Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Terima kasih, Tuhan - End


__ADS_3

Setelah menikmati makan malam bersama keluarga besar Adhitama ditambah Wiliam dan Lastri, rumah minimalis itu kembali sepi. Keanu dan Jihan mengantar orang tua mereka yang memilih untuk menginap di hotel.


“Kau juga akan menginap di hotel, Kev?” tanya Keanu pada kakaknya.


“Tentu saja, tapi sepertinya Ayesha tidak tega meninggalkan si kembar.”


Ayesah tampak masih berkutat dengan kedua anaknya di sana bersama baby sitter. Keanu mengikuti arah mata sang kakak yang tertuju pada istrinya. Di samping Ayesah pun tampak Jihan yang juga menggendong keponakan Keanu.


“Istrimu sudah hamil?” tanya Kevin.


“Entahlah. Sepertinya belum.”


“Tapi Jihan tampak lebih berisi. Mungkin dis sedang hamil,” ucap Kevin.


“Benarkah?” tanya Keanu lagi dengan wajah antusias.


Kevin tersenyum. “Sepertinya begitu, karena dulu perubahan yang aku rasakan pertama kali saat Ayesha hamil, ya seperti itu.”


“Dan kau tidak tahan melihat tubuhnya yang berisi?” tanya Keanu meledek.


Kevin tertawa. “Memang sekarang kau tahan?”


“Ah, kalau aku jangan ditanya!”


Kevin tertawa. Kedua kakak beradik itu tampak dekat dan hangat. “Tapi sayangnya, kau akan ada ganggung sampai beberapa hari ke depan.”


Kevin mengarahkan matanya pada Rasti yang sedang menonton televisi.


“Nah itu dia, aku heran kenapa dari dulu Oma selalu suka tinggal bersamaku. Selalu mengikutiku.”


Sontak Rasti yang duduknya cukup jauh dari kedua cucunya itu pun menoleh. “Apa? Kalian membicarakan Oma?"


Kevin dan Keanu kompak menggelengkan kepalanya bersamaan. “Tidak Oma.”


Lalu, Rasti kembali mengembalikan arah matanya ke layar televisi.


“Huft …” Kaanu mengeluh dengan menghempaskan kasar nafasnya dan Kevin pun tertawa.


“Sabar, Bro.” Kevin hanya bisa menyemangati sang adik dengan menepuk bahunya.


“Tiga hari gue ga dapet jatah karena ada di rumah sakit. Eh di rumah sendiri juga ga bisa.”


Kevin kembali tertawa mendengar keluhan sang adik. “Nasib, Kean. Nasib lu jelek.”


“Ah, sial banget lu, kev.”


Kevin kembali tertawa.


****


“Mas, pelan. Ah.”


“Rasamu masih sama seperti saat pertama kali, Sayang. Sangat sempit,” racau pria yang sudah tidak muda lagi itu.


“Mas, Ah.”


“Sayang, Ah.”


Walau sudah kesekian kalinya mereka bercinta setelah ijab qobul di kantor urusan agama. Namun, Wiliam merasakan sesuatu yang masih menjepit seperti saat dulu ia melakukannya dengan paksa.

__ADS_1


“Mas, aku … Eum …” lenguh Lastri ketika tubuhnya merasakan kenikmatan untuk kesekian kalinya.


Ia tidak lagi merasakan sakit seperti yang pernah Wiliam lakukan dulu. Saat pertama kali melakukan setelah puluhan tahun berlalu itu, Wiliam melakukannya dengan lembut. Rasa sakit yang LAstri rasakan hanya sebentar dan berganti dengan kenikimatan yang Wiliam ciptakan.


Lastri memang melahirkan secara caesar. Hal itu juga yang menyebabkan area sensitifnya itu masih seperti per*w*n dan Wiliam menyukai itu. Pria paruh baya itu serasa kembali muda, apalagi usia Lastri juga masih terbilang belum terlalu tua karena belum memasuki kepala lima. Lastri masih berusia empat puluh empat tahun.


“Sayang, aku tidak tahan,” racau Wiliam yang serasa ingin meledakkan sesuatu.


“Sama, Mas. Aku ju … ga … Ah.”


Untuk meraih kenikmatan yang lebih dahsyat lagi, Wiliam pun menghentakkan kuat pinggulnya, hingga lima menit kemudian ia berteriak.


“Arrgg …”


“Ah.”


Wiliam dan Lastri melenguh karena sensasi tu. Wiliam pun ambruk di atas tubuh Lastri dan mengecup kening wanita itu.


“Apa kamu masih bisa hamil lagi?” tanyanya sembari mengusap peluh di dahi Lastri dengan lembut.


“Mungkin masih, karena periodeku masih datang setiap bulan. Tapi tenang saja, aku selalu rutin mengkonsusmi obat pencegah kehamilan”


Sontak, Wiliam terbangun. “Apa? Untuk apa? Kalau pun kamu hamil, aku senan.”


Lastri menggelng. “Tidak, Mas. Aku sudah tua. Lagi pula sebentar lagi kita mungkin akan memiliki cucu. Apa kata orang melihat anak sedang hamil, ibunya juga.”


Wiliam pun tertawa mendengar perkataan istrinya. “Iya juga ya.”


“Hm.” Lastri mengangguk.


Lalu, Wiliam kembali berkata, “tapi aku rindu tangisan bayi.”


“Tapi, aku menginginkan tangisan bayi dari sini.” Wiliam mengusap perut bawah Lastri.


Namun, elusan itu semakin turun kebawah dan mengusap bagian yang masih sensitif akibat etrjangan ombak yang meledak.


“Mas,” rengek Lastri yang tahu akan sinyal suaminya yang menginginkan tubuhnya lagi.


“Satu kali lagi,” kata Wiliam tersenyum sembari mengangkat jari telunjuknya ke atas.


“Ya ampun Mas, amu tua-tua keladi. Semakin tua malah semakin jadi,” kata Lastri kesal. Walau bibirnya tetap tersenyum.


“Hanya padamu, aku seperti ini.”


Wiliam kembali menerjang istrinya yang masih dalam keadaan polos. Lastri tidak pernah menyangka akan kembali pada pria brengs*k yang telah mengambil kesuciannya dengan paksa. Ia juga tidak pernah bermimpi mejadi istri seorang mantan mafia yang dikejar banyak aparat negara. Tapi, lastri mencintai pria ini. Bahkan semakin hari semakin cinta karena sikap Wiliam yang semakin lembut dan perhatian.


“Bisakah aku hamil lagi?” tanya Lastri pada dirinya sendiri. Ia tak tega dengan permintaan sang suami dan permintaan itu pun membuatnya berpikir.


****


“Yank,” rengek Keanu pada istrinya.


“Apa?” tanya Jihan lembut.


Keanu dan Jihan sudah berada di kamar. Rasti pun sudah memasuki kamar tamu. Sedangkan Kevin dan Ayesha pulang ke hotel dengan membawa si kembar, karena Ayesha tidak ingin jauh dari anak-anaknya, sehingga baby sitternya pun tidak menginap di rumah ini. Yang menginap hanya Rasti seorang, sementara yang lain berada di hotel.


Kenan, Hanin, Kevin, dan Ayesha juga anak kembarserta baby sitter mereka berada di hotel yang sama. Sedangkan Wiliam dan Lastri berada di hotel yang berbeda.


“Aku ingin, Sayang. Sudah tiga hari aku tidak menyentuhmu.” Keanu yang sedang duduk di tepi ranjang, menarik Jihan yang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


Keanu menuntun tangan Jihan untuk menyentuh rudalnya. “Tuh, sudah siap meluncur kan?”


Jihan tertawa. Lalu, ia duduk dipangkuan sang suami, menduduki sesuatu yang sudah ingin lepas landas.


“Eh iya, seperti ada yang mengganjal.” Jihan sengaja menggoyangkan b*k*ngnya di atas pangkuan itu dengan senyum menggoda.


“Jangan menggodaku, Sayang!”


Jihan malah tertawa dan tersu menggoda suaminya. “Siapa yang menggoda sih?”


“Ck. Kalau tanganku sedang tidak sakit. Sudah aku gendong dan aku banting kamu di sana.” Arah mata Keanu menunjuk pada ranjang king size yang ia duduki di tepiannya.


“Sayangnya kamu sedang tidak bisa menggendongku. Jadi aku bebas menggodamu.”


“Jihan,” teriak Keanu kesal, karena rudal itu semakin sesak di dalam sana. Namun, Jihan malah turun dari pangkuan itu.


Biasanya Jihan yang akan berteriak seperti itu. Ia pun tertawa. Jihan berhasil membuat Keanu kesal hari ini.


Keanu tidak terima saat melihat sang istri yang ingin tidak bertanggung jawab. Tangan kirinya langsung memegang pergelangan tangan Jihan. “jangan kabur!”


Jihan tertawa. “Kabur ah.”


“Jihan,” rengek Keanu.


Jihan pun mendekat dan membelai rambut ikal itu. Keanu masih duduk di tepi ranjang dan Jihan yang berdiri di depannya. Kedua tangan Keanu memeluk pinggang istrinya.


“Sakit ya?” tanya Jihan bertanya tentang keadaan dibawah sana yang sudah sesak dan belum terpenuhi.


“Jangan ditanya! Ini menyakitkan, Ji.”


“Ya … aku tahu rasanya.”


Ya, jihan sangat tahu apa yang dirasakan Keanu, karena ia seorang dokter. Ia juga mempelajari hal ini.


“Ayo! Aku akan memuaskanmu,” kata Jihan lembut sembari menuntun suaminya untuk duduk di atas ranjang.


Keanu langsung tersenyum lebar. ia berteriak senang dan langsung memposisikan diri. Keanu duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding ranjang.


“Aku akan memimpin permainan malam ini. Jadi, nikmati saja. oke!”


Keanu hanya mengangguk dengan bibir yang masih terulas senyum. Ia benar-benar memiliki istri yang hebat.


Entah sejak kapan, keduanya sudah tak lagi berbusana. Jihan memegang rudal menjulang itu dan dengan merasakan sapuan lidah Keanu pada dua gunung kembarnya bergantian. Dengan rakus, Keanu menyesap bibir dan gunung itu hingga Jihan melenguh.


Setelah puas bercumbu, Jihan menuntun rudal itu sangkarnya.


“Ah.”


“Eum.”


Keduanya melenguh saat penyatuan itu terjadi. Lenguhan Keanu semakin menjadi ketika Jihan dengan lihai memutar pinggulny memberi sejuta kenikmatan yang laur biasa.


“Oh, Jihan. I love you more,” bisiknya di telinga Jihan.


“Oh, Kean. I love you more too,” sahut Jihan dengan suara sexy.


Keduanya kini telah terbang ke langit ketujuh. Cinta pertama Keanu hanya untuk Jihan dan cinta pertama Jihan hanya untuk Keanu. Cinta yang dulu di tentang mati-matian, mereka perjuangkan hingga perjuangan itu pun memperoleh hasil. Tak pernah terbayangkan oleh keduanya bahwa mereka akan bersatu.


“Terima kasih, Tuhan,” ucap Keanu dalam hati sembari mengusap lembut wajah cantik yang sedang bermata sayu akibat reaksi dari gerakan yang wanita itu lakukan.

__ADS_1


__ADS_2