Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Menolak hukuman


__ADS_3

Pagi ini, tubuh Jihan terasa remuk. Keanu benar-benar membuktikan apa yang Jihan katakan pada Rachel. Semalam suntuk, pria itu menggempurnya tanpa lelah. Entah stamina apa yang dimiliki Keanu hingga mampu seperti itu. Apa dia memakai doping? Atau obat perangsang? Entahlah! Yang pasti walau rasanya begitu nikmat, tetap saja begitu lelah setelahnya.


Untung saja hari ini libur weekend. Dan, dalam dua hari ke depan ia bisa beristirahat sambil memulihkan tubuhnya yang terasa pegal dari kepala hingga kaki.


“Morning! Sudah bangun?” tanya Keanu yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas susu dan piring yang berisi sandwich.


Wajah Keanu tampak segar dan bersinar. Tidak terlihat bahwa dirinya kelelahan. Hal itu membuat Jihan bingung. Padahal saat ini, dirinya saja tidak mampu untuk bangun.


“Ah, ssshhh …” Jihan merintih ketika ia hendak bangkit.


Keanu yang melihat itu pun langsung meletakkan piring dan gelas itu di meja kecil dan membantu istrinya. Ia membantu Jihan untuk bersandar pada dinding ranjang.


“Sakit ya?” tanya Keanu polos.


“Jangan ditanya!” jawab Jihan kesal.


Keanu bukan merasa bersalah malah tertawa. “Uuuh … kasihan. Mana yang sakit?”


Plak


Jihan memukul lengan Keanu, membuat pria itu tertawa.


“Lain kali jangan seperti itu!” ucap Jihan manja.


“Seperti apa?” tanya Keanu pura-pura tidak mengerti.


“Pokoknya, jangan seperti semalam! Tubuhku remuk semua rasanya.”


Keanu duduk tepat di samping sang istri dan tersenyum. “Maaf. Lagian siapa suruh tubuh kamu enak. Bikin candu tahu!”


“Ish … Kean,” rengek Jihan kesal.


Keanu pun tertawa. Ia mengambil gelas yang berisi susu itu untuk istrinya. “Ayo isi dulu perutmu. Setelah itu …”


Keanu menggantung perkataannya.


“Setelah itu apa?” tanya Jihan mendelik setelah menerima gelas dari Keanu dan menempelkannnya di bibir.


Keanu hanya nyengir, memperlihatkan jejeran giginya. “Bisa kamu tebak sendiri sih.”


“Keanu …” teriak Jihan lagi, membuat Keanu kembali tertawa.


Sungguh, Keanu menyukai ekspresi Jihan yang lemah. Lemah karena wanita itu tidak pernah bisa menolak kewajiban itu. Selain kewajiban, Jihan pun tidak kuasa menolak sentuhan Keanu yang membuatnya melayang.


Keanu tersenyum. ia senang karena saat bersamanya, Jihan menjadi sosok yang berbeda. wanita tangguh dan mandiri itu, tiba-tiba manja, suka merengek, dan banyak bicara. Kepribadian yang jauh berbeda dengan pribadi yang Jihan tampilkan pada orang lain. hal itu, membuat rumah tangga mereka terasa penuh cinta.


Setelah menghabiskan susu dan sandwich, Keanu langsung menggendong istrinya.


“Ke mana?” tanya Jihan saat sudah berada dalam gendongan Keanu.


“Kamar mandi. Kamu mau membersihkan diri kan?”

__ADS_1


Jihan mengangguk. “Tapi aku ga mau dimandiin.”


“Tidak apa. Biar aku mandikan,” ujar Keanu.


“Ngga.” Jihan menggeleng.


“Perutmu sudah kenyang kan?” tanyanya menyeringai.


“Keanu, aku bisa mandi sendiri,” kata Jihan saat pria itu meletakkannya di dalam bath up.


“Ya, aku tahu. Aku hanya membantumu.” Keanu sudah menyiapkan air hangat di dalam sana beserta aroma teraphy yang Jihan sukai.


Semalam, Jihan yang memberikan pelayana pada suaminya dan pagi ini Keanu yang memberikan pelayanan pada sang istri. Ternyata, Keanu benar-benar hanya membantu memandikan Jihan dan menggosok punggungnya. Pria itu juga sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Jihan benar-benar diperlakukan seperti ratu.


“Sayang. Tolong ambilkan pakaian aku sekalian ya!” pinta Jihan saat ia hendak melilitkan handuk di tubuhnya.


Namun, ia melihat Keanu menggeleng. “Mulai hari ini hukumanmu berlaku.”


“Hukuman apa?” tanya Jihan lupa.


“Lupa atau pura-pura lupa?” Keanu balik bertanya.


Jihan pun kembali menggeleng. Ia benar-benar lupa dengan hukuman atas pil pencegah kehamilan yang pernah ia minum waktu itu.


“Dua puluh satu hari,” jawab Keanu.


“Ya ampun.” Jihan menepuk jidatnya. Dan tiba-tiba ia membulatkan mata. “Tidak. Aku tidak mau berjalan ke sana ke mari tanpa busana, Kean. itu menjijikkan.”


Keanu tertawa. “Siapa bilang menjijikkan? Sexy, Sayang. So hot. Aku menyukaimu yang polos.”


“Kean,” rengek Jihan sembari menggelengkan kepalanya.


“Hanya saat di rumah. Saat ada aku dan kamu saja,” ucap Keanu lagi.


Jihan tetap menggelengkan kepalanya. Ia enggan melakukan hal gila itu. Walau rumah ini tertutup dan jarak antara rumahnya dengan rumah yang lain cukup jauh. Jihan tetap merasa bahwa ini gila.


****


Lastri menghela nafasnya kasar saat melihat Wiliam tertidur di atas sofa dengan televisi yang masih menyala. Sebenarnya, Lastri malu tinggal di rumah ini terus menerus. Ia juga tidak enak dengan tetangga yang kerap menggunjingnya, karena antara dirinya dan Wiliam tidak memiliki ikatan apa pun, tapi merea tinggal dalam satu atap. Walau komplek rumah yang Wiliam tempati memiliki bangunan yang besar-besar dan privasi masing-masing, tapi Lastri tetap berperasaan.


Lastri juga bertekat, setelah Wiliam sembuh total, ia akan mencari kontrakan atau menyusul putrinya ke Lombok. Tapi, Lastri juga tidak ingin menganggu Jihan yang baru memulai rumah tangga. Ia sadar bahwa pasangan pengantin baru itu, pasti sedang menikmati masa-masa berdua.


“Pak, bangun! Pindah ke kamar,” kata Lastri lembut pada Wiliam.


Belum ada tanda-tanda pria itu membuka matanya. Lastri pikir, Wiliam tidak mendengar ucapannya. Kemudian, Lastri memajukan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Wiliam.


“Pak,” panggil Lastri lagi dengan lembut.


Suara Lastri terdengar merdu di telinga Wiliam. Hanya saja ia ingin mendengar wanita itu tidak memanggilnya dengan panggilan ‘pak’ melainkan ‘mas’ karena Wiliam pun berdarah Jawa.


Wiliam sengaja masih menutup matanya. Ia menyukai posisi ini, karena posisi dirinya dan Lastri begitu dekat. Lastri berlutut tepat di depan tubuhnya yang terlentang di atas sofa dengan wajah mereka yang begitu dekat.

__ADS_1


Tanpa Lastri sadari, tangan Wiliam terangkat dan memeluk pinggang itu. Lastri pun baru menyadari setelah Wiliam memeluknya erat.


“Pak Wil, Lepas!”


Wiliam membuka matanya dan tersenyum. Ia melihat wajah ayu Lastri tepat di depan wajahnya. Terasa sangat dekat.


“Jangan panggil aku ‘Pak’! Lastri.”


Lastri memberontak. “Lepas, pak.”


“Aku lepaskan, tapi jangan panggil aku ‘pak’!”


“Lalu, aku harus panggil apa?” tanya Lastri dengan menatap ke kedua mata Wiliam.


Sorot mata tajam itu mengingatkannya pada dua puluh enam silam, saat pria itu memaksakan kehendaknya. Tapi entah mengapa saat ini hati Lastri tidak lagi sakit ketika mengingat kejadian itu, mungkin karena kejadian itu sudah lama terjadi atau mungkin karena sikap Wiliam yang lembut selama ia tinggal di sini atau mungkin ada hal yang lain? Lastri pun tidak mengerti.


“Mas?” Lastri balik bertanya.


Wiliam mengangguk. “Ya, panggil aku Mas, karena aku juga berdarah Jawa.”


Lastri menahan ta. Rasanya lucu jijka pria berwajah dan berambut pirang itu dipanggil dengan panggilan Mas.


“Hei, kamu tertawa?” tanya Wiliam.


Lastri pun langsung menggeleng dan merubah ekspresinya. “Tidak.”


Lastri kembali sadar akan posisi yang tidak mengenakkan ini.


“Mas, boleh lepaskan aku?”


“Oh, ya.” Wiliam pun langsung melepas pelukannya di pinggang itu.


“Di sini dingin, Mas. Lebih baik masuk ke kamar,” kata Lastri mengalihkan kecanggungan dan mengatakan maksudnya membangunkan Wiliam tadi.


“Ya benar. Sekarang kalau malam selalu hujan. Aku kedinginan,” ucap Wiliam.


“Kalau begitu tidurlah di kamar,” jawab Lastri melirik, lalu berdiri dan hendak meninggalkan pria itu.


Namun, Wiliam mencekal lengan Lastri. “Aku butuh seseorang untuk menghangatkanku saat tidur. Bersediakan kamu menjadi istriku? Ku mohon!”


Lastri menatap pria yang sedang memelas di hadapannya itu. Rasanya lucu melihat ekspresi mantan seorang mantan mafia yang kejam berubah menjadi melankolis dan mengemis. Ini adalah kali ke empat Wiliam meminta Lastri untuk menjadi istri.


“Lastri,” panggil Wiliam.


“Jika aku tidak mau, apa kamu akan memaksaku?” tanya Lastri.


“Tentu saja. Rumah ini akan ku tutup rapat-rapat agar kau tidak bisa pergi dari sini.”


Lastri tersenyum. “Kalau begitu aku tidak punya pilihan?”


Wiliam menggeleng.

__ADS_1


“Lalu, buat apa kamu bertanya?” tanya Lastri lagi, membuat Wiliam tersenyum.


Sepertinya, ia telah mendapat lampu hijau dari Lastri.


__ADS_2