Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Pengganggu - 2


__ADS_3

Jihan memakai baju tidur berbahan satin berwarna pink dengan motif bunga-bunga kecil. Biasanya wanita itu akan memakai piyama dengan motif garis-garis atau kartun yang panjang dan menutupi bagian tubuhnya. Tapi kini, Jihan memakai.baju tidur terusan mini yang panjangnya di atas lutut. Ia juga memakai jubah tipis berlengan pendek untuk menutupi bahunya yang terbuka karena gaun itu bertali satu.


"Ayo!" ajak Jihan pada suaminya yang masih terduduk lemas di tepi tempat tidur.


"Aku tidak berselera makan," ujar Keanu, membuat Jihan kembali menahan tawa.


"Kamu kesal dengan Kak Gio."


Keanu langsung mengangguk. "Kenapa kakakmu tidak kembali ke Itali?"


"Belum. Biasanya dia akan di sini selama satu bulan."


"What? satu bulan?" tanya Keanu terkejut.


Jihan mengangguk dan tersenyum. "Udah, Ayo kita turun dan makan malam bersama."


Jihan menarik lengan suaminya untuk bangkit dan keluar dari kamar.


"Sayang, sepertinya kita memang harus pindah dan memiliki tempat tinggal sendiri," kata Keanu di sela sela langkah mereka menuju meja makan.


Jihan menatap suaminya. "Apa ini karena kak Gio?"


"Iyalah, siapa lagi," jawab Keanu sewot.


Jihan menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ia menggandeng lengan Keanu hingga menuju meja makan.


"Akhirnya, pengantin baru keluar kamar juga," ledek Wiliam saat sang putri dan suaminya menghampiri.


Gio melirik ke arah adiknya tanpa kedip. Pasalnya baru kali ini ia melihat Jihan berpakaian sexy. Jika wanita itu bukan adiknya, mungkin Gio akan menyukai Jihan. Untung saja Jihan adalah adiknya, sehingga ia bisa menyukai gadis lain. Jika dilihat Jihan memiliki kesamaan tubuh dengan Fiona. Bisa jadi wanita yang sedang mengikuti pelatihan di Florida selama satu tahun itu akan sexy jika dibalut oleh pakaian yang Jihan pakai saat ini.


Seketika Gio menggelengkan kepalanya saat membayangkan Fiona memakai gaun tipis itu.


"Kamu kenapa, Gio?" tanya Wiliam pada putranya.


Gio menggeleng. "Tidak apa-apa."


Keanu melirik pria itu. Masih tetlihat guratan kekesalan di wajah Keanu untuk Gio.


Mereka menikmati makan malam dengan khidmat. Wiliam tak henti mengulas senyum saat mendapati leher sang putri yang penuh dengan kismark. Gio pun melirik ke arah itu. Jihan tidak menyadari ada sesuatu yang aneh di tubuhnya, yang menjadikan ia pusat perhatian.


Jihan pun menyadari hal itu.


"Apa ada yang denganku?" tanyanya.


"Hm." Gio mengangguk.


"Kami tidak pernah memakai baju tidur seperti ini, Sayang," jawab Wiliam dengab mengatakan alasan kedua, padahal alasan pertama adalah tanda merah yang Keanu ciptakan itu.


"Kean, pelan-pelan saja. Oke. Jangan buat putriku kesakitan!" ucap Wiliam pada menantunya.


"Belum, Papa. Kami belum melakukannya," jawab Keanu jujur membuat Gio tersedak.


"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..."

__ADS_1


Gio pun mengambil gelas dan meminum air putih di gelas itu. "Apa kau sepolos itu, Kean?"


Gio menggelengkan kepala. Ia tidak yakin jika si pembalap yang sering melanglang buana ke beberapa gunung itu tidak mencicipi lembah.


"Terserah. Tapi kau menganggu aktifitasku tadi," ujar Keanu.


"Aku mengetuk pintu karena kita memang harus makan malam," jawab Gio.


"Sudah, sudah. Mengapa kalian bertengkar? tanya Wiliam menghentikan putra dan menantunya berseteru.


Sedangkan Jihan hanya tersenyum melihat tingkah laku dua pria yang ia anggap mirip.


Kemudian, mereka pun kembali menikmati makan malam itu. Gio dan Keanu sudah tak lagi berdebat.


Setelah makan malam selesai dinikmati. Wiliam kembali bersuara.


"Oh ya, Sayang. Sepertinya besok malam kalian harus menginap di hotel."


"Loh, kenapa Pa?" tanya Jihan serius.


Keanu pun menatap wajah mertuanya. Gio juga melakukan hal yang sama pada sang ayah.


"Tadi Ibu mu memberitahu bahwa dia sudah mengundurkan diri dari rumah keluarga Adhitama," jawab Wiliam.


"Apa itu karena aku?" tanya Jihan sedih.


Keanu mulai tampak serius. Dan, Wiliam pun mengangguk.


"Ya, sepertinya begitu. Ibu mu tidak ingin bermasalah dengan nenek Keanu," jawab Wiliam lagi sembari menunjuk ke arah suami Jihan.


Jihan langsung menoleh ke arah suaminya. Keanu pun begitu. Sungguh, sebenarnya ia juga ingin bertemu sang ibu, tapi apalah daya sang ayah ikut menyertai kedatangan sang ibu di sini, membuatnya tidak bisa memeluk Hanin. Keanu sangat merindukan ibunya.


"Kalian menginap lah di hotel beberapa malam hingga suasana memungkinkan. Lalu kalian kembali lagi ke sini," kata Wiliam lagi.


Keanu menganggui setuju. Akan ada waktunya nanti ia menemui sang ibu.


"Baiklah, Pa."


"Pasti kau senang, Kean," ucap Gio meledek karena akhirnya Keanu bisa bermalam di tempat lain tanpa gangguan.


"Tentu saja," jawab Keanu menimpali ledekan kakak iparnya yang menyebalkan.


Setelah makan malam selesai, Jihan dan Keanu tidak langsung ke kamar. Mereka ikut duduk bersama Wiliam dan Gio di ruang keluarga. Keanu tampak berbincanh dengan ayaj mertuanya sembari memeluk sang istri.


Keanu duduk di sofa, sementaea Jihan duduk di atas karpet berbulu tebal, tepat di bawah sang suami, sehingga Keanu pun leluasa untuk memeluk tubuh itu. Jihan pun memegang tangan Keanu uang berada di dadanya. Hal itu sotak membuat Gio ingin melakukan hal yang sama pada Fiona.


"Kean, setelah ini apa yang akan kau lakukan?" tanya Wiliam.


"Kebetulan awal jadwal pertandingan saya akan dilakukan di Lombok, Pa," jawab Keanu sambil mencium pucuk kepala istrinya. "Saya di sana sekalian menemani Jihan tugas."


"Lalu, setelah itu pasti kamu akan pindah ke tempat lain kan?" tanya Wiliam yang membuat Keanu bingung.


Ya, ia belum memikirkan hal itu.

__ADS_1


"Aku akan mengikuti ke mana pun suamiku pergi, Pa," ujar Jihan menatap sang ayah.


Keanu langsung tersenyum ke arah istrinya dan Jihan pun membalas senyum itu. Keanu menarik tangan sang istri dan mencium punggung tangan itu


"Terima kasih, Sayang."


"Berapa lama kamu di Lombok, Kean?" tanya Wiliam lagi.


"Mungkin satu bulan. Sebelumnya kami akan latihan track jalan."


"Dan, baru satu bulan di rumah sakit itu, kamu akan berhenti?" tanya Wiliam pada putrinya.


Jihan mengangkat bahunya. "Ya, mau bagaimana lagi."


Gio hanya menjadi pendengar.


Tak lama kemudian, Keanu dan Jihan pamit untuk ke kamar, melanjutkan aktifitas yang tertunda tadi akibat ulah Gio.


Gio pun mengikuti pasangan suami istri ini.


"Hei, kamarmu sudah lewat, Gio," ucap Keanu.


Namun, pria itu tidak mendengar dan tetap berjalan mengikuti Keanu dan Jihan.


Jihan pun membuka kamarnya. Lalu, Gio memasuki kamar itu.


"Oh, jadi seperti ini kamar pengantin?" tanya Gio.


Sikap pria itu semakin menyebalkan, membuat Keanu memutar bola matanya malas.


Gio duduk di tempat tidur itu. "Wah banyak taburan bunga."


Jihan tersenyum sembari menutup mulutnya.


"Bukankah kamar ini hasil design kalian berdua?" tanya Jihan dengan menunjuk ke arah Keanu dan Gio.


"Tidak. Aku hanya membeli bunga. Selebihnya, suamimu yang mendesign kamar ini."


"Eum ... so sweet." Jihan mengelayuti lengan Keanu.


"Pergilah, Gio! Kau benar-benar menganggu." Keanu menarik paksa lengan Gio dan mengusirnya keluar.


"Hei, aku hanya ingin merasakan tempat tidur pengantin," jawab Gio.


"Nanti kau akan merasakan saat Fiona pulang," ucap Keanu sembari mendorong tubuh Gio keluar dari kamar dan menutup kembali kamar itu.


Keanu membalikkan tubuhnya dan menarik nafasnya kasar. Ia hanya melihat sang istri tersenyum lucu.


"Semakin hari, kakakmu semakin aneh," ucap Keanu membuat Jihan kembali tertawa.


Jihan mengangguk. "Mungkin efek rindu yang berlebih."


"Bisa jadi," jawab Keanu memeluk istrinya dan menggiring ke tempat tidur yang masih berserakan bunga di sana.

__ADS_1


Keduanya pun tertawa bersama, hingga rasanya tidak ada beban dalam hidup mereka, padahal diluar sana mereka tengah dalam pencarian banyak orang, terutama Keanu.


__ADS_2