
“Pa, apa dia yang bernama Kenan?” tanya Gio pada ayahnya.
Wiliam mengangguk.
“Pria itu yang sudah memisahkan Papa dan putri Papa, juga memisahkan aku dan adikku?” tanya Gio kesal.
Wiliam menggeleng. “Mungkin Papa akan melakukan hal yang sama padanya, jika orang kepercayaan Papa disakiti orang lain. Papa terima itu sebagai hukuman, Gio.”
Gio menatap tajam ke arah Kenan. “Dan sekarang dia juga memisahkan adikku dengan pria yang dicintainya. Egois sekali pria itu,” katanya lagi.
“Dia punya alasan untuk itu,” sahut Wiliam yang mengerti posisi Kenan.
Para tamu terlihat mengucapkan selamat pada kedua mempelai dan orang tua. Hanin dan Kenan pun melakukan itu. walau Kenan enggan bersalaman dengan Wiliam, tetapi atas desakan sang istri, akhirnya ia melakukan itu.
“Selamat Lastri,” ucap Hanin.
Lastri tersenyum, lalu Hanin memberi ucapan dan ciuman pada Jihan. Kenan pun melakukan hal yang sama seperti istrinya.
Jihan malah memberi pelukan pada pria yang paling berjasa dalam hidupnya itu. pria yang telah membiayai masa depannya hingga ia menjadi seperti sekarang. “Terima kasih, Om.”
“Sama-sama, Ji. Berbahagialah!” ucap Kenan sembari menepuk bahu itu.
Wiliam luluh saat melihat sang putri diperlakukan baik oleh rivalnya. Hingga waktunya mereka pun saling berhadapan dan Kenan enggan mengulurkan tangan. Namun, Wiliam menurunkan egonya. Ia memeluk Kenan.
“Maaf, atas semua hal buruk yang pernah aku lakukan. Terima kasih karena kau telah mendidik putriku menjadi seperti ini.”
Tidak ada alasan lagi untuk Kenan mempertahankan egonya. Ia pun menerima pelukan itu tanpa berkata dan hanya anggukan sebagai jawaban bahwa ia mulai menerima Wiliam sebagai teman, bukan lagi sebagai lawan.
Hanin menarik nafasnya lega. Akhirnya, pertikaian di antara dua pria ini berakhir. Namun sayangnya, moment ini di dapat justru setelah Jihan menjadi milik orang lain. Hanin kembali menarik nafasnya kasar. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk putranya. Selalu ada hikmah di setiap kejadian dan pernikahan Jihan bersama pria lain, justru membuat Kenan dan Wiliam akur.
Acara resepsi pun berlangsung. Jihan berdiri bersama Rayen, pria yang beberapa menit lalu mengucapkan janji suci.
__ADS_1
Rayen tersenyum menatap wajah cantik istrinya. “Terima kasih, Sayang. Kamu mengabulkan permintaanku.”
Jihan hanya tersenyum. pria di sebelahnya itu memang sedari tadi terus menatapnya. Rayen memang gila, pria itu terlalu memuja Jihan, hingga di detik terakhir hidupnya yang dia inginkan hanya satu, memiliki Jihan.
“Ray, fokus. Kita masih resepsi,” ucap Jihan pada suaminya.
Rayen masih menahan rasa sakit dikepalanya. Rasa bahagia seolah menghilangkan rasa sakit itu.
“Aku ga sabar ingin tidur denganmu, Sayang.”
Jihan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Padahal mereka sudah sepakat bahwa Rayen belum bisa melakukan hubungan intim, mengingat kondisinya yang sempat memburuk sebelum acara ini dan Rayen bersikeras untuk tidak mau melakukan operasi. Ia tidak ingin ingatannya tentang Jihan hilang. Ia tidak ingin ada yang berubah dalam kepalanya.
“Ray, kamu kenapa? Rayen … Rayen …” panggil Jihan saat Rayen tak memberi jawaban dan hanya memegang kepalanya.
Rayen pun tumbang. Ia rubuh membentur tubuh Jihan dan langsung tak sadarkan diri, tepat di saat sesi resepesi itu hampir berakhir.
“Rayen …”
“Rayen …”
Jihan menjadi janda yang belum tersentuh. Para pelayat membicarakan dirinya. Namun, Jihan bahagia karena Rayen pergi dengan merasakan keinginan terakhirnya. Walau mereka hanya bersama dalam hitungan menit dan duduk dipelaminan bersama sebentar, tapi hal itu sudah membuat Rayen bahagia.
“Jihan, terima kasih, kamu telah mengabulkan permintaan Rayen yang terakhir, walau Mama tahu bahwa kamu tidak menginginkan pernikahan ini,” ucap Ibu Rayen pada Jihan.
“Mama jangan bilang begitu! Jihan juga sayang Rayen.”
Kedua wanita itu pun berpelukan. Isak tangis wanita paruh baya itu terdengar pilu. “Kamu anak yang baik, Ji. Beruntungnya Mama menjadi Mama mu.”
“Jihan juga beruntung memiliki Mama seperti Mama.”
Jihan dan kedua orang tua Rayen memang dekat. Kedekatan mereka bahkan seperti orang tua dan anak sendiri. Saat Jihan merantau di kota ini, hanya Rayen dan keluarganya yang selalu ada ketik ia sakit dan kekurangan uang jajan.
__ADS_1
Lastri bersyukur karena putrinya dikelilingi oleh orang-orang baik. Wiliam yang berada di samping Lastri pun merangkul wanita itu.
Lastri menoleh ke arah tangan Wiliam dan ke arah pria itu. Hubungan Wiliam dan Lastri memang lebih baik dari sebelumnya. Dan, semakin baik, hanya saja Wiliam masih belum berani untuk melamar wanita yang pernah ia sakiti fisiknya dan jiwanya dulu. Kejadian demi kejadian yang terjadi, membuat Wiliam enggan untuk mengucapkan niat itu. mungkin nanti, setelah keadaan membaik, Wiliam akan meminang Lastri.
Di tempat berbeda, Keanu mulai membuka diri. Ia mulai berfikir tentang pernikahan. Apalagi orang -orang terdekat di keluarganya pun sudah menikah. Vinza, sang sahabatya dulu saat SMA juga akan menikah dengan sepupunya. Semua memiliki pasangan, hanya tingga dia yang sendiri. Keanu pun mulai serius pada Chintya. Namun di saat ia hendak serius dan memilih wanita itu, justru Chintya malah menjauh. Chintya sibuk dengan urusanny sendiri. Kini, ia lebih mementingkan karir.
“Hei, kau terlihat lebih suka sendiri,” ujar Mark pada Keanu yang sedang berada di Bali.
Keduanya tengah menikmati dunia malam di kota itu.
“Apa kabar wanitamu?” tanya Mark.
“Siapa?” Keanu balik bertanya, membuat Mark tertawa.
“Ah, ya. Wanitamu banyak. Seharusnya pertanyaanku tidak seperti itu. tapi seperti ini, bagaimana kabar wanita yang aku antar ke Paris waktu itu?”
Keanu ikut tertawa, ia tahu siapa yang dimaksud Mark.
“Dia sudah menikah.”
“What?” tanya Mark terkejut dan tak percaya. “Impossible. Itu tidak mungkin. Aku lihat dia begitu mencintaimu, Kean.”
Keanu kembali tertawa. “Cinta.”
Keanu meneguk minumannya. “Aku tidak lagi merasakan itu sekarang.”
Mark menatap wajah sedih sahabatnya. Ia tahu, Keanu datang ke sini untuk menata hatinya kembali. Ia butuh refresh, ia butuh hiburan, butuh tempat untuk melampiaskan kekesalannya pada takdir yang tidak membawanya pada cintanya.
Mark menepuk bahu Keanu. “Percayalah, dia akan kembali untukmu.”
Keanu tersenyum tipis.
__ADS_1
“Semoga. Walau rasanya itu tidak mungkin,” ucapnya pesimis.
Gairah cinta Keanu seakan lenyap, saat ia mendengar seorang pria mengucapkan nama lengkap Jihan di hadapan penghulu yang menjadi walinya. Gairah cinta itu seakan pudar seiring fakta yang mengingatkan bahwa sang pujaan hati telah menjadi milik orang lain. Kini, Keanu hidup dalam gairah cinta yang padam.