
Dua minggu kemudian, Jihan berdiri bersama para keluarga yang akan mengantar anaknya untuk mengikuti pelatihan di Florida selama satu tahun, termasuk Fiona.
Jihan sudah menanggap wanita sebagai kakaknya. Begitu pun sebaliknya, Fiona juga sudah menganggap Jihan sebagai adiknya. Sejak mereka mendapatkan mandat untuk melakukan sebuah misi bersama. Banyak hal yang Fiona tahu tentang Jihan, tapi tidak ada satu hal yang Jihan tahu tentang Fiona termasuk sang kakak yang sudah menggoda wanita itu beberapa kali saat di Itali. Jihan hanya tahu bahwa Fiona anak yatim piatu yang lahir dan dibesarkan di sebuah panti asuhan. Kakek Fiona adalah tentara, mungkin jiwa patriotnya lahir dari leluhur itu.
“Jihan,” teriak Fiona saat melihat Jihan berdiri di antara keluarga yang lain. Ia baru saja briefing bersama timnya, setelah bubar ia baru melihat Jihan di antara kerumunan itu.
“Aku kira kau tidak datang,” ucap Fio.
“Aku pasti datang. Kau sudah ku anggap seperti saudaraku.”
Fiona tertawa. “Wah bersyukurnya aku memiliki saudara seorang dokter. Jadi kalau terjadi apa-apa pada tulang dan sarafku saat tua nanti, aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk ke dokter.”
Jihan ikut tertawa. “Oh, kalau itu, kau tetap harus bayar.”
Fiona kembali tertawa. Jihan pun demikian. Lama mereka saling tertawa hingga Fiona kembali berkata, “apa kabar Keanu? Aku dengar dia sudah ada di Jakarta. Kau tidak ke sana?”
“Buat apa?” tanya Jihan setelah menggeleng.
“Ya, temu kangen. Mungkin.”
“Meledek?” tanya Jihan tertawa.
“Ya, siapa tahu kamu rindu ciumannya.”
“Fio …” teriak Jihan sembari memukul pelan lengan yang agak keras itu.
Fiona ikut tertawa. “Kalau kamu, tidak rindu dengan kedipan mata kakakku?”
Sontak, Fiona pun mengerutkan dahi. “Tahu dari siapa kamu tentang itu? Aku tidak pernah cerita.”
Jihan tertawa. “Yang pasti dari sumber paling akurat.”
“Tunggu! Apa Gio menceritakan itu padamu?” tanya Fiona tak percaya bahwa seorang mafia bisa bermulut ember.
JIhan tersenyum dan mengangguk. “Kau tahu, dia sungguh imut sekarang. Dia tidak pernah tidak cerita apa pun padaku.”
“Ya salam.” Fiona menepuk jidatnya.
“Seharusnya kakakmu itu di penjara,” ucap Fiona lagi.
__ADS_1
“Ya, nyatanya tidak ada yang bisa menyentuhnya,” sahut Jihan.
“Sombong. Lihat saja, nanti aku yang akan menjebloskan dia.”
“Kemana?” tanya Jihan. “Ke hatimu?”
“Apaan sih, Ji? Ngaco.” Fiona menggelengkan kepala dengan senyum yang tidak bisa diartikan.
Jihan masih tertawa. “Walau pun dia tidak dipenjara, tapi sekarang dia sudah tidak lagi menjual barang haram itu.”
Fiona mengangguk.
Ya, itu memang benar. Seorang Giorgio Xander tidak lagi menjadi mafia. Ia tak lagi mengedarkan narkotika. Ia hanya terjun sebagai pebisnis, menjalani bisnis legal yang ia miliki di berbagai kota besar di Itali. Craig pun tidak lagi menjadi asistennya. Setelah mencari keberadaan Craig, Gio membawa Craig menemui Luna di Paris, sesuai dengan informasi yang ia dapatkan dari Jihan tentang Luna. Dan menurut kabar, Craig akan menikahi Luna besok. Sepertinya mereka akan hidup tenang di kota fashion itu bersama paman dan Bibi Luna di sana.
“Ya, ayah dan kakakmu berubah ke jalan yang benar,” kata Fiona lagi. “Itu semua karenamu, Ji.”
“Karenamu juga, Fio. Terima kasih karena telah mendidikku menjadi intel beberapa bulan kemarin.”
Fiona tersenyum. “Jika ada misi lagi. apa kau mau menjadi timku?”
Jihan langsung menggeleng. “Tidak. cukup kemarin adalah yang pertama dan terakhir. Aku tidak bisa tenang, Fio. Jantungku berdetak kencang terus.”
“Fio, mengapa kau sebut nama pria itu terus?” tanya Jihan dengan nada manja.
Fiona masih tertawa hingga ia pelankan tawanya. “Sorry. Tapi aku kasihan melihatnya. Dia sangat mencintaimu, Ji. Kau tega sekali.”
Jihan menatap kesal ke arah Fiona. “Aku dan dia tidak mungkin bersatu, Fio. Jadi lupakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Hidup itu realistis.”
“Ya, hidup itu realistis. Aku suka motto mu.”
Jihan kembali tersenyum dan menggeleng. “Dasar intel gadungan!”
Fiona ikut tertawa.
Mereka cukup lama berbincang, hingga Fiona pun pamit.
“Sampaikan salamku pada Om Wil,” ucap Fiona.
“Pada calon mertua?” tanya Jihan meledek.
__ADS_1
“Ah, terserahmu lah.”
Jihan tertawa. “Ya, akan aku sampaikan.” Kemudian, ia mengangguk. “Hati-hati, Fio. Tetaplah memberi kabar.”
Fiona mengangguk. “Pasti.”
Mereka saling berpelukan, hingga Fiona benar-benar pamit. Wanita itu mengikuti iringan para anggota pelatihan yang lain yang berjumlah tiga orang. Tiga orang itu perwakilan dari Asia, terutama Indonesia dengan berbagai macam tes yang sudah dijalani.
“Bye, Ji.” Fiona kembali menoleh dan melambaikan tangannya pada Jihan.
Jihan pun melakukan hal yang sama. Ia tersenyum dan mengingat sang kakak, pasti Gio akan sakit hati mendengar Fiona terbang ke Florida untuk pelatihan dan karirnya. Padahal besok Gio akan ke Surabaya untuk menyaksikan pernikahan sang adik bersama teman baiknya yang bernama Rayen, lusanya.
Rayen adalah teman baik Jihan saat kuliah dan sudah melamarnya sebelum ia melakukan misi bersama Fiona ke Itali beberapa bulan lalu. Jihan tidak bisa menolak lamaran itu, mengingat saat ini Rayen di vonis kanker otak stadium tiga.
****
“Kau cantik, Jihan,” ucap Rayen, saat mereka berada di sebuah butik.
Jihan tersenyum pada Rayen yang berdiri di belakangnya. Wajah pria itu tampak pucat. Rayen sudah tahu kondisi kesehatannya. Walau Jihan dan kedua orang tuanya yang sudah tahu lebih dulu, tidak memberitahunya. Tapi, ia juga seorang dokter, ia bisa merasakan kondisi tubuhnya sendiri.
“Apa kau terpaksa menikah denganku, Ji? Atau karena kasihan?” tanya Rayen sembari melingakrkan kedua tangannya di pinggang itu dan menyandarkan kepalanya pada bahu belakang Jihan.
Jihan ikut sedih atas apa yang terjadi pada Rayen. Ia sudah menganggap Rayen seperti kakaknya sendiri, jauh sebelum Gio hadir dan mengambil tugas itu sekarang. Rayen dan Keanu berusia sama. Jihan lebih muda karena saat mulai sekolah, ia berusia muda dan sempat mengikuti akselerasi saat SMP.
“Aku tidak terpaksa, Ray. Sungguh,” jawab Jihan.
“Tapi kau kasihan padaku,” sahut Rayen.
“Kau adalah sahabatku, Ray. Kau selalu ada untukku saat aku membutuhkan teman. Anggap ini balasan dariku untukmu.”
“Dia juga selalu ada untukmu saat kau membutuhkan. Saat di Itali, dia juga yang menyelamatkanmu berkali-kali. Apa kau tidak merindukannya?”tanya Rayen pada Jihan tentang Keanu.
“Aku rindu. Aku sangat merindukannya. Tapi itu tidak mungkin. Sekarang saja, aku tidak tahu dia dimana.”
“Itu karena kau tidak mencari tahu,” sahut Rayen.
“Dia sudah punya kekasih, Ray. Atau mungkin dia juga akan menikah. Kami memang tidak ditakdirkan bersama.”
“Maaf,” ucap Rayen lirih.
__ADS_1
Jihan hanya bisa menatap dirinya di cermin sembari mengelus kepala Rayen yang berada di pundaknya. Rayen sangat tahu posisinya. Pria itu tidak pernah meminta lebih, hanya ingin ditemani oleh Jihan, wanita yang ia cintai itu di saat-saat terakhir hidupnya. Dan, Jihan mengabulkan permintaan Rayen.