Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Jika aku harus memilih, maka aku akan memilihmu


__ADS_3

Setelah konferensi pers selesai, Keanu langsung membawa Jihan menuju bandara. Mereka akan terbang ke Jakarta sesuai janji Keanu pada sang ayah yang akan menemuinya hari ini bersama sang istri.


Di Jakarta, Kenan pulang lebih cepat. Ia sengaja sampai di rumah pukul empat sore. Sedangkan Keanu dan Jihan baru terbang pukul dua siang.


“Tumben kamu sudah pulang?” tanya Hanin saat menyambut kepulangan sang suami. “Biasanya sampai rumah udah gelap.”


Hanin tidak diberitahu Kenan bahwa sore ini sang putra akan datang.


“Hm … “ Kenan hanya menjawab dengan deheman. Pria itu langsung berlalu dari hadapan sang istri menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hanin mengernyitkan dahi. Hari ini Kenan tampak dingin. Bukan, bukan hanya hari ini melainkan setelah tahu bahwa Hanin mengetahui pernikahan Keanu dan Jihan, serta membohonginya saat berada di hotel Surabaya.


Hanin menarik nafasnya kasar. Ia benar-benar dilema, satu sisi adalah anak dan satu sisi lain suaminya. Namun, ia tidak membenarkan sikap sang suami kali ini. Hanin hanya ingin kedua anaknya bahagia dengan hidup mereka masing-masing.


Tak lama kemudian Kenan keluar dari kamar. Pria itu masih terlihat gagah dengan melilitkan handuknya di pinggang dan rambutnya yang basah. Kenan masih sama seperti dulu, hanya kini wajahnya tampak lebih berwibawa.


“Kamu masih marah?” tanya Hanin sembari mengambil pakaian dari lemari untuk suaminya.


“Menurutmu?” Kenan bertanya kembali.


“By. Kita sebagai orang tua hanya menjadi jembatan anak-anak kita bahagia.”


“Tapi mereka perlu diatur, Han,” ucap Kenan.


“Tapi Keanu sudah besar. Dia bukan lagi anak berusia delapan tahun yang harus kita atur,” sahut Hanin.


Kenan membuka lemari dan langsung di tutup oleh Hanin sambil berkata, “apa ketika kamu seusia Keanu, kamu bisa diatur? Tidak kan? Bahkan Mami mengalah dan mau tidak mau menerimaku.”


“Itu berbeda,” jawab Kenan yang kembali membuka lemari besarnya.


“Apanya yang beda?” tanya Hanin. “Aku tidak terlahir dari keluarga kaya,” ucapnya lagi.


“Tapi kau tidak lahir dari darah mafia perusak bangsa.”


“Lalu kalau aku lahir dari darah mafia, kau tidak jadi mencintaiku? Begitu?” tanya Hanin.


“Han, aku tidak mau berdebat,” ucap Kenan dengan berdiri di depan Hanin. “Sudah cukup pekerjaan yang menumpuk. Aku pulang karena ingin ketenangan. mengerti!"


Hanin terdiam. Lalu, ia meletakkan pakaian yang akan dipakai suaminya di atas ranjang. Hanin pun hendak pergi meninggalkan kamar itu.


“Hei, mau ke mana?” tanya Kenan dengan menahan pergelangan tangan istrinya saat hendak meninggalkannya.


Hanin melengos saat Kenan menatapnya. Ia tak ingin terlihat lemah dan menangis di depan Kenan.

__ADS_1


“Hei, kau menangis?” tanya Kenan lagi semabri membawa Hanin ke dalam pelukannya.


Hanin menggeleng. “Tidak. Aku tidak menangis.”


Kenan menghela nafasnya kasar dan memeluk wanita itu. “Maaf, jika aku sedikit bernada keras padamu tadi. tapi aku benar-benar kesal dengan semua ini. Keanu tidak seperti yang aku harapkan dan yang lebih kesal lagi, kau malah mendukung anak itu.”


“Karena dia sepertimu,” sahut Hanin dengan mendongakkan kepalanya ke wajah Kenan.


“Tidak. Keanu tidak sepertiku. Aku tidak suka motor. Aku suka bisnis seperti Kevin,” sanggah Kenan.


“Tapi tidak bisa diatur dan nakalnya seperti kamu.”


“Tidak. Aku tidak nakal.” Kenan masih menyangkal. “Aku anak yang penurut. Tanya saja Mami. Hanya saja aku bertemu wanita penggoda yang membuatku sedikit menjadi tidak penurut.”


Hani langsung melepas tubuh yang dipeluk oleh Kenan. “Jadi, semua salahku?”


“Tentu saja,” jawab Kenan dengan menahan senyum.


“Kenan …” Hanin memukul dada bidang itu. “Mengapa dari dulu sampai sekarang kamu selalu menyebalkan?”


Kenan tertawa dan menarik lengan yang sedang memukul pelan dada bidangnya, lalu memeluk tubuh itu.


Jika saja, Jihan bukan anak Wiliam, mungkin Kenan akan menerima wanita itu menjadi menantunya. Kalau hanya status sebagai anak pembantu, Kenan masih menerima, tapi Jihan mengalir darah Wiliam dengan sepak terjang yang Kenan tahu sejak dulu. Walau Wiliam saat ini sudah tak lagi melakukan bisnis haram dan mereka sudah saling bermaafan, tapi tetap saja Kenan enggan berbesan dengan pria yang pernah mencelakai keluarganya.


Di tempat berbeda, Keanu dan Jihan tiba di Jakarta. Mereka baru saja keluar dari bandara.


Ponsel Keanu berbunyi sesaat setelah ia mengaktifkan ponsel itu karena sebelumnya ia mengatifkan mode pesawat.


“Kean, aku sudah siapkan sopir untuk mengantarmu ke rumah.”


Keanu tersenyum saat membaca pesan dari sang kakak.


“Pak Keanu?” tanya pria yang menghampiri Keanu saat berdiri bersama Jihan yang akan memesan taksi.


“Ya, saya,” jawab Keanu.


“Saya sopir kantor Pak Kevin. Saya disuruh menjemput Bapak,” ucap pria yang belum tua itu.


Keanu langsung mengangguk dan mengajak Jihan menuju mobil Kevin.


“Kak Kevin menyiapkan ini?” tanya Jihan pada suaminya.


“Ya.” Kevin mengangguk. “Kevin benar-benar kakak terbaik. Walau waktu kecil kami selalu bertengkar, tapi tetap saja dia menyayangiku.”

__ADS_1


Jihan tersenyum. “Ya, pastilah, Sayang. Kakak beradik itu memang seperti itu. kalau dekat sering bertengkar, tapi kalau jauh rasanya rindu.”


“Oh begitu. Berarti kamu dan Gio seperti itu?” tanya Keanu.


Jihan mengangguk. “Ya, tapi ikatan batin kami mungkin tidak seperti kamu dan Kak Kevin karena kalian dibesarkan bersama.”


Keanu pun mengangguk sambil mengelus rambut Jihan dari belakang. Keduanya duduk di kursi penumpanmg belakang. Jihan duduk sedikit maju, sedangkan Keanu duduk menyandar pada kursi empuk itu dengan tangan yang tetap melingkar, merangkul pinggang Jihan.


“Hei, jantungmu berdetak kencang,” ucap Keanu tepat di telinga Jihan. Tangan pria itu sengaja di tempel ke dada sang istri.


“Aku gugup,” jawab Jihan.


“Karena ingin bertemu Papa dan Oma?”


Jihan mengangguk. “Aku takut mereka mengusir kita.”


“Ya, kalau di usir, berarti kita pulang,” jawab Keanu santai.


Jihan menoleh sedikit ke belakang untuk menatap wajah suaminya. “Aku tidak ingin memisahkanmu dengan keluargamu, Kean. Aku tidak ingin merebutmu dari mereka yang sudah membesarkanmu.”


“Hei, kau tidak memisahkanku pada keluargaku,” jawab Keanu dengan mengelus pipi Jihan. “Ini pilihanku. Seharusnya mereka mengerti. Tapi jika mereka tidak mengerti, terpaksa mereka harus kehilanganku.”


“Kean. Tidak begitu.” Jihan menggeleng. Ia tidak menginginkan akhir yang seperti ini.


“Lalu, bagaimana? Kamu akan pergi dariku lagi?” tanya Keanu dengan mendekatkan wajahnya di samping pipi itu. “Justru aku bisa gila jika melihatmu dimiliki orang lain.”


Jihan menoleh ke arah suaminya dan tersenyum. Pernyataan Keanu membuatnya antara senang sekaligus sedih. Sungguh, ia tidak ingin menjadi pilihan, apalagi pilihan itu menyangkut keluarga Keanu, orang-orang yang sudah ikut andil dan berjasa padanya hingga ia menjadi Jihan seperti sekarang ini.


Keanu memeluk Jihan dari samping. Ia juga menempelkan dagunya pada bahu itu. “Jangan terlalu banyak pikiran. Pokoknya apa pun yang terjadi kita akan selalu bersama. Kamu tidak boleh banya pikiran, supaya usaha kita setiap malam membuahkan hasil.”


Keanu mengelus perut rata Jihan.


Deg


Detak jantung Jihan kembali berdetak tak beraturan. Apa jadinya jika Keanu tahu bahwa setia pagi ia meminum pil itu.


“Aku yakin, jika ada cucu Adhitama di sini, Papa dan Oma pasti akan menerima kita,” ucap Keanu lagi.


Jihan menatap suaminya. “Jika tidak. Apa kamu akan meninggalkanku?”


Keanu menangkup wajah istrinya. “Kamu tahu jawabannya, Sayang. Jika aku harus memilih antara kamu dan keluargaku, maka aku pasti akan memilihmu.”


Seketika Jihan kembali diam. Sejenak rasa bersalah itu muncul karena tanpa sepengetahuan Keanu, ia telah mematahkan keinginan sang suami. Semua itu karena rasa takutnya jika suatu saat Keanu lebih berat meninggalkan keluarganya dan mereka terpaksa terpisah dalam keadaan ia hamil. Jihan tidak bisa membayangkan jika anaknya nanti akan bernasib sama seperti dirinya dulu.

__ADS_1


“Hei, kenapa?” tanya Keanu membuyarkan lamunan Jihan.


Jihan menggeleng dan tersenyum. “Tidak apa-apa.”


__ADS_2