dari rumah Kenan tadi.


Glek … Glek ... Glek …


Terdengar suara Jihan tengah meminum minuman itu dengan kasar, seolah ia baru saja lari sekitar lima ratus kilometer.


“Haus?” tanya Keanu, membuat Jihan membulat. “Apa cemburu?”


Mata Jihan semakin membulat. “Dasar playboy. Habis cium aku, cium wanita lain.”


Dengan gayanya yang cuek, pria itu malah tertawa. “Suamimu tidak ikut?” tanyanya.


“Bukan urusanmu.” Jihan segera pergi dari hadapan Keanu.


Namun, Keanu mecekalnya. “Semua tentangmu itu urusanku.”


Keduanya saling bertatapan.


“Lepas!” pinta Jihan dengan suara penuh penekanan.


“Permisi Mas, Mba.” Seorang pengunjung minimarket itu hendak melewati lorong tempat Jihan dan Keanu berdiri.


Keanu pun melepas cekalannya, agar pengunjung itu bisa lewat. Lalu dengan cepat Jihan pergi, tapi tangan Keanu lebih panjang dan menarik kerah kemeja Jihan.


“Kean, apa-apaan sih?” tanya Jihan kesal.


“Kita masih ada urusan.”


“Udah selesai.” Jihan menyingkirkan tangan Keanu. “sudah berapa kali aku bilang, urusan kita sudah selesai, sejak delapan tahun lalu malah.”


“Jadi apa yang terjadi di Itali itu tidak ada artinya?” tanya Keanu yang terbawa kesal.


“Tidak. Itu hanya selingan saja. lagi pula kamu punya pacar dan aku juga. Sekarang malah aku sudah menikah,” jawab Jihan tegas. “Kembalilah ke duniamu, Kean.”


Jihan kembali pergi dari hadapan itu.


Lagi-lagi Jihan melukai Keanu, membuat pria itu tersenyum sinis dan bergumam, “Selingan.”

__ADS_1


__ADS_2