
Kenan merasa hampa. Beberapa hari ditinggal Hanin, hidupnya terasa tidak lagi lengkap. Seperti separuh jiwanya hilang. Hatinya selalu resah dan tidak bergairah. Ia pun hanya menjalani aktifitas tanpa tujuan.
“Ken, sarapan dulu,” ucap Rasti yang sudah duduk di meja makan.
Kenan baru saja menuruni anak tangga. Ia hendak langsung keluar rumah dan berangkat, tapi langkahnya terhenti oleh suara itu dan Kenan menghampiri ibunya.
“Tidak, Mam. Ken langsung berangkat saja,” jawab Kenan setelah mencium kening Rasti.
Rasti menahan tangan sang putra setelah mencium punggung tangan itu untuk pamit. “Sarapan lah! Mami tidak pernah melihat kamu makan. Nanti kamu sakit.”
Kenan hanya tersenyum. “Tidak selera makan, Mam. Nanti saja siang di kantor.”
“Ken,” panggil Rasti dengan tetap menahan tangan sang putra.
Kenan pun perlahan melepaskan genggaman sang Ibu. “Mami makan saja, Ken harus pergi. Jaga kesehatan Mami!”
“Kenan.” Rasti masih tak ingin melepas putranya, karena semakin hari Kenan semakin tak terurus.
Rasti menghela nafasnya kasar. Ia terduduk sendirian di meja makan yang besar itu. Di rumah sebesar ini, ia selalu sendiri. Apalagi sejak kepergian Hanin, Kenan praktis lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah.
Rasti menopang wajahnya dengan kedua tangan yang berada di atas meja makan. Hatinya ikut teriris melihat kondisi sang putra yang kian hari kian tak terarah. Walau Kenan tidak mengeluh pada sang Ibu dan menyalahkannya atas kepergian Hanin, tapi Rasti dapat merasakan apa yang Kenan rasakan saat ini.
Kemudian Rasti meraih ponselnya dan menelepon Kevin.
Tut … Tut … Tut …
“Halo, Oma.”
Kevin langsung mengangkat telepon itu. Saat ini, ia juga tengah menikmati sarapan bersama sang istri.
“Kev, kamu belum menemukan ibumu?” tanya Rasti.
“Belum, Oma. Keanu yang ada di sana juga belum menemukan Mama.”
“Memang Hanin ke mana?” tanya Rasti lagi.
“Terakhir informasi yang Kevin dapatkan, Mama ke bandara dengan rute Lombok. Tapi orang-orang Kevin belum menemukan Mama di sana.”
Rasti terdiam.
“Oma,” panggil Kevin.
Pria itu menarik nafasnya sejenak.
“Jangan tekan Mama terus, Oma! Sejak kecil Kevin sering melihat Mama menangis karena sikap Oma. Kevin tahu Oma tidak setuju dengan sikap Mama yang membela Keanu, tapi Mama melakukan itu hanya ingin membuat keluarganya utuh. Kevin pun berada di pihak Mama. Kevin ingin keluarga kita tetap utuh.”
Rasti kembali diam, hingga beberapa detik kemudian dia berkata, “Kabari Oma kalau Hanin ketemu.”
__ADS_1
Kevin mengangguk. “Iya.”
Rasti memutuskan sambungan telepon itu. Ia meletakkan benda pintar itu dengan gerakan lambat sembari memikirkan perkataan cucunya. Ya, ia memang egois. Ie selalu ingin mendapatkan menantu dengan kalangan yang sama, seperti teman-teman sosialitanya. Namun sayang, pria di keluarga Adhitama justru memilih teman hidup mereka dari kalangan biasa, dan lebih ekstrim adalah Jihan, anak pembantu plus mafia.
****
“An, siswa yang bernama Qonita. Anak itu masih menjadi murid di sini? Saya lihat, dia tidak pernah hadir.”
Hanin duduk di ruang guru bersama Annisa an membicarakan tentang salah satu siswanya yang tidak pernah datang, bahkan sebelum Hanin mengajar di tempat itu.
“Ya, itu Bu. Qonita tidak bisa sekolah karena keluargnya tidak ada yang mengurus,” jawab Annisa.
“Maksudnya?”
“Semua anggota keluarganya terkena lumpu mendadak bersamaan. Sehingga tidak ada yang mengurus kecuali dia, karena kebetulan hanya Qonita yang tidak terkena serangan itu.”
“Anak sekecil itu harus mengurus keluarganya yang sakit?” tanya Hanin miris.
Annisa mengangguk. “Bahkan dia membantu menucuci baju tetangganya untuk mencari uang. Soalnya ayah dan ibunya, semua lumpuh."
Hanin miris mendengar itu. “Lalu pemerintah setempat bagaimana?”
“Sudah ada bantuan sekarang. Malah katanya akan ada tim medis yang datang dari rumah sakit kota.”
Hanin mengangguk. “Baguslah kalau begitu.”
Lalu, Hanin kembali berkata, “Sepulang mengajar, antarkan aku ke rumah anak itu. Aku juga ingin memberikan sesuatu padanya.”
Jiwa derma Hanin pun tergerak. Untung ia masih memiliki simpanan uang. Jika persediaan uangnya habis, dengan terpaksa ia akan menarik uang di ATM dan kemungkinan setelah itu, Kenan akan menemukan keberadaannya. Biarlah.
****
“Kean, udah! Aku mau berangkat,” rengek Jihan karena Keanu terus berada di dadanya.
“Satu ronde lagi ya?” pinta pria mesum itu dengan senyum yang menampilkn jejeran giginya.
“Ngga. Satu jam lagi mau berangkat,” jawab Jihan ketus.
“Ish pelit banget.”
“Pelit apaan? Semalam udah, setelah subuh juga udah,” jawab Jihan cemberut.
Keanu tertawa dan mencubit ujung hidung istrinya. “Lagian siapa suruh tubuh kamu enak banget. Bikin orang ketagihan tau.”
“Ish.” Jihan menepis tangan yang mencubit ujung hidungnya. “Emang dasar kamu aja yang mesum. Heran! Kuat banget sih kamu.”
Keanu kembali tertawa. “Bagus dong. Bikin kamu enak terus.”
__ADS_1
Jihan kembali memonyongkan bibirnya, membuat Keanu tersenyum gemas. Wanita itu hendak beranjak dri sofa dan meninggalkan suaminya. Sepertinya kalau berdekatan terus, ia semakin tidak bisa menolak ajakan itu.
“Hei, ke mana?” tanya Keanu dengan menahan lengan Jihan.
“Siap-siap, Sayang. Aku mau berangkat. kamu juga mau latihan kan?”
Keanu mengangguk.
“Udah gih sana!” Jihan meminta suaminya untuk merapihkan diri.
“Beneran kamu ga diantar?” tanya Keanu.
“Antar aku sampai rumah sakit aja.”
Keanu mengangguk. “Siap ratuku.”
Jihan pun tersenyum dan menggeleng. Sejak menjadi suami, Keanu memang semakin manja. Pria itu selalu menempel. Bahkan saat tidur, Keanu tidak bisa tidur jika tidak memeluk istrinya. Dan, Jihan menyukai itu.
Tiga puluh menit kemudian, Keanu mengantar Jihan tepat di gedung rumah sakit, tempat sang istri mengabdikan keahliannya.
“Aku jemput jam berapa?” tanya Keanu sembari melepaskan helm dari kepala Jihan.
“Kamu selesai jam berapa?”
Keanu tertawa. “Kebiasaan, kalau ditanya malah tanya balik.”
Jihan ikut tertawa. “Aku ga mau ganggu aktifitas kamu. Jadi kalau kamu belum selesai, ga apa-apa aku tunggu di sini.”
“Eum … pengertian banget sih jadi istri.” Lagi-lagi Keanu mencubit ujung hidung Jihan hingga kepala Jihan sedikit bergoyang. “Jadi makin cinta kalau begini.”
“Weeek … gombal.” Jihan menjulurkan lidahnya, membuat Keanu kembali tertawa.
“Ya udah, dah!” Jihan hendak meninggalkan suaminya. Namun, Keanu menahan lengan itu.
“Ada yang belum kamu lakukan,” katanya.
“Apa?”
Keanu menjulurkan punggung tangannya.
“Ya ampun. Lupa. Maaf ya, Mas,” ucap Jihan meledek. Keanu paling tidak suka dipanggil Mas, katanya dia bukan Mas-Mas.
Jihan mencium punggung tangan itu dan kembali meledek, “Dah, Mas.”
“Awas ya, sampai rumah aku hukum kamu,” kata Keanu gemas dengan ekpresi Jihan yang sudah meledek dengan wajah menggoda, tapi pergi begitu saja.
“Siapa takut?” jawab Jihan menantang dari kejauhan.
__ADS_1
Keanu hanya tersenyum karena wanita itu hanya berani menantang dari kejauhan. Lalu, ia kembali menyalakan mesin motornya setelah melihat Jihan sudah memasuki gedung itu.
“Dasar liar!” kata Keanu kesal tapi dengan wajah yang masih menyungging senyum.