Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Bonchap 3


__ADS_3

“Eum …” Jihan melepas ciuman sang suami yang kian brutal menelusuri bibirnya.


Mereka kini tengah berada di gazebo kecil yang tak jauh dari laut lepas yang tepat menyuguhkan pemandangan indah di depannya. Keanu menempel pada tubuh sang istri yang berada di sampingnya. Tangan kirinya yang dapat bergerak bebas pun bergerak ke leher dan tengkuk Jihan untuk meminta kembali berciuman.


“Sayang, balik ke kamar aja yuk!” pinta Jihan yang tak enak jika ada orang melihat kegiatan mereka, walau masih hanya sekedar berciuman.


“Tapi aku mau di sini, Sayang. Suasana baru,” jawab Keanu dengan kabut mata yang sudah menunjukkan gairah.


“Nanti kalau ada orang gimana?”


“Ngga. Ga akan ada orang. Cottege ini sudah di booking Papa,” jawab Keanu dengan tangan kiri kebelakang dan melepaskan pengait kain yang menyangga gunung kembar sang istri.


Lalu, Keanu membuka kancing kemeja Jihan satu persatu dengan sesekali meremas salah satu gunung kembar Jihan, hingga wanita itu pun berdesis.


“Kean.” Jihan masih merengek untuk pindah ke kamar mesti tangannya ikut membantu Keanu melepaskan kancing itu.


Dan, Hap. Keanu tenggelam diantara kedua gunung itu. Sedangkan Jihan hanya bisa mendongak merasakan hangatnya p*uting itu di dalam mulut Keanu.


“Kean. Eum …” Jihan menggigit bibirnya sendiri merasakan sensasi antara perih dan enak, karena gigitan yang diiringi dengan sesapan Keanu yang kuat.


Perlahan Keanu mendorong istrinya untuk berbaring. Dan ia menindih Jihan dengan menyangga pada tangan kirinya. Namun, aktifitas ini tidak menyadarkan Keanu dengan kondisi tangannya yang masih sakit itu.


“Kean, tanganmu terjepit. Nanti sakit.”


Keanu mengabaikan peringatan sang istri.


“Kean, tanganmu tertindih,” kata Jihan lagi dengan suara lirih.


Keanu pun menyudahi aksinya dan menatap sang istri. Ia tersenyum, lalu menggeleng. “Tidak sakit sayang. Justru yang sakit bukan tanganku tapi sesuatu di bawah sana.”


Keanu mengarahkan matanya pada rudalnya yang siap untuk bertempur.


Jihan pun tertawa dan merapikan kembali kemejanya yang sudah menampilkan dua gunung kembarnya tadi. “Memang kapan sih rudalmu ga siap tempur?”


“Eh udah bisa ngeledek ya,” ucap Keanu yang ikut tertawa.


“Kadang aku berpikir. Gimana nanti kalau aku melahirkan? Apa kamu kuat buat puasa?” tanya jihan saat kedua mata mereka beradu. Bahkan Keanu sengaja mengadukan ujung hidung mereka yang sam-sama lancip.


“Ya, nanti kamu puaskan dengan cara lain.”


“Seperti?” tanya Jihan tak mengerti.


“Dengan ini.” Keanu mengarahkan matanya pada bibir Jihan yang semakin sensual dan tebal akibat sering dihantam oleh bibir Keanu yang menyesapnya brutal.


“Ish. Kamu.” Jihan refleks memukul pelan tangan Keanu yang masih menggunakan kain untuk digantung ke lehernya.


“Aww.” Keanu pun meringis.


“Ah, aaf Sayang.” Jihan ikut meringis dan bangkit untuk mendekati suaminya yang melepas kungkungan. “Sakit?”


Keanu pun tertawa. “Tapo boong.”


“Keanu …” teriak Jihan kesal. “Kenapa jadi orang nyebelin baget sih?”


“Kenapa panik ya?” tanya Keanu yang kini mendekati sang istri.


“Ya, iyalah.”


“Ya, aku tau kamu sangat mencintaiku. Dari dulu begitu kan? Tapi gengsi buat mengakui.”

__ADS_1


Jihan mencibir. “Tapi kamu kan yang lebih dulu mencintaiku. Karena terpesona oleh hmm …”


“Iya, iya … Aku yang lebih dulu mencintaimu, menyukai, dan terpesona olehmu. Hm!” Keanu menaik turunkan alisnya membuat Jihan tersenyum dengan wajah yang melengos.


“Nyebelin.”


“Kok nyebelin?” tanya Keanu.


“Nyebelin sama muka kamu yang mesum.” Jihan mendorong wajah suaminya dengan tertawa.


Keanu ikut tertawa. “Tapi wajah seperti ini yang diinginkan para wanita.”


“iya deh, terserah.” Jihan pun bangkit dan hendak meninggalkan gazebo itu setelah pakaiannya kembali rapi akibat ulah Keanu tadi.


“Hei, mau ke mana?” tanya Keanu dengan manarik lengan Jihan.


“Ke kamar.”


“Ikut.” Pria yang sekarang bertambah manja sejak sakit itu, mengikuti langkah sang istri.


Mereka kembali ke ruang utama, tempat keluarga berkumpul tadi. Namun di sana terlihat sepi, hanya ada Kenan, Hanin, dan Rasti di taman sambil menikmati jagung bakar.


“Loh Kevin dan Ayesh ke mana, Ma?” tanya Keanu dengan tangan yang tetap menggenggam sang istri.


Hanin menoleh ke arah suara sang putra, begitu pun dengna Kenan dan Rasti.


“Eh, Mama kira kalian sudah di kamar,” kata Hanin.


“Belum, Ma, tadi kita ke pantai sebentar.”


“Ya, ampun. Malam-malam begini malah ke pantai. Nanti istrimu masuk angin,” sahut Rasti.


“Jihan ga akan masuk angin Oma, karena sedari tadi Keanu memeluknya.”


“Hmm …” Rasti memutar bola matanya malas. “Dasar Bucin. Heran, bucin kok nurun.”


Mata Rasti tertuju pada Kenan membuat Hanin dan Kenan tertawa.


“Ya udah, kalau begitu kami juga pamit ke kamar ya, Ma, Pa, Oma.” Keanu pamit dan Jihan pun ikut pamit pada ketiga orang tua di depannya.


“Iya, Sayang.” Hanin menyahut, sedangkan Kenan dan Rasti hanya mengangguk.


Hanin dan Kenan melihat ke arah Keanu dan Jihan yang mulai menjauh. Mereka tersenyum melihat Kebersamaan anak dan menantunya itu. apalagi melihat Keanu yang posesif. Pria itu terus menempel pada istrinya.


“Kelakuan Keanu mirip kamu,” ujar Hanin.


Keanu pun tersenyum dan mengangguk. “Ya, aku baru mulai menyadari. Ternyata memang anak itu yang menjadi duplikatku.”


Hanin tertawa.


“Ya, hingga mesum dan bucinnya pun sama,” celetuk Rasti yang membuat Kenan ikut tertawa.


****


“Ah.”


Sesampainya di kamar, Keanu kembali meneruskan aksinya yang tertunda di gazebo pantai tadi. Mereka kini tengah dalam penyatuan, setelah ia berhasil memancing gairah sang istri.


Jihan sekarng yang memimpin permainan. Keanu memang paling bisa membuat gairah Jihan memuncak. Hanya dengan sentuhan bibir yang menjamah seluruh tubuh serta bagian-bagian yang sensitif, Jihan mampu bergelora. Semula ia tidak seperti ini, tapi sejak menjadi istri Keanu, ia pun menjadi liar seperti ini. Apalagi beberapa minggu terakhir, ia malah lebih mudah bergairah. Apa ini hormon? Benarkah JIhan hamil?

__ADS_1


“Terus, Sayang. Oh, kamu semakin pintar.” Keanu hanya duduk sembari menyandarkan punggungnya pada dinding ranjang. Ia menikmati setiap gerakan yang begitu erotis dari pinggul sang istri.


“Oh, Kean.”


“oh, Sayang.”


“Kean.” jihan terus bergerak mencari kepuasan sendiri. Rasanya ia ingin meledakkan sesuatu.


Keanu yang paham dengan kondisi ini pun langsung menyerang bagian sensitif Jihan yang lain. Mulutnya menangkup gunung kembar itu bergantian, membuat Jihan semakin resah.


“Oh, Kean.”


“Hm … Nikmat, sayang?”


Jihan menganggukkan kepalanya. Kini, ia tak malu lagi untu berekspresi.


“Kean,” panggil Jihan dengan nada sensual dan matanya yang terlihat sangat sayu. “Aku ga kuat, Kean."


“Bersama, Sayang. Terus lah bergerak.”


Jihan terus meningkatkan gerakannya hingga keduanya melenguh dan beberapa saat kemudian mereka pun berteriak. Jihan memeluk tubuh suaminya yang juga memeluknya. Nafas mereka sama-sama tersengal akibat ledakan dari masing-masing tubuhnya.


“Oh, Sayang. Kamu hebat sekali.” Keanu terus memuji istrinya yang semakin luar biasa di ranjang. Ia tak mengira bahwa wanita pendiam seperti Jihan memiliki sejuta keahlian.


Pluk


Jihan memukul pelan bahu Keanu yang sedari tadi menjadi sandarannya saat tubuhnya melemah akibat sedari tadi bergerak dan meledak.


“Capek, Sayang?” keanu mengusap peluh di kening Jihan dengan tangan kirinya.


Jihan mengangguk. “Aku lepas ya.”


Keanu pun menganggukkan kepalanya dan Jihan bergulir di samping Keanu. Pria itu langsung menyelimuti tubuh polos sang istri dan ikut berbaring dengan memeluk tubuh itu.


Keanu meremas salah satu bukit yang semakin kenyal itu.


“Kean, sudah.” Jihan merengek karena mengira Keanu masih menginginkan tubuhnya.


“Iya, Sayang. Aku hanya memegangnya saja. seperti ini bagian ini semakin membulat.”


“Ya, ini karena kamu.”


“Apa kamu sedang hamil?” tanya Keanu mmbuat Jihan membalikkan tubuhnya.


Jihan menggeleng. “emang iya?”


“Tidak tahu.” Keanu menggeleng. “Aku hanya menebak saja. Karena tubuhmu banyak perubahan.”


“Sepertinya kamu lebih tahu.” Jihan memicingkan mata.


“Jangan curiga!” Keanu menutup wajah Jihan dan Jihan langsung menyingkirkan tangan itu.


“Lagian tahu banget ciri-ciri wanita hamil.”


“Ya, kan Ayesha juga pernah hamil. Aku tahu dari Kevin.”


“Tapi belum pernah menghamili perempuan kan?”


“Ish amit-amit.”

__ADS_1


Jihan pun tertawa. Ia tahu walau Keanu playboy, tapi pria itu tetap menjaga kehormatan keluarga dengan tidak celap celup ke sembarang wanita. Apalagi Keanu menjunjung tinggi esensi bercinta. Ia hanya akan bercinta dengan orang yang dicinta.


__ADS_2