
Keanu menggulirkan tubuhnya di samping sang istri. Ia menjauh dari tubuh itu agar hawa panas yang ada segera menghilang. Di dekat Jihan, hasratnya selalu tidak bisa terkendali. Gairahnya memuncak dan ingin segera tersalurkan. Namun, sayang malam ini hingga tujuh malam ke depan, ia tidak bisa melakukan itu. Alhasil, ia pun harus bisa menahannya.
“Ayo tidur!” ucap Keanu yang langsung menarik selimut.
Jihan menggeleng. “Aku belum ngantuk.”
“Loh, tadi kamu ketiduran di meja sana.” Arah mata Keanu menunjuk pada meja rias yang tadi digunakan Jihan untuk tidur.
“Iya, tapi sekarang udah ga ngantuk,” jawab Jihan, membuat Keanu bingung karena wanita itu selalu menggodanya dengan ekspresi itu.
“Tidur, Sayang. Yang ada singkong premiumku tidak bisa tidur,” sahut keanu membuat Jihan tertawa geli.
Jihan sengaja menempelkan tubuhnya dan meletakkan tangan itu di atas singkong premium yang memang ternyata belum tidur.
“Sayang … Ssshh …” Keanu melenguh saat Jihan sedikit meremasnya. “Jangan, sayang! Kita sedang tidak bisa bercinta. Jangan buat aku tersiksa!”
Jihan menyeringai dengan menenggakkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya. “Tenang, aku akan menidurkannya.”
Perlahan, Jihan membuka ain yang menutupi benda itu dan mulai menempelkan pada bibirnya.
“Sayan kamu mau apa? No, Sayang. Itu jorok,” ucap Keanu.
“Tapi kamu selalu melakukannya untukku. Jadi sekarang gantian.”
“Itu beda, Sayang. Aku suka melakukan itu karena aku suka saat melihatmu merasa puas,” ucap Keanu.
“Aku juga suka saat melihatmu puas.” Jihan mulai melakukan aksinya.
“Ssshh … Oh, Jihan.” Wajah Keanu mulai berubah karena aksi itu. Sungguh, Keanu tidak menyangka bahwa Jihan akan sebin*l ini.
Keanu terus melnguh sembari menngadahkan kepalanya ke atas, menikmati pelayanan sang istri. Entah belajar darimana wanita itu melakukan hal ini? Karena caranya benar-benar seperti orang profesional.
“Sayang, Ah. Kamu tahu semacam ini dari ma … na …?” tanya Keanu sambil mengelus lembut rambut Jihan dan terkadang sedikit meremas rambut itu kala kenikmatannya sedang di ubun-ubun.
“Oh, nikmat sekali, Sayang. Rasanya aku mau meledak,” kata Keanu lagi.
“Sayang,” jerit Keanu yang sudah tak tahan dengan aksi sang istri.
“Ah.”
“Arrrggg …” Akhirnya, Jihan mampu membuat Keanu meledak dengan cara yang lain.
Wanita itu langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi. Ia membersihkan mulutnya dari kegiatan yang ia lakukan tadi.
Keanu tersenyum saat Jihan kembali duduk di sampingnya. Ia menarik kepala Jihan dan mengecup pucuk kepala itu. “Kenapa kau lakukan ini? Hm!”
Jihan melirik dan menatap mata Keanu. “Hanya ingin melihatmu senang. Kau suka?”
Keanu tersenyum lebar. “Tentu saja. Tidak ada pria yang tidak suka dilayani hingga seperti ini.”
Jihan tersenyum dan Keanu kembali memagut bibir itu hingga tubuh Jihan terhimpit pada dinding tempat tidur.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Jihan berdering di tengah Keanu yang sedang menikmati bibir sensual itu.
“Mmpphhh …” Jihan berusaha melepas pagutan itu.
“Ke .. n.”
__ADS_1
Bibir Jihan kembali dimakan oleh Keanu. Pria itu seolah tuli dengan deringan telepon Jihan yang berada persis di sampingnya. Tangan Jihan meraba meja kecil yang ada di sebelah itu untuk mengambil ponsel. Keanu melepas pagutan itu tapi tidak melepas tubuh itu. Ciumannya turun ke leher dan dada Jihan.
"Eum ... Kean,” lenguh Jihan dengan Ponsel yang sudah ia genggam.
Keanu ingin memberi kepuasan yang sama pada sang istri, setelah tadi Jihan melakukan untuknya.
Deringan itu berhenti sejenak, tapi beberapa menit kembali berbunyi. Sambil menikmati sentuhan Keanu yang berada di dua gunung kembarnya, Jihan melihat nama di layar ponsel yang sudah ia pegang.
“Mama,” gumamnya.
“Sayang, udah. Mama meneleponku,” kata Jihan lirih untuk menghentikan aktifitas sang suami.
Keanu pun berhenti dan melihat layar telepon itu. “Mama?”
Jihan mengangguk dan menekan tombol hijau. Ia lupa bahwa saat ini penampilannya sangat berantakan. Ia segera mengangkat telepon itu agar bunyinya tidak berhenti.
“Mama,” panggil Jihan karena Hanin menelepo dengan panggilan video call.
“Ups, sorry. Mama memngganggu kalian,” kata Hanin tertawa yang melihat penampilan Jihan berantakan, dada terbuka dan leher dipenuhi kismark.
“Oh.” Jihan langsung tersadar dan memberikan ponsel itu pada suaminya.
Hanin masih tertawa, Keanu pun tersenyum.
“Hei, kamu jangan nakal, Kean! Jangan gempur istrimu terus! Nanti dia sakit!”
Keanu tersenyum malu dan mengalihkan pembicaraan. “Mama apa kabar?”
Hanin pun memelankan tawa. Saat ini memang hanya ada wajah Hanin saja yang terlihat di layar itu, tapi sebenarnya Kenan pun berada tepat di samping sang istri dan mendengar percakapan itu.
“Baik. Kamu bagaimana? Tidak perlu dijawab, Mama sudah lihat sepertinya kamu di sana sangat baik.”
“Sepertinya, Jihan mengurusmu dengan sangat benar.” Hanin tertawa.
Keanu mengangguk. “Ya. Jihan seperti Mama yang selalu bisa menyenangkan Papa.”
“Ah, kamu bisa saja,” sanggah Hanin. “Mama senang kalau kalian baik-baik saja.”
“Oh, ya. Kemarin Kevin bilang, Mama sakit dan tidak mau makan. Apa itu benar?” tanya Keanu.
“Eum …” Hanin ingin menjawab jujur, tapi ia menoleh ke sebelahnya dan melihat Kenan tengah menatanya. “Oh, ya Ken. Papa mu ingin bicara.”
Hanin langsung menyerahkan ponselnya pada Kenan, tapi pria itu menolak dan meminta sang istri untuk kembali bicara. Sedangkan Keanu menunggu.
“Sudahlah, Ma. Kalau Papa tidak ingin bicara tidak apa,” ucap Keanu membuat Hanin cemberut.
Hanin kesal karena suamiya ingkar janji, padahal sepulang kerja tadi ia sudah menyambut kedatangan Kenan dengan lingeri merah marun dan sudah memuaskan suaminya. setelah itu, baru ia menelepon putranya.
“Tidak, Sayang. Tadi Papa mu janji ingin bicara. Ini!” Hanin meletakkan layar ponsel itu tepat di wajah Kenan sehingga di layar ponsel Jihan pun tertera wajah pria berwibawa itu.
“Teleponmu tidak pernah aktif.” Akhirnya, Kenan bersuara terlebih dahulu.
“Iya, Pa. Maaf.”
Kenan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kean.”
“Pa.”
__ADS_1
Keduanya memanggil bersamaan. Sedangkan di samping mereka, istri-istri mereka hanya duduk menemani dan mendengarkan percakapan yang di loudspeaker itu.
“Keanu minta maaf.”
“Papa juga minta maaf.”
Hanin dan Jihan tersenyum karena akhirnya kedua pria yang memiliki kesamaan itu meredakan egonya.
“Kapan kamu berangkat?” tanya Keanu.
“Besok siang, Pa. Doakan pertandinganku musim ini lancar,” jawab Keanu.
Kenan mengangguk. “Ya, Papa doakan semoga kali ini kamu berdiri di podium.”
Keanu tersenyum. “Aamiin. Terima kasih, Pa.”
Keanu melihat sang ayah yang dibisiki ibunya.
“Kean. Jika kau ada waktu, datang kerumah. Rumah ini terbuka untuk kalian,” ucap Kenan.
Keanu tersenyum dan menarik tubuh Jihan untuk dipeluk, lalu diperlihatkan ke layar. “Pasti, Pa. Kami akan datang nanti.”
Kenan tersenyum dan melihat ke arah Jihan. Saat ini Jihan pun sudah berpakaian rapih dan menggunakan outfit untuk menutupi lingeri tipis yang ia pakai sebelumnya.
“Jihan,” ucap Kenan untuk pertama kalinya pada putri Wiliam sekaligus menantunya sekarang.
“Papa titip Keanu padamu. Hilangkan kenakalannya.”
Jihan tersenyum lebar dan mengangguk. Ingin rasanya ia menangis karena ini adalah kali pertama Kenan menyapanya setelah yang terjadi antara dirinya dan Keanu.
“Iya, Papa. Jihan akan menjaga Keanu dan selalu ada di sampingnya. Jihan akan merawatnya dengan baik." Mata Jihan melirik ke arah Keanu dan pria yang disebut namanya mengerakan pelukan di bahu Jihan.
Kenan tersenyum dan mengangguk.
“Jihan, berikan Mama cucu secepatnya ya,” celetuk Hanin tertawa.
Jihan dan Keanu tersenyum dan saling melirik.
“Segera, Ma,” jawab Keanu. “Mama harus ke Lombok kalau Jihan hamil.”
“Tentu saja,” jawa Hanin yag langsung mendapat bulatan mata dari Kenan karena pria itu tidak akan mau ditinggalkan istrinya.
“Ups, Papa pasti tidak akan bisa ditinggal ya,” sahut Keanu.
“Bisa,” jawab Hanin. “Papa kamu udah mandiri kok,” ledeknya membuat Kenan terdiam.
Namun, Hanin, Keanu, dan Jihan tertawa.
Mereka pun bercengkerama sambil tertawa melalui sambungan telepon itu. Sungguh ini adalah hal yang paling membahagiakan. Walau tidak secara terang-terangan Kenan mengatakan bahwa dirinya merestui sang putra, tapi dengan saling memaafkan dan menyuruh ia datang ke rumah besar sang ayah sudah membuat Keanu yakin bahwa kini Kenan merestuinya.
“Terima kasih, Mama,” ucap Keanu sembari memeluk Jihan erat setelah Hanin menutup sambungan telepon itu.
JIhan pun memeluk erat suaminya sambil tersenyum. Ia juga sangat bahagia.
Di balik kamar Kenan dan Hanin di sana, Rasti menghentikan langkahnya di depan kamar itu. Ia menempelkan telinganya saat Kenan, Hanin, dan Keanu Jihan berkomunikasi. Ia mendengar percakapan putra dan cucunya, walau sekilas.
Setelah Kenan dan Hanin selesai menelepon, Rasti pun bergumam, "Apa sekarang Kenan merestui anak nakal itu?
Raut wajahnya kesal. Kenan memang tidak pernah bisa mendengarkan perkataannya, padahal ia adalah wanita yang melahirkannya. Kenan juga selalu kalah pada sang istri dan terlalu memanjakan wanita itu, pikir Rasti yang selama ini berusaha menerima Hanin.
__ADS_1